Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Berita Baik Rio


__ADS_3

Pak Tatang sudah melajukan mobilnya membawa majikan mudanya kembali ke rumah. Erina menyenderkan kepalanya di bahu Dimas sambil memejamkan mata. Suasana tengah malam yang cukup sepi membuat matanya kembali terasa mengantuk. Jalanan malam itu juga lumayan sepi membuat perjalanan kembali ke rumah menjadi lebih cepat.


Sesampainya di rumah, suasana sudah sepi. Sepertinya orangtua Dimas sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Dimas langsung menggandeng istrinya memasuki kamar pribadi untuk segera beristirahat.


"Sayang, malam ini aku ga mau ya... Tolong jangan paksa aku. Aku bener bener capek. Badanku pegel pegel semua nih..." ucap Erina setengah merengek. Ia langsung melayangkan penolakan sebelum suaminya memulai untuk menyentuhnya.


Dimas tertegun mendengar perkataan Erina. Tawa kecilnya langsung tersungging di bibirnya.


"Baiklah. Malam ini aku sedang berbaik hati. Kamu boleh tidur. Tapi besok, jangan harap kamu bisa pergi tidur dengan cepat." ucap Dimas sengaja menggoda Erina yang langsung meresponnya dengan tatapan malas kepadanya.


"Aku mandinya besok saja ya.. Dingin.. " ucapnya yang langsung memasukkan tubuhnya ke dalam bed cover. Erina hanya ke kamar mandi sebentar sekedar mencuci tangan dan kaki serta berganti piyama tidur kimono yang Dimas belikan untuknya. Dimas hanya menggeleng sambil tertawa. Kali ini ia berbaik hati dan membiarkan istrinya beristirahat. Dimas melenggang ke kamar mandi pribadinya untuk membersihkan diri. Sementara Erina sudah langsung terlelap di bawah hangatnya selimut tebal yang sangat nyaman.


#########


Dimas menuruni anak tangga berjalan menuju meja makan. Ibu Devita, mamanya langsung tersenyum lebar melihat putra kesayangannya telah kembali ke rumahnya.


"Dimaaaasss.... Kamu kapan sampe nya? Kok mama ga tau?" ucap Sang mama sambil memeluk tubuh Dimas yang jangkung.


"Semalam. Dimas memang sengaja ga bangunin mama sama papa karna kalian pasti udah tidur." Ibu Devita mengangguk paham dan seketika merasa janggal karna dirinya tak melihat anak menantunya bersama anaknya pagi itu.


"Sayang, Erina mana? Kok kamu turun sendiri?"


"Erina masih tidur. Dimas sengaja ga bangunin. Kasihan, sepertinya Erina kecapean" jawabnya santai sambil menggigit roti tawar yang sudah di olesi selai.


Sejenak mamanya terlihat keheranan mendengar ucapan Dimas.


"Kecapean?? Memangnya semalam kalian sampai berapa ronde?"


Uhuk.. Uhuk...


Dimas tersedak dengan pertanyaan mama nya yang terdengar fulgar. Ia tak menyangka kalau mamanya bisa melontarkan pertanyaan seperti itu.


"Mama mau tau aja atau mau tau banget??" kini Dimas yang berbalik menggoda sang mamanya.


"Boleh dong mama tanya... Kan mama pengen cepet punya cucu. Rumah ini terlalu besar. Kurang rame. Kalau ada cucu, pasti rumah ini akan lebih berwarna"


"Kalau mama di kasih cucu sama Tuhan, mama mau cucu cowok atau cewek?"


"Apa saja mama mau. Yang penting sehat."


"Hhhmmm... Kalau begitu berarti akui harus lebih keras lagi dong usahanya. Iya kan sayang..." Dimas memiringkan kepalanya menyambut kedatangan istri tersayangnya yang berjalan perlahan ke arahnya. Ibu Devita sedikit terkejut dengan kehadiran Erina yang secara tiba tiba sudah berada di belakangnya.


"Pagi Ma..." sapa Erina dengan senyumnya.


"Pagi sayang... Gimana bulan madu nya? Seru dong ya..." Erina belum sempat untuk menjawab pertanyaan mama mertua, papa mertua sudah keburu datang dan menyapa dengan sapaan hangat.


"Pagiii..." ucapnya sambil mengecup pelipis istrinya. Pak Nugra menatap Dimas dan Erina secara bergantian. Dan lalu tersenyum kembali.


"Dimas, Erina... Kalian kapan nyampe? Bagaimana honeymoon nya?"


"Tadi malam. Tepatnya tengah malam. Honeymoon kita luar biasa dong Pap. Pokoknya hot dan mantap. Iya kan sayang?" ucap Dimas dengan sangat antusias. Wajah Erina memerah menahan malu. Dimas sungguh tidak punya malu dengan sangat percaya diri berucap seperti itu di depan kedua orang tuanya. Pak Nugra sendiri hanya tertawa kecil dengan jawaban Dimas yang lebih terkesan norak.


"Hari ini kalian ga perlu masuk dulu. Istirahat saja di rumah." Dimas mengangguk mengerti dan melanjutkan sarapannya bersama istri dan kedua orangtuanya.


###########


Hari ini adalah kali pertama Dimas dan Erina pergi ke kantor bersama sebagai pasangan Suami-istri. Ketika Dimas menggandeng dengan mesra tangan Erina berjalan memasuki area lobby kantor menuju ke ruang kerjanya, semua karyawan secara spontan memberikan sikap hormatnya kepada pasangan baru ini. Erina sedikit risih dengan perlakuan orang orang kantor kepada dirinya. Karna biasanya, Erina memasuki lobby kantor dan berjalan santai tanpa ada yang memperhatikan langkahnya. Kini kondisinya berbeda. Semua mata sangat memperhatikan diri dan penampilannya.


Dimas membawa Erina menuju ke ruang kerja nya yang berada di lantai 7. Dengan setengah berlari Dini menghampiri Dimas dan Erina untuk menyapa dan memberikan hormat.


"Selamat pagi pak Dimas, ibu Erina... Selamat atas pernikahan anda berdua. Selamat datang kembali di kantor" sapa Dini dengan senyum manisnya. Meski wajannya dipenuhi senyuman manis dan sapaan yang sangat ramah, namun itu semua hanyalah topeng palsu yang harus ia tampilkan guna mempercantik penampilannya.

__ADS_1


"Pagi Dini... Apa ada berkas berkas yang harus saya tanda tangani?" ucap Dimas datar. Untuk beberapa saat Dini tertegun karna matanya tertarik dengan pemandangan yang membuat hatinya kesal dimana Dimas dengan lembutnya menggenggam tangan Erina, seakan akan Dimas tak ingin jauh jauh dari wanita ini.


"Diniii...." suara Dimas mengejutkan dan membuyarkan lamunan Dini.


"Ah, i-iya.. Ada Pak Dimas. Akan segera saya siapkan." Dengan cepat Dini langsung memperbaiki gerak tubuhnya yang terlihat salah tingkah.


"Baik. Saya tunggu di ruangan saya ya..." Dimas bergegas pergi meninggalkan Dini yang masih mematung di posisinya dan memasuki ruang kerjanya.


Di dalam ruangan sudah ada Rio yang langsung menyambut kedatangannya dengan sambutan kecil yang dengan sengaja sudah ia siapkan dari kemarin.


Plluuupp... Byaaarrrr....


"Welcomeee....." teriak Rio full semangat yang sambil melepaskan party pooper di tangannya. Dimas dan Erina cukup terkejut dengan sambutan yang di lakukan assistant pribadinya itu.


"Ciieeee.... Yang abis selesai honey moon. Mantap jiwa.. Oleh oleh buat gue mana boss?" Dimas melempar paper bag yang sedari tadi dipegang di sebelah tangannya dan main dilempar begitu saja ke arah Rio.


"Wwwoooowww... Mantaaaapppp... Sumpah ini keren bangeeettt... Thanks ya Boss. Gue suka banget..." ucap Rio kegirangan karna mendapatkan sebuah jam tangan keren dan pastinya harganya lumayan mahal dari boss kesayangannya itu.


Erina tertawa kecil melihat sikap Rio yang mirip seperti anak kecil yang sangat girang medapatkan sebuah hadiah.


Dimas mendudukkan istrinya di sofa dekat meja kerjanya yang diikuti dengannya duduk di sampingnya.


"Sayang, mulai hari ini kamu udah ga kerja di lantai 11 lagi. Tapi kembali ke ruang kerja kamu semula. Dilantai 5, bagian keuangan. Dan jabatan kamu, sudah aku naikkan menjadi Manager Keuangan" Erina ternganga mendengar penjelasan Dimas. Matanya terbelalak. Keputusan sepihak Dimas membuat dirinya syok. Mungkin kalau wanita lain yang diperlakukan seperti itu pastilah akan sangat senang karna merasa sangat diperhatikan. Namun sayangnya hal itu berbeda dengan Erina. Keputusan Dimas justru terasa membebani dirinya.


"Dimas, kenapa kamu harus melakukan itu semua? Aku sudah betah bekerja di bagian pengarsipan di lantai 11. Kenapa mesti harus di pindah lagi? Dan satu lagi, aku tidak bisa menerima keputusanmu untuk menjadikanku sebagai Manager Keuangan. Bagaimana dengan Ibu Mieke?" Dimas hanya menghela nafas panjang mendengar serentetan kata penolakan dari istrinya. Wajah Erina terlihat tegang dan serius dengan ucapannya.


"Mieke sudah aku pecat." ucapnya santai.


"Dipecat??" Erina memajukan posisi duduknya menatap dalam wajah suaminya yang penuh dengan kejutan.


"Iya. Dia terbukti bersalah sudah berani membantu Kevin melancarkan aksi busuknya. Dan dia juga terbukti sudah membocorkan rahasia perusahaan dengan mendapatkan imbalan cukup besar dari orang yang menyuruhnya" Erina tertegun dan terdiam. Dirinya sangat tak menyangka hal itu benar terjadi. Mieke memang jahat kepadanya, tapi ia juga tak menyangka kalau Mieke ikut terlibat dengan kejahatan Kevin.


"Aku masih bermurah hati hanya memecatnya tanpa hormat dan tanpa pemberian pesangon. Kalau aku mau bisa saja aku langsung mengirimnya ke hotel prodeo dan membiarkannya membusuk di sana" wajah Dimas terlihat geram dan gemas. Erina masih tak percaya dengan kenyataan bahwa Mieke berbuat kriminal seperti itu. Erina sendiri juga tak mengerti kenapa Mieke tega berbuat seperti itu. Sebenci itukah Mieke kepadanya hingga dengan teganya menyeretnya ke masalah serius yang membuat dirinya hampir putus asa. Untung saja masih ada Dimas yang membantu meredam permasalahannya. Jika perusahaan lain, mungkin saat ini dirinya sudah mendekam di penjara karna di tuduh menggelapkan dana perusahaan.


"Sayang, kamu yang sekarang adalah istriku. Tidak mungkin aku menempatkan istriku sendiri di tempat rendahan seperti itu. Lagipula bagian arsip banyak terdapat debu. Aku ga mau kamu sakit lagi seperti kemarin. Kamu sudah membuatku sangat khawatir dan hampir gila." Erina tertawa kecil melihat sikap impulsif yang ditunjukkan suaminya. Terlalu berlebihan kalau alasan dirinya sakit karna tempat kerja yang berdebu. Lagipula walaupun ada debu, tapi ruangannya tetap bersih dan nyaman untuk ditempati.


"Aku sudah nyaman bekerja di bagian itu. Kalau aku harus kembali ke divisi keuangan, pasti rekan rekan kerjaku disana akan memandang remeh kepadaku"


"Tidak akan ada yang berani meremehkan kamu. Apalagi sekarang kamu adalah istriku. Nyonya Dimas Nugra Ardhana. Berani meremehkan istriku, sama saja cari mati"


"Dimas, biarkan aku tetap bekerja di lantai 11 ya... Aku sudah nyaman memiliki rekan rekan kerja yang baik dan perhatian. Lagipula, aku juga masih trauma dengan kejadian kemarin. Aku takut terulang kembali. Pleaseeee...." permohonan Erina terlihat tulus dan serius. Tidak ada kebohongan di matanya. Dimas menarik nafas panjang, menatap wajah cantik istrinya dan kemudian menguraikan senyuman manis untuknya. Mungkin Erina benar, dirinya belum siap menjabat posisi tersebut. Apalagi kalau Erina sampai hamil dan harus cuti, akan sulit lagi mencari orang yang bisa menggantikan posisinya untuk sementara. Selain itu, divisi keuangan memang cukup menyita tenaga dan mempunyai tanggung jawab yang besar.


"Baiklah... Kalau memang itu sudah menjadi pilihanmu. Aku ijinkan. Tapi ingat! Kamu harus jaga kesehatan, ga boleh telat makan dan ga boleh ngelirik laki laki lain!!!" Dimas mendekatkan wajahnya lebih dekat menegaskan akan peringatan pada kalimat terakhirnya dan melabuhkan ciuman mesranya di bibir Erina. Dimas tak memperdulikan keberadaan Rio yang masih ada di sana.


"Ehheemmm.... Masih ada gue nih..." goda Rio yang tak terima merasa diabaikan keberadaannya.


"Tutup mata loe atau gue kasih pesangon sekarang juga" Rio seketika bergidik takut dengan ancaman Dimas dan memilih untuk segera memalingkan pandangannya ke arah lain dan mulai menyibukkan dirinya dengan tumpukan berkas berkas yang ada di depan mejanya. Erina tak mampu menahan tawanya. Rio terlihat seperti anak kecil yang kepo dan menjadi lucu.


"Sayang, aku mau pergi ke lantai 11 dulu ya. Aku mau menyapa mereka. Kangen banget rasanya sudah lama ga ketemu" ucap Erina tanpa rasa canggung sama sekali.


"Kamu ga kangen sama aku?"


"Dimaaaaasss.... Kamu apa apaan sih??"


Cup...


(Satu ciuman sayang Erina berikan di pipi Dimas)


"Aku ke atas dulu ya..." Dimas mengangguk sambil tersenyum. Sebelum istrinya bergerak bangun dari duduknya, tangannya sudah dengan gesit menarik kembali tubuh sang istri dan memaksanya untuk mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Tepat jam 12 aku akan menjemputmu untuk makan siang. Mengerti!" dengan cepat Erina menyetujui perintah suaminya dengan mengangguk yakin dan tersenyum manis.

__ADS_1


Cup...


(satu ciuman panas Dimas labuhkan di bibir Erina sebagai upah telah mengijinkan dirinya pergi)


Rio mencibir kemesraan bossnya dan menampilkan wajah asam yang dibuat buat.


"Huft, dasar pengantin baru.... Perasaan gue dulu jadi pengantin baru ga gitu gitu amat..." umpat Rio lirih. Sayangnya suaranya terdengar cukup jelas di telinga Dimas.


"Sayang, liat deh. Assistant pribadiku ternyata kasihan banget ya hidupnya..." ucap Dimas sengaja memamerkan lagi kemesraannya dengan mencumbui lagi pipi Erina. Wajah Erina memerah malu akan perlakuan Dimas kepadanya. Dimas memang tak punya malu dengan PD nya di depan Rio ia mencumbui dirinya secara terang terangan.


"Aku ke atas dulu ya..." Dimas mengangguk terpaksa. Rasa berat sekali harus berpisah dengan Erina.


Sikap Dimas terlalu berlebihan. Toh mereka berpisah hanya hitungan jam. Dan masih satu gedung yang sama. Yah, namanya juga pengantin baru, di maklumin sajalah yaaa.... Hihiihi...


##########


Seperginya Erina, Dimas langsung memulai mengerjakan pekerjaan yang sempat ia tinggalkan karna berbulan madu. Satu persatu, Dimas memeriksa berkas berkas yang sudah tertumpuk di meja kerjanya.


"Yo, gue minta laporan dokumen proyek kita dua bulan terakhir ini ya..." ucap Dimas disela sela memeriksa berkas tanpa menolehkan pandangannya ke arah Rio.


"Ok Boss" jawabnya cepat.


Selang beberapa menit Rio meletakkan dokumen yang Dimas minta. Bukannya kembali ke meja kerjanya, Rio sengaja duduk di kursi depan meja Dimas dengan raut wajah yang lesu. Dimas agak terkejut dengan sikap Rio yang tak seperti biasa.


"Loe kenapa Yo?" Rio masih diam dan murung. Dimas menghentikan sejenak kegiatannya dan sedikit menegakkan posisi duduknya memperhatikan assistant nya itu.


"Ada masalah?" tanya Dimas lagi. Rio menghela nafas berat.


"Chika hamil Dim" suara Rio terdengar lesu dan tak bersemangat. Sangat kontras dengan reaksi Dimas yang lebih antusias mendengar kabar baik dari sabahatnya itu.


"Wuuuiidddiiihhh.... Selamat broo... Tokcer juga loe ya..." Dimas menguraikan senyum lebarnya. Namun senyuman itu langsung berubah datar ketika Rio tak menyambut senyuman darinya.


"Gue pusing sama ngidamnya Chika, Dim. Ngidamnya aneh aneh."


"Namanya juga orang hamil, ya wajarlah kalau kepengen yang aneh aneh. Memangnya istri loe ngidam apaan?"


"Chika minta dibeliin buah kesemek warna ijo sama kuning. Gue dah cari ke beberapa toko buah tapi ga ada. Gimana gue ga pusing coba? Udah gitu dari kemarin Chika bawaannya marah marah terus sama gue"


"Karna loe belum berhasil dapetin itu buah?" tanya Dimas penasaran. Rio mengangguk lemah. Dengan refleks tanpa kendali tawa Dimas langsung menggelegar memenuhi ruangan kerjanya. Dimas tak tahan untuk tertawa dengan kasus lucu yang sedang menimpa assistant nya itu.


"Resekh loe... Bukannya bantuin, malah ngetawain gue..." Rio memanyunkan mulutnya sambil menggaruk garukkan kepalanya yang tidak gatal.


"Hahahha... Sorry.. Sorryy Yo... Gue ga bermaksud apa apa. Gue cuma merasa lucu aja sama kasus loe. Berarti loe ga dapet jatah dong..." goda Dimas masih dengan tawanya.


"Iya... Sedih kan Dim hidup gue..."


"Kira kira loe tau ga dimana gue bisa dapetin itu buah?" mata Rio menatap dalam ke arah Dimas. Tatapan penuh harap akan adanya sebuah pencerahan akan jawaban jalan keluar dari kasusnya.


"Eeemmm... Ooohh, Gue tau...." Dimas sengaja membuat Rio berharap dengan berpura pura berpikir keras mengingat sesuatu yang nantinya akan berbagi info kepadanya. Mata Rio berbinar binar menanti jawaban pasti dari boss nya. Raut wajah yang tadi lesu seketika berubah semangat.


"Dimana??" ucap Rio mengulangi pertanyaannya.


"Gue tau, kalau ternyata... Gue juga ga tau Yo.."


"Dasar kunyuk... Gue kirain loe beneran tau, huft"


"Hahahahahahaaaa....."


Lagi lagi Dimas tertawa lebar dan kali ini sampai terbahak bahak. Puas banget Dimas tertawa pagi ini tanpa memperdulikan raut wajah sedih bercampur bingung yang sedang di alami Rio.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2