
Ara tak kehabisan akal, dia menggigit dada kakaknya sekencang mungkin agar dirinya segera terlepas dari dekapan yang sesungguhnya sangat nyaman itu. Aro tentu kesakitan, ia mengerang seraya mendoronga bahu Ara agar menjauh dari tubuhnya.
"Sakit, bege!" teriak Aro menyoroti Ara dengan tatapan tajam.
Ara mengusap air mata yang sudah berlinang sedari tadi. Ia kesal, sudah sangat jengah dikerjai terus-menerus oleh Aro. "Mas, balikin hape sama tasku!" Ara balas berteriak.
Omar hanya bisa diam dan dalam hati mulai mengatur siasat. sampai Aro benar-benar melakukan tindakan asusila pada Ara, dirinya tak akan tinggal diam. Asbak yang terbuat dari keramik di hadapannya akan ia gunakan untuk memukul tengkuk Aro.
"Ambil di kamar," sahut Aro seraya kembali duduk dan lagi-lagi menyulut rokok.
Omar memandang penuh curiga ke arah Aro, ia tak mau selangkah saja telat menolong Ara. Aro menghisap rokoknya dengan gerakan cepat, pikirannya kalut sebab barusan ia menemukan sebuah kenyamanan saat memeluk tubuh adiknya.
Bukan sekali dua dia berpelukan dengan gadis. Baik akting maupun nyata, tapi pelukannya dengan Ara barusan seperti rasanya lain. Hangat, menenangkan dan rasanya tak ingin lepas.
"Shit ...!" umpat Aro seraya melempar puntung rokok.
Aro berdiri seraya mengacak rambutnya, seperti orang frustasi yang usahanya bangkrut. "Mar, gue kenapa sih, Mar?"
Omar memicingkan mata, mencoba membaca raut wajah Aro yang selama ini belum pernah ia jumpai sebelumnya. "Lo kayak bukan elo deh, Ar?" selidik Omar.
"Gue kenapa, sih?" tanyanya pada diri sendiri.
Aro memutuskan masuk ke dalam kamarnya, sebab merasa Ara terlalu lama di dalam sana. Omar langsung mengikutinya, ia takut terjadi apa-apa. Omar takut artisnya itu benar-benar melakukan aksi bejadnya terhadao Ara.
Baru sampai bibir pintu, Aro menutup pintu bahkan terdengar menguncinya dari dalam. Omar semakin panik, ia sudah kehabisan akal bagaimana caranya mengetahui Aro akan berbuat nekad atau tidak?
Ara nampak sedang duduk di tepian tempat tidur memandangi layar ponselnya. Sebuah headline yang baru saja ia baca sangat mengejutkan dan membuatnya susah bergerak.
"Pil, kenapa?" tanya Aro yang panik melihat adiknya yang termangu memegangi ponsel dengan tatapan kosong.
"Pil, kenapa sih?" desak Aro mengulang pertanyaannya.
Ara menjatuhkan ponselnya, kemudian Aro segera mengambilnya dan melihat layar ponsel Ara yang masih menyala. Matanya terbelalak membaca berita itu.
ARTIS MAHIJA ARO TERLIBAT SKANDAL DENGAN ARTIS TARISA CANDINI, LAWAN MAINNYA DALAM SERIAL CINCIN KEDUA. DIDUGA KEDUANYA SERING MENGHABISKAN MALAM BERSAMA.
Berita dusta itu dilengkapi dengan foto Aro yang memang sedang merangkul artis yang bernama Tarisa Candini. Bukan apa, Tarisa Candini adalah seorang istri yang sudah memiliki anak. Akan seperti apa jadinya bila berita dusta itu sampai pada telinga suami Risa?
"Ini nggak bener, Pil," Aro membela dirinya, ia mengguncang bahu Ara untuk meyakinkan adiknya itu. "Gue nggak mungkin pacaran sama bini orang, Pil."
__ADS_1
Ara tetap terdiam, ia hanya takut berita ini akan sampai di telinga bundanya. Ara sendiri sudah merasa shock, apalagi nanti Bumi?
"Mas, kalau bunda tahu, Mas ...."
"Pil, lo percaya kan sama gue?" tanya Aro meminta dukungan dari Ara.
Ara menggeleng, dia ingin tak percaya. Foto dalam berita tersebut membuat berita itu seolah nyata. Risa dalam balutan gaun seksi sedang dirangkul begitu mesra oleh Aro yang memegang gelas berisi minuman.
"Apa foto itu diambil saat Mas Ar mabuk?" tanya Ara, ia ingat betul jaket yang dikenakan Aro saat malam itu.
Aro mengangguk, ia tak menyangka bahwa kelakuannya akan menjadi boomerang bagi dirinya. Foto yang menyertai berita tersebut bukan hanya satu, melainkan ada lebih dari sepuluh. Semuanya dalam pose Aro sedang berangkulan mesra dengan Risa.
"Apa dengan Risa juga Mas beradegan panas?" tanya Ara, hatinya sedikit nyeri saat bertanya seperti itu.
"Pil, lo tahu dari mana?" Aro balik bertanya.
Ara enggan menjawab, ia memilih menautkan jemari dan meremasnya berulang-ulang sebagai luapan emosi. Entah apa yang membuat gemuruh dalam dadanya begitu sulit diredakan melihat foto dan berita tersebut.
Bukankah Ara harusnya biasa saja? Aro siapa? Hanya kakak yang selalu mengabaikannya? Ada Sakaf yang lebih penting untuk ia khawatirkan dan untuk mendapatkan rasa cemburunya.
Kenapa Engkau menggetarkan hati hamba pada manusia yang selalu rentan menyakiti Yaa Rabb. Apa rencana-Mu untuk hamba?
"Mas, gimana caranya berita ini bisa distop?" tanya Ara, "aku nggak mau bunda kenapa-kenapa."
Bunda atau aku yang hatinya terluka?
"Gue pasti suruh Omar buat bayar orang ngebersihin nama gue. Lo cuma perlu percaya sama gue," ucap Aro menerbitkan sebuah harapan dalam hati Ara.
"Mas minta aku buat percaya sama Mas, memangnya kenapa, Mas?" Ara sedang meyakinkan dirinya bahwa Aro memang ingin ia percaya sebagai seseorang yang spesial di hatinya, begitukah?
"Karena lo adik gue, masa sama kakak sendiri nggak percaya!" jelas Aro membuat hati Ara yang sudah mengembang kembali menciut.
Ara tertawa untuk dirinya sendiri, merutuki kebodohan karena berharap Aro menyimpan rasa yang sama terhadapnya.
Entah sejak kapan perasaan hangat saat menatap Aro itu muncul di hati Ara. Mungkin saat mulai mengenal cinta? Rasa aneh yang terus ia pupuk sendirian tanpa tahu namanya apa.
Ia suka Aro menindasnya, ia suka Aro meledeknya, ia suka Aro mengerjainya, ia suka semuanya. Seperti anak kecil yang menyukai permen, menyukai es krim, menyukai coklat. Sudah tahu akan memperburuk kesehatan tapi, tetap saja ingin dimakan.
Sama halnya seperti Ara pada Aro, sudah tahu kisah mereka tidak akan pernah bisa diwujudkan, tapi hati terus menginginkan. Sudah tahu cinta itu terlarang, tapi Ara tetap bertahan.
__ADS_1
Ara mengusap cincin yang tersemat di jari manisnya, ia berusaha mengingatkan dirinya sendiri agar fokus pada satu nama, yaitu Sakaf. Pernikahannya di depan mata, ia tak boleh terus memupuk perasaannya untuk Aro.
"Lo istirahat dulu, jangan mikir macem-macem. Dalam sehari ini gue jamin berita sialan ini bakal hilang," janji Aro seraya mengusap pucuk kepala Ara.
Ara mendongakan kepala agar dapat menatap Aro yang sedang berdiri di hadapannya. Kali ini bibir itu tersenyum, mengalirkan rasa hangat di hatinya. "Istirahatlah Salasika Arabella, gue butuh lo di sini sekarang."
Ara tersenyum demi mendengar namanya disebut dengan jelas oleh Aro. Siapa saja bisa menyebutkan namanya, tapi lain rasanya bila yang menyebutnya adalah Aro.
"Emang Mas butuh aku mau ngapain?" tanya Ara berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Buat masaklah, buat beresin nih kamar," tunjuk Aro pada seluruh isi kamarnya. "Berantakan banget 'kan?" tanya Aro meminta persetujuan.
Ara mengulum kesal, lagi-lagi Aro mengerjainya. Dia sudah berpikir dirinya memang benar-benar dibutuhkan sebagai seseorang yang spesial.
"Gue urus dulu masalah ini ke Omar, gue pastiin sebelum bunda tahu berita ini bakal ilang duluan," janji Aro seraya sekali lagi mengusap pucuk kepala Ara kemudian beranjak meninggalkannya.
Saat membuka pintu kamar, ia mendapati Omar sudah berdiri di depan bibir pintu seraya memegang asbak dengan wajah khawatir.
"Ngapain lo bawa-bawa asbak?" tanya Aro.
"Lo jadi nyelup Ara nggak?" selidik Omar dengan tangan bergetar.
"Serius lo kemakan omongan gue, mana ada gue nafsu lihat badan kurus Upil, Mar,"sahut Aro. Terdengar melecehkan fisik Ara, tapi membuat Omar bernafas lega.
"Ada berita sampah yang masuk headline hari ini, Mar," Aro duduk di sofa dan Omar mengikutinya. Asbak itu ia kembalikan ke atas meja.
"Lo ngapain bawa-bawa asbak barusan?" todong Aro sebelum membahas berita yang akan ia sampaikan.
"Buat mukul kepala lo, takut gue si Ara bener-bener lo ajak gituan," jelas Omar mengundang tawa Aro.
"Serius gue, Ar!" sentak Omar.
"Gue keburu kasihan liat dia nangisin nih berita," papar Aro seraya memperlihatkan layar ponsel ke wajah Omar.
"Ini kan disengaja buat naikin serial lo sama Risa, Ar,"
.
Like dong kakak, komen juga kak. Mau up lagi nggak?
__ADS_1