Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Luapan Emosi


__ADS_3

Erina membantingkan tubuhnya di atas ranjangnya. Dibenamkannya wajahnya di atas bantalnya. Air matanya longsor dengan deras. Erina meluapkan semua emosi kesedihannya. Dibiarkannya air matanya mengalir dengan deras.


Berkali-kali ia menyeka air matanya dengan tissue yang ada di atas meja belajarnya, tapi sepertinya bendungan air matanya masih saja memenuhi matanya. Kepalanya terasa berat. Rasa sedih, sakit, perih, syok atau bahkan marah telah bercampur menjadi satu.


Hati Erina mati rasa untuk saat ini. Hatinya terasa sangat beku. Ia ga pernah membayangkan tentang kejadian seperti ini. Yang ia tau, Dimas sangat sayang dan cinta kepadanya. Karna memang kata-kata indah seperti itulah yang sering ia dengar dari mulut Dimas. Dan sekarang, Erina harus menelan pil pahit yang mengguncang hati dan jiwanya.


Dari luar, masih ada Dimas yang duduk terpaku di kursinya sambil menatap ke arah jendela kamar Erina. Diambilnya ponsel miliknya yang ada di saku jaket. Dimas sangat khawatir dengan kondisi Erina saat ini. Hatinya pasti hancur, sehancur hatinya sekarang.


Ponsel Erina berdering, terlihat nama Dimas di sana. Erina mengabaikan panggilan telpon dari Dimas. Dimas mencoba berkali-kali menghubungi ponsel Erina, namun hasilnya tetap sama. Ga ada jawaban. Dimas masih enggan untuk melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Erina. Hatinya masih belum tenang. Walaupun tadi Erina mencoba untuk menyembunyikan kesedihannya, Dimas sempat melihat airmata mengalir dari ke dua bola mata Erina yang indah.


Dimas mencoba untuk mengirimkan pesan singkat untuk Erina.


Erina, tolong terima telpon aku. Please.... 😭


Cukup lama Dimas menunggu jawaban dari pesan yang ia kirimkan. Erina rak kunjung membalas pesannya. Jangankan untuk membalas, pesan Dimas pun belum di baca olehnya.


Dimas bangkit dari duduknya dan menarik nafas panjangnya. Matanya masih tetap mengawasi jendela kamar Erina yang lampunya masih menyala. Sepertinya Erina masih terjaga dan belum tidur. Dimas mencoba kembali melakukan panggilan telpon ke nomor ponsel Erina. Dan lagi-lagi ga di terima oleh Erina. Dengan berat hati, akhirnya Dimas memutuskan untuk memberi waktu bagi Erina untuk sendiri tanpa gangguan dari dirinya.


Dimas melajukan motornya kembali ke rumah. Wajah kusut Dimas terlihat dengan jelas saat ia memasuki pintu rumahnya. Dimas mengabaikan semua orang yang ia temui di rumah termasuk dengan Wulan yang berpapasan sangat dekat dengannya. Pikirannya benar-benar kalut dan sangat kacau.


"Kak Dimas, kamu kenapa? Kakak baik-baik aja kan?" ucap Wulan penuh dengan kecemasan.


Dimas berjalan cepat menuju kamarnya. Di bantingnya pintu kamarnya yang menimbulkan suara gaduh yang cukup kencang. Suara bantingan pintu kamar Dimas terdengar sampai ke lantai bawah membuat ibu Devita terperanjat kaget dan mencari asal suara itu.


"Suara apa itu ya?" tanya Mama Dimas.

__ADS_1


"Pintu kamar kak Dimas tante. Kayaknya kak Dimas lagi kesal deh. Tadi wajahnya keliatan kusut banget tant" jawab Wulan panjang lebar yang membuat mama Dimas termanggut heran.


############


Dimas melempar jaket dan sepatunya ke sembarang arah. Di bantingnya tubuhnya ke ranjang. Seluruh jiwa dan raganya sangat menyesali dengan apa yang baru saja ia lewati. Pikiranya masih kacau. Di ambilnya kembali ponselnya. Dilihatnya segera nomor kontak ponsel Erina berharap sangat ada balasan atas pesan yang tadi sudah ia kirim. Mata Dimas harus menerima kekecewaan. Erina masih saja belum membaca pesan yang sudah Dimas kirim. Dimas mendengus kesal. Dilemparnya ponsel miliknya di atas ranjang lalu masuk ke toilet kamarnya dan mengguyurkan air dingin di kepalanya.


Dimas sengaja membiarkan kondisi rambut nya setengah basah. Biar kepalanya masih terasa dingin dan segar. Dimas merebahkan badannya di ranjang besarnya. Malam ini dia sangat galau dan gelisah. Dimas mencoba memejamkan matanya untuk tidur. Nampaknya usahanya gagal lagi. Matanya masih terlalu segar untuk terpejam.



Disisi lain, Erina dengan mata sembabnya masih belum bisa memejamkan matanya. Air matanya masih saja mengalir walau ga sederas pertama. Kepalanya juga masih terasa berat karna hidungnya yang menjadi penuh dengan ingus yang membuat nafasnya menjadi berat.


Tak ada yang bisa ia lakukan saat ini kecuali menangis. Ia ingin meluapkan emosinya dengan tangisannya. Dengan menangis, beban kesedihan nya terasa lebih ringan. Walaupun ga bisa hilang dalam waktu sekejap.


Erina mengatur nafasnya untuk rileks dan memejamkan matanya. Matanya yang sedari tadi mengalirkan air mata, seperti nya mulai lelah. Akhirnya Erina terlelap dalam mimpi sedihnya. Tubuhnya terasa sangat lelah dan lemah.


###########


Pintu kamar Erina sudah berkali-kali di ketuk oleh sang mama. Tapi ga ada jawaban dari dalam.


"Erinaaaa... Erinaaaaa... Bangun sayang. Udah siang nih... Ayo bangun!!! Anak perawan pamali kalau bangun siang. Erinaaa.. " ucap ibu Astri sambil setengah berteriak dari luar pintu kamar.


"Tumben Erina ngunci pintu kamarnya?" batinnya.


Erina tersadar dari mimpinya saat terdengar ada suara yang menyerukan namanya berkali-kali memanggilnya. Matanya pagi ini terasa berat dan terasa penuh untuk di buka. Dilihatlah dirinya di depan cermin. Matanya yang semalam sembab berubah menjadi bengkak yang sangat menyolok mata orang yang melihatnya. Mamanya pasti akan menyadari kalau semalam dirinya habis menangis.

__ADS_1


Erina membuka pintu kamarnya. Di balik pintu ternyata masih ada sang mama yang masih menunggu. Erina terkejut dengan kehadiran mamanya itu. Mamanya juga ga kalah terkejutnya dengan perubahan wajah Erina.


"Sayang, mata kamu kenapa? Kok bengkak begini?" tanya ibu Astri sambil menyentuh wajah anaknya.


"Ga apa-apa mah" jawab Erina sambil melangkah pergi ke kamar mandi untuk cuci muka.


"Erina tunggu. Kamu semalam nangis ya?" tanya mamanya lagi memastikan.


"Iya ma. Perut Erina tiba-tiba sakit banget. Erina ga tahan, makanya Erina nangis semalem" jawab Erina bohong.


Ibu Astri menatap wajah anaknya dengan sangat lekat. Ia tau kalau putrinya sedang berbohong.


"Kamu semalam berantem ya sama Dimas?" tebak ibu Astri.


Erina membulatkan matanya dan tetap mencoba menyembunyikan permasalahan nya dari mamanya.


"Enggak kok ma. Hubungan aku sama Dimas baik-baik aja" jawab Erina pelan.


"Jangan bohong. Semalam mama liat Dimas di luar sampai lama nungguin kamu."


"Mama apaan sih. Udah ah Erina mau cuci muka dulu" jawab Erina mengalihkan pembicaraan.


Ibu Astri mensedekapkan tangannya di dada. Sambil menarik nafas, Ia memandangi punggung anaknya yang sedang lemah itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2