
Tatapan mata kebencian masih ditujukan kepada Erina yang terlihat tersenyum lebar bahagia berbincang-bincang dengan orang tua Dimas. Raut wajah kecewa, marah serta iri sudah menguasai jiwa raga Mieke dan Dini yang tak rela melihat laki-laki pujaannya bercanda mesra dengan wanita lain. Di benak Mieke sudah penuh dengan rencana rencana yang telah tersusun rapi guna memnbalaskan
rasa sakit hatinya terhadap Erina.
Erina meminta ijin kepada mama Dimas untuk meninggalkan meja nya untuk bergabung dengan teman yang lain. Ibu Devita hanya mengangguk sebagai tanda pemberian ijinnya untuk Erina.
"Dimas, aku mau ngobrol sama Chika dulu ya. Mumpung ketemu" bisik Erina ditelinga Dimas.
"Aku ikut" jawabnya cepat.
Seolah tak ingin jauh dari Erina, Dimas dengam cepat mengikuti keinginan Erina untuk menemui sahabatnya itu.
Erina menatap Dimas sejenak, tersenyum dan lalu mengangguk. Erina dan Dimas beranjak dari duduknya dan berjalan berdampingan menuju meja Rio dan Chika. Mereka terlihat seperti pengantin baru yang turun dari panggung untuk menemui tamu undangan mereka. Sungguh mesra. Kemesraan yang mereka tampilkan membuat semua mata menjadi iri, terutama mata wanita.
"Hai Bro sist..." sapa Dimas yang langsung duduk bergabung di meja Rio yang diikuti oleh Erina.
"Hai Dim... Ciiieeee....Erinaaa... Cantik banget deh malam ini" ucap Chika menyapa Dimas sekaligus menggoda sahabatnya. Wajah Erina memerah tersipu malu dengan godaan Chika.
Mata Erina beralih ke Rio. Erina menatap Rio dengan tatapan takjub karna sedikit lupa dengan wajahnya. Penampilan Rio yang menggunakan kacamata juga membuat dirinya tak mengenalinya.
"Hai Kak Rio... Kamu kerja disini juga ya ternyata" sapa Erina yang terdengar naif.
"Iya"
"Dim, Kak Rio di divisi apa?" Rio tertawa geli dengan pertanyaan Erina. Wajah Dimas juga terlihat kikuk ga langsung menjawab pertanyaannya.
"Rio jadi assistant GM Rin di kantor ini" cletuk Chika yang membuat Dimas hanya bisa menelan ludahnya.
Erina membulatkan matanya dan menatap dalam ke arah Dimas. Ia langsung bisa menebak status dari Rio yang adalah assistant pribadi dari Dimas. GM yang dimaksud ga salah lagi dan sudah pasti Dimas orangnya.
Dimas hanya mengangguk kecil menanggapi tatapan Erina yang penuh tututan akan penjelasan. Tatapannya beralih ke Rio yang sudah tertawa kecil sedari tadi. Erina memang cukup cerdas untuk membaca keadaan. Kini giliran Chika yang kebingungan mengartikan senyuman dari teman dan kekasihnya. Dengan tatapan penuh tanya kepada Rio, Chika akhirnya harus memastikan sebuah kepastian.
"Sayang, jadi GM yang kamu maksud itu Dimas" Rio mengangguki pertanyaan Chika dengan santai.
Layaknya reoni mereka pun menghabiskan waktunya sambil bercakap cakap dan bersenda gurau menikmati acara demi acara malam itu.
##########
Mobil Dimas sudah terparkir di depan rumah Erina.
(Sambil membuka seatbelt)
"Terima kasih ya Dim" Dimas tersenyum dan mengangguk.
Tangan Dimas dengan gesitnya menarik tangan Erina yang mencoba untuk membuka pintu mobil. Erina menolehkan pandangannya dan mengurungkan niatnya untuk keluar. Dimas mendekatkan wajahnya dan meletakkan telapak tangannya di kepala belakang Erina, menariknya lembut ke arahnya. Satu kecupan sayang mendarat di dahi Erina. Erina menatap Dimas dalam diamnya terkesima dengan yang barusan Dimas lakukan.
"Terima kasih ya sudah menyempatkan waktu kamu untuk aku" ucapan Dimas membuat Erina tak mampu berkata apa-apa. Hanya senyuman dan anggukan kecil sebagai jawabannya.
"Aku sayang banget sama kamu... Entah kenapa aku selalu nyaman kalau dekat sama kamu. Aku berharap kamu juga merasakan hal yang sama dengan yang apa aku rasakan"
__ADS_1
Lagi lagi Erina hanya tertunduk dan terdiam. Namun hatinya melayang ke udara. Bunga bunga bermekaran di hatinya. Bahkan saking bahagianya rasanya ingin sekali berteriak sekencangnya untuk memamerkan keseluruh dunia kalau hatinya sedang bahagia saat ini. Bahagia karna memiliki laki-laki yang sangat mencintai dan menyayangi dirinya.
"Aku juga sayang sama kamu" jawab Erina lirih namun terdengar pasti. Senyuman pun mengembang dibibir Dimas.
"Aku turun ya..." Dimas mengangguk dan ikut keluar mengantar Erina memasuki rumahnya.
"Kamu masuklah. Sudah larut. Kamu langsung istirahat ya, jangan ngebayangin wajahku terus" Erina memandang malas ke arah Dimas yang terlalu percaya diri dan tertawa kecil olehnya.
"Ya sudah aku masuk ya... Kamu hati-hati di jalan" Dimas menggangguk yakin.
"Bye..." ucap Erina dan melangkah memasuki pintu pagar rumahnya.
Baru beberapa langkah kakinya meninggalkan Dimas, Erina dengan sengaja menghentikan langkahnya. Hal itu membuat Dimas sedikit terkejut. Dimas mengamati Erina dengan seksama. Secepat kilat Erina membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat ke arah Dimas. Erina menghadiahkan sebuah pelukan erat di tubuh Dimas. Dimas terpaku dan mematung dengan sikap Erina yang secara tiba-tiba membuat dirinya terkejut.
Dan....
Cup
Satu ciuman manis Erina hadiahkan untuk Dimas tepat dibibirnya. Tanpa separah kata, Erina langsung berbalik dan berjalan setengah berlari memasuki pintu pagar rumahnya meninggalkan Dimas yang masih berdiri terpaku seperti patung. Erina sama sekali tak memberi kesempatan Dimas untuk membalas ciumannya.
Dimas mengumpulkan seluruh kesadaran miliknya atas serangan tiba-tiba yang nyaris tanpa perlawanan. Dimas tersenyum lebar. Hatinya sangat bahagia. Pasalnya, ini adalah ciuman pertama yang diberikan Erina kepadanya setelah sekian kalinya ia telah menciumnya.
"Mulai nakal kamu ya... Kamu harus tanggung jawab Erina. Karna sejak kini aku akan selalu ketagihan sama ciuman kamu" ucap Dimas perlahan sambil mengusap bibirnya yang masih basah hasil karya wanitanya.
Dimas melajukan mobilnya kembali ke rumah. Di dalam mobil, Dimas masih menyunggingkan senyumannya teringat akan hal menyenangkan tadi.
##########
"Morning Ma..." satu ciuman sayang Dimas labuhkan dipipi sang mama.
"Morning sayang..."
Dimas langsung duduk, dan menyantap sarapannya tanpa menunggu Papa dan Mamanya. Dan itu sudah menjadi kebiasaannya sedari dulu. Ibu Devita hanya menggelengkan kepala dan berlalu untuk memanggil suaminya.
Dimas sangat menikmati sarapannya. Masakan sang mama memang tiada duanya di dunia ini. Meski orangtuanya termasuk golongan kelas atas dan memiliki banyak assistant rumah tangga, namun mamanya selalu menyempatkan diri untuk tetap bisa memasak khusus untuk suami dan anak kesayangannya itu.
"Ada yang kelaperan nih kayaknya" sapa sang papa ditengah tengah kegiatan makannya.
"Morning Pap... Maaf ya Dimas makan duluan"
"Papa mah ga heran" Dimas hanya menyengirkan deretan giginya yang tersusun rapi.
"Hari ini agenda kamu apa" tanya pak Nugra disela sela makan paginya.
"Hari ini ga terlalu sibuk sih pap, paling meeting sama Pak Anton dari PT. XXXXXX. Ada apa ya Pap?"
"Oh, bukan apa-apa" Dimas mengangguk dan melanjutkan kembali makannya.
__ADS_1
Kurang lebih setengah jam mereka sudah menyelesaikan makan pagi.
(Pak Nugra berdehem)
"Dimas"
"Ya Pap.." jawabnya cepat.
"Soal Erina...." Dimas menatap dalam papanya menunggu dengan tenang penjelasan yang akan dilontarkan oleh laki-laki hebat itu.
"Apa perkataan kamu kemarin malam itu serius?" ucapnya santai.
"Dimas serius Pa. Erina adalah wanita yang sudah lama Dimas cintai"
"Soal keluarganya? Bagaimana?"
"Sejak usia 12 tahun, Erina sudah menjadi anak yatim. Ibunya PNS di Kementrian Keuangan. Erina hanya tinggal bersama ibu dan seorang pembantu. Orangtua Erina memang bukan dari golongan kelas atas. Tapi mereka sangat baik dan hangat"
"Dimas, pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa untuk dipermainkan. Dan nikah itu sebaiknya hanya sekali seumur hidup. Itu nasehat dari almahumah nenek kamu yang selalu Papa pegang sampai saat ini. Dan nantinya, pasti akan datang berbagai cobaan maupun godaan dalam hubungan kalian. Jadi saran papa, tolong kamu pikirkan kembali matang-matang tentang rencana dan wanita yang akan kamu jadikan pasangan hidup kamu nanti"
"Dimas sudah yakin dengan Erina Pap. Papa ga perlu kuatir"
Pak Nugra hanya menghela nafas panjang dan lalu beranjak dari duduknya kembali ke kamar untuk bersiap siap ke kantor. Ibu Devita hanya terdiam, menatap Dimas sekilas, tersenyum dan lalu menyusul suaminya ke kamar.
Di dalam kamar, Pak Nugra terlihat duduk di meja rias milik istrinya. Wajahnya memandang ke arah cermin. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Ibu Devita menyentuh pundak suaminya dengan lembut. Memeluknya dari belakang dan melabuhkan ciuman sayang ke pipi suaminya. Pak Nugra menyambut tangan istrinya dan menggenggamnya erat.
"Kamu kenapa sih Pa?"
Pak Nugra membalikkan tubuhnya menghadap ke istrinya dan menatapnya sambil tersenyum.
"Anak kita sudah besar sayang..." Ibu Devita mengangguk pelan dalam arti mengiyakan pernyataan suaminya.
"Semoga pilihan Dimas ga salah" tambahnya lagi.
"Sayang... Bagi kita yang terpenting adalah kebahagiaan Dimas, anak semata wayang kita. Toh Dimas juga yang akan menjalani kehidupannya. Kita sebagai orangtua hanya bisa mendukung dan mendoakan saja"
"Iya, kamu benar. Dan dulu aku juga pernah berjanji kepadanya kalau aku ga akan memaksa dirinya selain masalah kuliah yang harus di London."
Sesaat pak Nugra menghela nafas panjangnya.
"Jadi menurut kamu baiknya bagaimana?" tanya Pak Nugra dengan mimik wajah naifnya.
"Kalau menurut Mama, kita biarkan dulu saja mereka pap. Dimas bukan anak kecil lagi. Dan mama yakin Dimas ga akan gegabah dalam mencari pasangan hidupnya." jelas ibu Devita dengan bijak.
Pak Nugra menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk menerima masukkan dari istri tercintanya.
.
.
__ADS_1
.