Ku Tembak Cintamu 2x

Ku Tembak Cintamu 2x
Tidak Semudah Itu


__ADS_3

Suasana Rumah Sakit mendadak ramai dengan kehadiran beberapa mobil polisi yang terparkir di halaman parkir utama membuat banyak mata menatap tajam penuh tanya. Security rumah sakit ikut membantu menenangkan para pasien dan keluarga untuk tetap tenang dan tidak menimbulkan kegaduhan.


Polisi langsung bergerak menuju lantai lima ke ruang perawatan VVIP tempat Erina dan bayinya di rawat. Dengan bersenjata lengkap polisi dengan cepat memposisikan diri untuk menghadapi para penjahat yang berada di rumah sakit ini.


Tak kalah banyak dengan polisi, bodyguard pak Nugra juga sudah mengepung semua area rumah sakit. Sesuai perintah pak Nugra, tidak ada yang boleh lolos. Hidup atau mati semua orang yang terlibat harus tertangkap. Selama ini Pak Nugra tidak pernah menunjukkan amarahnya. Ia adalah termasuk sosok laki laki yang penyabar. Namun kali ini berbeda. Seseorang sudah dengan sengaja menyalakan api amarahnya. Sudah cukup selama ini ia berdiam diri dipermainkan seenaknya dengan orang yang menaruh kebencian kepadanya.


Kebahagiaan akan hadirnya seorang cucu kesayangan membuat dirinya lengah dan lupa akan bahaya yang mengintai. Ia tak pernah menyangka kalau hal ini akan terjadi ditengah tengah kebahagiaannya menjadi seorang kakek. Meski saat ini dirinya sudah kecolongan karna kebodohannya terlalu lengah yang menimbulkan penyesalan, hal itu tidak boleh dibiarkan berlarut sampai lama. Tindakan cepat dan tepat adalah pilihan yang harus segera dilakukan.


#########


Selama ini, Wulan sudah dengan matangnya merencanakan kejadian ini. Dan semua berjalan sesuai dengan rencananya. Dengan bantuan beberapa bodyguard profesional, Wulan berhasil melancarkan aksinya.


Berawal dari keberhasilan dirinya melemahkan seorang perawat dan mengganti pakaiannya dengan perawat lengkap dengan idcard pegawai. Dengan bermodalkan idcard dan masker, dengan mudahnya Wulan melenggang ke seluruh sudut rumah sakit termasuk ke ruang bayi VVIP. Saat dirinya memasuki ruangan bayi VVIP, seorang suster sempat mencurigai dirinya. Suster penjaga sempat mengusir Wulan karna ternyata suster yang idcard nya ia curi tidak bertugas di ruang bayi VVIP. Bukan Wulan kalau tidak mampu mengelabuhi suster itu. Dengan berpura pura menumpang toilet, tiba tiba Wulan berteriak dan dengan cepat suster itu pun menyusul Wulan ke dalam toilet. Dalam sekejap suster itu tergeletak tak sadarkan diri. Obat bius yang Wulan arahkan ke hidung si suster membuat suster itu tak sadarkan diri hanya dalam hitungan detik.


Kali ini serangan Wulan tidak tanggung tanggung. Selain menyewa jasa bodyguard yang handal, Wulan juga berhasil mengajak kerja sama seorang ahli IT yang bertugas mematikan CCTV rumah sakit terutama seluruh ruang perawatan VVIP yang berada di lantai lima. Dan bodohnya keluarga Nugra, mereka terlalu baik dan terlalu percaya dengan anak buahnya. Sampai mereka tidak menyadari bahwa orang yang mereka percayapun bisa tega membelot menusuknya dari dalam. Dari sang penghianat itulah, dengan mudahnya Wulan mendapatkan berbagai informasi yang ia inginkan.


#########


Entah kenapa Wulan bisa sangat mencintai Dimas. Entah mungkin karna ketampanan yang dimiliki Dimas atau tubuhnya yang kekar atau hartanya yang melimpah atau memang ia menyukai semua yang ada pada diri Dimas sehingga membuat matanya buta. Buta segalanya. Pengorbanan demi pengorbanan sudah ia lakukan bahkan ia sampai rela jauh jauh dan bersusah payah melanjutkan kuliahnya satu kampus dengan Dimas dengan tujuan agar Dimas bisa lebih mengenali dirinya dan akhirnya mau membuka hati untuknya. Sayangnya usahanya selama ini terasa sebagai isapan jempol semata. Dimas sama sekali tidak pernah membalas cintanya. Bahkan Dimas malah seakan sengaja menjaga jarak dengannya. Meskipun mereka satu kampus di negri orang, tak lantas membuat Dimas menjadi semakin dekat dengannya.


Dan dengan lancangnya, Dimas masih saja kekeh akan perasaannya terhadap Erina dan memilih menikahi wanita itu sampai berhasil memberinya seorang anak. Hal inilah yang membuat amarah Wulan memuncak dan tak terbendung lagi. Kesabarannya sudah habis. Rasa lelah dan jenuh membuatnya rela berbuat nekad untuk segera menghabisi kerikil kerikil kecil yang menghalangi langkahnya.


Rencana matang yang telah ia susun sebenarnya terhalang restu dari sang mama yang tak ingin putrinya celaka atau sampai kenapa napa. Namun melihat keyakinan dan kegigihan Wulan, ia justru mendapat dukungan penuh dari sang papa yang ikut menaruh jengkel kepada Nugra sebagai mantan partner kerjanya. Selain sudah membuat putrinya menderita, Nugra juga sudah lancang mengambil alih hampir 75% client pak Susanto. Hal itu membuat perusahaannya semakin merugi.


Bodyguard pak Nugra dibawah komando Rio, sudah mulai merangsek masuk ke area yang ditentukan. Satu persatu bodyguard Wulan berhasil dipatahkan. Termasuk ahli IT sewaannya yang masih berjaga diruang CCTV rumah sakit juga sudah berhasil diringkus. Aparat kepolisian membawa keluar satu persatu orang orang Wulan dan langsung di bawa ke kantor polisi.


########


Senyum Wulan terlihat mengembang ketika penghulu yang di jaga ketat oleh dua bodyguard nya telah duduk ditengah tengah mereka. Suasana terasa sangat tegang. Raut wajah penghulu juga tak kalah tegangnya. Ia tak habis pikir dirinya diculik ke tempat seperti ini dan harus menikahkan dua orang manusia dalam keadaan tertekan seperti ini.


Tangan Wulan masih memegang erat box baby dan sengaja meletakkannya di sampingnya ia duduk. Di luar ruangan beberapa bodyguard Wulan sudah berjaga dengan ketat. Beberapa dokter dan perawat juga sudah berhasil disekap oleh bodyguardnya.


Polisi yang bertugas pun melakukan tugasnya dengan sangat extra hati hati, semaksimal mungkin tidak melakukan tindakan ceroboh yang bisa membahayakan jiwa para korban atau pasien.


Wulan sengaja duduk agak jauh dengan posisi Dimas yang masih berdiri. Ia tak ingin sebelum dirinya sah menjadi istri Dimas, Dimas akan berbuat nekad yang akan menggagalkan semua rencananya yang tinggal selangkah lagi.


"Tunggu.... Dalam pernikahan, harus ada wali untuk mempelai wanita dan mahar yang harus dibayarkan. Aku saat ini tidak memiliki uang cash yang bisa aku jadikan mahar dalam pernikahan ini. Dan untuk wali, karna papamu masih hidup, aku rasa kamu harus membawa papamu ke sini sebagai wali nikahmu Wulan. Jika tidak, pernikahan ini tidaklah sah. Bukan begitu pak penghulu??" Dimas menolehkan pandangannya ke arah penghulu dan dengan wajah gemetar, si penghulu hanya mengangguk mengiyakan ucapan Dimas.


"I-iya.. Itu benar" ucap penghulu sambil mengusap peluhnya yang mulai bercucuran. Dimas sengaja mengulur waktu agar ia bisa langsung mengambil tindakan saat Wulan terlihat lengah. Sayangnya, kejutan demi kejutan ini nampaknya masih harus ia lewati.


"Kamu tidak perlu khawatir soal wali, saya dengan senang hati akan menjadi wali Wulan untuk pernikahan kalian" suara pak Santo tiba tiba mengejutkan Wulan dan membuat senyumnya merekah lebar, senang karna tak menyangka papanya akan datang. Dimas menatap jijik wajah laki-laki pengecut dan menyebalkan yang sudah berani merusak kebahagiaannya selama ini.


"Dan soal mahar, kamu bisa gunakan semua uang yang ada di dompetmu" titah pak Santo yang langsung menolehkan pandangannya ke arah putrinya meminta persetujuanya. "Bagaimana sayang? Tidak apa apa kan?"


"Iya tidak apa apa. Yang penting pernikahan ini sah."

__ADS_1


"Brengsek.... Akan aku habisi kalian semua" gerutu Dimas dalam hati. Wajah kebenciannya terlihat jelas ia tunjukkan kepada semua orang yang ada di ruangan itu.


"Tunggu... Kalian tidak bisa melakukan pernikahan ini di sini. Ini rumah sakit. Bukan tempat untuk menikah." Pak Nugra di dampingi oleh Andra dan beberapa bodyguard yang saling menodongkan pistol ke arah bodyguard masing masing memasuki ruangan bayi dengan wajah penuh arogant.


"Papa... " mata Dimas terbelalak ketika papanya turut melibatkan diri keperdebatan sengit itu.


"Selamat datang pak Nugra... Saya tidak menyangka bapak akan datang juga ke sini" ucap pak Santo berbasa basi. Pak Nugra tak menjawab, ekor matanya hanya melihat sekilas sosok Susanto yang menjijikan.


"Wulan, kamu sangat ingin menjadi istri dari Dimas bukan? Itu artinya, kamu juga akan menjadi menantuku. Saat kalian melakukan ijab qabul, aku tidak ingin ada bayi di tengah tengah acara sakral ini. Bayi itu milik Erina, dan Dimas sudah menceraikannya. Aku akan membuang bayi itu kepada ibunya. Aku tidak ingin Dimas tidak bisa fokus pada acara ijab qabul kalian gara gara melihat bayi dari mantan istrinya. Aku harap kamu bisa mengabulkan permintaanku. Aku akan bersabar lagi untuk mendapatkan cucu dari dirimu." ucapan Pak Nugra membuat Wulan tertegun, sedikit lengah dan hampir lupa dengan niat jahatnya.


Pak Santo terkekeh dengan ucapan Pak Nugra yang terkesan akan mencurangi dirinya. Ide Pak Nugra untuk meniadakan bayi Erina sebagai sandera sekaligus saksi pernikahan ayahnya dengan ibu barunya hanyalah sebagian akal busuknya untuk menggagalkan pernikahan putrinya.


"Kami tidak sebodoh itu pak Nugra. Anda sengaja meminta menganulir keberadaan bayi ini supaya anda bisa menyelamatkan cucu anda dan setelah itu dengan mudahnya anda bisa menggagalkan pernikahan Wulan dan Dimas bukan?"


"Dimas dan Erina sudah bercerai. Jadi bayi itu sudah tidak ada harganya lagi untuk keluargaku. Kalau kalian masih bersikeras mempertahankan bayi itu, ambilah. Aku tidak akan pernah menikahkan anakmu dengan anakku... Ayo Dimas kita pergi" Dimas menegang dan memberontak halus ketika papanya merangkul bahunya mengajaknya untuk segera keluar dari ruang bayi dan mengabaikan tujuan Wulan. Dimas mencengkram lengan papanya dengan geram. Sikap yang diambil papanya sungguh membuatnya marah karna dengan teganya papanya berani membuang cucu kesayangannya yang selama ini ia nantikan.


"Percaya sama papa" bisik pak Nugra lirih.


Dengan berat hati Dimas membalikkan tubuhnya mengikuti papanya untuk meninggalkan ruangan bayi. Baru dua langkah kakinya berjalan, Wulan berdiri setengah berteriak dan langsung menyetujui permintaan pak Nugra tanpa pikir panjang lagi. Apa yang diucapkan pak Nugra ada benarnya. Kalau bayi ini ada di sini, Dimas pasti tidak akan bisa fokus melakukan ijab qabul dengannya. Dan lagi, bayi ini juga membuatnya muak dan ingin segera membuangnya jauh jauh dari hadapannya.


"Tunggu...." teriakan Wulan menghentikan langkah Dimas dan pak Nugra dan membuatnya menolehkan kembali pandangannya ke arah Wulan.


"Ambilah bayi ini. Aku rasa anda memang benar, bayi ini bisa menjadi pengganggu acara pernikahanku dengan Dimas." Dimas bernafas lega. Siasat papanya berhasil. Papanya memang yang ter the best pokoknya.


"Yang aku butuhkan hanya Dimas, bukan bayi sialan ini." ucapnya sambil berteriak. Wulan sudah sangat tidak sabar untuk bisa segera dipersunting oleh Dimas. Makanya kali ini ia lengah terperdaya dengan ucapan pak Nugra si calon mertuanya.


Dengan cepat, Andra mendekati box baby dan segera menggendong bayi Erina untuk dibawa keluar dari ruangan bayi. Ketika akan sampai di pintu, Rio dengan cepat mengambil alih bayi yang di gendong Andra dan membawanya pergi secepat kilat meninggalkan ruangan mengerikan itu. Dimas menyunggingkan senyuman penuh kelegaan ketika matanya dengan jelas melihat bayinya sudah diselamatkan oleh Rio, asistant pribadinya yang setia.


##########


Melihat kondisi sudah aman, Dimas dengan rasa percaya diri yang tinggi menatap Wulan dengan tatapan lembut. Diberikannya senyuman manis dari bibirnya yang membuat Wulan terperangah tak percaya. Dimas mengulurkan tangannya ke arah Wulan dan memberikan instruksi kepadanya agar membalas uluran tangannya.


"Terima kasih Kamu sudah berbuat baik kepadaku. Kemarilah... Aku akan menepati janjiku." ucap Dimas dengan senyumnya kepada Wulan. Semua orang yang berada di ruangan itu menatap tajam ke arah Dimas yang sedang berusaha merayu Wulan. Pak Santo mematung pada posisinya sambil memandangi Dimas dan Wulan secara bergantian.


Wulan masih ragu untuk dan enggan mendekat ke arah Dimas.


"Ayo sayang, bukankah kamu ingin kita segera menikah? Penghulu ini pasti sudah mempunyai jadwal lain untuk menikahkan calon pasangan lain di luar sana." dengan sedikit ragu, Wulan berjalan mendekat ke arah Dimas dan membalas uluran tangannya.


Dimas harus menahan rasa muaknya dan tetap berpura pura manis dengan wanita licik ini sambil menggenggam tangannya dengan lembut. Dimas lagi lagi tersenyum manis kepada Wulan yang membuat hati Wulan berbunga bunga.


"Aku minta maaf ya, karna aku sudah mengabaikan perasaanmu selama ini. Aku tidak menyangka kalau rasa cintamu sebesar ini kepadaku" ucap Dimas dengan nada menyanjung sekaligus menggodanya.


"Jadi gimana pap? Apakah pernikahan ini sudah bisa dilangsungkan?" pak Nugra menatap dalam wajah Dimas yang terlihat impulsif seolah paham akan maksud yang tersembunyi dan lalu menganggukkan kepala tanda setuju.


"Sayang, kamu sudah siap?" Wulan mengangguk senang dan tersenyum.

__ADS_1


"Dimas kamu serius akan menikahi putriku bukan? Kalau kamu sampai berani mengingkari janjimu, anak buahku di luar sana tidak akan segan segan menghabisi nyawa Erina dan anaknya" ancaman pak Santo tak sedikitpun membuat Dimas menjadi gentar. Pak Santo tidak tau kalau semua anak buah yang dia miliki sudah berhasil di lumpuhkan oleh tim polisi dan anak buah dari papanya.


"Maksud anda menghabisi seperti ini?" dengan sigap dan senyuman sinis yang tercipta di bibirnya, Dimas langsung menarik tangan Wulan dan melipatnya ke arah belakang dimana kedua tangan Wulan kini tepat berada di punggung belakangnya. Wulan meringis kesakitan. Tangan Dimas dengan sangat kuat mengunci tangannya ke belakang yang mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa.


"Ba****an kamu Dimas.... Beraninya kamu berbuat licik seperti ini" Dimas tersenyum sinis merasa geli dengan perkataan Wulan.


Pak Santo mulai bersikap anarkis dengan mengeluarkan pistol miliknya dan di arahkan ke Dimas. Para bodyguard masing-masing kubu saling menodongkan senjata ke kepala masing masing. Para polisi yang berjaga diluar sudah siap siaga menghadapi kemungkinan yang akan terjadi.Situasipun semakin tegang. Hingga akhirnya seorang polisi memutuskan untuk menembakkan sebuah peluru ke arah kaki pak Santo.


Ddooorrr....


Sebuah peluru berhasil melesat tepat di betis pak Santo yang berhasil membuatnya jatuh berlutut di lantai. Dalam waktu yang bersamaan, pelatuk pistol pak Santo pun meledak ke arah Dimas. Pak Nugra mendorong tubuhnya menghalangi tubuh Dimas yang menyebabkan peluru pistol Santo berhasil mengenai lengan sebelah kirinya.


Para bodyguard mulai melindungi masing masing boss nya. Polisi mulai masuk ke dalam ruangan yang membuat ruang gerak pak santo dan anak buahnya menjadi sempit. Satu persatu anak buah Santo berhasil diringkus oleh pihak kepolisian dibantu anak buah pak Nugra.


Dimas masih dengan kuatnya memegang tangan Wulan dan membuatnya berlutut dilantai. Sementara sebelah tangannya berusaha menggapai papanya yang sudah berlumuran darah.


Pak Santo menatap penuh kebencian saat ia melintas di depan Dimas dan pak Nugra dalam posisi sudah diborgol oleh pihak polisi.


Seorang polisi menghampiri Wulan dan langsung memborgolnya. Wulan mencoba memberontak dan berteriak histeris. Mulutnya sibuk mengelurakan sumpah serapah yang ditujukan khusus kepada Dimas.


Dimas segera memeluk pak Nugra mencoba menutupi lukanya agar darahnya berhenti mengalir. Dari kejauhan tampak Andra setengah berlari menghampiri pak Nugra berniat untuk menolongnya. Dan


Bbooouugghhhh...


Sebuah pukulan dengan benda tumpul tepat mendarat di tengkuk Andra.


Bbrrruukkk....


Tubuh Andra ambruk tersungkur di lantai begitu saja di depan mata Dimas dan papanya.


"Riooo... " pekik Dimas tak percaya dengan perbuatan kriminal yang dilakukan Rio kepada asistant pribadi papanya.


Rio mematung di posisinya. Matanya masih menatap tajam ke arah tubuh Andra yang sedang tidak sadarkan diri.


"Maaf Dim. Gue harus melakukan ini. Maaf pak Nugra, assistant anda adalah penghianat" Rio setengah membungkukkan tubuhnya kepada pak Nugra. Dimas dan pak Nugra saling berpandangan tak percaya dengan apa yang diucapkan Rio.


"Saya punya beberapa bukti tentang penghianatan yang dilakukan asistant anda. Sebenarnya saya sudah lama ingin mengatakan ini semua kepada anda. Tapi saya belum punya waktu yang tepat untuk mengatakannya. Anda lebih baik segera mengobati luka anda, mari saya bantu..." Pak Nugra hanya mengangguk anggukan kepalanya menuruti ucapan Rio.


Anak buah Pak Nugra menyeret tubuh Andra keluar dari ruangan dan membawanya ke kantor polisi untuk dijebloskan bersamaan dengan komplotan pak Santo.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2