
Ara masih duduk di atas sajadahnya setelah selesai salat tahajud. Dia punya kebiasaan mengingat segala yang sudah terjadi di hidupnya setiap selesai salat tahajud. Betapa Sang Maha kuasa sungguh baik. Dalam ingatan Ara, hanya ada bahagia dan tawa dalam hidup yang ia jalani selama ini.
Getaran ponsel yang Ara simpan di atas meja rias membuatnya terpaksa beranjak. Dalam hati bersungut siapa yang meneleponnya pagi buta begini. Senyumnya mengembang saat melihat nama My Mom dalam layar ponselnya. Ia segera menjawab panggilan itu dan mengucap salam.
"Semalam kenapa nggak angkat telepon Mami?" suara Vanya terdengar kecewa.
"Semalam aku mau angkat, tapi aku lagi nangis nanti Mami khawatir."
"Sekarang Mami malah khawatir."
"Jangan khawatir, aku nangisnya bahagia, kok."
"Bahagia? kenapa?"
Ara mulai menceritakan segala kejadian kemarin. Tentang Sakaf, tentang Rain dan tentang cincin yang kini tersemat di jari manisnya. Vanya mengungkapkan ikut bahagia dan akan menyempatkan diri untuk menemui Sakaf di lain hari. Percakapan lewat telepon itu berakhir setelah adzan shubuh berkumandang. Ara menaruh kembali ponselnya di atas meja rias. Dia kembali ke atas sajadahnya dan memulai salat sunah dua rakaat sebelum akhirnya melaksanakan salat shubuh.
***
Bumi berkali-kali mengetuk pintu kamar Aro, namun masih tak ada jawaban. Hingga Ara yang baru selesai mandi mendengar teriakkan Bumi memanggil nama kakaknya itu. Ara keluar dari kamar dan mendapati bundanya sedang memasang wajah frustasi di depan kamar Aro.
"Bunda ....."
"Bunda kesel sama kakak kamu ini, dibangunin dari tadi belum juga keluar."
"Ditelepon aja, Bun. Mas Ar lebih peduli sama dering hape daripada suara panggilan orang," ujar Ara seraya mulai menelepon Aro menggunakan ponselnya.
Benar saja, baru dering pertama Aro langsung mengangkat panggilan Ara. Ara segera menyerahkan ponsel pada Bumi.
"Maaasss, buka pintu!" teriak Bumi membuat Aro segera membuka matanya lebar-lebar. Menatap ke sekeliling ruangan. Baru sadar jika ini adalah kamarnya di rumah Bumi. Bukan kamar di rumahnya.
Dia segera berlari menuju pintu, membuka kuncinya. Mendapati Bundanya yang memakai hijab kuning sudah berkacak pinggang dengan wajah menakutkan.
"Kamu mau jadi apa jam segini belum salat subuh?" omel Bumi membuat Aro menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sementara Ara di samping Bumi terlihat menahan tawa.
"Otw salat ini, Bun," sahut Aro beralasan.
__ADS_1
"Ya udah, Bunda ke bawah dulu."
Bumi beranjak meninggalkan Aro, Ara melakukan hal yang sama. Ia tak ingin masih pagi begini kena kejahilan Aro. Ara hampir mengambil langkah seribu, namun tangan Aro sigap menahannya.
Aro menarik pergelangan tangan Ara sebelum adiknya itu benar-benar melangkah jauh.
"Mau ke mana lo?" Aro menyeringai menampakkan barisan gigi putihnya yang rapi.
"Mas ih, lepasin! masih pagi jangan macem-macem!" seru Ara seraya berusaha menepis tangan Aro.
"Enak aja, lo udah bangunin gue pagi-pagi sekarang mau kabur gitu aja."
"Salat dulu, Mas!" Ara masih berusaha melepaskan pegangan Aro.
"Ikut gue ke kamar!" Aro menyeret tangan Ara. Memaksanya ikut dalam perintahnya.
Sampai di kamar, Aro menyuruh Ara duduk menunggunya salat subuh yang sudah hampir kesiangan. Pria itu salat dengan tergesa membuat Ara menggeleng tak suka. Bahkan dia langsung beranjak setelah salamnya. Melempar sembarang sajadah ke atas tempat tidur.
"Mas tiap hari salat kayak gini?" selidik Ara saat Aro melipat sarungnya.
"Terus gimana? yang penting 'kan salat," jawab Aro kemudian duduk di samping Ara.
"Dalam hati gue udah do'a kok," jawab Aro seraya merebahkan kembali tubuhnya. "Lo kalo mau ceramah nanti aja, gue bukan orang yang tepat buat diceramahin," imbuhnya seraya menarik kakinya yang masih menggantung untuk kembali meringkuk.
"Ya udah aku keluar ya, mau ngapain di sini kalau Mas malah tidur lagi."
Ara beranjak dari tempat tidur, ia merasa waktunya terbuang sia-sia menunggui kakaknya yang malah tidur kembali. Dia pikir akan ada hal penting.
Saat tangannya hampir membuka pintu, Aro bangun dan mencegah Ara keluar dari kamarnya.
"Gue mau ngomong serius, kok lo malah pergi?"
"Aku harus siap-siap kerja, Mas. Nanti kesiangan," ujar Ara tangannya kembali terangkat untuk membuka pintu.
"Belagu lo cuma jadi jongos doang juga," ledek Aro membuat Ara membulatkan mata.
__ADS_1
"Maksud Mas apa? Mas tuh sombong banget sih jadi orang mentang-mentang terkenal."
"Iyalah, lo pasti iri 'kan sama gue?" tebak Aro.
Ara tertawa mendengar ucapan Aro. Dia mnyandarkan diri pada daun pintu. Ara melipat kedua tangannya di dada dengan sebelah kaki ia tekuk ke belakang.
"Harus gitu iri sama orang yang salat subuh aja kesiangan?" tanya Ara seraya memiringkan kepalanya dengan tatapan meledek pada Aro. "Sama sekali nggak iri," lanjut Ara diakhiri dengan menjukurkan lidah membuat Aro tersulut emosinya.
Aro Menggebrak pintu. Dia merasa Ara semakin dewasa semakin berani melawan perkataannya. Reflek Ara menjauh, ia berlari ke arah tempat tidur karena ketakutan melihat kilatan mata Aro yang penuh amarah.
Aro tak tinggal diam, dia ikut menyusul Ara yang sedang duduk do tepi tempat tidur. Ara semakin ketakutan dibuatnya. Terakhir laki ia melihat kilatan mata penuh amarah itu saat mereka masih duduk di bangku SMP. Saat itu Aro membuat kamarnya berantakan bahkan mengatainya hal-hal menyakitkan.
"Maaf, Mas. Aku nggak maksud apa-apa," sesal Ara. Tangannya meraih tangan Aro yang mengepal. Berusaha selembut mungkin berbicara agar dapat meredam amarah Aro yang kini duduk di sampingnya.
"Apa gue seburuk itu di mata lo, hah?" tanya Aro pelan, namun menusuk indra pendengaran Ara.
"Enggak, Mas. Aku becanda, Mas nggak usah dengerin apa kataku." Ara semakin melembutkan bicaranya, ia bahkan tanpa ragu mengusap punggung tangan Aro demi membuat kakaknya itu meredam emosinya.
"Bahkan biasanya gue nggak salat, Pil. Gue sibuk sampe kadang bangun aja kesiangan." Sorot amarah itu berubah jadi sendu.
Ara beralih menepuk bahu kakaknya itu. Tangan Aro yang mengepal kini beralih mengusap kasar wajahnya sendiri.
"Semuanya bisa diperbaiki, Mas." Ara mencoba menghiburnya dengan kembali mengusap pundak Aro.
Aro menghembuskan nafas kasar, dia berusaha kembali menata emsinya. Bagaimanapun dia sudah berjanji pada ayah dan bundanya untuk tidak kasar pada Ara. Meski untuk tidak menjahili adiknya itu Aro masih belum sepenuhnya bisa penuhi.
"Pil, lo yakin mau nikah sama si kanebo kering itu?" tanya Aro mengalihkan perhatian berusaha mengubur kerisauannya sendiri.
"Namanya Sakaf, Mas," ralat Ara seraya mengangkat jemari dan menunjukkan cincin yang terswmat di jari manisnya. "Ini cukup jadi bukti bahwa aku serius sama dia," imbuh Ara walau jelas terlihat kesedihan di matanya.
"Lo nggak mikirin perasaan Abang?" tanya Aro.
"Aku cuma mau nurut aja sama bunda dan ayah, Mas."
"Lo bisa lawan, Pil kalo nggak mau."
__ADS_1
"Aku mau, Mas!" tegas Ara. Membuat Aro tak lagi berkata-kata. Ia hanya tak ingin melihat kembarannya tersiksa melihat gadis pujaannya menikah dengan wanita lain. Ia juga tak ingin melihat Ara tertekan dengan perjodohannya.
"Aku pergi, ya, Mas. Aku mau kerja," ujar Ara seraya beranjak dan meninggalkan kamar Aro. Membawa sesak dalam dada yang masih sulit ia artikan apa penyebabnya.