
Hari raya semakin di depan mata. Tahun ini Bumi meminta Mama Ayas untuk berlebaran di Bogor saja. Keadaan Aro yang membuat Bumi terpaksa untuk tidak meninggalkan tempat tinggalnya. Sore itu, Mama Ayas datang bersama Ibu Yati.
Ibu Yati menyampaikan rasa sedihnya dengan kasus yang sedang dialami Aro. Dia sampai terus-menerus memikirkan masalah ini.
"Dido'akan saja ya, Mbak. Semoga anak saya mendapatkan hikmah di balik kejadian ini," ucap Bumi.
"Mama senang kalau kamu tegar begini," puji Sang Mama.
"Kakak yang selalu menguatkanku, Mam. Ditambah Mas Ar juga sepertinya ikhlas menjalani semua ini. Dia sekarang jadi lebih dekat dengan Allah," jelas Bumi membuat Mama Ayas mengucapkan Alhamdullillah
***
Sedari pagi di rumahnya, Ara sudah berkutak dengan pembuatan kue-kue kering. Ia sengaja tahun ini membuat banyak, sebab ingin sekalian mengirim pada Teh Ida juga Teh Fenti yang tahun sebelumnya belum masuk daftar pengiriman bingkisan lebaran.
Dibantu Vanya dan Sanu, hari itu Ara dapat banyak hasil kue kering yang dibuatnya. Ia sudah mengemasnya sedemikian rupa agar kue tetap dalam bentuk utuh saat sampai pada si penerima.
"Yes, beres!" seru Ara sembari menatap puas pada beberapa bingkisan yang sudah siap kirim. "Besok tinggal minta tolong Atar buat kirim," imbuhnya.
Gadis itu menghabiskan banyak waktu agar tak ada celah untuknya memikirkan Aro. Ia bahkan berfikir untuk kembali mengambil study agar segera dapat membuka praktek sendiri.
"Enak Ra kalau punya praktek sendiri," begitu ucap Bidan Army saat menimpali keinginan Ara untuk mengambil study lagi.
"Perlu berapa lama ya Bu dari study lalu membuka praktek sendiri?" tanya Ara.
"Tiga tahun deh cukup, kamu kan tekun," puji Bidan Army.
"Nanti minta arahan dan bimbingannya ya, Bu," pinta Ara.
"Saya pasti dukung kamu, saya bantu kamu sampe bisa buka praktek sendiri. Kamu pasti bisa!" seru Bidan Army memberi semangat.
Hal itu kemudian Ara sampaikan kepada Bumi. Wanita itu senang saja mendengarnya. Tapi, ada satu hal yang mengganjal hatinya saat Ara bicara yang lain.
"Aku mau buka praktek dulu baru nikah," ungkap Ara membuat Bumi yang sedang memakan kastengel buatan Ara tiba-tiba tersedak.
Ara cepat memberikan Bumi air putih, dan segera Bumi meminumnya. Bumi merasa tenggorokannya perih hingga membuat matanya mengeluarkan air.
"Ada yang salah sama ucapanku, Bun?" tanya Ara dengan perasann bersalah memupuk dalam diri.
"Bunda selalu dukung kamu, tapi Mas Ar gimana?"
"Aku nanti bicara sama Mas Ar."
Perbincangan malam itu akhirnya menggantung. Ara perlu banyak waktu untuk menyiapkan diri. Apakah alasannya nanti bisa diterima oleh Aro?
***
Akhza
Setelah beberapa hari dari kejadian Rea yangendatangi rumah sakit, Akhza mulai digosipkan yang tidak-tidak. Kejadian tempo hari nyatanya banyak tertangkap oleh beberapa pasang mata. Dalam timnya sendiri, Akhza selalu menjadi bulan-bulanan.
"Kirain nggak main sama yang begituan?" ledek Lavi pada Akhza, saat itu mereka sedang makan sahur di rooftop rumah sakit.
"Pantesan Nauna mepet terus aja selalu dihempas," timpal Rena gadis berhijab hijau muda.
"Jangan suka gosip, ghibah tuh namanya," sela Akhza seraya memutar bola mata.
"Lagian sah sah aja kok kalau elo emang seneng sama modelan cewek kayak kemaren. Bodynya, ngiuk," ujar Lavi disambut tawa riuh oleh empat temannya yang lain.
"Gue tunggu undangannya aja!" tukas Asta, si pria berkaca mata.
"Gue malah tunggu ceweknya jadi berhijab," tambah Mefta yang memiliki tubuh tinggi besar.
"Gue boleh deh jadi bridesmaidnya," sambung Rena membuat Akhza kesal dan memilih meninggalkan keempat temannya itu.
Akhza kembali turun dari rooptof. Ia melangkah tergesa-gesa menuju masjid rumah sakit. Pria itu tak memperhatikan sekitarnya saat melintasi koridor. Dia sampai tak melihat ada seseorang yang sedang makan mie dalam cup dan ia tabrak keberadaannya.
"Aw, Panas!" pekik seseorang yang Akhza tabrak.
__ADS_1
Akhza reflek memghentikan langkah dan kembali menengok pada sumber suara. Ia melihat seorang gadis duduk di atas lantai seraya memunguti tumpahan mie di atasnya. Akhza terpaksa kembali dan menghampiri gadis itu.
"Ada yang luka?" tanya Akhza membuat gadis yang ternyata Tala itu menggeleng. Ingin marah, tapi tak berani.
Akhza mengulurkan tangan, tapi Tala lagi-lagi menggeleng. Seragam di bagian dada gadis itu basah dan terdapat noda menguning di sana. Membuat Akhza melihat sesuatu yang tercetak jelas di balik seragam putih itu. Ia memalingkan pandangannya. Memilih berjongkok dan membantu Tala memunguti mie yang masih berserakan.
"Gue buru-buru, sorry," ungkap Akhza dan hanya diangguki oleh Tala sebagai respon.
"Nanti gue mintain seragam ke Bu Ayesha," ucap Akhza seraya membuka kemeja yang dipakainya kemudian melemparnya pada Tala.
"Tutupin pakai ini dulu!" titahnya membuat Tala memberanikan diri menatap Akhza yang sudah berdiri kembali.
"Masih bersih, baru gue pake beberapa menit yang lalu."
Pria itu kini hanya maungenakan kaus putih lengan pendek. Tala tak bisa memungkiri bahwa sosok di hadapannya itu benar-benar rupawan. Di bawah sinar lampu, wajah Akhza semakin berseri. Membuat Tala rasanya tak ingin mengakhiri waktu ini. Sangat memalukan, namun juga menggetarkan hatinya dalam waktu yang bersamaan. Akhza yang digosipkan sombong, nyatanya penuh tanggung jawab.
Tanpa menghiraukan lagi Tala, pria itu kembali berlaru menuju masjid. Dia merasa harinya kacau sebab berurusan dengan Rea. Wanita itu benar-benar selalu bisa membuat Akhza tak berkutik. Hampir setiap hari selama beberapa waktu ini Rea menemuinya. Walau sebentar tapi dengan sikapnya, Rea selalu meninggalkan getaran hebat dalam diri Akhza. Memalukan.
***
Ara sudah menyelesaikan membuat roti pesanan Mama Lili. Sesuai permintaan Sang Pemesan, Ara mengemas roti berukuran mini itu secantik mungkin.
"Akang, anter dulu rotinya ke rumah Mama Lili dong!" teriak Ara dari dapur.
Atar yang sedang bermain-main dengan tiga anak kucing bersama Fadan langsung berlari menuju arah suara.
"Anter dulu, gih!" ulang Ara seraya menunjuk pada kardus besar berisi roti itu. "Nanti Teteh bagi komisinya," lanjut Ara menepuk pipi adiknya itu.
"Kenalin ke anaknya Tante Celin dong," pinta Atar membuat Ara mendorong bahunya.
"Jadi orang sukses dulu, baru mikirin cewek," ledek Ara disambut cemberut oleh Atar.
"Rese!" umpat Atar, namun tetap mengangkat kardus itu dan memanggil Fadan untuk mengantarnya ke rumah Mama Lili.
Ara kembali merapikan dapur, Sanu dan Vanya sedang istirahat di ruang tengah. Seharian mereka berkutat dengan membuat roti pesanan. Ara dan Vanya tak masak apa-apa untuk menyambut hari raya idul fitri esok hari. Mereka sore ini akan ke rumah Bumi. Berkumpul dengan keluarga yang lain untuk menyambut hari hari raya yang dinanti.
Setelah selesai bersiap, ketiga wanita beda usia itu pergi ke rumah Bumi. Sanu sempat ragu karena pasti bertemu dengan Ilham. Ara membujuknya untuk tetap ikut. Todak usah menghiraukan Ilham, begitu ucap Ara.
"Abang nggak pulang, Bun?" tanya Ara.
"Abang pulang besok pas salat ied katanya," sahut Bumi.
Ara hanya mengangguk tanda mengerti.
Sementara itu di pelataran rumah sakit, Akhza sedang berdiskusi alot dengan Omar.
"Ini tuh malam takbir, gue mestinya di masjid buat takbiran!" tegas Akhza.
"Tapi kapan lagi kita bisa bekuk Rea?" sela Omar.
"Emang kurang bukti apa lagi? rekaman udah gue kasih. Tinggal bekuk," sahut Akhza.
Beberapa hari lalu, Akhza berhasil membuat Rea membocorkan rahasianya. Dia berkata sudah 3 tahun menggunakan barang haram tersebut. Rea mengaku sulit lepas dari zat adiktif itu. Gadis itu bahkan mengaku sering berbagi dengan rekannya yang lain.
"Bikin nagih," begitu ungkap Rea tanpa sadar perkataannya direkam oleh Akhza.
"Nggak kuat, Bang. Udah mending lo samperin ke rumahnya. Gue sama pihak BNN ngintilin dari belakang. Ini momen pas," terang Omar membuat Akhza akhirnya luluh.
"Emang kalau Rea dibekuk, Mas Ar bisa bebas?" selidik Akhza membuat Omar menggeleng.
Akhirnya perdebatan itu dimenangkan oleh Omar. Saat itu juga Akhza pergi ke rumah Rea yang memang sudah jadi target operasi. Dari Oji, polisi dan pihak BNN juga mengantongi beberapa nama yang ikut terlibat dengan Rea.
Setengah takut Akhza memasuki rumah Rea. Rasanya sudah ingin lepas dari sandiwara memuakan ini. Akhza semakin malas saat melihat Rea yang hanya mengenakan lingeri saat menemuinya. Apa yang ada dalam benak gadis itu hingga begitu percaya dirinya mengenakan pakaian yang hanya pantas dipakai di hadapan suaminya kelak.
Kain tipis berwarna merah marun itu jelas menyuguhkan sesuatu yang tak ingin Akhza lihat. Pria itu berkali-kali membuang pandangannya agar tak menangkap pemandangan yang sangat mengotori matanya.
"Kamu nggak niat lepas dari barang haram itu, Re?" tanya Akhza mulai memancing Rea.
__ADS_1
"Susah, Abang ... kenapa?" Rea bertanya dengan sorot mata sayu.
"Bisa loh, therapy aja," saran Akhza menjauhkan diri dari Rea yang semakin mendekatinya.
"Aku punya banyak Abang, lepasinnya susah," keluh Rea tanpa risih memainkan tali pita yang berada di bagian pakaian yang dikenakannya.
Gadis itu seolah sengaja membuat Akhza agar menyerangnya. Sayang, Akhza bukannya tertarik malah ingin lari sejauh mungkin.
"Kamu nyimpen juga di rumah?" tanya Akhza, dia mulai risih saat tangan Rea menyentuh lengannya.
"Ada di kulkas, punya deh kan biar gampang kalau pengen nggak usah nyari."
Akhza melempar pandangannya ke arah pintu masuk yang tak ditutup. Ia sengaja meminta Rea untuk membukanya.
Dari sana Omar tersenyum seraya mengacungkan jempol. Di belakang Omar terdapat 5 orang petugas BNN yang memakai pakaian serba hitam.
Akhza bernafas lega sebab Omar menepati janjinya untuk menemaninya.
"Abang, punya pacar nggak sih?" tanya Rea mulai menyandarkan kepalanya ke dada Akhza membuat pria itu reflek mendorong bahu kembali kepala itu.
"Abang!" sentak Rea
"Kita nggak sedeket itu buat ngelakuin kayak gini," sanggah Akhza.
"Tapi aku mau, Abang. Aku mau Abang," rintih Rea.
Jemari lentik Rea tiba-tiba saja mengusap leher Akhza. Wanita itu semakin mendekatkan kepalanya ke arah Akhza.
"Abang ganteng banget," desah Rea membuat Akhza melambai-lambaikan tangannya di belakang sofa yang ia duduki. Berharap Omar dan pihak BNN segera masuk dan menangkap Rea.
"Aku mau kasih kok ke Abang, gratis Bang," Rea sontak memeluk tubuh Akhza menenggelamkan wajahnya pada leher Akhza. Seolah sengaja, ia menghembuskan nafas di sana memberikan rasa hangat pada Akhza.
"Re, stop Re!" sentak Akhza.
"Gak mau Abang, aku mau Abang!" tolak Rea semakin mengeratkan pelukan.
"Re, please!" mohon Akhza akhirnya menyentuh kepala Rea dan mendorongnya perlahan.
Rea menurut, namun tak disangka secepat kilat wanita itu malah menyerang Akhza lebih dulu. Dia sentuhkan si mungil yang seringkali disapu dengan lipmatte merah itu pada milik Akhza.
Akhza terpaku, ia hendak berontak namun kedua tangan Rea kuat memegangi lehernya.
Di sana rasanya dingin, basah dan kenyal. Akhza terpaksa berontak. Ia dorong tubuh Rea hingga terjerembab ke lantai.
Pria itu mengusap bibirnya yang sempat terasa ditusuk jarum suntik. Rea membulatkan mata mendapat perlakuan dari Akhza. Belum hilang kesalnya karena ditolak Akhza. Rea kembali mendapat kejutan.
Omar masuk diikuti para petugas BNN dan pihak kepolisian. Selanjutnya Akhza bersama Omar memilih pergi. Sebelum melangkah, Akhza sempat bicara pada Rea yang membuat gadis itu seketika membenci Akhza.
"Gue cuma pura-pura deketin lo biar umpan gue kemakan sama lo!"
Rea tentu geram. Ia mengacak rambutnya, memukul-mukul sendiri kepala dan dadanya.
"Sialan lo, Mar. Gue udah kode lo biar masuk malah diem aja!" umpat Akhza begitu dirinya dan Omar dalam perjalanan pulang.
"Bang, lo sekarang udah nggak perawan!" ledek Omar seraya tertawa terbahak.
"Gara-gara elo!" tuding Akhza.
"Lumayan, Bang. Simulasi sebelum ketemu jodoh," goda Omar yang masih terus tertawa.
"Puas, lo?"
"Puas banget, Bang. Aro pasti bahagia karena kembarannya udah ngerasain ******* dahsyat si Rea," ungkap Omar membuat Akhza menendang dengkulnya.
"Mar, lo jangn bilang siapa-siapa!" ancam Akhza.
"Jangan lupa, yang lihat bukan cuma gue. Walopun gak jelas, tapi kita tahu si Rea ngapain elo," lagi-lagi Akhza terbahak membuat Akhza menggeram marah.
__ADS_1
"Gue harusnya takbiran!"
"Kan itu juga takbiran. Tarik bibir pelan-pelan," bisik Omar terbahak kembali membuat Akhza semakin kesal.