Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Anggota Baru


__ADS_3

Jam dinding rumah Dimas sudah menunjukkan pukul 08.20. Hari ini adalah hari sabtu. Dua hari terakhir libur semester pertama. Dimas masih terlelap dalam mimpinya. Jika libur sekolah, ibu Devita memang sengaja membiarkan anak semata wayangnya itu untuk bermalas-malasan. Ia juga membebaskan anaknya untuk bangun jam berapa saja ia mau.


Terdengar suara ketukan dari pintu ruang tamu. Ibu Devita berjalan menuju pintu dan membukanya. Dari balik pintu terlihat seorang anak gadis muda bersama seorang wanita paruh baya dengan dua koper besar. Dengan suara manja si gadis menyapanya dengan senyuman yang mengembang.


"Pagi Tante Devita... " sapa Wulan dengan senyuman cerianya.


"Pagi... Kamu pasti Wulan kan?" jawab bu Devita sambil tersenyum senang.


"Iya Tante. Oia Tant, saya kesini di antar sama Bibi. Papa ga ijinin aku pergi sendiri. Bi Tina di minta papa buat nemenin aku ke Jakarta" jelas Wulan dengan semangat.


"Oo begitu.. Kamu sudah besar ya sekarang. Tambah cantik. Tante sampai Pangling. Ayok masuk...masuk..."


"Tadi Pak Tatang jadi jemput kamu di bandara kan ya?" tanya mama Dimas


"Jadi Tant. Maaf ya Tante, Wulan jadi ngrepotin. Seharusnya biarin aja Wulan naik taksi" ucapnya seolah-olah tak enak hati.


"Eehh... Ya ga boleh begitu. Kan kamu belum tau arah ke rumah tante. Kalau sengaja disasarin sama driver taksinya gimana?"


Wulan hanya nyengir mendengar penjelasan mama Dimas.


"Oia, ngomong-ngomong bi Tina ikut tinggal di sini juga sama wulan?"


"Enggak tante. Besok pagi Bi Tina balik lagi ke Malang. Papa sudah membelikan tiket pulangnya buat bi Tina"


Ibu Devita hanya mengangguk sambil menatap ke arah bi Tina. Bi Tina sendiri hanya tersenyum simpul sambil mengangguk tanda hormat.


"Ya sudah kalau begitu Kamu langsung ke kamar aja ya. Kamu taroh dulu barang-barang kamu, nanti kita lanjut ngobrolnya ya. Kamar kamu ada di atas. Sudah dirapihkan sama Bi Atun. Yuk tante tunjukin kamar kamu."


Ibu Devita menaiki anak tangga menuju lantai dua. Wulan dan Bibinya mengikuti dari belakang. Kamar yang akan ditempati Wulan adalah kamar tamu yang memang jarang di tempati. Karna jarang banget saudara orang tua Dimas yang menginap di rumahnya.


Kamar tamu rumah Dimas memiliki ukuran yg lumayan besar lengkap dengan ranjang besar yang bisa dibilang mewah, lemari pakaian yang juga besar Serta kamar mandi yang ada di dalam kamar.


"Wulan dah bi Tina istirahat dulu ya... Nanti siang kita lunch bareng di bawah" ucap Ibu Devita sambil tersenyum.


"Maaf tante, kok rumah tante sepi ya? Om dan kak Dimas kemana? Ga keliatan" tanya Wulan penasaran.


"Om Nugra lagi d ruang kerja. Katanya ada beberapa berkas-berkas kantor yang harus diperiksa"


"Oo begitu." ucap Wulan sambil manggut-manggut.


"Kl Kak Dimas kemana tante?"


"Dimas masih tidur."


"Masih tidur?" Wulan membulatkan matanya setengah ga percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Dimas emang punya kebiasaan buruk. Kalau libur sekolah, bangunnya selalu siang." jelas sang mama sambil tertawa kecil.


"Ya sudah tante tinggal dulu ya. Kalian istirahat dulu."


############


Sekitar jam 11an Dimas keluar dari kamarnya dan langsung turun ke bawah. Dimas sudah terlihat rapih dan wangi. Seperti Biasa kalau di rumah, Dimas hanya memakai kaos oblong dan celana pendek selutut.


Perutnya sudah terasa lapar. Cacing-cacing dalam perutnya mulai meronta-ronta minta segera diisi makanan.


Jelas saja Dimas kelaparan, karna tadi pagi ia ga sarapan. Matanya masih terasa berat untuk dibuka dan tubuhnya masih bermanja dengan bantal dan guling empuknya.

__ADS_1


Dilihatnya di atas meja sudah tersaji beraneka pilihan makanan enak nan lezat. Dimas langsung mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang ia suka. Dimas duduk dengan tenang menikmati makanan seorang diri.


Tak lama muncullah sang mama yang sedang Membawa piring oval besar yang berisi lauk seafood sambl pedas yang sangat menggugah selera makan.


Ibu Devita langsung memasang muka marah ketika ia melihat anaknya dengan lahapnya memakan makanan seorang diri.


"Diiimaaaasss.... Kamu ini kebiasaan deh. Kalau makan selalu duluan. Bukannya tunggu papa sama mama, malah langsung makan aja" ucap sang mama dengan nada kesal.


"Maaf maaa... Dimas laper banget" ucapnya di sela-sela suapan ke mulutnya.


"Jangan diabisin dulu makanannya. Pelan-pelan makannya. Mama mau panggil papa dulu."


"Iyaaa... Ini Dimas Pelan-pelan kok." ucapnya sambil menambah porsi nasi dan lauk ke dalam piringnya.


Dimas mengacuhkan perintah mamanya untuk Pelan-pelan makan. Dia sudah lapar. Ia terus menyuapkan semua makanannya ke dalam mulutnya. Nanti saat orang tuanya makan, kan dia bisa makan buah atau puding sebagai hidangan penutup. Ucap Dimas di pikirannya.


Papanya telah berada di depan meja makan dan duduk dengan tenang. Ia tertawa kecil melihat gaya makan anak laki-laki nya. Pak Nugra tak pernah mempermasalahkan soal Dimas yang sering memulai makan tanpa menunggu dirinya atau mamanya.


"Tambah lagi lauknya" ucap sang papa datar.


"Udah Pa, Dimas udah nambah 2x" jawab Dimas sambil menyelesaikan suapan terakhir nya.


"Dimas ini kebiasaan deh Pa, kalau makan ga nungguin Mama sama Papa. Main makaann aja. Sebel deh mama" gerutu sang mama.


"Udah ga apa apa. Namanya juga laper, ya makan. " ucap sang papa membela anaknya.


"Tuh kan Maa... Papa aja ga apa apa aku makan duluan" ucap Dimas sambil tersenyum ke arah Papanya dan dibalas senyuman juga oleh papanya. Mamanya terlihat makin kesal dengan kekompakan antara anak dan papanya itu. Ibu Devita hanya menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Bi Atuuuunnn... " teriak sang mama.


Bi Atun terlihat setengah berlari memenuhi panggilan majikannya itu.


"Bibi tolong ke atas ke kamar tamu. Tolong panggilkan Wulan dan Bi Tina ya. Suruh mereka ikut makan siang bareng"


"Baik bu" tanpa berlama-lama bi Atun langsung melaksanakan perintah yang baru saja diberikan kepadanya.


Pak Nugra kaget dan ga nyangka kalau Wulan ternyata sudah sampai di rumanhya.


"Mam, si Wulan sudah nyampe? Kapan? Kok papa ga tau?" tanya pak Nugra


"Tadi pagi sekitar jam 9 lah. Papa masih di ruang kerja. Jadi mama suruh aja Wulan istirahat dulu di kamar tamu"


"Ooo... Okay" jawab pak Nugra simple.


Lain halnya dengan Dimas yang terlihat sangat kaget mendengar nama Wulan. Ternyata Dimas sudah lupa dengan Wulan. Dimas benar-benar ga ingat dengan Wulan. Karna pertemuan saat itu hanya sekali dan ga begitu lama, jadi hal itulah yang menyebabkan dirinya ga terlalu ingat dengan sosok yang bernama Wulan.


"Wulan? Wulan siapa mah?" tanya Dimas polos.


"Anaknya pak Susanto. Masa kamu lupa sih" jawab sang mama santai.


Tak butuh waktu lama Wulan dan bi Tina terlihat sedang menuruni anak tangga. Wulan menyapa Pak Nugra dan Semuanya dengan senyum merekahnya yang penuh dengan percaya diri. Bi Tina memilih untuk pergi ke dapur dan tidak membaur di. meja makan bersama keluarga Dimas.


"Halo om Nugra, tante..." Sapa Wulan dengan suara yang terdengar manja.


"Halo Wulan. Ayo duduk" ucap pak Nugra sambil tersenyum juga.


Wulan duduk di depan kursi Dimas. Wulan sengaja duduk di depan Dimas agar dia bisa terlihat jelas oleh Dimas. Dan sebaliknya juga, ia bisa memandang wajah Dimas dengan jelas juga.

__ADS_1


Mama Dimas mengambilkan nasi dan lauk untuk suami dan dirinya kemudian memberikan tempat nasi ke arah Wulan. Wulan mengambilnya dengan sedikit canggung.


"Kamu harus cobain ini, Lan. Ini enaaaakkk banget " ucap mama Dimas sambil meletakkan lauk seafood ke piring Wulan.


"Terima kasih Tante" ucap Wulan sedikit kikuk.


"Gimana perjalanan kamu? Capek ga?" tanya pak Nugra di sela-sela makannya.


"Enggak terlalu kok Om." jawab Wulan cepat.


Dimas masih terdiam di kursinya. Sesekali dilihatnya sosok Wulan. Wajah Wulan termasuk cantik. Kulitnya wajahnya putih mulus tanpa jerawat. Body nya juga menarik. Sangat ideal.


"Dimas ini Wulan anaknya pak Susanto, partner kerja papa yang di Malang. Kamu masih ingat ga?" ucap pak Nugra mengulangi ucapan istrinya tadi.


Dimas hanya menggeleng.


"Yang mana ya?" ucap Dimas malas mengingat.


"Masa kamu sudah lupa sih sayang? Dulu kalian kan sudah pernah ketemu pas di restoran Seafood pas kita berlibur ke Malang" ucap sang mama menjelaskan.


Dimas hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum simpul.


"Wulan akan tinggal disini" ucap mama lagi


"Sampai kapan?" tanya Dimas di sela-sela makan hidangan penutup.


"Sampai lulus sekolah. Iya kan Wulan?" ucapan sang mama kali ini membuat Dimas terkejut. Di benaknya Dimas bertanya-tanya apa maksudnya sampai selesai sekolah?


"Maksudnya gimana mah?" tanya Dimas yang masih ga mengerti dengan ucapan mamanya.


"Wulan pindah sekolah dari Malang ke Jakarta. Dan papa sudah mendaftarkan Wulan ke sekolah yang sama dengan kamu" ucap sang mama sambil mengembangkan senyuman ke arah Wulan.


"Kenapa loe mesti pindah sekolah? Emangnya sekolah loe yang di Malang masih kurang bagus?" tanya Dimas kepada Wulan


"Dimaaaasss... kok kamu nanyanya begitu sih?" ucap sang mama yang kurang suka dengan nada bicara Dimas yang terdengar memojokkan Wulan.


"Wulan ingin kuliah di Jakarta. Makanya Wulan sengaja pindah sekolah supaya bisa menyesuaikan diri dengan suasana Jakarta. Betul kan Wulan?" Ucap ibu Devita yang langsung di jawab anggukan oleh Wulan.


"Ooo... Begitu" Dimas hanya merespon datar mendengar penjelasan dari sang mama.


"Senin besok Wulan sudah bisa masuk sekolah ya. Oia pap, untuk seragam sekolahnya Wulan apa sudah beres?"


"Semua sudah beres. Wulan sudah bisa langsung masuk sekolah. Seragamnya masih di laundry. Besok minggu staf kantor papa akan mengantarnya ke rumah". jelas pak Nugra.


"Wulan jangan sungkan-sungkan ya... Anggap saja ini rumah kamu sendiri. " tambah pak Nugra lagi.


"Saya sangat berterima kasih sekali kepada Om, Tante dan kak Dimas yang sudah menerima Saya dan mengijinkan saya untuk tinggal di rumah ini. Saya sangat bersyukur bisa mengenal keluarga Om Nugra dan Tante, keluarga yang begitu hangat dan sangat baik" ucap Wulan kikuk berbasa basi.


"Semoga kamu betah ya tinggal disini" ucap sang mama


Wulan mengangguk malu sambil tersenyum dan menatap ke arah Dimas. Saat ia menatap ke arah Dimas, Wulan menemukan matanya sedang beradu pandang dengan Dimas. Dan Dimas juga melempar senyum kepadanya. Sesaat Wulan menjadi Ge-Er.


Hatinya sangat senang saat melihat Dimas tersenyum kepadanya. Wajah Dimas terlihat lebih tampan di banding dahulu saat pertama ia bertemu. Tatapan Matanya yang tajam dan badannya yang kekar sungguh membuat Semua Mata wanita pasti akan merasa terbuai olehnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2