
Bumi sudah menyiapkan dua kotak berisi ayam goreng untuk dibawa oleh Aro dan Akhza yang akan kembali ke Ibu Kota. Akhza dengan segala kesibukannya di Rumah Sakit dan kampusnya. Sementara Aro, sibuk dengan kegiatan syutingnya yang padat.
"Nanti telepon setiap hari ya," pinta Bumi pada kedua putranya yang sedang sarapan.
"Mas Ar kapan ajak aku ke lokasi syuting lagi?" tanya Atar. Dia suka sekali ikut ke lokasi syuting, terakhir ia diajak oleh Aro pergi ke Yogya untuk syuting.
"Nanti dong, Dek. Nagih bener lo, nggak boleh sekali diajak pengen ikut lagi," sahut Aro dengan mulut penuh.
"Makan dulu, Mas. Baru ngomong," protes Akhza.
"Adek lo, kalau nggak buru-buru dijawab nggak bakal berenti ngomong, Bang," ujar Aro.
"Adek lo juga kali," balas Akhza.
"Adek aku juga ...." Ara yang baru datang ikut menimpali seraya memeluk leher Atar. Aroma minyak telon membelai indra penciuman Atar. Membuat anak bungsu Bumi itu merasakan ketenangan yang amat.
"Teteh tuh wangi kayak bayi," ujar Atar membuat Bumi melepaskan rangkulannya dari leher Atar.
"Bayi gorila," sahut Aro.
"Bayi Bunda, dong. Mas kalau bicara suka asal," protes Bumi yang baru selesai membuat kopi untuk suaminya.
"Kalau aku bayik gorila, Mas berarti Kakak Gorila."
"Enak aja, kita beda ya. Lo kan bukan anak Bunda!" seru Aro membuat hati Ara langsung berdenyut nyeri.
Ara menggigit bibir bawahnya, menahan sakit di hatinya. Matanya mulai terasa panas, penglihatannya kabur akibat kristal bening yang membingkainya.
"Bun, aku langsung berangkat aja," ucap Ara tanpa menyalami Bumi dan langsung pergi begitu saja.
"Nangis tuh dia, lo sih, Mas. Mulut tuh kalau ngomong pake filter," ujar Akhza seraya beranjak dari duduknya.
Akhza sudah selesai dengan sarapannya, ia memasukkan kotak berisi ayam gorengnya ke dalam tas dan cepat-cepat berpamitan pada Bumi. Ia hendak mengejar Ara, memastikan adiknya itu baik-baik saja.
"Kamu tuh bisa nggak kalau ngomong ke Ara jangan kayak gitu?"
"Harus gimana, Bun?"
"Bunda lihat kamu kalau di tivi bicaranya sopan, kamu nggak bisa memperlakukan Ara lebih baik, hah?" sentak Bumi.
__ADS_1
Dirinya tahu Aro memang sudah terbiasa bersikao seperti itu pada Ara, tapi ia khawatir lama-lama Ara bisa sakit hati dan tak tahan lagi. Bumi masukkan kotak berisi ayam goreng ke dalam ransel Aro. Dirinya tahu, Aro beda dengan Akhza yang disiplin dan mandiri. Aro masih manja dan selalu mengandalkan orang lain untuk mengurusi kebutuhannya.
"Kamu tuh harus cepet-cepet nikah biar ada yang ngurus," celetuk Bumi seraya menutup resleting tas Aro.
"Loh kok jadi bahas nikah, sih?" protes Aro.
"Iya, Bang. Nikah aja, biar taubat. Tinggal pilih tuh mau sama artis yang mana," timpal Atar.
"Bunda nggak mau punya menantu artis," sanggah Bumi. "Udah sekarang cepet kalian pergi, Bunda mau beres-beres."
"Aku diusir ceritanya?" tanya Aro.
"Iya, sana pergi!" sentak Bumi, namun Aro malah tertawa.
Aro tahu Bumi tak sungguh-sungguh. Bumi justru sedang menyembunyikan kesedihannya karena kembali ditinggal oleh dirinua dan Akhza.
"Aku pergi, ya. Jangan nakal, baik-baik sama ayah. Aku sayang Bunda," ujar Aro seraya menyalami Bumi dan menciumi wajah Bumi bertubi-tubi selanjutnya ia mendekap erat tubuh bundanya itu. "Love u, Bun," ujarnya seraya melepaskan pelukkan lalu beranjak pergi.
"Aku berangkat sekarang juga, ya, Bun."
Atar ikut beranjak dari duduknya, memakai tasnya lalu mencium tangan Bumi. Bumi balas mengecup kening putra bungsunya itu. Berpesan agar menyuruh Akash segera turun untuk sarapan.
Akhza
"Bareng, yuk, Ra!" ajak Akhza dan tentu diangguki Ara.
Jarak dari kafe ke klinik tempatnya bekerja memang tak jauh, tapi demi menghargai Akhza, Ara menurut saja ikut naik ke dalan mobilnya.
"Mulai tugas jam berapa, Ra?" tanya Akhza saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
Kemarin Akhza memang sempat bersikap dingin, tapi ia sadar tak seharusnya memperlakukan Ara seperti itu.
"Jam delapan, Bang," jawab Ara.
Akhza melirik jam pada pergelangan tangannya yang masih menunjukan pukul 07.45. Ia berfikir masih bisa mengajak Ara untuk sarapan.
"Mau sarapan dulu, Ra?" tawar Akhza.
"Langsung aja, Bang. Aku belum lapar, kok."
__ADS_1
Akhza hanya mengangguk, meski Ara tak menampakan wajah sedih, Akhza tahu adiknya itu sedang menyembunyikan luka dalam hatinya.
"Ra, kamu serius mau nerima perjodohan dengan Sakaf?" selidik Akhza.
"Nggak ada alasan untuk nolak, Bang."
Jawaban Ara sudah telak membuat Akhza merutuki dirinya sendiri sebab bertanga hal bodoh seoerti itu. Akhza mengusap tengkuknya, membuang rasa canggungnya.
Setelaah sampai di depan klinik, Ara segera berpamitan dan cepat turun dari mobil. Tak lupa mengatakan terima kasih pada Akhza yang membalasnya dengan senyuman.
Di parkiran sudah nampak motor Teh Ati, petugas kebersihan klinik. Bahkan mobil Bidan Army juga sudah terparkir rapi. Ara memasuki klinik dengan mengucap salam. Ia tak mendapati siapapun di dalamnya. Ara berjalan menuju mejanya seraya menyimpan tasnya.
Kemudian ia beranjak ke ruang bagian persalinan, dan mendapati Bidan Army di sana bersama Ati. Keduanya sedang mengganti sprei sebab beberapa hari lalu sempat dipakai melahirkan oleh seseorang.
"Bu, aku kira ke mana?" tanya Ara setelah mengucap salam terlebih dahulu.
"Bantuin Ati, nih. Sekalian lihat-lihat kita kekurangan alat apalagi coba?"
Bidan Army menyapukkan pandangan ke seluruh ruangan seraya dalam hati mengabsen apa saja keperluan yang harus dibeli.
"Kayaknya udah lengkap, deh, Bu," ujar Ara dan diangguki oleh Bidan Army.
Selesai dengan kegiatannya, Ati membawa beberapa kantong plastik sampah untuk di buang ke bak yang ada di depan. Biasanya nanti petugas yang berwenang yang akan mengangkutnya.
Saat akan masuk kembali, langkah Ati terhenti sebab ada seorang pria mengajaknya bicara dan memberikan tiga porsi kupat tahu padanya. Pria itu berpesan agar Ati memberikannya satu bungkus pada Ara.
"Nanti kalau Ara tanya dari siapa harus jawab gimana?" tanya Ati.
"Bilang aja dari Bang Akhza,"
Ati sudah tak lagi bicara, sebab pria itu juga sudah pergi meninggalkan Ati yang masih penasaran siapa sebenarnya sosok pria jangkung tersebut?
Di mejanya Ara sedang membuka aplikasi si hijau pada ponselnya. Ia berkali-kali mengetikkan pesan pada kontak bernama Calon suami, namun kembali ia hapus. Ia ketik lagi, namun kembali menghapusnya. Ketik lagi, hapus lagi. Ketik lagi, dan akhirnya jadi juga rangkaian kata untuk ia kirim pada Sakaf.
[Assalamuallaikum, Kak. Ini nomor calon istrimu]
Setelah beberapa menit terbuang, akhirnya hanya itu yang bisa Ara kirimkan pada Sakaf, calon suaminya.
Ara berulang-ulang membaca pesan yang ia kirim. Dirinya bergiding sendiri saat menangkap kata calon istrimu. Bisa-bisanya ia menuliskan kata-kata itu.
__ADS_1
Ati datang ke meja Ara lengkap dengan piring berisi kupat tahu. "Ini dari cowok bernama Akhza, Bu" ujar Ati.
Bumi mengulas senyum, itu artinya Akhza sudah tak marah lagi padanya. Terbukti dari perhatian dia mengiriminya makanan di saat belum sarapan. Sebelum menyantap kupat tahunya, Ara menyempatkan diri melihat layar ponsel. Takut bila tiba-tiba Sakaf sudah membalas, tapi nyatanya memang pesannya pada Sakaf belum dibalas.