
“Tunggu sampe Hika ulang tahun, lagian kak Lica juga mau nikah. Kamu enggak mau jadi saksi pernikahan kakakmu itu?” protes bunda saat Akhza bilang diminta oleh dosennya untuk pergi ke rumah sakit di suatu tempat yang masih Akhza rahasiakan nama daerahnya pada bunda.
“Ada program jejaring ke rumah sakit daerah (menyebutkan nama daerah) di sana dokter bedahnya terbatas saya rasa kamu bisa banyak pengalaman di sana. ‘Kan kamu masih tetap bisa hubungi saya kalau ada kendala.” Begitu ucap prof. Sandy beberapa waktu lalu.
Akhza kira ini kesempatan baik untuk menata hati, atau sekedar mengobati luka yang terlanjur menggores hati.
“Kenalan dulu sama anak ustaz Hakam,” celetuk bunda tentu ditolak keras oleh Akhza.
“Aku usahain berangkat habis Hika ulang tahun,” janji Akhza. “Tapi buat kenalan sama anak Ustaz Hakam, aku nggak mau,” tolaknya.
“Kenapa?” Bunda kecewa, padahal gadis yang ingin bunda kenalkan adalah gadis baik.
“Belum pengen aja,” terang Akhza.
“Obat patah hati adalah hati yang baru. Luka itu harus ada penawarnya. Kamu nggak bisa sembuh kalau cuma menikmati sakitnya. Harus ikhlas, lepaskan dan coba buka hati untuk yang lain.” (Seperti yang bunda lakukan dulu) Bunda mengelus lembut surai hitam Akhza.
“Belum tentu cewek itu punya hati ke aku,” sanggah Akhza.
“Enggak mungkin, kamu ‘kan ....” Namun perkataan bunda terpaksa dia tangkas.
“Maaf, Bunda. Aku cuma pengen nenangin diri dulu. Nanti, aku janji aku pasti nikah. Lagian sekarang aku masih harus berjuang buat ngambil spesialis. Aku sibuk, bahkan kadang buat me time aja nggak ada. Kasian nanti yang jadi istriku.”
Akhza menggenggam tangan bundanya, “Doain aja akunya biar selalu dikasih kemudahan.”
Bunda mengangguk meski iba terhadap putranya masih menggunung.
“Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Tapi jangan lupakan, antara jodoh dan ajal, mana yang akan datang lebih dulu? Kita nggak bisa nebak apa lagi ngatur.” Perkataan Akhza membuat bunda menarik tangan yang sedang digenggam putranya itu.
“Ih, bicaranya gitu.”
“Biar kita nggak terlena dengan dunia. Hanya kematian yang sudah pasti akan terjadi di hidup kita, yang lainnya abu-abu,” cetus Akhza menghentak hati bunda.
“Aku pernah berharap bisa jadi suami Ara, tapi kenyataannya enggak. Aku juga pernah yakin bisa jadi suami Tala, tapi ....” Giliran bunda yang memotong ucapan putranya itu.
“Iya, Bunda dukung apapun keputusan kamu.”
“Makasih, Bunda.”
***
Sejak Hika berusia tiga bulan, Ara semakin rajin mengumpulkan warna baju yang senada antara dirinya, Aro dan juga putrinya itu.
“Merah, biru, hitam, putih, mocca, marun, grey, ijo, ehm ....” Ara mengetuk dagu dengan telunjuknya. Berpikir warna apa lagi yang akan ia koleksi.
“Ngapain Bubu?” Aro yang sedang menggendong bayi gembul yang sering memberengut bila mendapati hal yang tak disukainya itu masuk ke dalam kamar.
“Jangan dulu diajak masuk, nanti bajunya diberantakin.” Ara cepat-cepat merentangkan tangan agar putrinya tak melihat keadaan tempat tidur yang dipenuhi oleh baju-baju milik mereka.
“Uh uh uh!” tunjuk Hika pada tumpukan hijab miliknya.
“Ndu ndu ndu,” ucap bayi itu seraya memukul-mukul kepalanya yang berambut tipis.
“Iya, kerudung Dede.” Ara mengambil salah satu kerudung milik Hika.
“Mau pake?” tawar Ara membuka lipatan kerudung dan bersiap memakaikannya pada Hika.
Hika mengangguk senang seraya tertawa-tawa dengan badan yang tak mau diam dalam gendongan sang papa.
“Waah tambah cantik,” puji Ara setelah kerudung merah jambu itu membungkus kepala Hika.
Tak lama bayi itu malah kembali membuka kerudung dari kepalanya. Ia menunjuk pada hijab hitam yang sedang Ara pakai.
“Dede mau warna hitam?” tanya Ara yang mencoba mengerti maksud putrinya.
Hika menganguk, sambil bertepuk tangan ia minta dilepaskan dari gendongan sang papa.
“Emh emh emh.” Kedua tangan Hika terangkat minta digendong oleh Ara.
“Sayang, Bubu lagi beresin baju. Dede sama papa dulu.” Dengan meraih tubuh gempal itu Ara mencoba membujuk.
“Urusin Hika dulu, biar aku yang beresin baju. Kamu kasih tahu aja aku harus ngapain,” saran Aro yang disetujui oleh Ara.
“Masukin ke tahap paling atas,” ucap Ara saat Aro bertanya kaus miliknya disimpan di mana.
“Yang itu ke bawah, Mas,” tunjuk Ara saat di tangan Aro terdapat celana rumahan miliknya yang didominasi berwarna hitam.
“Yang ini ditaro di mana nih?” goda Aro pada putrinya yang anteng di gendongan Ara.
Hika tertawa saat Aro menyundul perutnya, ia sampai sengaja menenggelamkan wajah di dada bubunya. Membelakangi Aro yang terus menggodanya.
__ADS_1
“Mau ditaro di mana ini pipi embil?” goda Aro lagi saat Hika kembali menengok.
“Pa pa pa pa pa.” Hika mengacungkan kelima jari tangannya, mungkin maksudnya jangan lagi menggoda.
“Udah, Mas. Dia kegelian tuh,” larang Ara.
Hika kini kembali minta digendong papanya. Aro tentu segera meraih tubuh sintal itu ke dalam gendongan.
“Dede sengaja ngerjain Papa biar rapihin baju ya?” tuding Aro seperti mengajak bicara orang dewasa.
Hika bertepuk tangan, seolah mengerti apa yang diutarakan sang papa. Gadis kecil itu kemudian mencengkram kedua pipi Aro dan memijatnya dengan jemari gemuknya yang putih. Terkadang diam-diam Aro seringkali menggigit jari-jari Hika. Tentu tanpa sepengetahuan istrinya.
“Mamam Pa mamam.” Hika menempelkan telunjuk pada bibirnya kemudian menoleh pada Ara.
“Mamamam mamamam.” Binar mata bulat itu penuh harap.
“Mamam? Enggak boleh, ah,” canda Ara ingin tahu apa reaksi Hika?
Hika memberengut seraya mencebikkan bibirnya. Ia menunduk seolah sedang kecewa.
“Bubu, kasih dong,” protes Aro.
“Aku becanda, Mas.” Ara tertawa kemudian meraih Hika dari gendongan Aro.
“Kita mamam puff aja, ya. Atau buah naga?” tawar Ara seraya membawa Hika keluar dari kamar menuju dapur.
Pada prakteknya, teori selalu terpatahkan. Hika menghabiskan puff rasa pisang hampir satu bungkus. Ara kira si pipi embil itu akan kenyang, tapi tetap menunjuk pada lemari pendingin. Itu artinya, sang buah hati minta buah naga. Satu-satunya buah yang menjadi favorit.
Pipi embil itu terlihat semakin lucu saat mengunyah buah naga, merah-merah dengan bintik hitam menghiasi wajah dan bibirnya.
“Kasih dia cermin deh, nanti dia nangis lihat wajahnya sendiri,” saran Aro yang selalu jahil pada putrinya itu.
“Mas tuh seneng banget jahil ke Dede. Jangan ah!” larang Ara yang sibuk sesekali membetulkan letak celemek yang dipakai Hika.
“Lucu tahu!” Aro tertawa.
Pria itu sudah sering kali membawa Hika bercermin lepas makam buah naga. Hika akan histeris, si pipi embil itu biasanya akan mengusap dengan telapak tangan noda merah dengan bintik hitam di pipinya. Biasanya nanti Ara yang mengomel. Sedangkan Aro malah akan mengambil video putri kecilnya.
Kali ini kejahilannya tidak terlaksana. Sebab selesai makan buah naga, Hika malah buang air besar. Membuat Ara segera membawanya ke kamar mandi dan membersihkan badannya. Si pipi embil itu akhirnya tidur dengan perut kenyang. Membuat Ara bernapas lega di waktu sore menjelang magrib itu.
Baru akan ikut memejamkan mata, sebuah tangan melingkar di perut Ara.
“Pamali mau magrib malah tidur.” Dan tangan itu malah masuk ke balik blus yang dipakai Ara.
“Ya nanti abis ini mandi,” sahut Aro.
Dan lagi-lagi bujukan itu selalu berhasil membuai Ara. Terpaksa kegiatan pindah ke lantai dengan alas seadanya, bedcover berwarna putih. Oh, no!
Tak mungkin melakukannya di samping Hika yang sedang terlelap, bisa-bisa si pipi embil itu mengira dunia sedang diguncang gempa.
***
Di rumah jida.
Jelang dua hari pernikahan Alisha, rapat keluarga kembali dilaksanakan. Kepanitiaan dibentuk serapi mungkin agar semua keluarga yang terlibat, tanggung jawab dengan tugasnya.
“Kasih Abang tugas yang banyak biar nggak ada waktu buat melihat kemesraan pasangan lain,” saran Miza.
“Enak aja! tugas gue cuma jadi kang foto ya!” sanggah Akhza yang sedang menyuapi Hika buah melon. Dan menjadi buah kedua yang difavoritkan si pipi embil itu.
“Mas Ar tugasnya menyambut tamu aja, pasti dia lebih banyak kenal sama kolega bisnis abi,” celetuk uma.
“Siap, Uma.” Aro yang sibuk memotong melon jadi bagian kecil untuk putrinya bicara tanpa menoleh pada uma.
“Ara tugasnya ....” Tapi Aro lekas memangkas kalimat yang akan dilontarkan uma.
“Istriku jangan dikasih tugas apa-apa, tugas dia udah berat.” Perkataan Aro membuat uma tertawa cekikikan. Tentu saja wanita itu memang sengaja hendak menggoda Aro.
“Sekali-kali elo makanya di bawah, Mas. Biar Ara nggak berat,” seloroh Miza membuat semua orang tertawa kecuali Akhza.
“Kasihan banget yang belum ngerasain enggak bisa ketawa,” canda Omar yang ikut serta rapat hari itu.
Sementara para orang tua hanya menggeleng dengan kelakuan anak-anak mereka.
“Emang elo pernah?” tuding Akhza, bukannya sama-sama jomlo?
“Udah dong, makanya berani ketawa.” Omar tertawa puas.
Perkataan Omar malah jadi bumerang baginya, ia mendapatkan pukulan keras di kepala belakangnya dari Teh Fenti.
__ADS_1
“Ari maneh!” bentak Teh Fenti (Kamu!)
“Nanaonan siah? Emak bapak dikiriman nu karitu!” (Apa-apaan kamu? Bapak ibu dikirimi begituan!) sentaknya tak puas memukul kepala, kini ditambah menoyor kepala itu.
Semua orang yang ada di sana hanya meringis, ikut merasakan bagaimana sakitnya jadi Omar.
“Baheula, Teh. Pas Aro masih mengkol. Manehna Tah nu sok merean cabe. Lempar tangan sembunyi batu.” (Dulu, Teh. Saat Aro masih belok. Dia yang suka kasih aku cabe)
“Mas?” Ara menatap Aro penuh tudingan.
“Aku enggak pernah main cewek,” geleng Aro.
“Mar, biwir sia mah kudu dijahit bener ih. Sia nu make nyalahkeun ka urang. Eweuh ti dituna urang ulin cabe.” Aro membuat pembelaan. (Bibir kamu perlu dijahit. Elo yang pake nyalahin ke gue. Enggak ada dari sananya gue main cabe)
“Lindungilah putri kecilku dari suara-suara menyesatkan ya, Rabb. Aamiin,” ujar Akhza seraya menyapukan kedua telapak tangan ke wajahnya.
“Eh, enak aja!” bentak Aro memukul kepala Akhza dengan garpu yang dipegangnya.
“Mas Ar!” pekik Ara. “Jangan kasih contoh nggak baik buat Dede,” lanjutnya dengan hidung kembang kempis.
“Syukurin!” Akhza bicara tanpa suara, hanya dengan gerakan bibir namun ditangkap baik oleh Indra penglihatan Aro.
“Ayo nak cantik, kita enyah saja dari perkumpulan manusia yang mulai tidak sehat ini. Papi akan melindungimu dari warga krisis akhlak seperti mereka,” seloroh Akhza seraya meraih tubuh Hika yang senang-senang saja kembali digendong.
“Ih, anak gue woy!” teriak Aro.
“Mas ....” Sebuah suara lembut namun mematikan dari sang istri membuat Aro yang hendak mengejar sang kakak tertahan.
Tak lama, Hika malah kembali datang. Kali ini digendong ayah. Pria itu tadi merebut begitu saja cucu cantiknya dari pangkuan sang putra.
“Bubu, mana jaket nak cantik?” tanya ayah yang berpakaian rapi kemudian datang juga bunda yang sudah bersiap pergi.
“Mau ke mana, Yah?” Ara balik bertanya.
“Mau bawa Dede ke mall, beli sepatu ya, de?” Dan Hika mengangguk saja sambil tertawa.
“Bunda mau beli sepatu,” jelas bunda. “Dede ikut sama Bunda,” lanjut wanita itu.
“Mana jaket sama kerudungnya?” tanya ayah sekali lagi membuat Ara beranjak ke kamar untuk mengambil dua benda yang dipinta ayah kemudian Aro menyusulnya.
Jadilah pria itu yang kembali ke bawah, memberikan jaket dan kerudung yang sama-sama berwarna pink.
“Bikin lagi deh yang baru, Ayah takut salah jalan nanti malah bawa Dede ke rumah Bogor hahaha,” ungkap Ayah.
Jika yang bicara itu adalah abangnya, sudah pasti Aro hajar itu wajah. Sayang dia ayahnya, tak bisa dikalahkan.
***
Hari yang ditunggu-tunggu bagi Alisha tiba. Setelah acara akad sukses digelar pada pagi hari, acara resepsi digelar pada malam hari di sebuah hotel.
Ara tampak cantik dengan gaun warna lilac senada dengan yang dikenakan Hika. Bayi itu kini sudah mulai terbiasa berada di keramaian.
Seperti biasa, Hika akan menjadi bola yang di over ke sana ke mari. Dari gendongan satu ke gendongan lain. Dari tangan satu ke tangan lain.
Apalagi kini dengan kehadiran keluarga Damar dan Rere yang ikut-ikutan gemas pada Hika. Rere sampai mengomel pada Nauna kenapa belum juga minat menikah?
“Gimana mau nikah kalau calonnya aja lari-lari terus,” ucap Nauna seraya memandang nanar pada Akhza yang sedang tertawa dengan Fadan melihat foto Hika yang beberapa menit lalu ia ambil.
Demikian dengan Damar, ia belum bisa berharap cucu pada Elita yang masih kuliah. Terlebih anak itu sudah mengutarakan minatnya pada Atar sedangkan putra bungsu Akash itu secara terang-terangan sudah menolaknya.
“Nanti kita pakai jalur pintas, pelet.” Begitu ucap Elita membuat Atar tambah tak suka.
Ara bosan sendiri sebab kini putrinya seperti piala bergilir yang berpindah-pindah tangan. Sedangkan suaminya juga sibuk berbincang dengan tamu rekan-rekan Ilham. Ketika pandangan Ara tertuju pada Lala dan ibunya yang kini sudah sehat, Ara tentu bergabung dengan keduanya.
“Alhamdullilah, akhirnya bang Alka bisa bahagia ya, Bu,” cetus Lala memandang dengan binar suka cita pada Alka yang sedang membetulkan letak kerudung yang dipakai Alisha.
Atar yang melihat Ara duduk bersama Lala ikut bergabung juga. “Bang Alka jadi keren gitu ya setelah sukses,” puji Atar menunjuk pada Alka yang turun dari pelaminan menyambut seseorang.
Alka menjabat tangan pria bertubuh tinggi tegap yang ramah menyapanya.
“Alka, selamat. Dekorasi pernikahan yang sangat indah.” Pria yang menggandeng seorang wanita cantik yang terus saja Alka pandangi tertawa bahagia.
Sang wanita tak berani balas menatap Alka. Dia menunduk dengan wajah dan pipi yang memanas. Bahkan telinganya berdenging, ingin rasanya segera pergi dari tempat itu.
Apa kabar gemuruh dalam dadanya? Sudahlah, jangan ditanya sebab karena itu, dia sampai meremasnya berharap sesak dan sakit itu lenyap.
.
.
__ADS_1
.
Tak henti kuhaturkan nuhun sebanyak-banyaknya yang masih setia di sini 🤗❤️