Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Senandung Lirih


__ADS_3

Saat bersamanya hatiku bedebar, saat jauh darinya masih saja bergetar. Apakah itu cinta? sebab dalam igau saja, namanya membuatku gusar.


***


Ara


Dirinya yang biasa banyak bicara menjadi diam seribu bahasa di hadapan calon suaminya sendiri. Beberapa menit waktu berlalu tanpa patahan kata, Ara ingin bicara tapi, tak tahu harus mulai dari mana. Isi kepalanya bersusah payah merangkai beberapa tanya, namun urung ia ucap mengingat Sakaf sepertinya bukan seseorang yang banyak bicara.


Ara jadi penasaran, seperti apa wujud Sakaf waktu kecil? apa memang seperti itu sedari kecil? dingin, kaku dan datar. Demi mengusir rasa bosan Ara memainkan kuku-kukunya yang mulai panjang. Kamis kemarin dia lupa tak mengguntingnya. Ara bersenandung lirih tanpa suara, tapi sepertinya Sakaf menangkap suaranya itu.


"Kamu lagi nyindir saya?" todong Sakaf membuat Ara keheranan. Ia menghentikan senandung lirihnya kemudian menengok ke arah Sakaf.


"Nyindir gimana, Kak?" tanya Ara.


"Barusan nyanyi kayak gitu,"sahut Sakaf tanpa membalas menatap Ara.


Ara sama sekali tak berniat menyindir Sakaf dengan lirik yang ia senandungkan. Ara mencoba meresapi lagu itu.


Sudah lama kumenanti dirimu


Tak tahu sampai kapankah?


Sudah lama kita bersama-sama


Tapi segini sajakah?


"Aku nggak nyindir Kakak, aku cuma nyanyi," elak Ara menahan tawa. Selain kaku nyatanya calon suaminya juga memiliki tingkat percaya diri yang tinggi.


"Sudahlah, kamu aneh," omel Sakaf.


"Kakak loh yang aneh, aku cuma nyanyi nggak nyindir. Kakak terlalu pede. Emang Kakak ngerasa kita udah sedeket itu? kita ketemu aja baru 3 kali," papar Ara seraya mengangkat tiga jarinya ke hadapan wajah Sakaf.


"Kamu banyak omong ternyata," ujar Sakaf seraya menggeleng dan tersenyum kecut.


"Kakak nggak suka?" selidik Ara.


"Biasa aja, Ainun juga banyak bicara. Bisa berisik nanti rumah Bunda kalau ditambah sama kamu," ucap Sakaf.


"Ya daripada pendiem, diem-diem nguping," balas Ara.


"Saya nggak nguping!" tegas Sakaf.

__ADS_1


"Tapi Kakak denger, 'kan?" sentak Ara.


"Kamu berani sekali bentak saya!" seru Sakaf membuat Ara menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


"Maaf, Kak. Kebiasaan ngobrol sama Mas Ar jadi kebawa," ujar Ara tersenyum simpul.


"Aro?" tebak Sakaf dan Ara mengangguk. Dirinya terbiasa saling bentak bila bicara dengan Aro. Bebas, tanpa harus jadi siapa-siapa. Seperti kata Aro, Ara itu hidupnya seperti pelangi. Penuh warna-warni.


"Orang yang nggak punya attitude baik," cibir Sakaf membuat Ara naik pitam.


Bagaimanapun, Ara tak suka bila saudaranya dikatai seperti itu. Aro memang tak tahu tempat bila jahil, mungkin itu memang sudah kebiasaannya. Tapi bukan berarti Aro tak punya attittude seperti yang dibilang Sakaf.


"Kakak siapa berani ngatain sodara aku berakhlak jelek?" Ara sampai berdiri agar Sakaf tahu dia sangat tersinggung dengan ucapannya tadi.


"Saya? calon suamimu, calon imam kamu!" ujar Sakaf, pelan namun penuh penekanan membuat bulu kuduk Ara meremang.


Ara kembali duduk, dari nafasnya yang turun naik terlihat jelas emosinya belum stabil. Tak menyangka hanya karena sebuah senandung membuat keduanya jadi ribut begini.


"Maaf,"


"Maaf,"


Keduanya berkata berbarengan seperti sudah dikomando sebelumnya. Tatap itu akhirnya saling pandang. Kali ini Sakaf seolah tersihir oleh binar teduh dari netra Ara. Tidak bisa ia pungkiri gadis pemilik mata sipit itu memang tak menjemukan bila dipandang. Semakin lama semakin membuat betah. Tapi ....


Ia membuang pandangannya, tak ingin lebih jauh mengakui bahwa Ara memang mempesona. Gadis itu memang cantik dengan daya tariknya sendiri. Tidak berhias tebal, bahkan nyaris tanpa riasan. Pakaiannya sederhana tanpa aksesoris secuilpun kecuali cincin yang tadi Bundanya sematkan.


"Maaf, kita jadi ribut karena hal sepele. Bukan itu yang mau aku bicarakan," ujarnya.


"Aku juga minta maaf, aku kebiasaan ngobrol sama sodaraku jadi kebawa-bawa," balas Ara.


"Saya cuma mau memastikan kamu tidak terpaksa dengan pernikahan kita."


"Nggak kok, Kak. Aku nerima aja. Bukannya cinta bisa datang tiba-tiba. Sekarang nggak cinta bisa jadi besok cinta banget."


Sejurus Sakaf menatap Ara, banyak omong sekali gais itu. Dia berucap sedikit dijawab begitu banyak.


"Gini ya, Arabella," ujar Sakaf seraya mengubah posisi duduknya jadi sedikit menyamping ke arah Ara. "Saya mau nanya, nanti kamu mau punya berapa asisten rumah tangga?"


"Hah, asisten?"


"Iya, kan dalam ajaran agama kita, sesungguhnya yang wajib mengerjakan pekerjaan rumah itu adalah suami, tapi karena suami juga harus mencari nafkah, maka istrilah yang mengerjakannya tentu dengan pahala besar yang diberikan oleh Allah," papar Sakaf panjang lebar.

__ADS_1


"Jadi karena saya nggak bisa bekerja sekaligus mengerjakan tugas di rumah, maka saya memilih memberi kamu asisten rumah tangga. Kamu mau berapa orang?"


Ara


Dia mengerti apa yang diutarakan oleh Sakaf. Ara tertawa menanggapinya.


"Aku nggak butuh asisten, selain harus dibayar, aku juga rugi dong," ujarnya.


"Rugi?" tanya Sakaf.


"Nggak bisa ngumpulin pahala, padahal jelas-jelas mencuci pakaian kotor suami itu seperti membersihkan dosa kita. Aku tergiur oleh pahala-pahala seperti itu," jawab Ara panjang lebar membuat Sakaf tak berkedip memandangnya.


"Kakak nggak perlu mikirin hal-hal kayak gitu, In Sya Allah aku siap mengerjakan segala sesuatunya sendiri."


Jawabannya tentu membuat Sakaf mulai melihat sisi baik Ara. Sakaf menarik kedua bibirnya ke atas, ia sedikit memuji Ara dalam hatinya. Hanya dalam hati, bahkan senyumpun ia sembunyikan.


"Ya sudah, kita masuk lagi. Saya harus pulang," ujarnya seraya berdiri dan melangkah tanpa menunggu Ara.


Ara menatap punggung calon suaminya itu dengan perasaan berkecamuk. Ada debaran, tapi sepertinya bukan cinta. Ia baru melangkah setelah Sakaf benar-benar masuk ke dalam rumah. Membawa setumpuk rasa yang entah apa. Hanya berani menerima tanpa berani mengutarakan apa sebenarnya yang bersesakan dalam dadanya.


Suasana di tengah rumah sangat ramai, tentu Aro yang jadi baham pembicaraan. Kebetulan malam itu serial yang ia bintangi sedang ditayangkan. Jadilah mereka semua kompak menonton bersama, padahal Aro melarangnya.


"Iih gila lu, Mas, lebay banget," komentar Atar saat melihat adegan Aro bermesraan dengan lawan mainnya.


"Bunda, ganti channelnya dong, Bun," rengek Aro seraya masih berusaha mengambil remote yang Bumi sembunyikan di bawah bokongnya. Sengaja ia duduki agar Aro kesusahan.


"Temen-temen aku suka sama Mas Aro loh," Ainun ikut menimpali komentar Atar.


"Tante juga suka kok, akting Mas Aro bagus ya, bikin baper." Rain ikut-ikutan berkomentar membuat Aro makin malu.


"Udah kamu tuh kalau malu ngapain jadi artis?" sentak Bumi saat Aro terus saja menyundulkan kepalanya ke pundaknya.


"Akting kamu bagus kok, jadi suami idaman. Mudah-mudahan nanti setelah menikah bisa merealisasikannya dalam kehidupan kamu," imbuh Ragga, kali ini bukan hanya malu, tapi juga wajah Aro sudah sangat panas.


Bumi menahan tawa melihat tampang putranya itu. Bumi sejujurnya tak suka Aro tetap melanjutkan karirnya. Dia lebih ingin Aro memiliki profesi lain atau mengurusi usaha Ayahnya saja. Tapi bagi Aro, akting itu seperti candu. Susah dilepas inginnya terus mengulang.


.


.


.Senandung lirih itu milik vierratale dan judulnya aku lupa nggak nyari, besok diedit lagi deh.

__ADS_1


Like dan komennya ratain dong kakak biar seimbang. aku sayang kalian laf laf laf pokoknya. Komen yaa komen


__ADS_2