Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Menyambut Hari Penuh Rindu


__ADS_3

Aro benar-benar tak mengizinkan Ara untuk masuk ke dalam rumah, bahkan untuk menaruh piring dan gelas yang isinya sudah tandas saja, Aro lakukan sendiri. Ia rela ke dapur hanya untuk menaruh kedua benda tersebut. Sempat mengambil sepotong tempe goreng di meja makan sebelum kembali ke mobil. Ia melihat Fadan sedang berbincang dengan Atar di ruang tengah. Sementara untuk para tetua, aish, tetua? ya para orang tua entahlah di mana?


Aro segera kembali ke mobil, didapatinya Ara sedang tertidur bersandar pada jok. Wajahnya terlihat lelah, bahkan Ara mendengkur. Mulutnya sedikit menganga, tapi tak mengurangi kecantikannya di mata Aro.


Aro pelan-pelan duduk kembali di samping Ara. Ia ambil bantal yang selalu disimpan di bagian jok belakang. Kemudian ditaruhnya bantal itu di pangkuannya. Perlahan Aro pindahkan kepala Ara ke atas bantal di pangkuannya.


"Ngiler dong, Ra. Nanti aku foto buat ngancem kamu kalau nggak nurut," gumam Aro.


Ara semakin lelap, jam sudah menunjukan pukul 21.00. Belum ada tanda-tanda masalah selesai.


Aro menyandarkan kepalanya, ia ikut terpejam. Seharian sudah lelah meladeni fans. Tak terhitung berapa kali ia menuliskan tanda tangan? Tak terhitung pula berapa kali fotonya ditangkap kamera ponsel.


***


Di dalam kamar Ara, Sanu duduk di tepian kasur dengan banyak cecaran pertanyaan dari Zahra. Gadis itu sampai terlihat frustasi saat Zahra secara mendetail bertanya kapan mereka melakukannya?


Jika bukan Bumi yang memangkas, sepertinya Sanu bisa pingsan oleh tudingan-tudingan Zahra. Kecewa. Satu kata yang ada dalam hati Bumi pada Zahra. Mengapa dirinya seolah menyalahkan Sanu atas kejadian ini?


"Kak, jangan pojokin Sanu. Ini bukan kesalahan Sanu aja!" seru Bumi.


"Kakak ingat, biar gimanapun bayi ini cucu Kakak!" lanjut Bumi dengan sedikit emosi.


Zahra beristighfar. Ia akhirnya luluh dan meminta maaf pada Sanu. Ia peluk Sanu erat, benar kata Bumi, ia harus menerima kehadiran Sanu. Begitu pikirnya.


Ilham yang sedang bicara dengan Akash dan Laut di halaman belakang nampak terus saja lebih menyalahkan Sanu ketimbang putranya.


"Ibarat kucing kalau dikasih ikan, ya mau saja," ujar Ilham, membela anaknya.


Laut dan Akash saling pandang, sementara Hamiza yang berada di antara mereka sebetulnya ingin menyela perkataan abinya. Tapi, nyalinya menciut demi melihat kilatan sorot mata Ilham yang penuh amarah dan kecewa.


"Lagipula menikahkan mereka bukan solusi," tambah Ilham lagi, kali ini melayangkan pandangan pada Miza. "Kamu cinta sama dia?"


Hamiza tak lekas menjawab. Jauh di lubuk hatinya ia sangat mencintai Sanu. Bukan ingin lari, ia hanya takut abi.


Rud dan Akhza yang juga berada di antara mereka bingung sekali dengan permasalahan ini. Keduanya masih tak menyangka bahwa Miza ternyata sejauh itu dalam menjalin hubungan.


"Jawab, Bang!" desak Ilham melayangkan tinju ke bahu putranya.


Hamiza terhenyak, bukan sakit, tapi kaget. Itu artinya, abinya benar-benar sedang di puncak amarah.


Akash sebetulnya ingin sekali ikut bicara, tapi Ilham biasanya tak terima jika anaknya dinasihati orang lain, sekalipun oomnya sendiri.


"Aku mencintainya," jawab Hamiza, pelan, hati-hati dan ketakutan.


Ilham tergelak, dia pijat pelipis, hingga pangkal hidungnya. Serasa ditamploki kotoran kerbau di wajahnya.


"Jadi?" Ilham kembali bertanya pada Miza.


"Aku mau tanggung jawab!" seru Miza kali ini dengan suara lantang, yakin dan berani.


Kelabatan wajah Sanu yang manis terlihat di pandangannya. Sanu yang selalu menurut padanya. Gadis itu menggoda. Ia sungguh tak ingin kehilangannya, hanya nyalinya ciut oleh Ilham. Kali ini ia merasa harus berontak.


"Jangan sampai teman-teman abi tahu! apa kata mereka nanti?"


Hamiza lagi-lagi terhenyak, abinya memang sungguh keras. Terkadang hanya memikirkan diri sendiri tanpa tahu perasaan anaknya.


"Aku mau sama dia!" tegas Hamiza.


Ilham mendengus kesal, ia beranjak kemudian pergi meninggalkan Miza, Akash dan Laut.


"Oom bantu," hibur Akash.


"Oom juga. Abimu hanya butuh waktu untuk menerima semua ini." Timpal Laut membuat Miza sedikit merasa lega. Dalam hati jadi membandingkan diri abinya dengan kedua oomnya tersebut.


Setelah itu Miza memberanikan diri menemui Sanu di kamar Ara. Saat masuk ke dalam ruangan itu, Zahra sedang memeluknya.


"Sanu ...."


Sanu menengok ke arah Miza. Masih ada kilatan marah pada sorot Sanu saat memandang Miza.


"Maaf, Sanu. Aku terlalu takut pada Abi, tapi kali ini aku akan berusaha berontak pada abi," ungkap Miza dan membuat Zahra menatap bangga pada putranya itu.


"Maafkan aku, Sanu!"


Sanu dengan berderai air mata mencoba mengangguk walau berat. Hati kecilnya merasa bahagia, namun ada ketakutan tersendiri bila mengingat Ilham.


"Nggak usah takut ke abi, kita hadapi sama-sama," hibur Miza seolah tahu keresahan yang ditampilkan wajah Sanu. Sanu sekali lagi mengangguk. Ia semakin yakin untuk meneruskan kandungan yang sempat ingin ia gugurkan.


Sementara itu, di dalam mobil yang pintunya sengaja dibuka. Aro terjaga dari lelapnya akibat dering nyaring dari ponselnya.


"Hallo!"


"Iya, gue ngerti!"


"Ok, gue paham!"


Aro menutup kembali panggilan itu secara sepihak. Melihat ke arah Arah yang masih terlelap. Tak lama seseorang yang ia kenali terlihat masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobil dengan cepat.


Dialah Ilham. Lelaki macam apa tega berbuat seperti itu? apa dia lupa kalau anaknya saja ada yang masih gadis.


Aro mencoba menepis prasangkanya terhadap Ilham. Ia memilih fokus memperhatikan wajah Ara.


"Kenapa dulu gue bisa tega ngerjain ini anak ya?" Aro mengabsen wajah Ara dengan netranya.


Mata itu tertutup sempurna, Ara memiliki hidung mungil. Garis alis yang rapi walau tidak tebal. Putih mulus wajahnya sangat kontras dengan bibirnya yang tipis dan merah. Bibir.

__ADS_1


Aro mengalihkan pandangannya, ia mengusap wajah dan memilih menyalakan musik dari ponselnya.


"Lagian kebo banget sih, Ra ... mau gue bangunin gak tega ...."


"Heran, kebiasaan bisa tidur di mana aja?"


"Lagian kenapa jadi kacau gini sih acara lamarannya?"


"Gue kerasin aja musiknya biar dia bangun."


Namun, saat ingin mengeraskan volume pada ponselnya, tiba-tiba Ara menggeliat dan tangannya bergerak mengenai tangan Aro. Membuatnya kaget dan reflek menjatuhkan ponsel itu ke wajah Ara. Menyakitkan.


"Aduuh!" pekik Ara seraya memegangi hidungnya yang merasakan sakit. Ia segera beranjak untuk duduk dengan kepala pusing khas bangun tidur.


"Mas, kok mukaku dilempar?" tuding Ara. Ia merasa jika wajahnya sengaja dilempar ponsel oleh Aro.


"Maaf, nggak sengaja. Tadi tangan kamu sendiri loh yang bikin hapenya jatoh ke muka kamu!" beritahu Aro, menjelaskan kejadian sesungguhnya.


Ara mendengus kesal, dia merasa tidurnya terganggu.


"Lagian kenapa bisa sampe jatoh di mukaku sih hapenya?" desak Ara.


"Bibir kamu, Ra ...."


Aro segera menutup mulutnya, ia salah memilih kosakata.


Ara tentu kaget mendengarnya. Ara reflek memegangi bibirnya kemudian mengambil bantal yang ada di pangkuan Aro dan memukulkannya pada wajah lelaki di hadapannya itu.


"Mas kamu jahat banget sih!"


"Kamu ngapain aku, Mas? Hah?"


Ara terus saja menyerang Aro tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kejadian sesungguhnya.


"Ra, aku nggak gitu ...."


"Mas jahat, gitu banget sih ke aku!"


Ara masih saja membabi buta, hingga akhirnya membuat Aro menangkap pergelangan tangannya dan berhasil mengunci tangan itu untuk berhenti menyerang.


"Dengar!" seru pria itu dengan tatapan memohon.


Ara terdiam seketika, keberaniannya yang tadi memuncak tiba-tiba menguap begitu saja demi mendengar suara berat Aro.


"Aku nggak ngapa-ngapain kamu. Walaupun aku pengen, tapi aku nggak akan ngelakuinnya."


"Kamu terlalu berharga buat dicoba, aku pasti sanggup nunggu sampai hari indah kita tiba. Percayalah, aku nggak ngapa-ngapain kamu!"


Ara dapat melihat kejujuran pada sorot mata itu. Ia jadi malu sendiri karena telah menuduhkan yang tidak-tidak.


Aro perlahan melepaskan tangan Ara. Ia memilih beranjak dari sana dan meninggalkan Ara. Pria itu merasa butuh waktu untuk menetralkan emosinya.


Ara menyandarkan kembali tubuhnya, ia pejamkan mata dan perlahan mengusap wajahnya dengan telapak tangan.


"Astagfirullah ...."


Aro sendiri memilih duduk berlantaikan paving block di belakang mobilnya. Ia menyulut rokok. Menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. Satu kaki ia tekuk dan kaki lainnya ia selonjorkan. Sneaker yang dikenakannya sudah tak seputih tadi pagi. Ada beberapa noda kotor di bagian-bagian tertentu.


Ara merasa bersalah telah menuduhkan yang tidak-tidak pada Aro. Dia beranjak dari duduk dan mencari keberadaan Aro yang ia yakini masih berada di sekitaran mobil. Langkah Ara membawanya ke bagian belakang mobil, ia melihat asap rokok di sana. Benar saja, pria itu terlihat frustasi dengan rokok yang sedang dihisapnya.


"Mas, maaf ...." Suara Ara lirih dan nyaris tak terdengar.


Aro menengok ke arahnya, seraya dengan cepat membuang jauh-jauh puntung rokok.


"Sorry, Ra ... aku belum bisa berenti bu ...."


"Mas ... aku nggak lagi ngomongin rokok," sela Ara seraya berjongkok menghadapnya.


"Aku minta maaf, aku udah nuduh yang ...."


"Udah, Ra. Udah, nggak usah dibahas!" sanggahnya cepat.


"Aku besok berangkat, Ra. Ke Jogja dulu, baru ke Wonogiri. Mungkin aku bakal sibuk. Jadi aku nggak mau kita debat," jelas Aro setengah berat memberitahukan hal itu.


"Besok?"


"Iya, besok. Jadi, mari buat perpisahan sejenak ini dengan kenangan indah. Gimana?" pinta Aro seraya menyelisik ke wajah Ara.


"Kata bunda, perpisahan itu nggak ada yang indah, Mas."


"Sebab selalu menorehkan rindu," lanjut Ara.


"Dan rindu itu pilu," sambung Aro cepat.


"Dan Wonogiri jauh," balas Ara seraya tertawa.


"Di sana susah sinyal, Ra."


"Daerah pegunungan batu, mau ke ATM atau Swalayan aja jauh, katanya sih gitu."


"Aku gak bisa ngabarin kamu tiap waktu, kamu harus percaya sama aku ya, Ra!"


Ara mengangguk. Ia berusaha mengerti profesi Aro untuk saat ini. Lagipula ini akan segera berakhir bukan?


"Iya, Mas. Yang penting, jangan lupa salat, Mas!" walau berat rasanya melepas kepergian Aro kali ini, Ara berusaha tidak memupuk prasangka buruk.

__ADS_1


Keduanya duduk bersisian, cukup lama saling terdiam. Menatap langit malam bertabur bintang. Ditemani deru kendaraan yang masih berlalu lalang.


Hingga sebuah suara mengalihkan perhatian keduanya.


"Kalian dicari bunda, tuh!"


Atar dengan wajah dilipat berseru pada keduanya. Tangannya tak lepas dari ponsel.


"Awas lo, jangan ajarin Fadan main game!" ancam Aro seraya berdiri. Ia tahu, Fadan dan Atar sekarang begitu akrab.


Sementara Ara yang kesusahan bangun, mengulurkan tangan dan berkata, "Dek, tolongin Teteh!"


Aro awalnya ingin meraih tangan Ara, namun Atar menepisnya, "Enak aja! belum muhrim udah mau pegang-pegang. Segel masih haram!"


Ara tertawa mendengarnya, sedangkan Aro, ia berdecak kesal seraya perlahan memukul tengkuk Atar, dan membuat anak itu balas menendang kaki Aro kemudian berlari menghindari balasan yang lebih kejam dari Aro. Hampir Aro mengejarnya, namun kaosnya ditarik oleh Ara.


"Jangan macam-macan sama adikku!" ancam Ara, tentu saja pura-pura.


"Macam-macam sama kakaknya, boleh?" goda Aro.


"Tuh kan, kan, baru juga minta maaf!" cibir Ara memajukan bibirnya seraya melepaskan kaos Aro yang dipegangnya.


"Tuh kan, kan aku cuma becanda juga," kelit Aro seraya tertawa dan memiringkan kepalanya.


"Jangan marah-marah, nanti rindu baru tahu rasa!" lanjutnya kemudian berlari mendahului Ara untuk masuk ke dalam rumah.


Di dalam seluruh keluarga telah berkumpul kembali. Tanpa ada Ilham tentunya.


Sanu duduk dirangkul oleh Zahra. Ara tersenyum kecil melihatnya. Ia berharap semoga Sanu dapat diterima dengan baik, setidaknya tanpa ada hujatan.


"Kalian dari mana sih?" tanya Bumi, bau-baunya protes.


"Dari tadi kita di luar, Bunda." Aro segera saja duduk di sampingnya sedangkan Ara masih berdiri. Dia bingung hendak duduk di mana. Sebab terlalu banyak orang membuat konsennya terpecah.


"Sini, Sayang!" seru Bumi menepuk tempat kosong di sampingnya. Ara menurut, ia duduk di samping Bundanya itu.


"Kita bicarakan tentang Fadan," papar Bumi.


"Kenapa, Bun?" Ara mulai penasaran.


"Fadan dan Sanu nggak mungkin tinggal di sini bersamaan. Kasihan Kalau Sanu, Ara sama mami harus tidur sekamar bertiga. Fadan biar tinggal sama Bunda. Gimana?" tanya Bumi membuat Ara dan Aro saling pandang.


"Umma titip Sanu di sini, Ra. Dia nggak mau pulang ke rumah neneknya. Umma juga belum bisa membawa Sanu tinggal bersama sampai melahirkan dan abang menikahinya," timpal Zahra ikut menjelaskan situasi yang sedikit rumit itu.


Dalam hati, Ara berat bila harus jauh dari Fadan Ia ingin terjun langsung memantau anak itu. Jika harus berjauhan, bisa dipastikan ia jarang bisa menghabiskan waktu bersama dengan Fadan.


"Lagian kalau di rumah bunda kan ada Atar, nggak apa-apa, ya?" bujuk Aro, ia berharap Ara tidak mempersulit keadaan.


Ara mengangguk patah-patah. Walau berat, ia cukup senang mendengar Sanu dan Hamiza akan menikah. Itu artinya, bayi Sanu tidak akan kehilangan sosok ayah.


***


Tepat pukul 23.00, seluruh anggota keluarga akhirnya pulang setelah sebelumnya ketegangan hari itu mereka akhiri dengan makan-makan. Sanu dan Miza sudah terlihat mengobrol. Keduaaya sudah saling menjelaskan keadaan masing-masing.


Sanu bisa menerima alasan Miza, dan Zahra juga dapat berlapang dada menerima kehadiran Sanu dan calon cucunya.


Saat semua sudah pergi, Aro menyengaja memilih pergi paling akhir. Ia sungguh berat meninggalkan Ara. 20 hari jelas bukan waktu sebentar baginya. Apalagi komunikasi yang akan terhambat karena sinyal yang jadi kendala.


"Aku berasa mau berangkat wajib militer nih, Ra," seloroh Aro saat Ara membekalinya dengan kotak bekal berisi tempe orek dan ayam goreng serundeng kesukaannya.


"Sampai dua hari ke depan ini masih enak dimakan, Mas."


"Makasih ya, Ra ...."


"Hati-hati, ya ... Ingat, jangan lupa salat!" pesan Ara, selalu itu.


"Kamu jangan lupa sama ini!" Aro menunjuk cincin yang dikenakan Ara.


"Simpan di sini," ujarnya menunjuk ke kepala, "kemudian di sini," lanjutnya menunjuk pada dada, "dan di sini" tambahnya seraya menengadahkan kedua tangan.


"Aku paham," sahut Ara.


"Apa coba?"


"Simpan nama kamu dalam pikiran, hati dan do'a," jawabnya membuat Aro mengembangkan senyum dan menepuk-nepuk pucuk kepalanya.


"Aku pergi, selamat menyambut hari-hari penuh rindu. Ingat, aku mencintaimu!"


Ara tertegun sejenak dengan kalimat Aro, selamat menyambut hari-hari penuh rindu. Apa akan separah itu rindunya kali ini?


"Hati-hati ya, Mas! jangan lupa salat!"


"Ada yang lain yang mau disampaikan?"


"Nggak ada," sahut Ara cepat padahal Aro ingin sekali mendengar gadis itu membalas pernyataan cintanya. Namun, Ara sepertinya enggan mengucapkannya.


Dengan berat hati Aro masuk ke dalam mobil, perlahan ia melajukan kendarannya hingga meninggalkan pekarangan rumah Ara dan hilang dari pandangan gadis itu.


Masih adakah kalian di sana?


Terima kasih untuk dukungannya.


Untuk komen dan likenya.


Selamat menyambut hari-hari penuh rindu.

__ADS_1


Rindu pada Ramadhan yang akan segera berakhir.


__ADS_2