Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Pelampiasan Emosi


__ADS_3

Tttteeeeettttt....


Bel istirahat berbunyi dengan lantang. Seperti biasa para siswa berhamburan keluar kelas untuk ke kantin. Sama halnya seperti ini Erina and gank yang berniat untuk ke sana.


Sesampainya di kantin Erina memesan seporsi mie ayam bakso Pak Ujang favorite nya. kurang lebih 10 menit menunggu, pesanan makanan pun datang.


"Rin, loe pagi-pagi ga makan nasi? Ga takut sakit perut?" ucap Tasya sambil mengunyah nasi ayamnya. Erina tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Tadi pagi gue dah sarapan nasi sedikit" jawabnya sambil Nyengir.


Di ambilnya mangkok kecil berisi sambal, lalu Erina menambahkan 7 sendok penuh sambal ke dalam makanannya lengkap dengan saosnya juga. Chika cukup terkejut dengan sikap aneh Erina. Ga biasanya dia menambahkan sambel ke dalam makanannya dengan jumlah yang lumayan banyak.


"Erina, loe mau makan apa mau bunuh diri?" ucap Chika yang tercengang melihat kelakuan temannya itu.


"Mau makan dong. Gue lagi pengen makan makanan pedes nih" jawabnya santai sambil mengaduk sambalnya supaya bercampur dengan makanannya.


Warna mangkuk Erina berubah menjadi merah pekat yang membuat orang ngeri untuk memakannya.


"Loe serius mau makan itu makanan Rin?" Ucap Chika lagi yang membuat semua mata teman-temannya yang lain jadi tertuju kepadanya.


Erina hanya mengangguk dan memulai mencoba memakan makanannya. Baru sekali suap, mulut Erina langsung memberikan reaksi penolakan keras pada makanan yang di makannya. Erina pun spontan bergumam kepedasan.


"Busyet, pedes juga ya nih sambel" ucap Erina yang mulai gelagepan karna kepedasan.


"Lagian sih tengil, sambel semangkok loe masukin semua." ucap Chika gemas.


"Coba-coba sini gue pengen nyobain rasa makanan loe Rin" ucap Tasya yang jadi penasaran.


Tasya mengarahkan sendoknya ke mangkok Erina dan langsung mencobanya. Tasya berteriak histeris saat rasa panas, tajam dan menusuk menjalar di seluruh permukaan lidahnya.


"Gilllaaaaa.... Erina loe gilaaaaa.... Ini pedes bangeeetttt... " ucap Tasya setengah teriak sambil menyeruput es jeruknya.


Erina tertawa kecil melihat reaksi ekstrim dari Tasya. Erina tetap melanjutkan kegiatan makannya yang sempat tertunda beberapa saat. Erina tetap mencoba menikmati rasa pedas yang menusuk lidah dan bibirnya. Walaupun saat ini lidahnya mulai berubah menjadi mati rasa, Erina terlihat tetap memaksakan dirinya untuk menghabiskan makanannya itu.

__ADS_1


"Erina STOP!!" ucap Chika mencoba menghentikan kegiatan makannya. Chika melihat bibir Erina sudah memerah dan bergetar.


Chika mengambil mangkok mie milik Erina dan memindahkan nya agak jauh dari jangkauan Erina. Mangkok mie saat ini berada di dekat Adel. Rasa penasaran akan rasa mie nya Erina membuat tangan Adel secara otomatis langsung mengarahkan sendoknya ke makanan itu.


"Aaaaarrrrgghhh..... Giiilllaaaaa..... Pedess bangeeettt.... " teriak Adel kencang. Suara teriakan Adel otomatis mengundang banyak mata yang jadi menatap ke arahnya.


"Erina loe kayaknya lagi mau cari mati ya? Pedesnya ga waras." ucap Adel lagi masih dengan nafas pedasnya.


Bibir Erina bergetar dan memerah. Es jeruk miliknya pun sudah habis sedari tadi. Keringatnya mengucur sangat deras sampai membasahi rambut dan lehernya. Bahkan saking basahnya, baju seragamnya juga terlihat basah. Erina mengikat rambut panjang tanggung nya dengan karet seadanya. Dia lupa ga bawa ikat tali karna memang dia jarang sekali menggunakan nya kecuali saat di rumah.


"Loe lagi ada masalah ya Rin?" tanya Chika curiga dan mencoba menelisik.


"Hah.. Ga ada kok. Hah... Gila lidah gue mati rasa". jawab Erina sambil mengipas-ngipas wajah dan mulutnya.


"Loe lagi berantem ya sama Dimas? Jadi loe lampiasin emosi loe di makanan?" cletuk Tasya menebak.


Mendengar ucapan Tasya, Erina sedikit gelagepan dan jadi salah tingkah. Erina langsung menggelengkan kepalanya. Dia tak ingin kalau teman-teman nya sampai tau tentang masalah yang sedang menimpa dirinya.


Mata Dimas terperanjat saat dia melihat Erina mengikat rambutnya karna pedas dan kegerahan. Rambutnya yang basah sampai ke leher membuat leher Erina terlihat sangat sexy dan menggoda. Kulit putih mulusnya yang basah karna keringat sungguh membuat kaum adam jadi terpesona. Ditambah lagi baju seragamnya yang ikutan basah bagian atas yang menyebabkan baju dalamnya sedikit terlihat walau samar. Dimas mengepalkan tangannya geram akan sikap dan kelakuan yang Erina tunjukkan. Ia ga rela kalau sampai ada mata laki-laki lain yang memperhatikan dengan lekat dan bisa sampai tergoda olehnya.


Ingin sekali Dimas bangun dan berjalan mendekati Erina. Tapi ga mungkin, Erina pasti ga akan suka dengan kehadirannya. Dimas menarik nafasnya dalam-dalam berusaha menata hati dan emosinya.


"Broo... Syuut... Woooiiii???" ucap Rio mengagetkan Dimas yang sedang asik dengan tatapannya.


Dimas mengambil botol mineralnya dan meneguknya dengan kasar.


"Balik kelas yuk" ajak Dimas sambil langsung beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Rio yang masih asik dengan makanannya.


"Bentar Broo... Makanan gue belum abis nih, sayang. " jawab Rio seraya mengunyah makanan nya dengan cepat.


"Dim... Dimaaasss.... " teriak Rio di tengah-tengah makan nya. Namun Dimas ga memperdulikan panggilan Rio kepadanya. Dimas tetap terus berjalan tanpa menoleh ke arahnya.


#########

__ADS_1


Di kelas Dimas


Dimas duduk di kursinya dengan frustasi. Bayangan tadi tentang Erina masih jelas terpapar di matanya. Wajah mulusnya yang menampakkan ke sexy an nya membuat dadanya terasa sesak. Diambilnya ponsel miliknya dan langsung menyambungkan nomornya ke nomor ponsel Erina. Dimas benar-benar tak nyaman berada dalam zona sempit seperti ini. Dimana ia bisa melihat dengan jelas wanita yang di cintainya namun ia tak bisa untuk mendekatinya lagi atau bahkan menyentuhnya kembali.


Erina tak menjawab telpon dari Dimas. Dimas cobanya lagi untuk yang ke dua kali. Lagi-lagi hasilnya sama. Erina masih tidak mau menjawab telpon dari dirinya.


Di kantin, Erina masih mencoba untuk menghilangkan rasa panas dan pedas yang menimpa bibir dan lidahnya. Nafasnya masih tersengal-sengal karna pedasnya sambal pak Ujang yang terasa ga waras di indra pengecapan.


Ponsel miliknya tiba-tiba bergetar di atas meja dan membuat matanya langsung refleks ke arah layar ponsel. Nama Dimas tertera jelas di layar ponselnya. Erina sengaja membiarkan panggilan itu sampai terputus. Getaran ponsel miliknya pun kembali bergetar untuk yang ke dua kalinya. Dan lagi lagi, Erina membiarkan telpon itu bergetar sampai terputus kembali.


"Dari Dimas tuh Rin, angkat napa?" Ucap Tasya dengan nada setengah menyuruh.


"Ga usah biarin aja" jawab Erina datar tanpa ekspresi bahagia.


"Hhmmm... Gue tau sekarang, saudara-saudara, ternyata tuan putri kita ini sedang marahan dengan pangerannya" ucap Tasya terkikik meledek Erina yang sedari tadi muram.


"Dari tadi pagi gue juga dah curiga sama ini bocah. Pantesan aja makan mie sambelnya ga Kira-kira. Ternyata pelampiasan emosi tooo... " ucap Chika mengevaluasi.


"Erina kenapa? Diapain sama Kak Dimas? Kok bisa marahan?" cletuk Adel yang langsung membuat Chika dan Tasya menjadi gemas.


"Hhadduuhh... Ga usah kepo deh" jawab Tasya


"Ya ga apa-apa kan Erina, kalau gue kepo. Mang kalian ga pengen tau juga ada apa dengan Erina dan Kak Dimas?" ucap Adel sambil memonyongkan mulutnya ke arah teman-teman nya.


"Iya juga ya? Ih, Adel pinter yaaa... " goda Chika kepadanya.


"Udah ah, balik kelas yuk. Bentar lagi bel nih" ucap Erina mengalihkan pembicaraan dan langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke kelas. Tasya menatap ke Arah Chika dan Adel sambil hanya menggidikkan bahunya dan berjalan mengekori Erina menuju ke kelas.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2