
Pagi sekali Ara sudah menyiapkan sarapan. Ia sempat bertanya pada Fadan ingin makan apa? Dasarnya Fadan memang anak baik, bocah itu menjawab dengan malu-malu apapun masakannya pasti ia makan. Hal itu membuat Ara memutuskan untuk membuat nasi goreng spesial saja. Anak-anak biasanya sangat suka sosis dan bakso, begitu pikir Ara.
Selesai sarapan, Vanya meminta Ara untuk bicara sebentar. Karena itu, Ara menyuruh Fadan untuk menunggu di ruang tengah sambil menonton televisi sementara dirinya mengobrol dengan maminya.
"Kalau Mami ingin masuk muslim, apa yang harus Mami lakukan?"
Pertanyaan Vanya membuat Ara bahagia sekaligus haru. Ia sampai bersujud dan memeluk erat Vanya sebelum menjawab pertanyaan maminya.
"Ara bahagia banget dengernya, Mi," ungkapnya seraya mengusap punggung tangan Vanya.
"Mami juga ingin selalu Ara sebut dalam do'a-do'a Ara," tutur Vanya membuat Ara mengangguk.
"Ara nanti ke bunda buat diskusi, Mami tunggu ya," ujar Ara seraya kembali memeluk maminya.
Alhamdullillah, kebahagiaan bertubi-tubi datang padanya. Aro yang berjanji akan segera menikahinya, dan mami yang segera ingin memeluk agama islam. Juga kehadiran Fadan, bocah baik yang pasti menambah lengkap kehidupannya.
Setelah pembicaraan selesai, Ara langsung mengajak Fadan untuk mendaftar sekolah. Ara sengaja memasukan Fadan ke Sekolah Dasar tempatnya dulu menimba ilmu. Letaknya tak jauh dari rumah dan memiliki beberapa keunggulan, di antaranya sangat mengedepankan hal-hal agamis, meski bukan sekolah bertaraf islami.
Setelah mengurus administrasi, Fadan akhirnya bisa dudu di kelas 3. Ara meminta izin agar Fadan besok saja mulai belajarnya, sebab masih banyak yang harus disiapkan.
Saat keduanya keluar dari gerbang sekolah dan menunggu angkot, ponsel dalam tas Ara bergetar. Ketika dilihat pada layar, terpampang nama Mas Ar yang memanggil. Ara menggigit bibir bawahnya, ia tiba-tiba merasa gugup.
"Assalamu'alaikum, Mas ... ada apa?"
"Wa'alaikumsalam. Ara lagi apa?"
Ara membulatkan mata demi mendengar suara Aro yang masih serak khas bangun tidur dan menyebut namanya 'Ara'.
"Ara, kok diem. Kamu lagi di mana? kok berisik?"
"Aku lagi di pinggir jalan, mau beli seragam buat Fadan."
"Uangnya udah aku kirim, ya. Kenapa nggak minta anter ayah?"
"Aku belum ke rumah ayah, habis dari pasar baru ke sana."
"Ya udah, hati-hati. Jaga diri, jaga hati juga."
"Mas juga, jaga iman"
Terdengar di seberang sana suara tawa Aro saat Ara bicara seperti itu.
"Assalamu'alaikum, Ara. Sampai bertemu saat aku melamarmu."
"Wa'alaikumsalam, jangan lupa salat, Mas."
__ADS_1
Setelah memutus panggilan, Ara segera menyetop angkot seraya berkata maaf pada Fadan karena telah membuat anak itu menunggu. Dalam angkot Ara sempatkan melihat kiriman uang dari Aro. Matanya terbelalak saat melihat angka pada layar.
"Mas, kamu sekaya itu?" gumamnya.
Sampai di sebuah Mall, Ara menyilahkan Fadan memilih tas, sepatu, bahkan baju-baju baru seseuai keinginannya. Lagi-lagi bocah itu enggan. Ia meminta Ara sendiri yang memilihkan.
Akhirnya setelah selesai memilih beberapa pakaian, tas, sepatu dan tak lupa Ara belikan juga topi dan jam tangan mahal untuk Fadan, mereka memutuskan untuk pulang.
"Agar Fadan ingat waktu salat, sedetikpun jangan pernah telat, ya," pesannya saat Fadan bertanya mengapa membelikannya jam tangan mahal itu.
Sebuah jam tangan analog berwarna abu. Nampak cocok Fadan gunakan. Bocah itu terus saja memandangi barang yang sudah lama ia idamkan saat duduk di angkutan umum.
Selesai berbelanja, Ara membawa Fadan ke rumah bundanya. Di sana ternyata masih saja ada keluarga Akash.
Ara langsung memperkenalkan Fadan pada ayah dan bundanya. Mereka ternyata masih mengingat siapa Fadan.
"Bunda tahu, hati mas itu sebetulnya baik," puji Bumi seraya membayangkan wajah rupawan putranya dalam ingatan.
"Kan Ayah bilang apa, manusia tidak ada yang sempurna. Sedikit lagi, semoga mas Ar bisa jadi lebih baik," timpal Akash dengan perasaan bangga terhadap Aro
"Bunda jangan pernah berhenti doakan mas ya," pinta Ara penuh harap.
"Bunda tidak pernah putus mendoakan kalian," ungkap Bumi dengan mata berkaca-kaca.
Ara sendiri mulai membicarakan perihal keinginan maminya yang ingin memeluk agama Islam. Bumi antusias menyambutnya, dia berjanji akan segera membawa Vanya pada Ustaz setempat untuk mempermudah proses itu.
***
Di sebuah hotel yang terletak di Jalan Asia Afrika, dekat dengan Alun-alun Bandung, siang itu Aro sedang bersiap untuk melakukan meet and greet yang akan dilaksanakan di salah satu Mall sebagai ajang promo film terbarunya bersama Rea.
"Bangun, Mar!" teriaknya setelah mengenakan sepatu. Rambutnya disisir rapi, dengan kemeja lengan panjang bermotif kotak yang sengaja tak ia kancingkan. Menampilkan kaus putih bergambar Jhon Lennon, tokoh favoritnya. Seorang penyanyi yang memiliki nama lengkap John Winston Ono Lennon.
Merupakan seorang penyanyi, pencipta lagu, penulis, dan juga terkenal sebagai pemimpin dari The Beatles. Salah satu lagu favoritnya sedang ia putar, Hey Jude.
Sambil mengisap rokok, ia samar-samar mengikuti bait demi bait lagu lawas tersebut. Bisa-bisanya pria ini mengetahui lagu tersebut di saat ayahnya sendiri tak maengetahuinya
"Jam berapa sih mulainya?" tanyanya pada Omar yang masih bergelung dengan selimut.
"Jam dua siang ini, 30 menit lagi," jelas Omar tanpa membuka matanya.
"Gue telpon Ara dulu bentar," sahutnya seraya mulai membuka ponsel.
Wajah Ara dan bunda masih menjadi wallpaper ponselnya.
"Muka lo tuh emang minta diunyel tau nggak!" ujarnya seraya mencium layar ponselnya sendiri.
__ADS_1
Beberapa kali dering barulah panggilannya dijawab.
"Assallamualaikum, kenapa Mas?"
"Wa'alaikumsayang ...."
"Mas! yang bener jawabnya! perkara agama nggak boleh dibawa-bawa becanda!" jelas suara di seberang sana sedang menyentaknya.
"Astagfirullah, maaf, Ra. Iya, Wa'alaikumsalam calon makmum. Lagi apa?"
"Aku lagi kerja. Urusan Fadan udah beres. Aku juga udah bawa ke bunda. Sekarang Fadan di rumah sama mami."
"Terima kasih, Ra. Wanita terhebatku."
"Nggak usah gombal! udah ya, ada pasien, nih."
Setelah memutuskan panggilannya, Aro kembali menyulut rokok. Rindunya tetap saja tak menguap meski sudah mendengar suara Ara.
"Upil sekarang udah ganti nama jadi calon makmum," sindir Omar seraya beranjak dari berbaringnya dan berlari menuju kamar mandi.
"Sialan ...."
Aro mengumpat, namun juga tersenyum. Rekaman wajah Ara yang penuh tawa memenuhi kepalanya.
"Kamu meresahkan, Ra," gumamnya kemudian mengetikan sesuatu di layar ponselnya. Tak puas menelpon, ia mengirimi Ara pesan.
[Selalulah tersenyum, sebab itu adalah bahagiaku. Ara, aku mencintaimu. Ingat itu, jadi jangan hilang apalagi pergi.]
***
Setelah memeriksa tensi darah dan menuliskan keluhan seorang ibu hamil, Ara mempersilahkan pasien itu untuk langsung masuk ke ruang Bidan Army. Ia kembali membuka ponsel yang sepertinya memiliki pesan masuk terbaru. Ara membuka aplikasi pesan dan membaca kiriman terbaru dari Aro.
"Mas, kenapa sih seneng banget bikin aku gelisah kayak gini?" gumam Ara setelah membaca pesan dari Aro.
Berkali-kali Ara membaca pesan itu. Hatinya tetap saja bergetar. Ia bahkan memasukan ponselnya ke dalam laci meja karena merasa benda tersebut benar-benar menghancurkan konsentrasinya.
Gadis itu kemudian mengingat-ingat masa-masa kejahilan Aro padanya. Bila mengingat itu, rasanya aneh sekali sekarang Aro bisa jadi seperti itu padanya.
Dulu Ara berfikir cintanya hanya akan menjadi rahasia dalam hidupnya. Ia bahkan mengira bahwa yang akan menjadi suaminya adalah Sakaf.
Waktu menepis semuanya. Entah bagaimana awalnya hingga menjadikan keduanya dekat, bahkan memiliki pikiran untuk menikah.
Seulas senyum menghias wajah Ara. Ia menggeleng mengingat begitu absurdnya kelakuan Aro padanya.
"Cara kamu mencintaiku beda, mas," gumamnya lagi seraya kembali menyambut pasien selanjutnya yang membawa bayi.
__ADS_1