
Setelah memutuskan untuk tak meneruskan pernikahannya dengan Sakaf, Ara meminta diantar ke klinik. Sepanjang perjalanan Raden Saleh yang terik siang itu, Ara tak banyak bicara. Ia hanya mengusap-usap jari manis bekas cincinnya tersemat. Aro bertanya beberapa hal. tapi gadis itu tak menanggapi. Ia memilihi tetap menatap lurus ke depan, dan mengabaikan suara-sura sekitar.
Alunan lagu Jealous milik Labrinth menemani perjalanan mereka, Aro sesekali ikut bersenandung seraya melirik adiknya yang nyaris tanpa ekspresi.
I wished you the best of
All this word could give
And i told you when you left me
There's nothing to forgive
Aro sengaja mengencangkan volume, berharap Ara bicara walau hanya sepatah, namun sayang gadis itu tak bergeming. Ia diam saja, seolah tak mendengar apa-apa. Pandangannya lurus ke depan dengan tangan dilipat di dada dan kepala bersandar pada jok mobil. Kaki kanan ditumpangkan ke kaki kiri, membuat sneaker berharga 300 ribuan itu terlihat.
Heart break and misery
i'ts hard for me to say
Ara baru merubah posisi duduk saat melihat papan nama Klinik Bersalin Bidan Army terlihat. Ia merapikan tas selempangnya. kemudian menurunkan kaki, dan menegakkan badannya. Tepat saat itu juga mobil Aro memasuki pelataran klinik. Seperti biasa, motor Ati sudah terparkir dengan rapi.
"Makasih, Mas," ucap Ara sebelum membuka pintu mobil, namun Aro mencegahnya.
"Lo baik-baik aja, 'kan?" tangan Aro masih menahan pintu agar tak terbuka, "apa sebaiknya lo izin aja nggak masuk?" tawar Aro.
Ara menghela nafas, selain bimbang memikirkan ayah dan bunda, ia juga bingung memikirkan maminya yang beberapa waktu lalu mengirimi pesan ingin dibayarkan hutangnya ke pinjaman online sebesar 13 juta. Belum lagi Ara memikirkan tentang perkataannya pada Aro yang seolah gadis itu mengungkapkan perasaannya.
"Ra, ada kata-kata gue yang nyakitin lo?" tebak Aro, sebab sebelum meninggalkan foud court tadi keduanya sempat adu argumen tentang kasih sayang bunda selama ini. "Gue minta maaf kalo ada," lanjutnya.
Ara menggeleng, " Nggak ada, Mas. Aku baik-baik aja, cuma lelah aja," aku Ara seraya kembali mencoba membuka pintu, dan kali ini Aro tak lagi menahannya.
"Balik jam berapa?"
"Jam delapan."
"Nanti gue jemput, ya?"
Ara tak menjawab, ia pun tak menggeleng atau mengangguk membuat Aro yakin Ara sedang tidak baik-baik saja. Ara berhasil keluar dari mobil. Menyempatkan diri mengatakan terima kasih dan sekilas mengulas senyum di bibirnya. Aro tak lekas pergi, ia memastikan Ara masuk ke dalam klinik baru ia melajukan kembali mobilnya.
"Assalamua'laikum," salam Ara dijawab oleh Ligar yang tengah bersiap untuk pulang.
"Dianter siapa, Ra?" Ligar yang menodong Ara dengan pertanyaan tanpa membiarkan Ara duduk terlebih dahulu.
"Mas Aro," jawab Ara membuat Ligar histeris.
__ADS_1
"Kenapa nggak bilang?"
"Emang kenapa?"
"Aku mau minta foto!"
"Jangan mau sama Mas Ar, orangnya jarang mandi," celetuk Ara seraya meletakan tas di atas meja.
Ara membuka buku besar yang berisi dataan pasien pagi hingga siang ini. "Rame banget, Li," Ara menghitung Ada 25 orang pasien yang berkunjung.
"Iya, alhamdullillah, ada yang lagi bersalin," beri tahu Ligar, "pasiennya bawel, jerit-jerit terus," sambungnya mendapat pelototan dari Ara.
"Hati-hati mulutnya jangan dipake ngomongin orang, kata ayahku nanti masuk jadi dosa ghibah loh."
"Eh, iya, lupa. Kalau depan Ara jangan suka sembarangan ngomong nanti kena ceramah," seloroh Ligar kemudian pamit pulang.
***
Setelah mengantar Ara ke klinik, Aro sendiri langsung menuju Ibu Kota. Dia ada jadwal pemotretan untuk sebuah iklan smartphone yang ia bintangi. Gara-gara Omar sakit, dia kesusaham mengurus segala sesuatunya sendiri.
Tiba di lokasi, semua kru sudah menunggu sedari 30 menit yang lalu. Mereka segera mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk kostum dan make up.
"Cepet juga lo udah sampe sini lagi," suara seseorang yang tak asing menyapa Aro yang sudah siap mengenakan stelan jas bergaris abu-abu. Adalah Cici yang menyapanya.
"Ngapain lo di sini?" selidik Aro seraya mengelap sedikit bibirnya yang diberi lipbalm, tak suka terlalu mencolok.
"Stand by, Ar!" teriak sang fotographer yang sudah sangat akrab dengannya itu.
Aro segera menurut, ia berjalan menuju tempat yang telah disediakan untuk pengambilan gambar.Seorang kru menyerahkan sebuah Smartphone brand ternama pada Aro.
"Buat gaya seolah-olah lo lagi chatting, Ar!" titah sang fotographer dan Aro melakukannya dengan sempurna.
30 menit dihabiskan untuk mencoba beberapa gaya dengan hasil yang sempurna dan memuaskan.
"Ganteng. berbakat, banyak duit, sayang jomblo," kelakar salah satu kru membuat Aro menonjok bahunya, tentu saja becanda.
Setelah diyakini mendapatkan hasil yang sesuai dengan target, Aro kembali berganti pakaian dan membersihkan wajahnya dari make up. Ia sempatkan berkumpul bersama kru. Menikmati kopi dan rokok yang susah terlepas dari dirinya.
"Ar, ada barang baru. Mau coba nggak?" tawar salah satu kru membuat Aro mengerutkan kening dalam. Ia mengerti betul barang baru yang dimaksud tentu saja "obat".
"Takut gue, keciduk tau rasa. Masih trauma lihat kasus si Lichole," tolak Aro yang memang tak seberani itu untuk mencoba barang-barang haram seperti itu.
"Maen cantik lah Ar," saran yang lain, "buat stamina juga, apalagi bentar lagi lo syuting ke luar kota."
__ADS_1
"Wah, enggak dulu deh. Gue minum kopi aja biar melek terus mah," Aro keukeuh menolak sementara rekannga terus membujuk.
"Kalau butuh, lo tinggal kontek gue ya, Ar. Harga sahabat deh," ujarnya membuat Aro tertawa.
"Bukan soal harga gue mah, nggak berani lah buat sejauh itu. Mabok aja gue masih oleng," Aro tetap menolak.
"Nanti lah kalau lo pusing pengen pikiran bebas, jangan lupa datengin gue," orang berbaju biru itu masih saja terus membujuk membuat Aro memutuskan untuk pulang saja.
Aro pamit, ia melangkaj lebar-lebar karena ingin menepati janji pada Ara untuk menjemputnya ke klinik. Langkahnya di koridor gedung itu ditahan oleh seseorang, Jingga, lawan mainnya begitu antusias menyapanya.
"Ar, kamu dari kapan di sini?" Gadis itu tanpa tahu malu mencium pipi Aro. Aro reflek kaget, ia langsung menjauhkan diri dari Jingga dan segala keagresifannya. Dari kejauhan, Cici melihat kejadian itu. Dia merasa tersulut emosi, sebab bagaimanapun Cici tahu, Ara begitu mencintai Aro.
Cici berinisiatif untuk segera mengaganggu Jingga agar tak lebih jauh menggoda Aro.
"Aro, aku tungguin dari tadi juga," Cici berakting, ia sengaja menggandeng tangan Aro seraya berbisik "lo nggak bakal bisa lepas dari uler kayak dia, pura-pura aja."
Aro menimpali perkataan Cici seraya balas merangkul pinggang Cici kemudian pamit pada Jingga untuk segera pergi. Jingga tentu merasa kesal, lima tahun dia menunggu kesempatam bekerja sama dengan Aro, tapi ternyata Aro susah sekali didekati.
Akting keduanya berakhir di depan gedung studio itu, tepatnya di parkiran tempat Aro menyimpan mobil.
"Bisa-bisanya sih lo satu project sama dia," ujar Cici seraya terengah-engah sebab dari tadi tak bisa berhenti tertawa.
"Nggak tahulah gue, nggak ngerti juga siapa yang lolosin dia casting," timpal Aro, nafasnya tersengal.
"Lo langsung balik?" selidik Cici.
"Iya, janji mau jemput Ara," ujar Aro mengibaskan rambutnya yang sudah sedikit gondrong dan selalu menghalangi matanya.
"Ar, lo bener-bener nggak bisa nangkep sinyal dari Ara?"
"Sinyal apa?"
"Ara tuh suka sama lo, apa lo gak bisa rasain itu?"
"Masa sih? gue pikir dia sukanya sama abang. Nggak mungkin suka sama cowok bobrok macam gue. Ara tuh gadis solehah, dia rajin ibadah. Mana mungkin naksir gue yang ahli maksiat," papar Aro mengabsen segala perilaku buruknya.
"Kalaj seandainya emang bener Ara suka sama lo, gimana?"
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Kasih hadiah
Terima kasih