
Ara membawa kucing yang ia temukan di pinggir jalan itu ke dapur begitu maminya membukakan pintu. Ia sampai lupa tidak menyalami maminya.
"Mami ... mi ...."
Ara berteriak memanggil maminya saat tiba-tiba kucing itu mengeong seperti kesakitan, kemudian kucing itu menggeliatkan tubuhnya.
"Kenapa?"
"Ini kucingnya mau lahiran kayaknya, ya?"
Ara berlari menuju kamarnya, ia cari handuk dan kain yang permukaannya halus dan setelah menemukannya kembali ke dapur.
"Ini, taruh di sini!"
Vanya menyodorkan keranjang besar yang biasa digunakan untuk menyimpan pakaian kotor. Ara segera memindahkan kucing ke dalam keranjang yang telah dilapisi kain dan handuk agar si kucing merasa nyaman.
"Bissmillahirahmanirrahiim, ya, Pus!"
Ara membiarkan saja kucing itu tanpa menyentuhnya. Sepengetahuannya, dalam proses melahirkan, kucing bisa mengurus dirinya sendiri. Kucing itu kembali mengeong lemah, disusul keluarlah cairan berdarah dari lubang yang akan kucing gunakan untuk mengeluarkan anaknya.
"Mami, Ara mau mandi dulu, ya?"
"Terus kucingnya gimana?"
"Biarin aja, kucing bisa sendiri kok ngeluarin anaknya, nggak perlu dibantu. Malah akan lebih nyaman kalo nggak ada yang lihat," papar Ara.
"Eeh beneran?" Vanya tak yakin.
"Iya, Mi. Nanti juga dia bisa keluarin sendiri bayinya. Nanti buat merangsang bayinya hidup, biasanya induknya bakal jilatin bayiknya biar bisa nafas. Nanti dia bisa mutus sendiri tali pusar dari tubuh anaknya kok," jelas Ara memangkas kekhawatiran Vanya.
"Jadi dibiarin aja, nih?" selidik Vanya.
"Iya, Mami pantau aja. Lagian biasanya lama. Bisa sampe setengah jam, anaknya pasti banyak. Aku mandi dulu," ucap Ara seraya berlalu menuju kamarnya.
***
"Ok, hari ini cukup ya, Ar!" teriak sang Sutradara setelah Aro dan Rea menyelesaikan adegan yang paling sulit bagi Aro.
Semua adegan hari ini menharuskannya bermesraan dengan Rea. Aro segera melepaskan rangkulannya dari Rea, selesai adegan barusan.
"Ar ...." Rea mencegah langkah Aro yang meninggalkannya.
"Cewek itu, Ara?" tebaknya tanpa basa-basi.
"Bukan urusan lo!" sentak Aro.
"Dia adik kamu, Ar. Inget dong?" Rea mencekal lengan Aro, kuku gadis itu terasa menusuk di kulit Aro.
__ADS_1
"Dia bukan adik kandung gue!" tegas Aro membuat Rea melepaskan lengan kokoh itu.
"Maksudnya?" Rea meminta penjelasan.
"Lo nggak usah cari-cari tahu!" Aro memperingati Rea, ia menunjuk Rea tepat di wajahnya, "Jangan sentuh Ara gue, inget!"
Rea mematung di tempatnya, ia benar-benar takkan bisa kembali mendapatkan Aro. Rea selama beberapa waktu ini sebenarnya telah memantau gerak-gerik Aro. Menurut orang suruhannya, Aro terlihat sering menghabiskan waktu bersama Ara. Rea sendiri memang tak mengetahui bahwa Ara bukan adik kandung Aro.
"Pantesan mukanya beda," gumam Rea mengingat-ingat wajah Ara.
Sementara itu, setelah berbicara sebentar dengan Sutradara, Aro dan Omar segera pamit lebih dulu menuju hotel. Waktu bukan lagi menunjukkan malam, tapi lebih tepatnya dini hari. Aro sudah merasa sangat lelah.
"Mar, si Rea kok bisa tahu tentang Ara?"
"Tahu gimana?" Omar balik bertanya.
"Dia ngomongin Ara, jangan-jangan dia udah mata-matain gue lagi?" tebak Aro saat keduanya berjalan kaki menuju hotel.
"Dia masih suka sama lo, Ar!" beri tahu Omar.
"Tapi gue enggak!" sanggah Aro yang semakin mempercepat langkahnya. Ia melirik pergelangan tangannya, berfikir pasti Ara sedang salat malam.
"Kenapa enggak?" Omar penasaran, "Lo beneran udah suka sama Ara?" imbuhnya.
"Mau tahu aja urusan orang."
"Gue pikir lo bukan orang?" ledek Omar membuat Aro berbalik dan memiting leher pria bertubuh tambun itu.
"Lo dulu sana yang ke neraka Jahanam!" Omar berusaha menepis tangan Aro dari lehernya.
"Gue gentayangin lo tujuh turunan!" Aro melepaskan tubuh gempal itu dan kembali melangkah, sebentar lagi tiba di kamarnya.
Dalam langkahnya, ia terus mengulum senyum. Ia meninggalkan Omar yang sedang mengelus lehernya, " Ribet deh urusannya si kembar rebutin satu cewek. Belum nanti urusan jidda sama umma Zahra," gumam Omar. "Sialnya gue pasti harus ikut campur," keluhnya seraya berlari, menyadari Aro telah jauh meninggalkan dirinya.
Tiba di kamarnya, Aro segera memebersihkan diri. Badannya terasa lengket sebab tadi pagi tidak mandi. Omar sampai di kamar dan tidak mendapati Aro, ia hanya mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.
"Gue kerjain lo, Ar ...."
Jiwa jahil Omar keluar, Omar membuka ponsel Aro dan mencari kontak bernama Upil, tapi ia tak menukannya.
"Kok nggak ada?" Omar keheranan. "Coba lihat di story chatnya," Omar tak kehabisan akal.
"Gilaaaa!" pekik Omar, "Upil udah diganti jadi My Adore, si Aro bener-bener suka sama Ara."
Omar melakukan aksi jahilnya, ia mulai mengetikan sesuatu di layar ponsel. Ia baca sesaat kemudian menggeleng. Lalu kembali mengetikkan sesuatu, ia tersenyum. Mungkin pas agar terlihat seperti Aro. Spontan, namun langsung kena ke hati.
Setelah memastikan pesan itu sampai pada Ara, Omar menhapusnya agar tak ketahuan oleh Aro. Dia sudah menyiapkan berbagai dalih jika nanti ketahuan. Yang jelas biarkan saja rencananya berhasil terlebih dahulu.
__ADS_1
Omar segera menaruh ponsel Aro ke tempat semula saat mendengar pintu kamar mandi dibuka.
"Tumben mandi?" sindir Omar, hatinya dag dig dug takut aksinya terendus.
"Abis megang najis mughalladhah ya jelas harus mandi lah," sahut Aro yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Sana lo, mandi!" teriaknya seraya mengambil rokok di dalam tasnya. "Korek mana, Mar?"
Omar merogoh saku celananya lalu melempar benda yang dicari Aro. Aro menangkapnya sigap. setelah berhasil menyulut rokonya, Aro mengambil ponsel dan mebawanya pergi ke balkon hotel.
Aro duduk di kursi yang menghadap meja bulat, pemandangan indah tersuguh di hadapannga. Kerlap-kerlip lampu kota Jogja nampak indah tertangkap oleh indra penglihatannya.
Selesai menghabiskan sebatang rokok, ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk. Aro tak lekas membukanya sebab tak yakin pesan itu penting. Ia kembali menyulut rokok, menatap ke atas langit yang nampak hitam.
Aro baru membuka ponselnya, penasaran juga siapa yang mengirim pesan. Aro mengerutkan kening dalam saat diketahui bahwa yang mengirimnya pesan adalah Ara.
[Mas baru pulang syuting?]
"Kok bisa tahu sih dia?" gumam Aro dengan senyum mengembang.
[Iya, kamu lagi apa?]
Ara membalasnya dengan mengirimkan foto kucing beserta tiga ekor bayiknya yang sedang menyusu.
"Nggak penting banget ni, anak. Masak gue dikasih foto kucing. Foto dia dong harusnya?" Aro bermonolog.
Aro balas mengirimkan foto pemandangan yang sedang dinikmatinya.
[Indah banget, Mas. Aku jadi pengen ke sana]
[Beneran kamu mau?]
[Iyalah, mau. Sekali-sekali pengen dong ngerasain rezeki Mas Ar. Aku selama jadi adik nggak pernah kayaknya diajak jalan-jalan]
"Nanti kamu jadi istriku. kita keliling dunia."
[Ayok! serius mau ngerasain rezeki aku?]
[Ayolah! tapi ajak bunda, ayah, adek, sama abang juga]
"Aku maunya berdua doang sama kamu,"
[Bangkrut gue kalo ajak abang]
[Mas Ar pelit, bener kata Atar]
"Nih cewek nggak peka banget, duit gue banyak nggak bakal jatuh miskin cuma bawa mereka liburan."
__ADS_1
Aro malas meneruskan pesan dengan Ara, dia pikir bukan akan membahas soal keluarga, dia pikir hanya akan membahas tentang mereka berdua.
"Dih, nggak dibales. Emang dasar, pelit!" pekik Ara bicara pada ponselnya sendiri.