Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Niat Jahat Aro


__ADS_3

Aro


Aro membanting kasar tubuhnya ke atas kasur dengan perasaan kacau. Berkali-kali ia mengusap kasar wajahnya yang menjadi dambaan jutaan umat di tanah air tercinta ini. Ia sesekali mengerang kesal membayangkan bagaimana cara Akhza dan Ara berinteraksi. Ara sangat hangat pada Akhza, tidak berteriak seperti yang sering ia lakukan terhadap dirinya.


Nggak mungkin kan gue cemburu? come on, Ar, dia bukan tipe lo. Gila, lo bisa dapetin cewek yang sejuta kali lebih bagus dari dia.


Monolog Aro dalam hati membuat pikirannya semakin kacau ia beranjak untuk menghubungi Omar.


"Mar, bawain gue rokok sama minuman, Mar!" Titahnya pada Omar dan langsung mematikan panggilan sebelum Omar mengiyakannya.


Dia beranjak membuka jendela kamar yang langsung menyuguhkan pemandangan langit yang cerah.


Benci gue kalo lihat langit cerah, kayak yang ngeledek suasana hati gue.


Ara


Selesai sarapan dirinya dan Akhza bersantai di halaman belakang, mengingat masa-masa kecil mereka yang senang sekali bermain air di atas rumput gajah yang terhampar luas di sana.


"Kamu inget, nggak pas kita umur 7 tahun yang waktu liburan sekolah?" tanya Akhza membuat Ara mengerutkan kening mencoba mengingat apa yang Akhza maksud.


"Yang mana? yang rambut Atar dibotakin mas Ar?" tanya Ara.


"Bukan, coba inget lagi. Yang waktu bikin cilok sama uti," ralat Akhza.


"Yang mana sih? yang waktu Mas Ar marah karena aku basahin sendalnya?" tebak Ara lagi.


"Bukan, Ra. Yang waktu kamu bilang aku ganteng, lebih ganteng dari Mas Ar," jelas Akhza berharap Ara mengingatnya.


"Yang mana sih, Abang? aku ingetnya pas Mas Ar balas nyiram aku, tapi akhirnya sama bunda mas Ar dihukum suruh bilang maaf ke aku di hadapan para jemaah jidda, deh," kenang Ara mengingat masa-masa kecilnya.


Akhza kecewa, dari tadi nyatanya yang Ara sebut hanya nama Aro. Bahkan setelah secara detail ia ceritakan kejadiannyapun, Ara lebih mengingat Aro daripada dirinya.


"Abang, makasih ya beberapa hari lalu udah kirim aku sarapan kupat tahu. Aku lupa chat Abang waktu itu," ungkap Ara namun, tak dapat dipahami oleh Akhza.


"Kupat tahu?" tanya Akhza, ia tak merasa mengirim Ara sarapan kupat tahu.


"Iya, yang waktu malemnya ada keluarga kak Sakaf kan paginya kita barengan ke klinik, inget nggak sih?" desak Ara.


"Aku nggak beliin kamu kupat tahu, Ra. 'Kan kamu sendiri yang bilang belum mau sarapan," jelas Akhza membuat Ara teringat sesuatu.

__ADS_1


Jangan-jangan itu Mas Ar?


Ara menepis pikirannya sendiri, ia lebih baik memastikan pada Ati agar prasangkanya tak salah mengarah.


"Abang, aku ke kamar ammah bentar, ya ambil hape," pamit Ara membuat Akhza kecewa.


"Ke sini lagi, ya, Ra!" teriak Akhza.


"Iya, Abang!" Ara balas teriak sambil menoleh dan tersenyum hangat. Senyum yang meneduhkan Akhza. Senyum yang hanya ingin Akhza miliki seorang, namun belum pasti.


Di kamar Nadia, Ara kebingunan sendiri mencari barang-barangnya yang tidak ada termasuk ponselnya.


Kan tadi tasnya di sini, ponsel lagi kucharger. Sekarang pada ke mana?


Batin Ara bersahutan, ia mencari ke sana kemari dengan pikiran kacau. Tak ia temukan barang-barangnya di manapun. Semua barang pentingnya ada dalam tas.


Tak ingin dikuasai rasa penasaran lebih dalam, Ara berlarian kembali ke lantai bawah dan bertanya pada semua anggota keluarga perihal tas dan ponselnya.


"Coba ditelepon, Ra!" saran jidda yang risih melihat kepanikan Ara.


"Bun, tolong teleponin," pinta Ara merengek manja pada Bumi yang segera menuruti keinginannya.


"Udah, sana kamu ambil hape dan barang-barang kamu ke rumah mas Ar!" suruh Bumi seraya memijat kening. Aro selalu membuat ulah yang menjadikan kepalanya pening.


"Maksud Bunda apa?" tanya Ara.


"Kakakmu membawa hape dan barang-barangmu ke rumahnya, dia bilangnya nggak sengaja karena salah ambil. Bunda curiga ini akal bulus dia mau ngerjain kamu," tuding Bumi membuat Ara mengulum kesal.


"Ayok minta anter supir buat ke rumah mas Ar!" suruh jidda membuat Ara segera menurutinya.


Setelah berpamitan pada bunda dan jidda, juga memberitahu Akhza, Ara segera mencari supir dan meminta diantarkan ke rumah Aro. Baru beberapa detik lalu dirinya berniat akan mengucapkan terima kasih pada Aro karena mengiriminya kupat tahu, kini dia merasa sangat marah dan akan meluapkan semua emosinya saat menjumpai Aro nanti.


Mas, aku tuh capek kamu kerjain terus!


***


"Minumannya mana?" protes Aro pada Omar yang datang hanya membawa rokok dan minuman bersoda.


"Itu minuman," tunjuk Omar dengan dagu ke arah minuman soda berukuran satu liter itu.

__ADS_1


"Bukan minuman ini," ralat Aro mencebikkan bibirnya.


"Lo kemaren abis mabok. nggak mau gue lo kenapa-napa karena sering minum alkohol," ungkap Omar membuat Aro mendengus kesal.


"Nggak asyik, Lo. Gue lagi pengen!" tegasnya seraya menyulut rokok.


"Pengen apa? mau kontek siapa?" goda Omar salah mengartikan kalimat Aro.


"Bege. emang gue cowok laen maen celup aja di sembarang tempat," sahut Aro seraya melempar bungkus rokok kosong ke wajah Omar.


"Lo jadinya mau nyelup ke mana? Ara?" tuding Omar, niatnya becanda tapi malah ditanggapi serius oleh Aro.


"Boleh juga ide lo, gue yakin dia masih perawan. Sekali celup nggak bakal bikin dia hamil 'kan?" tanya Aro meminta persetujuan Omar.


"Gila, gue becanda, Ar. Lo jangan macem-macem!" ancam Omar demi melihat keseriusan pada nada bicara Aro.


"Bentar lagi dia ke sini, kebetulan kan?" lagi-lagi Aro meminta persetujuan Omar.


"Lo jangan macem-macem Ar. Ara tuh beda dari cewek-cewek kebanyakan. Lo cukup jajan kalo emang pengen!" teriak Omar.


"Justru karena dia beda, gue pengen yang ori, Man," pukas Aro seraya menyemburkan asap rokok ke wajah Omar.


"Ar, gue tadi becanda. Lo malah serius gini?" Omar semakin mengingatkan Aro agar tidak melakukan aksi bejadnya itu.


"Tapi candaan lo bikin gue serius pengen sama Ara," sanggah Aro kembali menyulut rokok.


Entah setan apa yang sudah merasuki jiwa Aro, dirinya terus dibayangi wajah cantik Ara yang sebentar lagi akan datang ke rumahnya. Niat awal menjahili Ara, tapi bila ada kesempatan lain Aro akan menggunakannya dengan sebaik mungkin.


Sementara Ara yang baru sampai di rumah Aro langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Kilatan amarah jelas terpancar dari netra Ara saat memandang Aro.


"Maaaaas!" pekik Ara seraya mengambil bantal kursi dan melemparnya pada Aro. Aro diam tak bergeming, sementara Omar sudah ketar ketir takut Aro benar-benar melancarkan aksinya.


"Hapeku mana, Mas?" tanya Ara seraya memukul bahu Aro yang sedang duduk menikmati rokok.


Aro berdiri, dia sekonyong-konyong menarik pinggang Ara. Aro memeluk gadis itu erat, ia melempar rokok pada kaki Omar, membuat Omar menghindar.


Ara berusaha melepaskan diri, namun pelukan Aro terlalu kuat. Aro menenggelamkan wajahnya pada pundak Ara. Menghirup aroma minyak telon yang bercampur dengan aroma pewangi pakaian pada hijab Ara.


"Lepasin, Mas, aku benci sama kamu!" umpat Ara.

__ADS_1


__ADS_2