Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Berkunjung ke Rumah Nenek


__ADS_3

Sesuai permintaan istrinya, hari ini Aro setuju ke rumah jida membawa serta Hika. Ara meminta membeli dulu bolu Sangkuriang kesukaan jida. Sebelumnya, Ara sengaja tak menelepon jida. Berniat memberi sang nenek kejutan.


Sepanjang perjalanan Hika anteng tidur. Tanpa melepas ASI tentunya.


"Duh, Hika. Kasian dong bubunya," komentar Aro saat tiba di rumah jida, namun putrinya itu masih saja tak mau melepas ASI.


"Aku jadi laper, Mas. Langsung cari makan abis ini." Ara terpaksa melepaskan Hika dari tubuhnya agar bisa cepat turun dari mobil.


Bayi itu langsung membolakan mata yang sebelumnya tertutup rapat.


"Hai, udah sampe di rumah yuyut, nih." Ara menciumi pipi bulat Hika seraya masuk ke rumah jida.


Aro sibuk membawa sebuah tas besar dan kantung berisi bolu untuk jida. Sempat berbincang sebentar dengan salah satu asisten rumah jida yang sedang menyiram tanaman.


Bibi asisten rumah jida sedang mengepel lantai saat Aro dan anak istrinya masuk. Wanita itu menghentikan aktifitasnya sesaat untuk menghampiri tamu yang datang. Menyempatkan menyapa Hika yang merespon dengan senyum.


Dari bibi, Ara tahu bahwa jida masih di kamarnya. Belum keluar dari sejak subuh tadi. Ara bersama Hika lebih dulu masuk ke dalam kamar jida. Sedangkan suaminya memilih ke kamar ayah untuk menaruh barang bawaan.


Di tangga, Aro bertemu dengan Akhza yang sudah siap hendak ke kampus. Pria itu langsung saja menanyakan keberadaan Hika, namun Aro berbohong dengan bilang bahwa Hika tidak ikut. Akhza tentu tak percaya, dia berniat mencari sendiri keberadaan Hika.


Dari bibi, Akhza tahu bahwa Hika dan Ara sedang di kamar jida. Langsung saja pria itu ke kamar jida. Didapati Akhza, Hika sedang digendong jida. Bayi itu tertawa-tawa saat jida menciumi perutnya.


"Jida, aku gendong sebentar dong si cantiknya!" Tanpa menyapa Ara terlebih dulu, Akhza merangkak naik ke atas kasur dan merebut Hika dari gendongan jida.


"Abang, pelan-pelan!" omel jida, kaget dengan aksi cucunya itu.


"Hai, cantik. Ketemu lagi sama Papi." Akhza menimang Hika, membuat Ara dan jida saling melempar pandang.


"Heh, enak aja gendong-gendong anak orang nggak pake izin!" sungut Aro yang baru saja datang kemudian menghampiri jida. Mencium punggung tangan jida dan memeluknya.


"Wanita cantik ini sehatkah?" goda Aro kemudian mencium kedua pipi jida.


"Alhamdullillah, ke sini nggak bilang dulu," keluh jida.


"Tuh!" Aro menunjuk dengan ujung mata ke arah istrinya. "Mau bikin kejutan buat jidda katanya."


"Makasih buat kejutannya," ujar jida. Keriput di wajahnya semakin terlihat. Namun, tetap cantik dengan hidung Bangir dan mata bulat.


Akhza masih ingin bermain dengan Hika, tapi waktu tak memungkinkan. Setelah menaruh kembali Hika di samping jida, pria itu pamit dan berpesan pada Ara agar jangan cepat-cepat pulang. Dirinya punya sesuatu untuk Hika.


***


Bermalam di rumah jida tentu menjadi hal baru bagi Hika. Tempat yang baru membuat bayi itu sedikit rewel semalaman. Tak mau lepas dari gendongan, Aro sampai tak tidur semalaman. Hasilnya, ketika semua orang sarapan pria itu malah memilih tidur bersama Hika yang juga terlelap setelah dimandikan Ara.


Selesai sarapan, ternyata bunda dan ayah datang juga. Sempat protes pada Ara sebab tak bilang dulu hendak ke rumah jida. Padahal, setelah salat subuh bunda dan ayah pergi ke rumah mereka.


"Dadakan, Bunda," terang Ara seraya merangkul bundanya, the power of membujuk yang sedang merajuk.


Saat Ara bilang Hika masih tidur di kamar bersama Aro, ayah tanpa pikir panjang langsung ke kamar yang dulu adalah miliknya. Pria itu menggendong Hika yang sedang terlelap, kemudian membawanya kembali ke bawah.


"Ayah, kan Dede lagi bobo," protes Ara, bukan apa-apa Ara takut putrinya itu kembali rewel.


"Iya, Ayah mau pindahin ke kamar jida doang," jelas ayah kemudian membawa Hika ke kamar jida.


"Kamu mending hamil lagi, Ra. Itu ayah udah ngomong bakal sering culik Hika kalau dia udah nggak nen," beri tahu bunda.


"Bunda, Hika masih kecil. Dikira nggak repot ngurus bayi." Ara memberengut.


"Justru mumpung masih bayi, jadi capeknya sekalian. Nanti udah besar, enak kamunya." Bunda ikut merapikan piring kotor di atas meja.


"Iya, Ra. Hamil aja lagi. Mumpung masih muda," timpal Akhza yang masih makan.


"Abang aja sana nikah!" sindir Ara membuat raut wajah Akhza yang tadinya riang berubah muram.


"Nah, betul. Bunda mau kenalin kamu ke seseorang. Jangan nolak!" ancam bunda.


"Dilarang memaksa, Bun!" tegas Akhza.


"Suka-suka orang tua," sahut bunda.


"Orang muda nurut aja ya, Bun," ledek Ara.

__ADS_1


"Diem, diem!" Akhza menunjuk pada Ara. "Aku culik anakmu nanti," ancamnya kemudian meninggalkan begitu saja piring kotor tanpa merapikannya.


"Bunda serius mau jodohin Abang?" tanya Ara tak yakin.


"Kamu jangan ikut-ikutan kayak ayah deh, Ra. Itu sama aja kalian mengharapkan sesuatu yang nggak baik." Bunda bicara penuh penekanan.


"Tapi, Bun ...."


"Ara, udah. Jangan keseringan deh kamu berhubungan sama Tala. Awas!" ancam bunda kemudian berlalu membawa piring kotor ke dapur.


Ara memandang sendu punggung bunda, dari raut wajahnya, bunda terlihat kecewa. Ara cepat-cepat menyusul bunda setelah menutup kembali sisa makanan dengan tudung saji yang terbuat dari anyaman bambu.


Bunda terlihat sedang mencuci piring saat Ara tiba di dapur. Ara cepat menghampiri bunda yang ternyata tak melakukan apa-apa. Air keran mengucur, namun bunda diam saja dengan air mata berderai di pipi.


"Bun ...." Ara meraih tangan bunda yang sengaja dikucurkan di bawah keran.


"Adalah Bunda yang paling ngerasa sakit lihat nasib Abang." Dalam isaknya bunda berkata.


"Abang nggak bilang, tapi Bunda tahu perasaannya." Bunda menunduk, air matanya semakin deras.


"Bunda pengen lihat Abang bahagia juga," lirih suara bunda terdengar oleh Ara.


"Kita husnudzon aja ya, Bunda. Mungkin Allah lagi siapin jodoh terbaik buat Abang." Ara coba menghibur, Ara yakin kakaknya itu pasti bahagia juga.


Bunda mengangguk setuju, meski tekadnya untuk menjodohkan Akhza masih menggebu. Padahal sang putra juga santai saja.


Di kamarnya, Akhza duduk di kursi yang langsung menghadap ke jendela. Ia pandangi langit Jakarta yang pagi ini terlihat cerah. Pria itu tersenyum simpul mengukir wajah seseorang di birunya langit.


"Kalau emang bukan jodoh, aku bisa apa? iya enggak?" gumamnya meminta pendapat diri sendiri.


Dia sempat marah pada Tala. Kecewa sebab gadis itu mematahkan harapannya. Janji yang dibuat, Tala langgar tanpa merasa kasihan sedikit pun padanya. Rencana indah yang sempat terukir, terhapus begitu saja tak berjejak.


Saat hati terasa beribu-ribu kali patah dari sebelumnya, pria itu bertekad untuk meninggalkan tempat di mana ia kini berpijak. Bukankah mengobati hati yang luka adalah dengan menjauhi sumber penyebabnya? Dia pria, tapi tetap saja hatinya tak sekuat karang di lautan. Dia hanya Akhza, rapuh bila sudah berurusan dengan cinta.


***


Pagi itu, saat yang lain masih sarapan, Akhza memberikan hadiah untuk Hika yang sudah ia janjikan kemarin.


"Apa tuh maksudnya?"


"Gue beliin Hika boneka jari. Bentuk-bentuk hewan. Elo ngarang dah tuh ceritanya," papar Akhza melirik sekilas pada papper bag yang ia tarus di meja ruang tamu.


"Nanti elo punya anak gue ganti deh," ujar Aro.


"Anggap aja ini kado ulang tahun buat Hika," celetuk Akhza.


"Masih Tiga bulan lagi," sanggah Aro.


"Makanya gue kasih dari sekarang, takut gue nggak di sini pas si cantik ini ultah." Akhza mencium kepala Hika yang sedang dalam gendongan Aro.


"Eh, mau ke mana lo?" tanya Aro curiga.


"Ke Ausie ngangon kangguru," seloroh Akhza.


"Serius Abang!" bentak Aro.


"Udah, ah. Gue telat mau ke rumah sakit." Akhza dengan gaya misterius meninggalkan Aro.


Aro kembali ke dalam rumah untuk bertanya pada bunda perihal abangnya.


"Bunda nggak tahu, tanya ayah mungkin tahu." Bunda yang sedang membereskan pakaian di kamar sedikit pun tak menoleh pada putranya itu.


Aro beralih ke dapur menemui istrinya yang sedang merapikan meja makan lepas sarapan. Ayah juga sedang menikmati kopi dengan jida yang duduk di sebelahnya.


"Yah, Abang emang mau ke mana?" Aro berharap mendapat jawaban dari ayahnya.


"Ke rumah sakit 'kan?" ayah balik bertanya.


"Mas, dedenya taro sofa aja kalo emang bobo," saran Ara.


"Jida tahu, abang mau ke mana?" Alih- alih mengindahkan perkataan Ara, pria itu malah menodong jida.

__ADS_1


"Jida nggak tahu, Mas. Emang kenapa sih?" Wanita lanjut usia itu balik bertanya.


"Kamu tahu?" Kini giliran Ara yang dituding Aro.


"Enggak!" sentak Ara, kesal karena suaminya itu tak menuruti perkataannya.


Ara berjalan menuju suaminya. Mengambil putri mereka dari gendongan sang papa dan membawanya pergi.


"Jangan suka digendong kalo lagi bobo. Nanti kebiasaan," gerutu Ara.


"Marah kan tuh?" komentar ayah membuat Aro merasa takut kalau istrinya benar-benar marah.


Dengan benak yang masih dipenuhi tanya tentang abangnya, Aro mengejar langkah istrinya yang membaringkan Hika di sofa panjang ruang tamu.


"Kamu marah?" tanya Aro, takut.


"Enggak, kenapa marah?" Nada bicara Ara sudah netral kembali.


"Aku takut kalau kamu marah," aku Aro.


"Kenapa takut?" Ara menepuk paha putrinya agar kembali lelap. Ia harus segera merapikan pakaian yang akan dibawa pulang. Terakhir dilihat, masih berantakan di kamar atas.


"Merasa gagal jadi suami kalo bikin istrinya marah," jelas Aro.


"Enggak marah, Mas. Maaf ya tadi udah teriak. Abis kalau dibiasain tidur sambil digendong takut jadi manja," ujar Ara seraya mengusap pipi suaminya kemudian pamit untuk merapikan pakaian sebab sebentar lagi harus segera pulang.


Aro masih penasaran, hendak pergi ke mana kakaknya itu. Jangan-jangan ingin bunuh diri sebab dua kali ditinggal nikah oleh wanita yang dicintanya? Begitu pikir Aro.


Saat Aro dan anak istrinya hampir siap untuk pulang, Zahra bersama Ilham justru datang. Pria itu kini lebih bersikap baik. Mungkin setelah kejadian tempo hari yang hampir menewaskan nyawanya bila tak ditolong oleh seseorang. Dengan seizin Allah tentunya, Ilham bisa kembali sehat dan bernapas hingga detik ini.


Zahra dan Ilham membawa kabar baik sebab sebulan lagi mereka akan melangsungkan acara pernikahan Alisha.


"Kok ngedadak Uma?" protes Ara.


"Sebenernya udah direncanain lama sama Abi, tapi kami nunggu waktu yang pas buat kasih tahu kalian," terang Ilham.


"Takut seperti sebelumnya, kita udah heboh malah nggak jadi. Kasian ke Lica," tambah Ilham.


Alisha dua kali gagal menikah. Yang pertama sebab calon suami yang diketahui ternyata sudah memiliki istri. Yang kedua, justru calon pengantin pria yang meninggal. Calon suaminya merupakan seorang pilot, meninggal dalam kecelakaan pesawat. Padahal surat undangan sudah dicetak. Sewa gedung dan yang lainnya sudah 50 persen rampung.


Dari kejadian tersebut, Ilham akhirnya luluh. Dia sadar, dulu saat Alisha sedang ranum-ranumnya dan banyak pria yang berniat memperistri, Ilham selalu melarang dengan alasan ekonomi.


Berkaca dari dua kegagalan itu, akhirnya Ilham pasrah siapa pun calon suami Alisha yang penting bertanggung jawab.


"Enggak sangka kak Lica jadi juga sama dia. Aku padahal cuma becanda pas kenalin dia ke kak Lica," ungkap Aro.


"Dapet pahala kebaikan tuh Mas," celetuk jida.


"Diriwayatkan dari Abi Hurairah dari Nabi, beliau bersabda, barang siapa yang berjalan, mempertemukan seseorang pada wanita halal yang mana hendak mengumpulkan (menikahkan) keduanya, maka Allah akan memberi rizqi padanya seribu bidadari. Dan setiap bidadari berada di istana yang terbuat dari mutiara dan yaqut, untuk setiap langkah kakinya dan kalimat yang diucapkannya (ketika hendak menjodohkan, menikahkan) ditulis baginya pahala ibadah setahun yang malamnya digunakan untuk qiyamul lail sedangkan siangnya digunakan untuk berpuasa."


"Kalau gitu, aku semangat ah cariin abang jodoh juga." Aro bicara dengan semangat berapi-api.


"Eh, tunggu ... jadi siapa calon suami kak Lica?" Ara menjadi satu-satunya orang yang belum paham.


"Orang yang sempet Uma ceritain ke Ara. Yang tempo hari sama abi pergi buka usaha car wash di tanah kelahirannya." Zahra mencoba memberi tahu Ara.


"Hah? tapi 'kan dia itu ....?" Ara menggantung kalimatnya.


"Abi udah terima dia kok, Ra. Orangnya baik, penuh semangat dan tanggung jawab." Ilham mencoba mematahkan sangkaan Ara.


Rumit sekali kisah cinta mereka.


.


.


.


.


Terima kasih banyak yang masih setia membersamai Ara, Aro dan Hika. Hika sebentar lagi mau ulang tahun, nih. Perasaan baru kemarin ya, bayi itu lahir 😅😅

__ADS_1


__ADS_2