Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Nightmare


__ADS_3

Kepergian Aro beserta pemain dan kru lainnya pagi itu dilepas dengan haru oleh warga. Tidak dipungkiri, kebaikan warga selama proses syuting berlangsung, sedikit banyak membuat mereka merasakan keutuhan keluarga.


Aro dan Ayuni menaiki mobil yang sama menuju Bandara. Selama perjalanan keduanya terus melakukan reading untuk mendapatkan hasil yang terbaik saat syuting nanti.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, Aro dan tim tiba di lokasi syuting. Mereka akan syuting di sebuah rumah mewah di kawasan Cibubur.


"Gue balik dulu ke Bogor boleh nggak, sih?" tanya Aro pada Wisnu yang sedang bicara serius bersama Ayuni.


"Kagak!" sentak Wisnu, "lo macem-macem bisa molor waktu syuting kita. Gue udah pengen beres," lanjut Wisnu seraya mengibaskan kertas naskah ke wajah Aro.


"Kita selesaikan malam ini, Ar. Sabar dikit," hibur Ayuni menyentuh lengan Aro, membuat pria itu menjauhkan diri dari wanita yang hanya memakai mini dress dengan bahu terbuka sempurna.


"Gue nggak bisa, Ay ...."


"Rileks, Ar. Lo bisa, gue bantu. Mau latihan?" tawar Ayuni membujuk Aro.


"Kagak mau!" tolak Aro seraya meninggalkan Ayuni.


Aro berjalan menuju taman kecil di halaman belakang rumah yang disewa untuk syuting itu. Ia duduk di kursi besi yang di hadapannya terdapat meja bulat. Aro mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mencari nama Omar pada kontaknya.


Deringan pertama, Omar langsung menjawab panggilannya.


"Mar, di mana lo?"


"Ya salam Ar. Lo maen todong aja. Sopankah elo begitu?" Terdengar di seberang sana Omar menggerutu.


"Kapan sih lo balik nemenin gue?" Aro balas menyentak.


"Ya elah, Ar. Urusan gue belum kelar. Masa gue harus ninggalin teh Fenti sendirian."


"Teh Fenti udah gede, bilang aja urgent."


"Besok pagi gue nyamperin lo."


"Gue maunya sekarang, gue nggak bisa masuk scene adegan ranjang." Aro lagi-lagi menyentak Omar.


"Laah kehadiran gue buat apa, Ar?"


"Gue butuh temen ngobrol. Mumet otak gue 20 hari di Wonogiri, syuting tanpa ada yang bisa gue bully."


Aro terkekeh di akhir kalimatnya.


"Njiiiir, keberadaan gue cuma buat dibully?"


"Ngebully lo hati gue bahagia."


Tawa Aro menggelegar. Bicara dengan Omar nyatanya memang moodboster bagi Aro. Cukup lama keduanya mengobrol. Omar bercerita tentang dirinya yang kini menjadi yatim piatu dan hanya memiliki Teh Fenti sebagai saudara. Dia menyesalkan kenapa orang tuanya hanya memiliki dua anak?


Untuk itu, Omar berkata pada Aro agar besok-besok setelah menikah dengan Ara usahakan memiliki banyak anak. Hal itu tentu saja disambut dengan kata ok oleh Aro. Tanpa Omar ingatkan, ia sudah merencanakan berapa anak yang harus Ara lahirkan untuknya. Bahaya.


Perbincangan via telepon itu berlangsung hampir tiga jam. Jika Teh Fenti tidak memanggil Omar untuk segera menggelar tikar karena acara tahlil ngajojoan akan segera dimulai ba'da ashar, mungkin Aro akan enggan mengakhiri obrolannya dengan Omar.


***


Selesai salat tarawih, Ara mondar-mondar di teras rumahnya memegangi ponsel. Ia resah, sebab belum ada kabar dari Aro. Padahal tadi pagi Ara sudah mengiriminya pesan, namun tak kunjung ada balasan dari Aro.


Lelah mondar-mandir, Ara duduk pada kursi kayu yang di pinggirnya terdapat meja kecil dengan pot mini berisi kaktus sebagai hiasan. Ara mengetuk-ngetukan ujung ponsel ke dagunya. Ia tiba-tiba mengingat satu nama.


"Kak Omar!" pekiknya seraya langsung menghubungi Omar.


"Assalamualaikum, kak."


"Waalaikumsalam, eeh Upil."


"Kak, mas Ar ada telepon nggak?"


"Tadi kita lama teleponan, Ra. Kenapa?"


"Aku khawatir sama mas Ar ...."


Ara kemudian menceritakan tentang Rea yang mendatanginya kemarin sore. Ara juga meminta agar Omar cepat-cepat kembali dan menemani Aro. Ara tak ingin siapapun mempengaruhi Aro ke hal-hal yang buruk. Omar juga memiliki firasat tak enak, apalagi tentang keluhan Aro tentang kesulitannya beradegan mesra. Terakhir Aro melakukannya saat di Puncak, semua berakhir dengan Aro yang menenggak alkohol.

__ADS_1


Pada Ara, Omar tak menceritakan kekhawatirannya. Omar justru berusaha membuat Ara tenang. Ia berkata, Aro berada di samping orang yang tepat. Oji pasti bisa diandalkan. Omar sudah sangat mengenal pria itu.


Kekhawatiran Ara sedikir menguap, meski ia kembali resah sebab pesannya tak jua Aro balas. Hingga ia tunggu sampai pukul 10 malam, tak ada tanda-tanda ponselnga menerima pesan dari Aro. Ara akhirnya tertidur di sofa ruang tamu dengan ponsel dalam genggamannya.


***


"Cut ... cut!" teriak Wisnu seraya melepas topinya, "gimana sih, Ar? yang luwes dong gerakannya!" sentak Wisnu kemudian.


Aro mengelap bibirnya, ia sulit sekali meresapi adegan itu.


"Lo ngerokok dulu deh, ngopi gih!" saran Ayuni membetulkan letak tali lingeri yang sengaja diturunkan hingga lengannya. Wanita itu kemudian meminta tim MUA membetulkan riasan wajah dan rambutnya.


"Gue ngopi bentar ya, Bang?" izin Aro pada Wisnu.


"Gue mau take selanjutnya lo nggak gagal!" ancam Wisnu dengan tatapan tajam.


"Iya, Bang," desah Aro pelan.


Aro kemudian bergabung bersama Oji dan beberapa kru yang memang sedang menikmati kopi di ruang tamu pada rumah sewaan itu. Ia sempat memesan kopi hitam pada Dudu sebelum bergabung. Tak lama pria berperawakan tinggi besar itu, -lebih cocok jadi bodyguard daripada petugas pembuat kopi-, menyajikan kopi pesanan Aro.


"Njiir, pake abis lagi," gerutu Aro melempar bungkus rokoknya yang ternyata kosong.


"Nih, punya gue aja, Ar. Nggak usah pusing, nih gue sulut sekalian," Oji mengulurkan rokok yang sudah disulut pada Aro.


Aro menghisapnya rakus, ia berharap take selanjutnya bisa dikerjakan dengan hasil memuaskan sehingga tak membuat Wisnu terus memarahinya.


***


"Katanya, Mas mau curang untuk menang?" Ara kembali menatap pria yang kini nampak kurus itu. "Mau aku kasih tahu gimana cara curangnya?" Ara tersenyum membuat pria di hadapannya itu mengangguk.


"Tikung aku disepertiga malammu, pastikan bisikannya sampai ke langit. Ingat, namaku Salasika Arabella. Di sini," Ara menyentuh dada Aro, "sudah terpatri belum?" lanjutnya, lagi-lagi membuat Aro mengangguk.


"Mas Ar ...."


Ara terperanjat dari tidurnya, dengan nafas tersengal-sengal Ara duduk serta menatap ke sekeliling ruangan. Ia rupanya bermimpi, sebab tak ada Aro di sekitarnya. Ara melihat jam pada ponsel yang masih ia genggam.


"Jam satu," gumam Ara seraya mengelap peluh di dahi. "Aku cuma mimpi," rintihnya kemudian.


"Mas, aku rindu," jerit Ara dalam hati.


Sementara itu, di lokasi syuting pada jam yang sama, Aro baru menyelesaikan adegan yang benar-benar menguras emosinya.


Dia beranjak dari tempat tidur seraya mengenakan kembali kaosnya.


"Perfect, Ar ... gue puas!" teriak Wisnu dengan tawa menggelegar.


Sementara itu Ayuni merapikan kembali lingerinya, lalu mengenakan cardigan rajut dan meminta minum pada Oji, asistennya.


"Gimana rasanya Aro?" goda Oji seraya mengulurkan botol air minum mineral pada Ayuni.


"Apaan sih!" sentak Ayuni, memutar bola mata.


"Manis dong?" desak Oji kembali menggoda Ayuni dengan seringai jahil.


"Lo kira dia gula? jaga bacot!" geram Ayuni menyiram wajah Oji dengan air mineral yang baru setengah ia minum. "Jangan nyebar gosip!" lanjutnya dengan nada mengancam kemudian berlalu meninggalkan Oji.


Aro kembali dari kamar mandi dengan wajah dan rambut basah. Ia lebih merasa segar setelah membasuh wajahnya. Bibir yang terasa panas sebab adegan tadi sedikit kembali normal.


"Gue cabut duluan, ya!" serunya pada Oji.


"Ikut boleh, Ar?" pinta Oji, "Lo kan bentar lagi nikah. Itung-itung ngelepas masa lajang lo," imbuh Oji membuat Aro memgangguk.


"Ya udah, kita ke rumah gue aja," sahut Aro mengenakan hoddie hitamnya. "Kebetulan gue nggak ada kendaraan, itung-itung lo anterin gue," sambung Aro menutup kepalanya dengan tudung hoodie.


Baru akan melangkah, ponsel dalam gemgamannya berdering. Nampak nama Zayd pada layar.


"Zayd?" gumam Aro, keheranan.


Zayd adalah teman semasa SMAnya. Dulu mereka cukup dekat.


"Zayd, tumben telepon?" Aro mengerenyitkan kening.

__ADS_1


"Gue denger lo mau nikah, Ar? kumpul dulu dong!"


"Sekarang lo di mana? nih gue mau ke rumah sama temen-temen juga. Kalau mau gabung, ayo dah. Sahur bareng aja nanti."


"Rumah lo yang mana, Bro?"


"Jaksel, Man!" kemudian Aro menyebutkan nama komplek perumahan yang menjadi alamat huniannya.


Zayd memgatakan dia akan datang bersama tiga orang temannya yang lain. Aldi, Ariel dan Isan. Aro mengatakan bila mereka datang terlebih dahulu, tunggu saja di teras rumah.


Setelah berpamitan dengan seluruh kru, Aro, Oji juga dua orang lainnya segera pergi dari rumah sewaan itu. Sesungguhnya Aro ingin segera pulang ke Bogor, ia sudah sangat rindu dengan keluarganya terutama Ara.


Hampir pukul 03.00 dini hari Aro, Oji dan yang lain sampai di rumah Aro. Sebelumnya Aro sempat membeli nasi pecel ayam untuk mereka sahur. Saat tiba, Zayd dan yang lain sudah menunggu di teras rumah.


"Njiiir, artis mah beda ... apa kabar lo, Ar?" sapa Zayd kemudian saling beradu tinju dengan Aro.


Disusul dengan temannya yang lain Aro melakukan hal yang sama. Mereka semua segera masuk setelah Aro membuka kunci rumah yang tak terlalu luas itu.


"Duduk deh di manapun kalian mau," tawar Aro pada teman-temannya.


Aro sendiri berjalan menuju ruang makan. Menaruh makanan yang ia beli ke atas meja persegi itu. Kemudian ia membuka kulkas dan mengambil satu botol minuman dari dalam sana.


"Yang mau minum ambil aja, deh!" seru Aro membuat teman-temannya mengatakan iya secara bersamaan.


Aro membuka bungkus rokok yang baru ia beli di swalayan tadi. Ia kembali berbaur bersama teman-temannya setelah membuka hoodie dan celana panjangnya. Dengan mengenakan celana pendek dan kaos pendek Aro merebahkan tubuhnya di atas karpet.


"Capek banget, rasanya kayak abis di neraka balik ke surga," celetuk Aro membuat yang lain tertarik menimpali.


"Bukannya tadi abis dari surga?" komentar Oji


"Tadi lo bener-bener bikin gue pengen balik ke istri gue, Ar," timpal Stefan.


"Panas banget tadi, Ar!" Zio ikut menimpali.


"Berisik lo pada, ah!" sentak Aro.


Keseruan mereka berlanjut hingga makan sahur. Aro tahu sebenarnya Oji dan yang lain tidak pernah puasa, namun ia tetap membelikan mereka makanan untuk sahur. Hingga shubuh menyapa, Aro memilih untuk salat sebelum tidur.


Baru akan memejamkan mata, pintu diketuk dari luar. Bukan lagi ketukan saat Aro terlalu lama membukanya, melainkan gedoran tak sabaran yang membuat Zayd, Oji dan yang lain merasa keheranan siapa yang pagi-pagi bertamu.


Aro membuka pintu, lalu nampaklah beberapa orang mengenakan baju hitam-hitam dengan postur tubuh tinggi.


"Maaf, kami dari pihak kepolisian dan BNN mendapat laporan bahwa di sini telah terjadi pesta narkoba."


"A-apa?" pekik Aro seraya menggeleng. "Nggak ada kegiatan seperti itu di sini, Pak," lanjutnya dengan dada bergemuruh. Pasalnya Aro memang tidak merasa pernah memakai barang terlarang itu.


Delapan orang bertubuh tinggi itu meminta masuk dan menggeledah seluruh ruangan. Aro langsung curiga pada Oji, selagi petugas memeriksa rumahnya, ia menginterogasi Oji. Namun Oji tak mau bicara, ia bungkam.


Diam-diam Aro menghubungi ayahnya juga Omar. Kedua orang tersebut tentu kaget, Namun, Aro meyakinkan bahwa dirinya tidak merasa dengan sengaja memakai barang terlarang tersebut. Dari Akash dan juga Omar, Aro mendapat pesan agar kooperatif saat diperiksa supaya memudahkan segala prosesnya.


Hingga selesai pemeriksaan dan penggeledahan di rumah Aro. Petugas tidak menemukan barang bukti apa-apa, namun tetap saja Aro dan teman-temannya dibawa ke kantor pihak berwajib untuk dimintai keterangan lebih lanjut.


Satu yang menjadi kecurigaan Aro, mengapa kawan-kawannya sangat santai dan tak memaksa membela diri? Benak Aro memupuk curiga, mungkin salah satu di antara mereka sengaja menjebak dirinya? Tapi, apa motifnya, mengingat selama ini hubungan mereka baik-baik saja.


Sesuai pesan ayahnya dan Omar, Aro menurut saja pada petugas. Pun saat dimintai tes urin. Ia yakin, tak pernah mengkonsumsi barang haram tersebut.


Waktu beranjak siang, Akash kompak datang bersama Omar ke kantor pihak berwajib. Bertepatan dengan itu, petugas BNN dan pihak berwajib menyatakan bahwa Aro positif menggunakan obat terlarang itu.


Ia awalnya ingin berontak dan membuat pembelaan, namun Akash dan Omar mencegahnya. Mereka mengingatkan, agar tetap tenang dan menurut saja. Akash meyakinkan putranya itu bahwa semua ini akan cepat teratasi bila Aro tetap patuh. Akash berjanji akan tetap mendampingi dan melakukan yang terbaik untuk membela Aro.


Aro, Oji, dan dua orang temannya lain dinyatakan positif menggunakan narkoba sementara kawannya yang lain dibebaskan setelah melalui beberapa proses penyidikan. Sebelum Zayd pulang, Omar sempat bicara dengan teman semasa SMA Aro itu.


"Nyet, siapa otak di balik semua ini?" todong Omar membuat Zayd mendengus.


"Nanti juga kalian tahu!" sentak Zayd.


.


.


Semoga kalian tetap ada nemenin Ara yaaa genks

__ADS_1


__ADS_2