Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Siapa yang Salah?


__ADS_3

"Udahlah, jangan suka becanda!" Ara meleparkan bantal tepat ke wajah Aro. "Mas tuh suka banget jahilin aku," imbuhnya seraya beranjak dan berjalan menuju meja rias, matanya terasa perih, hatinya sudah jelas sedang bergemuruh hebat.


Ara menunggu Aro kembali bicara, ia ragu dengan ucapan Aro. Bagaimana bisa yakin bila bicara tidak jelas seperti tadi, di saat tidak tepat, di waktu yang salah, seperti judul lagu.


"Kamu kenapa selalu meragukanku, Ra?" tanya Aro, putus asa dan merasa sia-sia.


"Apa tadi terdengar seperti becanda?" tudingnya seraya ikut beranjak dan mendekati Ara.


Keduanya kini saling bertemu pandang dalam cermin.


"Apa sedikitpun tak ada aku di matamu?" desak Aro, menuntut lebih selain jawaban.


Ara menumpukan kedua tangannya pada ujung meja rias, badannya sedikit membungkuk kemudian kepalanya menunduk. Mata, pipi, hingga telinganya terasa panas. Seperti terbakar, meski belum pernah benar-benar merasakannya.


"Ra, jangan kayak gini, dong!" Aro hendak menyentuh bahunya, namun suara Bumi membuatnya urung melakukan itu.


"Kalian ini, orang-orang udah siap!" seru Bumi, mengambil bantal yang tergeletak di lantai kemudian menaruhnya di tempat tidur. "Kalian malah masih sibuk dandan!" sindir Bumi.


"Ayok, Sayang!" ajak Bumi pada Ara, "Kamu naik mobilnya sama Bunda, ya!" lanjutnya seraya membetulkan hijab Ara yang sedikit kusut, mungkin karena tadi ia sempat berbaring.


"Ara sama aku, Bun," rengek Aro, menyundul lengan Bumi.


"Kamu sama Bunda juga," sahut Bumi menyingkirkan kepala Aro.


Anak itu keras kepala, bila dia inginnya dengan Ara, pasti harus dengan Ara. Jadi, Bumi memilih jalan tengah dengan mengajak keduanya satu mobil bersama.


Semua keluarga sudah siap berangkat. Atar dan Akhza ikut mobil Laut bersama Ayesha dan Rud. Jidda tentu dengan Zahra dan juga Alisha. Ketiga mobil itu berangkat bersama meninggalakan pelataran Kafe,


Aro awalnya enggan saat Akash menyuruhnya menyetir, namun saat Ara bilang ia mau menemani dirinya duduk di depan jika Aro mau menyetir barulah pria itu menurut.


"Mau dipakein nggak sabuk pengamannya?" tawar Aro saat Ara terlihat kesusahan memakai sabuk itu. Gugupnya Ara membuat semua konsentrasinya buyar.


Jika terlihat, mungkin saat ini hatinya tengah berantakan tapi bukan hancur.


Ara menggeleng, "Nggak usah!"


Saat sudah setengah perjalanan, Aro mulai terlihat lelah. Ara yang melihat hal itu, berusaha sedikit peduli.


"Ngantuk nggak?" tanya Ara saat melihat Aro berkali-kali menguap, "mau permen karet?" tanyanya.


"Mau deh kalau ada," sahut Aro, ia memang mengantuk berat.


Selama syuting, waktu tidurnya memang banyak tersita.


Ara mengambil permen karet dari dalam tasnya, kemudian menyodorkannya pada Aro.


"Buka dong, Ra ... tanganku susah," ujar Aro seraya memperlihatkan kedua tangannya yang sedang menyetir.


Ara menurut, ia kupas bungkus permen itu, "Nih, Mas!"


"Suapin doang, Ra ... beramalnya jangan setengah-setengah biar malaikat nggak bingung menuliskannya,"protes Aro.


Ara patah-patah mengulurkan tangannya, menyuapkan permen karet kemulut Aro. Aro tersenyum, ia dengan mengerlingkan matanya membuat Ara balas tersenyum. Cantik.

__ADS_1


Bumi dan Akash hanya saling pandang melihat kelakuan putranya, keduanya saling sikut dan berdehem.


"Fokus Mas, nggak usah ke yang lain dulu matanya!" sindir Bumi saat Aro kedapatan terus-menerus mencuri pandang pada Ara. Akhirnya ia menurut, fokus menyetir dan Ara sendiri memilih untuk tidur.


***


Tiba di kampung, Ayas sudah menunggu kedatangan mereka di depan rumahnya. Wanita yang semakin sepuh itu, bahagia melihat kedatangan cucu-cucunya. Terutama pada Ara, Ayas memeluknya erat, menghujani wajahnya dengan kecupan.


"Kamu sehat, Sayang?" tanyanya seraya menangkup kedua pipi Ara.


Ara tersenyum mengangguk, "Alhamdullillah, Uti sehat?"


"Uti sehat, kamu tambah cantik," puji Ayas mencubit pipi Ara.


"Makasih, Uti," sahut Ara cepat dengan wajah merona.


Kedatangan mereka disambut dengan masakan khas yang sering dimasak oleh Ayas. Mereka semua memilih untuk makan, istirahat sebentar, barulah kemudian berkunjung ke rumah Nadia yang sedang mengadakan acara syukuran rumah barunya.


Ara senang bisa berjumpa dengan kedua putri Nadia. Sheina, gadis cantik yang usianya 4 tahun lebih muda dari Ara. Lalu, Amirah, masih duduk di bangku kelas sembilan. Keduanya sosok gadis lembut dan sopan. Cerminan Nadia dan Hafidz.


"Teh Ara tau nggak? masak Amirah banyak yang naksir?" beri tahu Sheina saat ketiganya sedang mengobrol bersama di kamar Sheina.


"Mbak Shein, kok itu mulu yang dibahas?" Amirah memasang wajah tak suka saat kakaknya bicara tentang pria yang banyak menyukainya.


"Aku cuma kasih tahu Teh Ara, kamu diem aja," sanggah Sheina, yang membuka peniti hijabnya, membiarkan leher putihnya terlihat.


"Enggak usah diomongin!" elak Amirah, ia benar-benar malas jika Sheina membicarakan pria-pria itu.


"Lagian Mbak Shein, ngapain ngomongin hal nggak penting ke Teh Ara?" Amirah bertanya dengan nada menyentak.


"Ya udah, Mbak Shein, minta maaf gih!" titah Ara, berusaha melerai keributan kedua adik kakak itu.


"Ya udah, aku minta maaf, Dek!" seru Sheina mengulurkan tangannya kemudian disambut oleh Amirah.


Ara tersenyum, bersorak melihat keduanya kembali berbaikan. Ara selalu ingin memiliki saudara perempuan, sepertinya akan asyik memiliki tempat curhat, apalagi bila usinya tidak terlalu jauh. Sayangnya, ketiga saudaranya laki-laki dan yang satu malah sedang membuat hatinya terus berantakan.


Ara kembali mengingat perkataan Aro, aku sayang kamu, Ra.


Kalimat itu terus terngiang. Bodohnya, kenapa tadi Ara tidak langsung mengiyakan atau setidaknya jujur pula dengan perasaannya? Tapi, bila Aro mengetahui juga perasaannya memang apa yang akan terjadi?


Lelaki penuh canda seperti Aro apa bisa serius? sementara Ara sendiri tak ingin main-main. Ia cukup lama memendam rasanya pada Aro. Jika hanya berakhir sebagai sepasang kekasih, rasanya sungguh hanya buang-buang waktu.


Lalu Ara inginnya apa? menikah? Apa bisa lelaki seperti Aro dijadikan sebagai imam yang baik. Mengingat salat saja sudah sering ia tinggalkan.


Jangan-jangan Ara sudah keliru mencintai salah satu hamba Allah? tapi, mengapa rasanya untuk Aro tidak pernah usai. Keburukan Aro tidak pernah dapat membuatnya membenci pria pemilik mata indah itu.


Setiap hari yang ia rasakan selalu sesak dan gemuruh tak jelas setiap kali memandang Aro, meski lewat gambar. Ia sudah berdosa karena diam-diam sering memandangi foto Aro.


Ara tak ingin gegabah, Aro bukanlah lelaki kalem seperti Akhza. Ia tak ingin rasa cintanya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Ia ingin, saat keduanya memang harus menjalin kasih, itu sudah dalam ikatan halal. Ara tak ingin terjerumus ke dalam kesalahan. Sebab, dia akan selalu lemah bila berhadapan dengan Aro.


Aro yang terlampau ekspresif, tidak akan mampu Ara lawan jika saja lelaki itu tahu seberapa besar pula rasa Ara untuknya. Tidak tahu tentang perasaannya saja sikapnya selalu seenaknya pada Ara, apalagi jika ia tahu.


***

__ADS_1


Malam hari mereka kembali ke rumah uti Ayas, kecuali keluarga Akash. Mereka menginap di rumah Nadia. Sheina awalnya memaksa Ara menginap juga, tapi Bumi jelas melarangnya. Ia tak ingin membuat posisi Ara serba tidak enak bila berdekatan dengan Miza dan juga Zahra.


Tiba di rumah uti Ayas, Rud, Atar, Akhza dan Aro berebut saling memilih kamar. Tak ada yang mau mengalah, tak ada yang mau satu kamar.


"Kamarnya cuma ada empat, kalau kalian mau satu orang satu kamar, kami tidur di mana?" tanya Akash geram, memandangi satu persatu putra dan keponakannya.


"Kalian berempat satu kamar, Ayah sama bunda, mama Ayesha sama papa Laut, dan Ara sama uti," jelas Akash mengatur posisi kamar.


"Aku sama Ara boleh nggak?" kelakar Aro, dia jahil sekali membuat pipi Ara merona.


"Halalin dulu, baru boleh!" tegas uti Ayas, wanita itu sudah tahu cerita segi tiga cucunya dari Bumi.


"Mau dihalalin nggak, Ra?" tanya Aro seraya melirik ke arah Ara dan mengedipkan matanya membuat Ara menggeleng seraya memijat keningnya. Jangan tanya bagaimana keadaaan hatinya, sudah pasti berantakan.


Akhza sendiri sudah sangat kepanasan, ia merasa keluarganya memang selalu lebih mendukung langkah Aro. Terbukti dengan menyatukan Ara dan Aro pada satu mobil. Akhza merasa memang harus mengalah. Tapi, ia tak rela bila Ara harus berjodoh dengan adiknya sendiri yang jauh dari kata soleh.


"Salah dong, bukan gitu nanyanya," sanggah Laut seraya memukul bahu Aro. "Gini nanyanya, Ra mau dihalalin kapan?" imbuhnya membuat Aro bakas memukul bahu Laut.


"Ok, makasih Pa sarannya. Nanti aku tanya ke Ara kalau kita lagi berdua, iya nggak Ra?" lagi-lagi Aro melirik ke arah Ara, yang dilirik malah memutar bola mata, jengah dan kesal.


"Nggak usah kebanyakan becanda Mas, bikin baper aja!" ujar Ara ketus, kemudian pamit untuk ke kamar dan mengajak Ayas. Ia sudah tak bisa tahan dengan segala sikap Aro yang spontan, namun terasa manis dan menggetarkan hatinya. Tapi, Ara tak bisa membedakan, mana yang serius mana yang becanda.


Ara dan uti Ayas sudah tiba di kamar, gadis itu sekonyong-konyong memeluk utinya dengan tangis yang tiba-tiba pecah.


"Ara bingung ngadepin mas Ar, uti ...."


Erat sekali Ara mencengkaram punggung utinya yang sangat mengerti perasaannya. Ia usap penuh sayang kepala cucu terkasihnya itu.


"Apa yang buat kamj bingung?" tanya Ayas, berusaha memberi ketenangan pada Ara dengan mengusap pula punggung gadis itu.


"Ara terkadang merasa mas memang serius, tapi dengan segala sikapnya, kadang Ara merasa dia cuma jahilin Ara doang," papar Ara, air matanya terus berderai. Menumpahkan segala sesak di dadanya. Perkara cinta kenapa memalukan seperti ini? batin Ara.


"Apa yang buat kamu ragu?" Ayas berusaha mengorek isi hati Ara.


"Profesi mas Ar, ambisinya menjadi aktor besar, sedangkan Ara, siapa Ara?" insecure kembali merasuki jiwa Ara. Ia merasa tidak ada apa-apanya.


"Pernyataan sayang mas Ar seperti lelucon, Ti."


Ayas melerai pelukannya, mengajak Ara duduk di tempat tidur. Ia mengusap air mata Ara dengan punggung tangannya. "Bicarakan baik-baik dengan mas Ar, bisa kan? coba Ara ajak mas Ar bicara serius," saran Ayas.


"Ara wanita, Ti. Ara nggak mungkin memulai duluan," sanggah Ara, ia tak mungkin bicara pada Aro ingin langsung menikah.


"Kamu maunya gimana?" desak uti Ayas.


"Bila memang dia mencintaiku, aku hanya ingin pernikahan menjadi satu-satunya hubungan yang terjalin di antara kami. Aku nggak mau membangun cinta di atas sebuah dosa."


Itulah yang membuat Ara ragu, menikah sepertinya bukan prioritas Aro. Semua orang bisa melihatnya. Apalagi Ara tahu dari Omar, dua project film sudah menanti proses syuting. Keraguan Ara semakin besar, mencintai Aro memang kesalahan terbesar dalam hidupnha. Tapi, dia harus menyalahkan siapa bila hatinya hanya dapat bergetar oleh Aro?


.


.


Terima kasih yang masih menemani Ara, like dan komennya itu berarti banget. Support system yang paling bikin aku semangat terus. Meski aku tahu masih banyak banget kekurangannya. I'll do my best buat bikin kita semua bahagia, makasih temen-temen. Yang udah nengokin si lesung pipi di sebelah juga makasih banget. Yang udah menyapa di ig maupun fb hatur nuhun. Yang udah mau masuk grup, tengkiyu. Love kalian semuanya. Yang suka aku ajakin curhat, yang apresiasi bikinkan video. Hatur nuhun. Kalian seperti keluargaku di dunia maya ini. Seperti kata Mas Ar, kita memang bukan anak SMP lagi, tapi aku sayang kamu.

__ADS_1


__ADS_2