
"Kamu dengar nggak sih Ayah ngomong apa?" tanya Akash sebab jawaban Ara tidak sesuai dengan pertanyaannya.
"Kue pukis, Yah," jawab Ara asal, dengan tatapan masih tertuju pada kue pukis.
"Ara, bukan itu. Kamu dengar nggak kak Sakaf ngomong apa barusan?" Bumi ikut bertanya pada anak gadisnya itu.
"Apa sih, Bun?" Ara balik bertanya kemudian melwmparkan pandangan pada Sakaf. "Makanya Kak Sakaf kalo bicara jangan kaku jadi bunda aku nggak paham tuh," lanjut Ara kembali menatap kue pukis.
Bumi dan Akash saling pandang seraya tersenyum. Sakaf menghela napas panjang, dia sedikit kesal sebab Ara tak memperhatikan apa yang sedang dibicarakan.
"Kamu makan saja dulu kuenya, Ra," ujar Sakaf, kemudian ia berdiri. "Saya izin mau terima panggilan dulu," pamitnya seraya melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Emang tadi dia bilang apa?" tanya Ara tanpa rasa bersalah seraya langsung mengambil kue pukis varian pandan dengan taburan keju di atasnya. Ara lahap sekali memakan kue yang sangat lembut itu.
"Nggak dikunyah 21 kali, Ra?" canda Akash yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya dari Bumi.
"Kelamaan Ayah, nanti kanebo kering itu keburu masuk," sahut Ara yang memasukan sepotong pukis dalam satu kali suapan.
"Ara, nggak boleh menyebut nama orang dengan sebutan seperti itu," omel Bumi.
Ara tertawa kecil seraya menutup mulutnya. Tiga buah kue pukis sudah cukup membuatnya merasa kenyang. "Kebanyakan gaul sama mas Aro jadi gini, Bun," kata Ara, membuat hatinya tiba-tiba merasa merindukan kakaknya yang satu itu.
Kamu lagi apa, mas?
"Mas Ar tuh jangan diikutin, dia tuh sesat," ucap seseorang yang baru datang. Suaranya sangat Ara kenali.
"Abang?"
"Aku dikasih izin istirahat sama Rumah Sakit sampai benar-benar sehat," jawab Akhza seraya duduk pada pinggiran sofa yang Ara tempati. "Di sana nggak ada yang ngurus aku," lanjutnya seperti memberi kode pada Ara.
Bukan Ara tidak tahu dan tidak merasa atas perasaan Akhza, tapi ia lebih memilih pura-pura tak peduli saja. Apalagi saat dirinya tahu dijodohkan dengan Sakaf, mati-matian membunuh rasa cinta pada Aro dan berusaha terus menepis perhatian dari Akhza.
Baru Ara akan bicara menanggapi ucapan Akhza, Sakaf sudah kembali ditandai dengan suara derap langkahnya yang terdengar menyeramkan bagi Ara.
Gimana bisa aku ngejalanin hidup sama dia kalau derap langkahnya saja membuatku takut
"Maaf saya membuat kalian menunggu," ucap Sakaf seraya kembali duduk.
__ADS_1
Sakaf melihat ke arah Ara, sedikit kaget sebab ada Akhza yang duduk di dekatnya. Sorot tajam Sakaf bertemu dengan tatap teduh Aro. Keduanya seolah saling mengadu kekuatan lewat pandangan. Memilih tetap bertahan, menunggu siapa yang akan berada dalam kekalahan.
Sadar dengan situasi itu, Ara buru-buru mengambil inisiatif untuk melerai perang batin dalam diri kakak dan calon suaminya. Ara beranjak, mengangkat piring berisi kue pukis dan membawanya ke hadapan Sakaf.
"Cobain dulu kuenya! ini enak," tawar Ara, tapi Sakaf malah menepis piring itu. Hampir membuatnya terjatuh bila Ara tak memeganginya dengan kuat.
Akhza reflek berdiri melihat kejadian itu. Pun Bumi dengan Akash yang kaget dan saling berpandangan, pasalnya selama ini Ara tak pernah mereka perlakukan kasar seperti itu.
Akhza segera menghampiri Sakaf, ia tarik perlahan adiknya yang masih berdiri di hadapan Sakaf.
"Bre***k, bisa-bisanya lo kasar sama adek gue!" Akhza menyalak seraya melayangkan tinju di pipi kiri Sakaf.
Bumi dan Akash segera berdiri, menahan tangan Sakaf yanh kembali akan meninju wajah Sakaf.
"Abang, kendalikan emosimu!" teriak Akash seraya menarik tubuh Akhza sedikit menjauh.
"Bawa dia ke kamarnya, Bun!" titah Akash pada Bumi.
Bumi tentu menurut, ia rangkul pundak putranya yang bertubuh tinggi itu untuk pergi dari ruang tamu. Akhza tak melawan, dia tak ingin membuat Bumi kerepotan. Padahal amarah dalam dirinya masih meluap-luap Masih ingin menghajar Sakaf dan memberinya serangan lebih dari barusan.
Akash segera merangkul bahu putrinya yang masih shock. Ia menuntun Ara untuk duduk kembali. Ara tak terbiasa dengan hal-hal kasar seperti tadi. Ia tumbuh dan dibesarkan oleh Bumi dengan cinta dan kasih yang lembut.
"Iya, nggak apa-apa. Maaf juga untuk perlakuan Akhza," balas Akash, sedikit kecewa.
Ara sudah kembali meletakan piring ke atas meja. Dadanya masih bergemuruh. Selama ini, meski Aro selalu kasar terhadapnya, Ara tak pernah merasa tak suka. Entah mengapa, perlakuan Sakaf terhadapnya begitu menonjok hatinya. Ia merasa sedikit ragu untuk melanjutkan hubungan dengan Sakaf.
"Lebih baik saya perjelas perkataan saya yang tadi ya, Om?" Sakaf meminta pendapat.
"Silahkan," sahut Akash, tak seramah sebelumnya dan membuat Sakaf merasa tak nyaman.
"Saya sampaikan bahwa, pernikahan saya dan Ara diundur hingga satu bulan ke depan sampai keadaan enin membaik. Mungkin nanti orang tua saya juga akan menghubungi Om," beritahu Sakaf.
"Gimana, Ra? kamu udah ngerti?" tanya Akash.
"Aku ngerti ayah," jawab Ara tanpa berani memandang ke arah Sakaf yang tengah mengamatinya.
Setelah maksud dan kedatangannya tersampaikan, Sakaf pamit untuk pulang. Ia juga sempatkan meminta maaf pada Ara. Memberi alasan bahwa dirinya memang tidak suka dengan kue pukis. Ara tentu menerima maaf Sakaf, ia bahkan menyempatkan diri mengantar Sakaf hingga ke depan rumah.
__ADS_1
Akhza
"Bun, yakin mau nikahin Ara sama cowok kayak gitu?" tanya Akhza seraya menggasak kasar surai hitamnya. "Kasihan Ara, Bun!" lanjutnya dengan emosi masih meluap-luap.
"Bunda tanya sama kamu, benar kamu nggak menyimpan perasaan pada Ara?" selidik Bumi.
"Kenapa jadi nanya kayak gitu?"
"Kamu melarang Bunda dan ayah meneruskan perjodohan ini karena memang kamu kasihan sama adik kamu atau kamu sendiri yang ingin menikahinya?"
"Aku ingin menikahinya!"
Jawaban Akhza tentu membuat Bumi membuang napas kasar. Semakin dewasa, Bumi pikir anak-anaknya akan berhenti membuatnya dalam posisi sulit. Nyatanya, ia malah dihadapkan pada keadaan yang rumit.
"Boleh kan, Bun? janur kuning belum melengkung!"
"Lalu jidda dan umma gimana?"
"Kenapa harus selalu dengerin jidda dan umma sih? tuding Akhza. "Ara bukan seseorang yang pantas dikucilkan. Bagiku, Ara istimewa. Bunda juga beranggapan seperti itu kan?" desak Akhza kemudian seraya mengguncang bahu Bumi yang duduk di tepian kasur, di kamar Akhza.
Bumi mengangguk, ia bahkan menitikan air mata sebab teringat bagaimana perlakuan keluarga Akash pada Ara. Sedari Ara bayi hingga dewasa kini, mereka masih saja tak terlihat menerima Ara. Bumi sering mendapati mereka menggunjing Ara. Bahkan dengan tegas melarang salah satu dari anak kembar mereka menikah dengan Ara.
"Aku mau berjuang buat nikahin Ara, Bun. Kalau perlu, anggap aku ini seorang pria yang sedang meminta anak gadisnya untuk dinikahi."
"Ibu Bumi Hansa yang terhormat, izinkan saya meminang putri anda yang bernama Salasika Arabella. Saya janji akan membuatnya bahagia," ujar Akhza terdengar serius.
"Nggak bisa, Abang. Jangan seperti ini!" sentak Bumi dengan kedua ujung matanya yang sudah mengeluarkan air.
"Bun, jangan nangis!"
Akhza segera duduk di samping bundanya. Ia tarik bahu Bumi agar dapat bersandar padanya.
"Abang janji ya, jangan bikin Bunda tambah kesulitan. Abang berdo'a saja minta kebaikan pada Allah. Bunda selalu mendo'akan yang terbaik untuk Abang," lirih Bumi dengan deraian air mata yang mengalir deras.
Akhza menjawab dengan anggukan, meski hatinya masih tak rela Ara menikah dengan orang lain. Akhza tak ingin kalah, benar kata Aro tempo hari. Mungkin kita perlu curang untuk menjadi seorang pemenang.
.
__ADS_1
Eit, Like dan komen dulu dong sebelum pindah Bab