Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Semakin Dekat


__ADS_3

Selesai pertandingan, Dimas ke toilet untuk membersihkan badannya dan berganti dengan pakaian bersih. Erina duduk menunggu Dimas di deretan kursi penonton sambil memainkan ponselnya. Para penonton sebagain besar sudah banyak yang meninggalkan lokasi stadion dan saat ini stadion basket mulai nampak sepi. Hanya tertinggal beberapa pemain dan pelatih serta panitia yang masih bersliweran disana.


Dimas sudah selesai berganti baju. Erina menghampiri Dimas dan langsung menutup hidungnya karna ia mencium aroma yang lumayan tajam dari baju Dimas.


"Wangi banget sih Dim" ucap Erina spontan sambil menutup hidungnya.


"Masa sih?" jawab Dimas cepat sambil mencium kembali lengan bajunya yang memang tercium wangi.


"Kamu mandi parfum ya... "


"Hehehehe... Iya beib. Kan biar wangi" ucap Dimas sambil nyengir.


"Ya tapi kan ga harus sewangi ini juga keles..."


"Iya maaf ya sayaaang... Tadi aku buru-buru. Takut kamu bete kelamaan nungguin aku. Jadi aku siram aja deh nih parfum, Hehehe.. Ntar juga ilang kok bau tajemnya" jelas Dimas sambil melempar senyum nakalnya.


Erina tertawa kecil melihat sikap Dimas yang mulai ganjen.


"Semuanya sudah masuk kan Dim? Ga ada yang ketinggalan" tanya Erina memastikan ga ada barang yang belum dimasukkan ke tas sport Dimas yang lumayan gede.


"Kayaknya udah semua deh" jawab Dimas yakin.


"Ya udah kita pulang yuk" ajak Erina


Dimas mengangguk yakin.


Dimas mengambil tas sport nya dan mencangklongnya di pundak kirinya. Tangan kanannya langsung meraih tangan Erina dan langsung menggenggam nya. Erina langsung melepaskan genggaman tangan Dimas karna merasa risih dengan teman-teman Dimas yang masih ada disana. Dimas terkejut dan menoleh ke arah Erina.


"Ga enak Dim diliat sama yang lain" ucap Erina menahan malu.


"Kamu kan pacar aku. Kenapa mesti malu?"


"Nanti aja di luar ya... " Dimas menarik nafas dan menghembukannya secara kasar.


Dimas ga lupa untuk berpamitan kepada teman-teman dan pelatihnya yang masih ada disana.


"Bro, gue duluan ya... " pamit Dimas


"Ok brooo... Hati-hati"


"Coach, saya pamit duluan ya... "


"Okay Dim. Thanks ya udah bikin team kita selalu menang." ucap Coach sambil memeluk Dimas.


"Sama-sama coach. Kemenangan ini juga berkat pengarahan coach juga. Berkat kerjasama yang baik dengan teman-teman" jawab Dimas merendah.


"Ok. Pertahankan terus semangat kamu ya..." ucap pak Alex, coach Dimas.


"Oia, ngomong-ngomong dari tadi kamu belum ngenalin cewek yang kamu gandeng nih. Saya dari tadi merhatiin loooh..." ucap pak Alex sambil melirik ke arah Erina.


Wajah Erina memerah. Ada sedikit rasa risih dari cara tatapan pak Alex kepadanya.


"Oh iya maaf. Ini Erina" Erina mengulurkan tangannya ke arah pak Alex.


"Halo.. Saya Erina"


"Siapa Dim? Pacar kamu?" pak Alex menjabat tangan Erina sambil menoleh ke arah Dimas.


"Iya coach" ucap Dimas sambil nyengir.


"Cantik" kata terakhir dari pak Alex sebelum akhirnya Dimas meninggalkan stadion. Erina tersipu malu mendengar pujian dari pak Alex.


##########

__ADS_1


Keluar stadion basket Dimas menggandeng dan menggenggam erat tangan Erina seolah-olah tak ingin dilepaskan.


Hari sudah menunjukkan pukul 3 siang. Mereka sudah terlambat makan.


"Kita makan dulu ya beib.. " Erina hanya mengangguk.


"Maaf ya jadi bikin kamu terlambat makan" ucap Dimas dengan nada bersalah.


"Ga apa-apa Dim. Tadi pagi aku udah sarapan kok. Jadi aku ga terlalu laper banget. Lagipula laper aku udah langsung hilang saat liat kamu main tadi"


"Oia?? Sesimpel itukah?"


"Iya. Aku jarang banget nonton pertandingan basket. Awalnya aku ga begitu suka. Ternyata seru ya nonton pertandingan basket"


"Karna ada aku kan makanya seru" goda Dimas sambil melempar senyum khas nya.


"Mungkin itu juga salah satu penyebab nya" jawab Erina sambil tertawa kecil.


Dimas mengusap lembut kepala Erina mirip seperti seorang ayah yang membelai lembut rambut putrinya.


#########


Dimas melajukan motornya ke sebuah resto ayam bakar yang terkenal enak. Pengunjungnya juga ga pernah sepi. Selalu ramai. Dimas memesan makanan dan minuman.


kurang lebih 10menit kemudian, pesanan pun datang. Dimas dan Erina menikmati makanan nya dengan tenang dan santai. Mungkin karna saking banyaknya kalori yang sudah terbuang tadi saat pertandingan, Dimas benar-benar merasa kelaperan. 1 porsi ayam bakar ga cukup untuk mengembalikan tenaganya.


Erina tertawa terkekeh melihat gaya makannya Dimas yang terlihat sangat lahap itu.


"Laper banget nih kayaknya... " ejek Erina di tengah-tengah makan.


"Iya laper banget beib" jawab Dimas sambil nyengir.


"Kamu mau nambah lagi? Ayamnya aja mungkin?" tanya Dimas menawarkan.


"Enggak.. enggak. Ini udah cukup. Aku dah kenyang"


"Makanya kamu suka kan sama aku?" goda Dimas yang langsung membuat wajah Erina memerah.


Erina hanya memandang malas ke arah Dimas. Lagi lagi Dimas sengaja memojokkan dirinya dengan perkataanya yang penuh percaya diri. Dimas terkekeh melihat reaksi dari Erina yang tak bisa menyembunyikan wajah malunya.


############


Motor Dimas sudah terparkir di depan pagar rumah Erina. Wajah Dimas terlihat sangat lelah. Erina ga tega melihatnya. Ia tidak berniat untuk menahan Dimas lama-lama lagi supaya Dimas bisa cepat pulang dan cepat untuk istirahat.


"Makasih ya Dim" ucap Erina sambil menyodorkan helm ke Dimas.


"Justru aku yang berterima kasih sama kamu karna aku udah ngambil waktu libur kamu buat nemenin aku tanding" Erina tersenyum simpul.


"Sama-sama Dim. Aku juga seneng kok nemenin kamu tanding. Aku jadi punya pengalaman baru"


Dimas tiba-tiba menatap Erina dengan lekat sambil tersenyum manis. Tatapan Dimas membuat Erina jadi salah tingkah. Erina mencoba membalas tatapan Dimas. Tapi, tatapan mata Dimas ga mampu membuat mata Erina menang dan detak jantungnya berdetak makin ga beraturan.


"Kamu kenapa sih Dim? Kok ngeliatin aku begitu banget?" tanya Erina kikuk.


"Aku suka aja ngeliatin kamu"


"Kenapa? Pasti jawabannya karna aku cantik. Iya kan?"


Dimas menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan lalu kembali menatap Erina sambil tersenyum.


"Aku sayang sama kamu... "


Erina membulatkan matanya ga percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Kata-kata Dimas sungguh ajaib bisa langsung membuat Mulut Erina terkunci. Sekuat tenaga, Erina menjaga keseimbangan tubuhnya. Rasanya ingin sekali dia melayang ke udara karna kegirangan.

__ADS_1


"Tenang Rin... tenang... " batin Erina


"Dimas ini udah mau malam, kamu cepat pulang ya. Istirahat. Seharian ini kamu kan capek banget" ucap Erina mengalihkan pembicaraan.


"Kamu sayang ga sama aku?" tanya Dimas yang bener-bener membuat Erina spechlees.


"Dimaasss...." ucap Erina geram.


"Iya sayang..."


Erina menarik nafas


"Kamu hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut-ngebut bawa motornya"


"Jawab dulu pertanyaan aku" tatapan Dimas terlihat sangat serius


Erina terdiam, dan menunduk bingung mau bilang apa.


"Erinaaaaa..." suara Dimas membuyarkan lamunan sesaatnya.


"Iya... " Erina menelan ludahnya dan mencoba untuk tetap tenang.


"So... ???"


"Harus aku jawab sekarang?" tanya Erina kikuk.


"Hheemmm.. " jawab Dimas yakin.


"Aku ingin tau pasti perasaan kamu sama aku. Secara langsung, seperti ini..." senyuman Dimas benar benar terasa bagaikan magnet yang mampu menarik seluruh isi jiwa Erina untuk menempel dan tak mampu menolak pesona diri Dimas.


"Rasa sayang itu kan ga harus di ucapkan Dim. Dari perbuatan juga sudah cukup menjelaskan seberapa besar rasa sayang dari seseorang bukan?"


"Tapi aku ingin dengar langsung dari mulut kamu"


"Kamu ngeselin ya, sukanya maksa"


"Justru itu nanti yang bikin kamu selalu kangen sama aku" lagi-lagi Dimas menampakkan senyum nakalnya.


Erina membalas dengan pandangan malas.


Suasana hening kembali. Dimas masih setia menunggu jawaban atas pernyataan nya dan masih sambil menatap Erina dengan sangat tajam. Lama-lama Erina ga tahan dengan Tatapan mata Dimas yang membuat nya semakin hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya. Erina menatap mata Dimas yang masih menatap dirinya. Dan akhirnya Erina memutuskan untuk memberikan jawaban yang pastinya membuat Dimas senang.


"Soo...."


"Iyaaa, Aku juga sayang sama kamu... " ucap Erina sedikit terbata-bata.


Senyum Dimas merekah bahagia. Kini hatinya sudah tenang karna cintanya ga bertepuk sebelah tangan. Erina menerima cintanya karna dia memang sayang bukan karna terpaksa.


"Makasih ya sayang. Aku seneng banget dengernya." ucap Dimas masih dengan senyum nya yang merekah.


"Ya udah aku pulang ya... Kamu jangan lupa buat mimpiin aku ya... "


"Dasar cowok ganjen" Dimas terkekeh mendengar perkataan Erina.


"Aku pulang ya... " ucap Dimas mengulangi.


Erina mengangguk


" Hati-hati ya... Jangan ngebut!! "


Dimas mengangguk yakin.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2