
Ara tersenyum mengangguk.
"Sama-sama, Mas. Terima kasih juga sudah memilihku, semoga aku bisa menjadi sebaik-baiknya pendamping bagi kamu," balas Ara membuat Aro melangkah lebih dekat ke arah Ara.
"Eh ... eh ... apa nih? apa nih?" Bumi segera mendorong dada putranya itu.
"Kan kalau abis dipakein cincin harusnya cium kening dong, Bun!" seru Aro dan langsung mendapat pukulan dari Bumi. Sementara keluarga yang lain kompak meneriaki Aro dengan seruan "Huuuuh!"
"Enak aja!" teriak Bumi, "Siapa yang bilang boleh begitu?" lanjutnya seraya mencubit pinggang Aro.
"Ampun, Bun!" pekik Aro seraya meraih tangan Bumi yang sedang mencubit pinggangnya.
"Kalau gini, boleh kan?" Aro mencium telapak tangan Bumi, kemudian membawanya ke arah pucuk kepala Ara.
"Anggap aja aku yang cium, Ra ...."
Suasana riuh kembali tercipta. Bumi sampai geleng-geleng. Tak mengerti lagi kenapa putranya yang satu itu sungguh pandai berlaku. Dasar artis.
Sementara Ara sangat merasa pipinya panas, pasti merah. Dia sering diperlakukan seperti itu oleh Aro, tapi baru kali ini ia merasa sangat malu sebab Aro melakukannya di hadapan seluruh keluarga. Gila.
"Sudah, sekarang kita rembug lagi menentukan tanggal pernikahan dan mahar apa yang Ara inginkan?" Laut menengahi agar keponakannya itu tak terus-menerus mencandai Ara.
"Sana kamu balik ke tempat kamu!" pekik Laut saat Aro akan duduk di samping Ara.
"Nggak boleh di sini?" tanyanya, pura-pura polos.
"Nggak!" tegas Laut, "sana pindah!" titahnya seraya menunjuk ke tempat semula Aro duduk.
Pria itu menurut, ia kembali duduk di tempat semula. Kemudian Akash memulai lagi pembicaraan.
"Jadi mau tanggal berapa, Mas?"
Aro diam, ia menimang.
"Kalau lebih dari 3 bulan mending nggak usah jadi!" ancam Akash yang menangkap kegalauan dari muka Aro.
"45 hari dari sekarang," cetus Aro cepat.
"Gimana, Ra?" tanya Akash pada Ara.
"Seminggu setelah idul fitri?" Ara memastikan.
"Iya, tapi ...."
Aro menggantung kalimatnya, ia berat sekali mengatakannya.
"Tapi?" desak Bumi.
"Lusa aku ke Jogja, tiga hari di sana dan langsung ke Winogiri. 20 hari lah di sana," beritahu Aro.
"20 hari di Wonogiri ngapain?" tanya Bumi.
"Syuting, Bunda ... Nggak apa-apa 'kan?" Ra nggak apa-apa 'kan?"
Kini Aro meminta komentar dari Ara, gadis itu hanya mengangguk. Sejujurnya, dia juga masih butuh waktu untuk memantaskan diri.
"Mas lebaran di mana?" Ara hanya memikirkan tak ingin berjauhan saat hari raya itu tiba, meski ramadhan saja masih seminggu lagi.
"Di rumah lah," sahut Aro cepat, "sama kamu," lanjutnya membuat Ara tersenyum simpul.
"Udah, jadi fix ya 45 hari dari sekarang itu tanggal berapa sih?" Bumi bertanya, berharap siapa saja bisa menjawab.
"20 Mei, Bun," sahut Atar cepat, ia jelas sigap sebab melihat kalender dari ponsel yang dipegangnya.
"Nah, sekarang Bunda tanya. Ara mau apa sebagai mahar? sebutin aja!"
Ara diam, bukan mahar yang ia pikirkan saat itu.
"Boleh Ara nanya sesuatu dulu?" tanya gadis pemilik jemari lentik itu.
"Boleh, dong!"
Ara melirik mami dan mama bergantian.
"Ara mau tanya, sama Bunda, Mama, Umma Zha, dan Jidda," Ara memandangi satu persatu wanita yang ia sebut barusan.
"Apa saja kewajiban seorang istri terhadap suaminya?"
__ADS_1
"Ara nggak mau salah bersikap, dengan segala kekurangan Ara."
"Tolong, ajarkan Ara jadi istri yang baik!"
Bumi terhenyak, begitupun dengan Zahra. Jidda tersenyum simpul sedangkan Ayesha merengkuh bahunya seraya berbisik, "Kamu pasti bisa melakukannya tanpa kami beri tahu."
Ara menggeleng, "Aku nggak tahu, benar-benar nggak tahu."
Jidda menghela nafas, telunjuknya mengusap ujung mata yang berair. Sebelum menjawab, Jidda yang duduk di samping Akash berbisik sesuatu pada putranya itu, "Kamu kasih dia makan apa sampai hatinya begitu tulus?"
Akash tak menjawab, ia sama seperti umminya, mangusap kedua ujung matanya yang berair.
"Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah istri soleha."
"Kemari, Sayang!" jidda melambai pada Ara membuat gadis itu berjalan dengan dengkul dan bahu yang direngkuhkan.
Ara duduk di hadapan Jidda, sempat melewati Aro yang tak lepas memandangnya.
"Kamu adalah cerminan istri soleha, tidak perlu tanya bagaimana caranya lagi, Nak."
"Aku hanya manusia, masih miskin ilmu," sela Ara.
"Turuti apa pun kata suamimu nanti selama itu adalah jalan kebaikan. Jangan pernah keluar rumah tanpa seizinnya, jangan pernah membukakan pintu untuk siapapun saat ia tak berada di rumah, ingat! surgamu kelak ada di bawah telapak kaki suamimu."
"Dari Abu Hurairah, Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Kalaulah aku memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.”(HR. Turmudzi )
"Itu sama artinya dengan kamu yang harus selalu menuruti apapun perintah suamimu."
"Kamu anak pintar, pasti mengerti apa yang Jidda ucapkan barusan."
Ara mengangguk, "Terima kasih, Jidda."
"Terima kasih telah menjadi cucuku."
Ungkapan jidda membuat Ara berhamburan ke pelukannya. Keluarga Akash dan Bumi yang biasanya ramai dengan celoteh dan canda tawa kali ini bungkam seribu bahasa. Semua diam, turut larut dalam prosesi lamaran yang bisa dikatakan aneh mungkin.
"Jadi, mahar apa yang kamu inginkan?" lanjut jidda setelah Ara mengurai pelukannya.
"Cukup seperangkat alat salat agar aku selalu taat pada Allah dan menjadi istri soleha."
Jawaban Ara membuat jidda tak kuasa lagi menahan tangis. Terbesit segurat sesal dalam hati sebab selama ini sering mendengar nama Ara digunjing oleh anaknya sendiri, Ilham dan Zahra. Lihatlah, benar kata Akash. Anak yang terlahir dari sebuah kesalahan bahkan bisa menjadi hamba Allah yang paling mulia.
"Iya. dan kuucapkan terima kasih karena udah bikin semuanya jadi mudah, Ra," ucap Aro lirih, jiwanya menciut seketika mendapati sesoleha itu calon istrinya. Sedangkan dirinya?
"Sebaik-baiknya wanita adalah yang memudahkan maharnya 'kan, Mas?"
Semua orang mengangguk, tak ada yang tak mengelap ujung mata yang berair. Ara berhasil membuat mereka tambah menyayanginya.
Termasuk laki-laki yang mengenakan kemeja putih, duduk bersebelahan dengan Atar. Akhza. Ia berkali-kali membujuk diri agar tak membuat hatinya berantakan.
"Fix, setelah ini gue harus pergi." ungkap Akhza dalam hati. Bukan tak ikhlas menerima keadaan, ia hanya tak ingin memupuk perasaannya saja.
Dari tempatnya duduk, Ilham dan Hamiza tetap memandang Ara tak suka. Hingga saat yang lain memberikan selamat, Ilham dengan mulut pedasnya berkomentar sesuatu yang membuat suasana haru itu jadi kacau.
"Kamu beruntung, Ra. Di saat Aro bisa saja memilih wanita lain yang lebih segalanya dari kamu, dia malah memilih kamu."
Aro langsung geram, ia hampir mengangakt bokongnya untuk beranjak dari duduk andai Bumi tak mencekal lengannya.
"Banyak-banyak bersyukur karena sudah bisa masuk ke lingkar keluarga kami yang terhormat."
Dada Ara terasa dihujam ribuan tombak. Tak puaskah selama ini selalu menghinakan keberadaan Ara?
"Yang terhormat mulut Anda!" tegas suara seseorang dari arah kamar Ara.
Sanu datang seraya memegangi perut buncit karena sedang hamil lima bulan.
"Hamiza ... akhirnya kita bertemu di sini!" seru Sanu, seraya melepaskan kucing yang ia gendong ke arah Miza.
"Aku mengandung anakmu!" pekik Sanu membuat Zahra seketika limbung ke pangkuan Ilham.
Ara membelalakan mata, ia berdiri dan mendekati Sanu yang sedang menatap tajam ke arah Hamiza.
Jidda sama terkejutnya, ia bahkan memegangi dada dan Akash segera merengkuh bahunya.
"Sanu, kita bisa bicarakan baik-baik?" pinta Ara.
"Aku sebenarnya nggak mau rusak hari bahagia kamu. Tapi saat barusan Bapak Ilham yang terhormat ngatain kamu, aku nggak terima, Ra ...."
__ADS_1
"Udah, Sanu. Kasihan bayi kamu kalau kamu kayak gini. Bisa-bisa pendarahan lagi."
"Bang, apa ini Bang?" tuduh Zahra memukuli dada putranya.
"Katakan kalau dia sedang memfitnah kamu, Bang!" teriak Ilham menunjuk Sanu lalu mengarah ke arah Hamiza yang nampak pucat.
"Tapi dia benar, Bi ...."
Seketika Ilham merasa dunianya hancur, ia marah mengamuk memukuli Hamiza. Bahkan Zahra yang tadi ada dalam dekapannga tak ia hiraukan.
"Apa-apaan kamu, Bang?"
Ilham terus memukuli anaknya sedangkan Miza tak dapat melawan, ia diam saja meski abinya menghantamnya tanpa ampun.
"Ayah, lerai dong, Yah!" bentak Bumi segera mengambil alih memegangi jidda yang masih terlihat shock.
Alisha juga sigap merengkuh ummanya, melihat itu Vanya beranjak dan mengajak Alisha untuk membawa Zahra ke kamar saja. Alisha menurut, dengan dibopong oleh Alisha dan Vanya, Zahra berjalan menuju kamar.
"Jidda juga bawa ke kamar Fadan aja deh, Bun," saran Ara.
Bumi menganguk, ia dan Ayesha sama-sama memboyong mertua mereka ke kamar Fadan.
Akash dan Laut masih berusaha menenangkan Ilham. Hamiza sudah sangat babak belur, mukanya lebam dengan ujung bibir yang sedikit mengeluarkan darah. Sanu memandangnya penuh amarah, ingin rasanya iapun memukuli wajah lelaki yang telah berkali-kali meminta sesuatu yang melenakan itu padanya hingga akhirnya tumbuhlah janin dalam perutnya itu.
"Mas, obatin bang Miza gih!" seru Ara pada Aro yang sudah berdiri di sampingnya.
"Males, ah. Biarin aja, dia juga jahat ke kamu. Aku tuh laper, Ra ... tadi nggak sempet makan pas meet and greet."
Ara menghela nafas, begitu sekali sikap calon suaminya.
"Ra, aku mau makan!" serunya menarik hijab Ara.
"Mas, di saat seperti ini kamu malah minta makan?" tuding Ara memelototinya.
"Kamu jangan melotot, tambah cantik. Tambah pengen aku unyel-unyel muka kamu," bisik Aro jahil menyentuhkan ujung hidung ke kepala Ara.
"Mas, kamu tuh seenaknya deh!" sentak Ara menjauhkan badannya.
"Aku cium kamu kalau nggak mau kasih aku makan, udah cepetan ambilin makan. Aku tunggu di mobil," ucapnya seraya melangkah, namun kembali lagi. "Ini hari spesial kita, urusan bang Miza biar keluarganya yang urus. Jangan rusak kebahagiaan kita berdua, Ra," bisiknya seraya mengedipkan mata membuat Ara menggerutu kesal.
"Sanu, kamu dengar sendiri kan barusan calon suamiku bilang apa?" tanya Ara.
Baru Sanu akan menjawab, suara sang bunda sudah lebih dulu terdengar.
"Sanu, bisa ikut Bunda sebentar. Umma mau bicara."
Sanu terlihat enggan, namun Ara mengangguk. "Umma orang baik, kamu jelaskan aja apa yang terjadi."
Sementara itu, akhirnya Miza dibantu oleh Akhza dan juga Atar, tak ketinggalan, Fadan ikut sibuk mengambilkan air hangat untuk mengompres lebam pada wajah Miza.
Ara sendiri segera oergi ke dapur, mengambil nasi serta lauk pauk untuk Aro. Tak lupa ia buatkan teh manis gula batu untuk pria itu.
"Kamu tuh ngerjain aku terus, Mas. Dan ancamannya selalu begitu," gerutu Ara saat berjalan membawa sepiring nasi dan teh manis menuju mobil Aro.
Pria itu membuka kedua pintu mobilnya, ia langsung menepuk-nepuk jok mobil saat Ara tiba di sana.
"Nanti rumahnya kita bikin besar biar kalau lagi kumpul gini nggak kehabisan tempat."
"Mas nyindir?" tuding Ara seraya duduk di samping Aro, terhalang jarak yang cukup jauh.
Ara menyerahkan piring pada Aro, pria itu tentu mengambilnya.
"Baca do'a, Ra!" titahnya.
Ara mengerutkan kening, "Yang mau makan kan kamu, Mas?"
"Aku tahu kamu pasti belum makan, makan dulu aku yang suapin!"
Ara membulatkan mata, dia memang baru sarapan tadi pagi. Belum sempat makan lagi. Tadi hanya makan roti isi saat di klinik. Perutnya tadi memang perih, tapi kedatangan Laut dan Ayesha membuatnya melupakan rasa laparnya.
Aro menyupkan makanan ke dalam mulut Ara, gadis itu patah-patah mengunyah makanannya. Ia tak habis pikir, di balik sikap seenaknya Aro selalu bisa membuat hatinya menghangat.
"Jangan pernah sepelekan perut yang lapar," ucap Aro seraya memotong daging dengan ujung sendok.
"Kamu harus makan banyak, biar sehat, biar badannya berisi," lanjutnya kemudian kembali menyuapi Ara.
"Tahu kenapa harus gitu?" sambungnya lagi seraya kembali memotong daging. Ara menggeleng.
__ADS_1
"Karena kamu harus melahirkan banyak anak untukku," ucapnga dengan seringai jahil dan kerlingan mata yang entah mengapa selalu membuat Ara diam seribu bahasa.
Mereka tak lagi bicara hingga Ara benar-benar menghabiskan makanan dan teh manis itu. Apa yang terjadi di dalam bahkan mereka tak tahu.