
Seperti biasa setiap pagi Dimas ga pernah absen untuk menjemput Erina yang kini sudah resmi menjadi kekasih hatinya. Senyum merekah selalu menghiasi bibir Dimas saat ia melihat Erina datang menghampiri motornya. Erina pun yang biasanya memasang wajah terkejut hari ini langsung melempar senyuman dengan wajah yang sumringah.
"Pagi sayang... " sapa Dimas dengan senyum manisnya yang sungguh membuat hati Erina terbius bahagia.
"Pagi Dim... "jawab Erina singkat.
"Sayangnya mana?" goda Dimas nakal
Erina menatap Dimas dengan ekspresi malu.
"Udah siang nih. Yuuuk... " ucap Erina mengalihkan pembicaraan.
Dimas menghela nafas, ia memaklumi sikap Erina yang sepertinya masih malu dan belum terbiasa mengucapkan kata-kata sayang.
"Mama kamu kok ga ikut keluar?" tanya Dimas lagi.
"Mama ijin datang siang. Katanya mama mau pergi kunjungan ke kantor unit lain dulu sebelum ke kantor mama" jelas Erina.
"Ooo... Begitu. Baiklah"
Setelah mengenakan helm, Dimas segera melajukan motor maticnya ke sekolah.
########
Ga nyampe 30 menit motor Dimas sudah sampai di parkiran sekolah. Dimas dan Erina berjalan beriringan ke kelas. Seperjalanan menuju kelas, banyak mata yang melihat mereka berdua jalan bareng. Bahkan ada juga yang melihat Dimas sering berboncengan dengan Erina. Ada beberapa mata anak cewek yang ga terlalu senang melihat idola basket mereka berjalan berdua sama seorang cewek.
Para cewek-cewek menatap Erina dengan pandangan yang sinis. Keliatan banget kalau mereka ga suka kalau Erina jalan bareng sama Dimas. Biasanya kalau sudah sampai di parkiran motor, Erina selalu berjalan sendiri menuju kelas. Kali ini dia berdua dengan Dimas. Erina sedikit risih dengan situasi seperti ini. Dan sepertinya Dimas ga begitu menyadari kejadian ini.
Kelas Erina ada di lantai 2 dan Dimas di lantai 3.
"Ya sudah sana kamu masuk kelas. Belajar yang pinter ya. Jangan mikirin aku terus" goda Dimas sambil tertawa kecil.
"Dih, ngapain juga mesti mikirin kamu" jawab Erina ngeles.
"Liat aja, hari ini pasti kamu ga bakal konsen belajarnya. Di Otak kamu saat ini cuma ada 5 huruf D I M A S " bisik Dimas agak pelan.
"Iiihhh... Apaan sih kamu. Udah sana kamu naik!!!" ucap Erina sambil mendorong tubuh Dimas supaya menaiki anak tangga ke lantai 3.
"Oia Erina aku hampir lupa, besok sabtu aku ada tanding basket antar sekolah di GBK. Kamu dateng ya buat dukung aku"
"Sabtu minggu ini?"
"Yup. Bisa kan?"
"Eeemmm... Gimana yaaaa... " ucap Erina pura-pura ragu untuk menggoda Dimas.
__ADS_1
"Awas aja berani bilang ga bisa"
Erina tertawa lepas. Dimas senang sekali melihat Erina yang tertawa lepas seperti itu. Wajah manisnya terlihat sangat cantik saat dia seperti itu.
"Baiklah... Besok aku usahain untuk dateng ya" jawab Erina cepat.
"Harus dateng!!! "
"Iya sayaaaaanngg.... "
"Kamu bilang apa barusan? Coba ulangin lagi" pinta Dimas yang ga percaya Erina mengatakan kata sayang kepadanya.
"Ga ada berita ulang. Udah ah aku masuk dulu ya.. Daaa... " ucal Erina sambil melambaikan tangannya ke arah Dimas.
Dimas membalas lambaian tangan Erina dan kemudian melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju ke kelasnya.
###########
Tttttttteeeeeeettttt......
Bel istirahat berbunyi lantang. Para siswa berhamburan keluar kelas. Sebagian besar dari mereka memilih ke kantin untuk mengisi perut dan memanjakan lidah dengan berbagai makanan atau minuman di sana. Erina mengajak temannya untuk ke kantin, tapi Chika menahannya.
"Erina, loe harus jawab dengan jujur" ucap Chika dengan tegas.
"Jawab apa?" jawab Erina polos
Adel dan Tasya yang mendengar perkataan Chika langsung bertatapan dan ikut nimbrung pembicaraan karna penasaran ingin tau.
"Jadian sama Dimas? Siapa?" tanya Adel mengulangi perkataan Chika.
"Erina cerita dooong... " desak Chika. Erina masih diam dan hanya menarik nafasnya pelan.
"Kayaknya gue ketinggalan berita nih" tambah Tasya.
Mereka bertiga tanpa instruksi menatap Erina secara bersamaan. Erina yang merasa risih dengan sikap temannya itu jadi tertawa lepas.
"Kok loe malah ketawa sih Rin?" tanya Adel gemes.
"Gue laper nih guys. Makan Yuuukkk... " jawab Erina mengalihkan pembicaraan.
"Loe jangan mengalihkan pembicaraan deh..." ucap Tasya yang mulai ga sabar.
"Oke... oke... Gue jawab jujur"
Suasana hening sesaat. Namun Erina juga jadi ikutan diam. Chika mencubit tangan Erina karna gemas.
__ADS_1
"Aauuu.... Kok loe nyubit gue Chik?"
"Abisnya loe ngeselin. Ditungguin malah sengaja ikutan diem" Chika memanyunkan mulut gemasnya.
Erina tertawa lepas dan terkesan bahagia karna sudah berhasil bikin temen-temennya kesel karna nungguin jawaban pasti dari dirinya. Tampak juga raut muka temen-temennya sudah mulai bete.
"Ok...ok.. ok..." jawab Erina Masih dengan tertawanya. "Gue kemarin emang bener udah d tembak sama Dimas" jelas Erina.
"Seriuuuuusss...???? Aaaaaahhhh.... Gue ngiri deeehhh..." ucap Adel sambil memelas.
"Trus.. trus... " tanya Tasya makin penasaran.
"Loe terima?" tanya Adel.
Erina hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Aaaaahhhhh.... Selamat ya Erinaaaaa..." ucap Adel sambil memeluknya. Chika dan Tasya saling bertatapan dan langsung ikut membaur ke dalam pelukan Erina dan Adel.
"Gue kapan yaaa... Ada cowok yang mau nembak gue?" ucap Adel sambil merengek.
"Makanya kalau liat cowok bening dikit jangan suka langsung keganjenan. Biar ada cowok yang bener-bener naksir sama loe" ucap Tasya sambil mencubit pipi Adel.
"iiiihhh... Tasya jahat deehhh... " jawab Adel sambil memanyunkan bibirnya.
"Guys, rejeki dan jodoh itu sudah diatur sama Tuhan. Berdoa aja. Pasti kita akan dikasih yang terbaik dari Tuhan" ucap Erina polos.
"Wooww... Sejak punya cowok, ibu peri kita ucapannya bijak sekaleee" ucap Chika sambil tertawa kecil.
"Oia Rin, ngomong-ngomong loe udah tau belum kalau Dimas itu orangtuanya tajir loh.. " ucap Chika. Erina menggelengkan kepalanya dengan tatapan serius.
"Loe tau darimana Chik?" tanya Erina.
"Gue sih ga tau banget. Cuma baru denger dari anak-anak cewek kelas sebelah yang pada nge-fans sama Dimas. Mereka sering banget ngomongin soal Dimas. Dan loe juga harus tau Rin, Dimas itu yang nge-fans juga banyak. Secara dia kan atlet basket yang lumayan hebat tuh di sekolah kita. Cakep pula orangnya. Badannya apalagi... Loe harus sabar ya menghadapi sikap sinis dari para netizen. Dan kalau emang bener berita yang gue denger si Dimas itu orang tuanya tajir, wah berarti loe beruntung banget Rin bisa jadi pacarnya Dimas" jelas Chika dengan semangat dan mata berbinar-binar.
Erina ga menjawab. Dia hanya terdiam mendengar penjelasan dari Chika. Kalau dipikir-pikir benar juga kalau Dimas itu orang tuanya pasti tajir. Kalau ga, Ga mungkin banget kemarin dia belanja jam tangan couple seharga hampir 3 digit.
Tasya menepuk bahu Erina. Erina yang sedang termenung bergidig kaget.
"Dibawa santai aja Rin. Kan loe sendiri yang bilang, Jodoh udah di atur sama Tuhan. Kalau Dimas itu emang jodoh loe, sebanyak apapun cewek-cewek diluar sana yang menggoda Dimas, ga bakalan membuat dia memalingkan wajahnya dari loe"
"Gue bersyukur banget punya temen seperti kalian. Kalian care banget sama gue. Makasih yaaaa.... "Erina memeluk semua teman-teman nya. Dan pelukan Erina pun dibalas dengan pelukan tulus dari sahabatnya.
.
.
__ADS_1
.