Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Ekanta Bimala 2 (End)


__ADS_3

Akhza memilih ke lantai dua rumah adiknya itu. Ia sudah sering berkunjung ke rumah ini. Bahkan dia sendiri yang dulu memilihkan rumah ini untuk Aro. Ada satu tempat favoritnya. Yaitu teras balkon yang menyuguhkan pemandangan rel kereta api dan gedung sekolah Taman Kanak-kanak bernama An-nabee. Setiap lima menit sekali suara kereta listrik itu melintas. Penumpang di dalamnya selalu penuh. Terlebih pada jam-jam pulang dan berangkat kerja.


Jika sudah tengah malam begini, kereta tak ada yang beroperasi. Akhza melangkah menuju kursi di pojokan teras. Namun, gerakannya terhenti saat suara cekikikan seseorang menggangu indra pendengarannya.


"Suka doang? eh enggak suka banget. Hihihi, tapi sayang papan triplek kusut mana ada punya hati." Tala bicara sendiri menatap layar ponselnya. Dia sedang membuat video sepertinya.


Gadis itu membungkus kepalanya dengan handuk coklat. Seolah mengenakan hijab.


"Not bad sih," pujinya pada diri sendiri.


"Kita berada di bumi yang sama, dengan Tuhan yang sama dan pada iman yang sama. Tapi sayang, kita tidak ditakdirkan untuk bersama hehehehe." Gadis itu masih ramai meski berceloteh sendiri.


Akhza sampai meringis ngeri, kenapa gadis itu ribut sekali pikirnya.


"Nyesel banget aku kemarin peluk-peluk si papan triplek," sungut Tala seraya mengetukkan ujung ponsel pada dahinya.


"Aku ngerendahin diriku, dan dia masih aja dingin macam es batu yang minta ditampol terus masukin ke syrup biar ada gunanya jadi es batu hihihi." Tala terus berceloteh tanpa tahu Akhza sedang menguping.


"Kenapa jadi rumit gini ya? Ku kodein dianya malah datar aja. Masa aku harus duluan yang bilang?" Tala masih saja asyik bermonolog.


"Sadarkah kau, ku adalah wanita. Aku tak mungkin memulai. Sadarkah kau, kau menggantung diriku huhuhu nyeuri luurr." (Sakit guys) Tala bersenandung ria.


(Vierratale - terlalu lama)


"Peka atuh kamu teh," lirih suara Tala kali ini lebih rendah.


Ia suka pada Akhza. Suka saat pertama melihat pria itu selalu dengan serius memeriksa pasiennya. Akhza yang tak banyak bicara, namun penuh pesona.


"Huh, Abang. Kalo aja kamu tahu. Kalo aja kamu mau tanya apa yang terjadi sama aku. Apa yang ...." Meluruh sudah air mata gadis pemilik pipi chubby nan manis dengan gigi gingsulnya itu.


Tala mengesak, ia biarkan air mata yang selalu bergerombol minta dikeluarkan itu berambai-ambai meletis pipinya.


Akhza iba pada Tala. Ia tak sangka gadis itu ternyata menaruh hati padanya. Selama ini, Akhza kira dia dengan senang hati menerima perjodohannya dengan sepupunya. Akhza kira Tala mempermainkannya.


Tala dan Rud selalu terlihat mesra bila bersama. Bagaimana Rud memandangnya? Betapa Ayesha juga menyayangi Tala? Begitu juga dengan Laut yang sudah mendatangi orang tua Tala.


Lantas mengapa ku masih menaruh hati


Padahal ku tahu kau 'tlah terikat janji


Keliru ataukah bukan tak tahu


Lupakanmu tapi aku tak mau


Pantaskah aku menyimpan rasa cemburu


Padahal bukan aku yang memilikimu


Sanggup sampai kapankah ku tak tahu


Akankah akal sehat menyadarkanku


(Juicy Luicy - Lantas)


Tala mengesat air matanya dengan handuk. Ia juga terdengar mengeluarkan lendir dari hidungnya. Akhza sampai meringis, antara jijik dan gemas sebab kedua ujung bibirnya terangkat kemudian pria itu berjalan mendekati Tala.


"Abang nggak punya hati," sungut Tala kemudian, membuat Akhza menghentikan langkah.


"Atau hatinya emang gak ada sensornya jadi gak peka?" Gadis itu masih melanjutkan saja monolognya.


"Udahlah, kita mungkin memang bukan jodoh." Tala bergerak untuk berdiri. Hawa dingin mulai mencatuk permukaan kulitnya.


Ketika berbalik dan hendak melangkah, sosok tinggi dengan sorot mata tajam membuat Tala rasanya membeku. Ingin bicara tetapi, lidah kelu.


Tala melulur air liurnya, tenggorokannya cengkar dengan wajah yang terasa panas.


"Abang, udah lama di situ?" Pertanyaan bodoh Tala, umpat gadis itu dalam hati.


Akhza tak lekas menjawab. Pria itu malah memandangi wajah Tala. Gadis itu masih menggunakan handuk sebagai penutup kepala. Seolah-olah mengenakan hijab.


"Semoga Abang nggak denger apa-apa, kalau denger anggap aja itu cuma angin lalu." Tala mulai melangkah, Akhza masih diam.


Gadis itu merutuki kebodohannya. Lihat bukan? si papan triplek itu sama sekali tak menahan langkahku? batin Tala seraya melewati Akhza yang pandangannya lurus ke depan tanpa melirik yang lewat di sampingnya.


Tala ingin menengok, melihat apakah Akhza juga akan menengok seperti adegan di film-film?


Saat Tala menengok, Akhza nyatanya tak sedikit pun bergerak. Tala mendesah pelan. Betapa berharap pada Akhza adalah menyengaja untuk kecewa.


Tala kembali melanjutkan langkah, hingga ia merasa handuknya terlepas dari kepalanya dan saat menengok Akhza lah yang telah menariknya.


"Saya nggak tahu, apa saya memiliki perasaan sama kamu atau enggak." Akhza bicara tanpa berani menatap Tala.


Oh My God! Dia kalau bicaranya serius gini berarti lagi waras, nih. Batin Tala.


Akhza hanya menggunakan kosa kata saya dan kamu pada Tala bila sedang di rumah sakit. Haruskah Tala menyebutnya Pak Dokter juga?


"Saya bukan tak punya hati," ucap Akhza memakaikan kembali handuk pada kepala Tala.


"Percuma pakai hati kalau kamu sudah ada yang memiliki," lanjut Akhza dengan seulas senyum.

__ADS_1


"Maaf kalau sikap saya telah banyak nyakitin kamu lagi." Akhza menatap intens bola mata indah Tala.


"Apa yang kamu harapkan dari saya? sedangkan kamu sudah diminta Mama Eca buat jadi menantunya?"


"Dan jawaban kamu, iya bukan?"


Cecaran tanya dari Akhza tak langsung dapat Tala jawab. Iya benar, Tala tak dapat menolak permintaan Ayesha. Ia tunduk, soal mencintai Rud. Harusnya Akhza sudah tahu jawabannya.


"Mari selesaikan urusan ini saat ini juga. Kamu mau saya perjuangkan?" tanya Akhza lagi.


"Kalau mau saya perjuangkan, artinya kamu tahu harus ngapain?" desak Akhza.


"Kamu bisa?" tekan Akhza


"Kamu yakin akan membuat Mama Eca kecewa?" Akhza tak melepaskan pandangannya.


"Aku ... aku, itu rasanya sulit. Tapi, Abang. Aku suka ke Abang."


"Bodo amat, anggap aja aku sedang menyatakan perasaan. Iya anggap aja begitu," batin Tala menjerit.


"Suka ke saya tapi sulit melepaskan Rud?" cibir Akhza. "Dan kamu berlagak seolah saya yang tega sama kamu?" lanjut Akhza.


"Padahal harusnya kamu tahu, siapa di antara kita yang paling tersakiti?"


"Abang suka ke aku?"


Bagus Tala, percaya diri aja.


"Ada perasaan cemburu saat kamu sama Rud, apa itu artinya saya suka ke kamu?"


"Abang pernah suka nggak sih ke cewek?"


"Pernah, tapi saya gagal. Sepertinya kali ini akan gagal lagi," batin Akhza.


"Kalau saya juga suka sama kamu, kamu siap ninggalin Rud?" Akhza balik bertanya dan membuat Tala tak bisa menjawab.


Terlalu rumit.


"Saya tahu jawabnnya. Tidurlah, Ekanta Bimala!"


Akhza membalikan badan memunggungi Tala. Tala tak ingin pergi. Ia malah maju sedikit kemudian memeluk Akhza dari belakang.


"Seenggaknya aku tahu perasaan Abang. Makasih." Tala menghirup kuat aroma mint saat hidungnya menyentuh punggung Akhza.


Gadis itu kemudian melepaskan pelukannya. Ia berjalan kembali, harus cepat tidur agar lekas waras.


"Mas, kamu udah dateng? aku takut, Mas." Ara mengadu.


"Tadi aku dikurung di kamar mandi. Ada tiga orang datang nganter paket katanya punya kamu. Mas, mereka siapa?" Ara histeris dengan air mata yang berderai membuat hati Aro berdenyut nyeri.


Siapa yang tega menyakiti istrinya?


"Sekarang udah baik-baik aja. Maaf aku nggak ada di saat kamu kesulitan."


"Aku tadi ketakutan karena gelap. Aku minum air keran biar nggak dehidrasi. Mereka siapa, Mas?" Ara mengulang pertanyaannya.


Sedangkan Aro malah jengkel pada satpam, apa tidak lihat saat tiga orang itu masuk ke komplek perumahan?


"Kamu jangan pikirin mereka siapa ya?" bujuk Aro padahal ia sendiri penasaran.


"Aku nggak mau ditinggal-tinggal lagi," rengek Ara membuat Aro iba.


" Iya enggak, sekarang tuan putri mau apa? mau makan apa? atau mau aku ngapain? tapi jangan nangis." Aro menghapus air mata istrinya dengan jarinya.


"Aku mau tidur aja, aku mau cepet lupain semuanya." Ara kembali memejamkan mata.


Aro awalnya ingin tidur juga, tapi ia urungkan sebab dirinya harus memeriksa sesuatu. Saat dengkuran halus Ara mulai terdengar pria itu diam-diam meninggalkannya.


Di ruang tamu ia melihat mami mertuanya terbaring di sofa panjang sementara bunda duduk memeluk bantal kursi dengan mata terpejam. Aro membangunkan bundanya agar tidur dengan Ara di kamar. Bumi menolak, ia malah membangunkan Sita dan menyuruh dirinya yng tidur bersama Ara.


"Titip Ara sebentar, saya mau ke atas," pinta Aro. "Bunda juga ke kamar aja," lanjut Aro membuat kedua wanita itu kembali menemani Ara di kamar.


Aro memeriksa kamar yang ia gunakan sebagai ruang kerja. Dugaannya benar, laptopnya hilang.


"Davina, kalau sampai elo pelakunya. Awas!" geram Aro.


Sebelum kembali turun Aro juga memeriksa setiap sudut ruangan lantai dua itu. Ia mendapati Tala sedang bermain ponsel di kursi malas.


"Tala, makasih udah rawat Ara," ucap Aro membuat Tala menjatuhkan ponselnya sebab kaget.


"Iya, Mas Ar. Nanti aku cek lagi kondisi Ara kalau bagus nggak usah nambah infus deh. Ara kuat," puji Tala.


Aro tersenyum, ia kemudian berlalu demi melihat pintu ke teras balkon terbuka. Pria itu berjalan ke arah sana. Sama sekali tidak ada yang berantakan dan rusak. Di pojok teras, dia melihat Akhza duduk bersandar memejamkan matanya.


"Bang, tidur di kamar!" seru Aro ikut duduk di kursi sebelah akhza. Di sana ada dua kursi yang di tengahnya terdapat meja bulat dengan hiasan tiga buah pot putih berisi tanaman kaktus.


"Ara udah cerita?" tanya Akhza.


"Udah, gue curiga ke Davina soalnya cuma laptop gue yang ilang. Nggak ada yang berantakan. Semua rapi. Mungkin dia gertak gue buat nggak berhenti nulis."

__ADS_1


Aro menghela napas, ia masih mengira-ngira kalau memang Davina, mengapa wanita itu bisa tahu Ara di rumah sendirian?


"Terus kenapa lo mikir itu Davina yang ngelakuin?" Akhza sudah tahu siapa Davina.


Hanya Omar, Akhza dan Atar yang tahu siapa wanita bernama Davina itu.


"Gue yakin ini gara-gara postingan Omar nih, bang ke tuh anak emang apa-apa mesti aja diposting!" Aro berujar setelah memikirkan dari mana pelaku tahu Ara sendirian di rumah.


"Teleponin Omar, Bang!" Aro meminta bantuan Akhza.


Akhza menurut, ia panggil nama Omar pada ponselnya.


Memanggil Omar.


Tak lama panggilan terhubung, Aro langsung merebut ponsel dari Akhza.


"Eh bang ke, pemirsa story lo siapa aja?" todong Aro membuat Akhza yang duduk di sebelahnya menggeleng.


"Santai bos, elo udah sampe?"


"Buruan, lihat siapa aja!"


"Oke, gue buka dulu!"


Sesaat hening, mungkin Omar sedang memeriksa sosial medianya.


"Banyak yang lihat, dan elo pasti nggak kenal."


"Ada Davina atau siapa yang berhubungan sama Davina nggak?"


"Davina ada, sama Nyokapnya Rea!"


Ibunya Rea? apa-apaan ini?


Aro kemudian menceritakan apa yang terjadi pada Ara dan tentang laptopnya yang hilang.


"Kalau tujuannya laptop, gue condong ke Davina. Tapi, nyari buktinya susah Ar."


"Lo pancing Davina, pikirin caranya. Elo kan yang bikin ulah. Makanya jangan asal aja kalau main medsos. Nggak semua yang lo unggah itu bikin orang lain suka. Gue nggak mau lagi elo unggah-unggah keseharian gue!"


"Dasar songong lu! mantan artis gebleg!"


"Buruan cari cara buat deketin Davina!"


Lalu Aro mematikan panggilan dan kembali memberikannya pada Akhza.


"Hati-hati Mas, jangan asal tuduh. Elo mending kasih perhatian lebih dulu ke Ara. Masalah ini biar gue sama Omar yang urus," hibur Akhza yang terlihat iba dengan adiknya itu.


"Gue balik ke bawah deh, takut Ara bangun. Elo tidur, Bang. Tuh ada Tala nganggur," bisik Aro di akhir kalimatnya seraya beranjak dan berlari.


"Breng sek, si mesum dasar. Elo kira gue kayak elo!" umpat Akhza seraya beranjak juga. Hawa dingin mulai menerpanya.


Aro melihat Tala masih asyik dengan ponselnya di kursi malas. Ia berbalik melihat Akhza yang menutup pintu kemudian melirik pada Tala.


Dosa apa elo Bang, tiap suka ke cewek selalu sodara saingannya. Kali ini, gue dukung elo bang! batin Aro seraya meneruskan langkah.


Akhza melihat Tala sekilas, ia awalnya ingin acuh namun tidak ada salahnya menyapa. Seperti kata Tala, berteman memang mungkin lebih baik.


"Heh, bukannya tidur!" Akhza membuat Tala terperanjat.


"Ini kembaran seneng banget kagetin orang!" umpat Tala mendengus kesal.


"Tuh 'kan diperhatiin malah marah, tidur Tala," ujar Akhza kali ini dengan suara lebih lembut.


"Aku nungguin cairan infus Ara habis. Baru bisa tidur. Sambil nanti dicek lagi kondisinya, apa perlu cairan lagi atau enggak?" jelas Tala panjang lebar.


"Udah elo tidur aja, biar gue yang pantau. Nanti gue bangunin kalau ada apa-apa," bujuk Akhza.


"Dia manis banget, sayang aku nggak bisa memilih," sesal batin Tala.


Tala menurut, ia beranjak dari duduknya lalu berlalu meninggalkan ruangan itu masuk ke kamar yang di dalamnya sudah ada Ceya tertidur pulas.


"Hape aktifin, Tal. Nanti gue telepon!" teriak Akhza di balik pintu.


"Iya, Abang!" sahut Tala.


Perut Tala rasanya dikelilingi kupu-kupu saat menyebut Akhza abang, lagi. Setelah beberapa waktu tak bertemu.


Akhza memilih turun ke lantai bawah, agar mudah memeriksa keadaan Ara pikirnya.


Aro sendiri sudah kembali ke kamar. Ia tak lekas tidur. Memilih membuka ponselnya, berbalas pesan dengan Omar. Sementara bunda dan mami sudah tidur di lantai menggelar kasur santai. Ingin membangunkan tapi tak tega demi suara dengkuran halus mereka yang bersahutan.


Perasaan Aro lebih tenang saat melihat istrinya masih terlelap, terlihat nyaman dan damai. Ia berpikir harus lebih ekstra menjaga Ara. Jika memang benar Davina dalang di balik semua ini, tujuannya pasti satu, menggertak Aro agar jangan berhenti menulis naskah.


.


.


.Meluncurnya ternyata pagi gaes 🤗

__ADS_1


__ADS_2