Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Bagaikan Langit


__ADS_3

Nih artis kita, gatau ini kesayangan siapa coba?




Kalau yang ini anak baik kesayangan Bunda



Berhubung kembar jadi Abang sama persis deh sama si artis tapi lebih alim.



Jangan tanya yang lain-lain udah segitu aja cukup wkwkwk


Lanjut.


Aro sudah sangat tidak sabar menanti penjelasan Sakaf, Ara sampai harus berkali-kali mencekal lengannya yang terus terangkat ingin menghajar Sakaf.


"Ayo cepetan jelasin, gue masih banyak kesibukan!" sentak Aro padahal pelayan masih sedang menghidangkan pesanan.


"Mas, kamu tuh malu dong. Nanti reputasi kamu sebagai artis turun kalau lihat idolanya bar-bar kayak gini," bujuk Ara agar kakaknya itu dapat sedikit menurunkan amarahnya.


"Ok, saya akan jelaskan semuanya dan semoga semuanya dapat menerima penjelasan saya," papar Sakaf yang di sebelahnya Cici terus memegangi lengannya.


Diam-diam di bawah meja, Ara berusaha melepaskan cincin pemberian Rain. Merasa ada yang bergerak-gerak, tangan Aro reflek ikut turun ke bawah meja dan mendapati tangan Ara berada di sana juga.


Aro menoleh pada Ara, gadis itu melotot. Dasar si jahil Aro, tangannya malah cekatan mengambil cincin yang dipegang Ara sebab ia sempat melirik ke bawah meja dan melihat cincin itu sedang Ara pegang.


Aro memasukan cincin ke dalam saku celananya, lalu dengan gerakan cepat kembali tangannya ia letakkan ke bawah meja dan menyambar jemari Ara untuk ia genggam.


Ara tentu minta dilepaskan, ia sampai menginjak kaki Aro, Namun, pria itu malah memasang wajah datar tanpa sedikitpun berniat kalah.


"Saya dan Frea sebenarnya sudah kenal sejak kami sama-sama masih duduk di bangku TK. Saat itu, kami menjadi teman baik," papar Sakaf seraya melirik Cici penuh cinta.


"Aku kok sampe lupa ya kalo nama asli Cici itu adalah Sanfrea Wei Thianzi, Cici cuma sebutan seperti teteh. Kayak Atar manggil aku loh, Mas," ujar Ara seraya meminta persetujuan Aro yang masih mengenakan kacamata hitam dan masker.


"Jadi ceritanya cinta lama bersemi kembali?" tuding Aro, masih dengan nada kesal.


"Yang pasti cinta lama belum kelar, baru mau mulai udah dihantam badai," sahut Cici santai.

__ADS_1


"Cici, iih belum muhrim udah peluk-peluk gitu," protes Ara karena Cici masih terus saja bergelayut manja di lengan Sakaf.


"Kamu juga ngapain itu di bawah meja pegangan tangan?" tunjuk Cici ke arah kolong meja.


"Ini gue sebagai kakak yang baik ngasih kekuatan buat adek gue yang lagi sedih," elak Aro memberi alasan.


"Mas, aku kan nggak sedih. Aku juga nggak suka sama kak Sakaf, sedikitpun nggak sakit hati, Mas!" tegas Ara seraya kembali menginjak kaki Aro.


"Sakit, dodol!" kali ini Aro mengaduh, pegangannya pada jemari Ara hampir terlepas, namun secepat mungkin ia eratkan kembali.


"Diem, atau gue ...."


"Basi ah ngancemnya gitu mulu!" ketus Ara sudah hafal apa yang akan selanjutnya pria itu ucapkan.


"Bagus kalau lo udah ngerti," bisik Aro semakin mengeratkan pegangannya.


"Ini tuh mau lihatin orang yang lagi sama-sama suka tapi nggak mau ngaku, atau mau denger orang yang udah ngaku sama-sama suka buat jelasin permasalahannya?" sindir Cici pada akhirnya.


"Kita nggak saling suka, kok. Iya kan, Mas?" Ara menatap Aro meminta persetujuan.


"Lo nggak suka sama gue?" todong Aro.


"Mereka tuh saling suka, tapi yang cowok gengsinya gede banget," bisik Cici pada Sakaf, ia menghalangi bibirnya dengan telapak tangan saat berbisik.


Sakaf hanya tersenyum kecil, "Lalu kenapa kamu kirim saya pesan suruh kemari?" Sakaf dengan sorot tajam menatap Ara.


Ara menggeleng tak mengerti, "Mas, kamu Mas yang kirim?"


"Terima kasih dong, Pil sama gue. Gue tuh liat mereka berdua pas kita jalan mau makan bakso, inget nggak?" terang Aro, malam itu dirinya melihat Sakaf dan Cici keluar dari mobil di depan sebuah Kafe.


"Aku ketemu Kaf di depan klinik kamu, Ra," ucap Cici membuat Ara memegangi keningnya seraya membuat pijatan kecil di sana.


"Ini tuh, kayak bikin aku ngerasa bodoh banget tahu, nggak?" keluh Ara seraya membenturkan keningnya ke ujung meja.


Cici reflek berdiri, dia merasa tak enak dengan kondisi saudaranya itu. Cici memegangi bahu Ara, memeluk kepala Ara dan mengusapnya pelan seraya berkata, "Ra, maafin aku, kamu masih mau lanjut sama Sakaf?"


Ara menggeleng, ia kembali menegakan kepalanya membuat Cici melepaskan pelukannya.


"Aku cuma merasa seandainya hal ini telat terkuak, aku pasti merasa berdosa banget sama kamu, Ci," ungkap Ara menoleh ke arah Cici dan segera memeluk pinggang Cici.


Cici tersenyum, tangannya mengusap pucuk kepala Ara, kemudian ia membungkuk agar dapat berbisik pada Ara, "Kamu berhak bahagia juga, Ra. Jangan tutupi perasaanmu."

__ADS_1


Ara menggeleng, ia tidak bisa selugas itu menyatakan perasaannya pada Aro. Aro susah ditebak. Jauh di lubuk hati Ara, ia ingin mendapatkan hati Aro setidaknya untuk membuat pria itu bisa kembali ke jalan yang benar. Jalan yang Allah ridoi. Hati Ara selalu sakit saat mengetahui Aro sudah begitu jauh keluar dari garis ketaqwaan. Kakaknya itu terlalu larut dengan dunia. Entah apa kelak yang akan membawa Aro kembali ke jalan yang lurus.


Ara melepas pelukannya, "Cici harus bahagia, semoga kak Sakaf bisa bimbing Cici buat ...."


"Jadi mua'alaf?" tebak Cici membuat Ara mengangguk.


"Aku belum siap, Ra," ungkap Cici.


"Ini sebenernya mau reuni dua saudara atau apa?" sindir Aro yang jengah melihat interaksi Ara dan Cici.


"Ini solusinya gini doang, Pil?"


"Terus harus gimana, Mas?"


"Gue kira lo mau nangis, terus galau, kok ini datar amat sih?"


"Aku lagi mikir gimana cara ngomong ke ayah sama bunda!" Ara menyalak, saat dirinya memikirkan perasaan kedua orang tuanya, Aro malah memikirkan hal sesepele itu.


Sakaf memikirkan hal sama. Dia sedari tadi menimang, apa kata yang akan diucapkan pada orang tuanya tentang semua ini. Sakaf dan Cici berbeda, satu ammiin tak satu iman. Hubungan yang akan sulit dibangun bila tak ada salah satu yang mengalah, dan Sakaf tidak akan mengalah.


"Lo sendiri gimana?" Aro menaikan dagu bertanya pada Sakaf yang masih kebingungan.


"Saya yang akan bicara pada orang tua saya, saya juga akan meminta maaf pada orang tua kalian," sahut Sakaf.


"Lo nggak mau nangis, Pil?" Aro meledek Ara yang lebih memikirkan perasaan ayahnya ketimbang dirinya sendiri.


"Aku pusing, Mas sama ocehan kamu," keluh Ara seraya memegangi kepalanya, "tapi makasih udah kasih tahu aku hal ini, makasih juga udah atur pertemuan ini. Aku tahu sebenarnya Mas peduli kan sama aku? Mas tuh udah kayak langit, meski suka bikin Ara kepanasan, kehujanan tapi, tetap bisa jadi tempat bernaung paling nyaman. Makasih, Mas," ucap Ara panjang lebar. Suaranga lirih menahan tangis.


.


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


ig: Anisa_Harir


fb: Anisa Harir

__ADS_1


__ADS_2