
“Kamu ngumpet di mana selama ini?” Ansar tak lekas pulang setelah sampai di rumah Sita.
“Awalnya di rumah Celin, sempet di rumah Nazia juga. Terus pas ngelahirin Ara ya di rumah bang Akash.” Sita menceritakan masa lalunya pada Ansar.
“Bisa rapi gitu ya?” nggak kecium, padahal Monde sempet nyari kamu.” Ansar menyeruput kopinya yang tinggal setengah. "Emang nggak tahu kalo Mandri meninggal?" lanjut Ansar.
“Itulah gunanya sahabat.” Sita sedikit merasa tak enak hati, sebab hubungannya dengan Celin hingga sekarang masih tak baik. "Soal dia, yang saya tahu dia tawuran 'kan? kecelakaan, hanyut di sungai. Itu yang ramai diberitakan," sambung Sita dengan helaan napas yang berat.
"Saya juga kayaknya lagi di Jaksel waktu itu. Nggak denger apa-apa karena Monde menghilang. Dia terlibat pencurian di toko emas koh Pang. Tau nggak?“ Ansar menaikan dagunya membuat Sita mengangguk. Jelas dia tahu, koh Pang satu komplek dengannya. Toko emasnya di plaza Bogor semapat dihabisi perampok.
"Setelah Ara lahir, kamu lanjut sekolah?” selidik Ansar, keingin tahuannya meluap-luap.
“Sekolah lanjut, cuma kuliah aja yang gagal. Aku balik ke dunia kelam setelah jauh sama Celin,” kenang Sita dengan perasaan menyesal dalam diri. Tak guna.
Jam sudah menunjukan pukul 01.39, Ansar masih ingin mengetahui kisah selanjutnya wanita yang sempat menjadi kawan baik dirinya, Monde dan Mandri. Dulu, mereka sering berkunjung ke rumah Sita.
Sita dan Mandri memang selalu berdua di kamar tanpa mau diganggu. Andai saat itu dirinya dan Monde bisa lebih mengarahkan kedua sejoli yang sempat dimabuk cinta itu. Terlambat.
“Nggak bakal ada Ara ya kalau kamu dan Mandri nggak asyik duaan terus di kamar,” bisik Ansar.
“Wak, udahlah!” pekik Sita, ia malu harus mengenang masa-masa kelam nan menghanyutkan itu.
“Mandri, dia gak pernah hilang dalam ingatan meski luka yang dia kasih bikin saya terpuruk. Padahal, semua hanya salah paham. Akibat komunikasi yang gak lancar,” sesal Sita, ujung matanya basah mengenang pria yang sempat amat ia cintai.
“Andai hari itu Mandri gak meninggal pun, kita nggak bakal bisa bersama. Aku terlalu takut keluargaku tahu kalau aku hamil.” Sita meremas ujung hijab bagian depannya.
“Sekarang keluarga kamu tahu tentang Ara?” Ansar masih penasaran.
“Udah tahu, Ara diterima baik kok di keluarga besarku.” Sita jadi teringat orang tuanya yang sudah tiada.
“Emang biangnya sebenarnya bagus, hasilnya juga bagus. Mandri tuh turunan keluarga baik-baik. Nggak heran Ara jadi anak baik,” puji Ansar.
“Kecuali Mang Monde,” sergah Sita kemudian tertawa.
“Datang sekali-sekali ke makam Mandri. Dia pasti seneng lihat kamu udah berubah.” Ansar mengingatkan.
“Malu sama ibu dan bapak,” aku Sita membuat Ansar tertawa.
“Nggeus ngasaan anu anakna make kudu era, hasilna si Ara. Moal mungkin ngan sakali,” ledek Ansar. (Udah ngerasain milik anaknya kenapa harus malu, hasilnya Ara. Nggak mungkin cuma sekali)
“Biwir teu robah eh, Wak.” Sita mendengus kesal. (Mulut nggak berubah)
“Balik, ah. Bejakeun nya ka Mas Ar,” ucap Ansar seraya berdiri kemudian menghabiskan sisa kopinya. (Pulang ah, bilangin ya ke mas Ar)
“Ka mana, Wak?” teriak Aro yang baru saja datang. (Ke mana, Wak?)
“Balik, tunduh,” jawab Ansar seraya memakai jaket. (Pulang, ngantuk)
“Nuhun, Wak. Engke we padahal mah,” ucap Aro. (Makasih, Wak. Padahal nanti aja)
“Makasih ya, Wak.” Ara yang baru datang, tapi sudah mendengar pembicaraan ikut berkata. “Anterin ke depan,” bisiknya kemudian pada Aro, dan suaminya itu mengangguk lalu berjalan mengikuti Ansar yang mulai melangkah.
“Udah makannya?” tanya Sita pada Ara yang duduk di sebelahnya.
“Udah dong, Mas Ar sekarang makan terus, Mi. Dia dikit-dikit laper,” adu Ara membuat Sita tertawa.
“Nggak apa-apa, asal dijaga aja. Jangan kebanyakan makan nasi,” pesan Sita.
“Kisah cinta Mami sama ayah seru, Mi,” puji Ara. “Aku bangga jadi anak dari Siti Masitah dan Reamandri Wirasutisna,” lanjutnya seraya memeluk bahu Sita.
“Maafin Mami ya, Sayang. Kamu padahal harta yang paliiiing berharga,” ungkap Sita, terisak.
“Mami jangan kesel lagi ya ke ayah. Ayah sayang kita berdua, kita doain ayah sama-sama ya, Mi,” pinta Ara dan diangguki Sita.
***
Setelah semalam menginap di rumah Sita, Ara dan Aro memutuskan pulang. Sebelumnya, keduanya mampir terlebih dahulu ke rumah ayah dan bunda untuk setor cerita.
“Bunda jadi nyesel sempet marahin ayah kamu dulu,” sesal Bumi mengenang saat dirinya memarahi Mandri yang akan melakukan hal tak senonoh dengan seorang gadis waktu itu.
“Do’ain ayahku ya, Bunda,” pinta Ara dan tentu diangguki oleh Bumi.
Sebelum pulang, Aro menyempatkan diri ke kamar Ara untuk mengambil laptopnya. Saat hendak kembali ke luar, Ara terlebih dahulu masuk dengan segelas air putih di tangannya.
“Mas, belum minum nih. Sibuk terus ke laptop,” omel Ara seraya memberikan air dalam gelas itu pada suaminya.
“Mbak Davina minta aku buat cepet selesaikan naskah, Sayang. Jadi harus ngebut,” jelas Aro.
Ara tak menanggapi. Ia sedikit tak suka suaminya masih berkecimpung di dunia hiburan meski sebagai ghost writter. Menurut Atar, Aro sering kali begadang dengan segelas kopi hitam. Pria itu memangkas waktu istirahatnya demi menyelesaikan naskah yang diminta rekannya.
Gelas sudah tandas, Aro meletakannya pada nakas di samping tempat tidur.
“Ayok jalan sekarang, mampir ke toko bentar ya. Aku ada janji sama pelanggan,” beri tahu Aro namun Ara tak mengiyakan.
“Bentar.” Ara berjalan ke arah lemari dan mengambil sesuatu dari dalam sana.
__ADS_1
“Ini apa, Mas?” Ara menunjukan kain hitam, baju penyamaran Aro tempo hari.
Aro mengusap tengkuknya. Ia meringis malu sebab ketahuan. Dalam hati ia merutuki kebodohannya karena tak cepat melenyapkan pakaiannya itu.
“Mas, bisa-bisanya kamu ngerjain aku.” Ara melempar baju itu ke tempat tidur.
“Rindu bikin orang ngelakuin hal di luar akal sehat, Ra.” Aro berusaha membela diri.
“Ide yang nggak buruk. Lumayan juga bajunya bisa aku pakai. Aku mau coba,” ujar Ara seraya melepas peniti yang tersemat pada hijabnya.
“Jangan, Ra,” larang Aro, namun tak Ara hiraukan.
“Nyobain doang,” sela Ara kali ini menanggalkan gamisnya.
“Ara jangan!” cegah Aro namun tak didengar Ara.
Wanita itu berhasil melepas apa yang ia kenakan, sehingga menampilkan pemandangan indah yang selalu membuat Aro mabuk kepayang. Dada mo lek, nan penuh. Dihias kain hitam berenda.
“Kubilang jangan, kamu ngeyel.” Aro mendekat pada istrinya.
Ara kaget saat tangan suaminya tiba-tiba melingkar pada pinggang polosnya.
“Pake kasih aku pemandangan indah, jadi senjata makan tuan, ‘kan?” bisik Aro seraya menyusuri telinga Ara dengan hembusan napasnya.
Ya sudah, Ara bisa apa selain turut dalam buaian. Benar kata Aro, Ara terjerat senjatanya sendiri. Dia berniat menghakimi Aro, justru Aro yang mendapat kemenangan.
“Kita nginep lagi aja kalau kamu capek,” bisik Aro setelah berhasil menumbangkan Ara.
“Hhmm,” angguk Ara tanpa membuka matanya.
Tubuhnya lagi-lagi dibuat remuk, padahal setelah salat subuh tadi di rumah Sita ia juga dibuat tak berdaya saat sentuhan Aro terasa panas membakar tubuhnya.
“Mau mandi sekarang?” tawar Aro.
Ara hanya menggeleng, ia tidak bisa langsung waras bila selesai dibakar oleh suaminya itu.
“Aku tinggal, ya. Ke toko sebentar nanti balik lagi ke sini,” izin Aro berharap Ara mengiyakan.
“Jangan, nggak boleh. Mau nemuin Ayuni ‘kan?” tebak Ara.
Aro melipat bibirnya, bagaimana bisa istrinya tahu bahwa yang kembali memesan kaus adalah Ayuni?
“Kak Omar aja yang nemuin, sama aja ‘kan?” Ara bicara tanpa membuka mata dan tetap memeluk lengan suaminya. Dada mo lek itu hangat menyentuh lengan dan peinggang polos Aro.
“Aku telepon Omar dulu, boleh dong.” Aro merapikan rambut yang menempel pada dahi berpeluh istrinya itu.
Seperti biasa, teriakan Omar selalu membuat gendang telinga rasanya pecah.
“Omar ... Omar,” geleng Aro setelah mengakhiri pembicaraannya.
“Aku tetep harus ke toko, Sayang. Alka nungguin, bukan Ayuni yang datang.” Aro hati-hati sekali saat mengutarakan kalimatnya itu.
“Sebentar, janji. Nanti mau nitip jajan apa?” tawar Aro, bujukan maut.
“Itu penawaran, rayuan, atau bentuk kasih sayang?” sindir Ara, matanya tetap terpejam.
“Tuan putri menganggapnya apa?” bisik Aro membuat perut Ara rasanya dikelilingi kupu-kupu.
“Rayuan maut itu,” cibir Ara.
“Berarti boleh?” pinta Aro, berharap diiyakan.
“Ayuni tuh kalau pakai baju selalu seksi. Aku nggak mau suamiku lihat yang begituan.” Akhirnya Ara jujur kenapa tak suka suaminya berdekatan dengan Ayuni. “Walau pun dia baik.” Cepat-cepat Ara memuji Ayuni.
“Punyaku di rumah lebih seksi, lebih le git, lebih lembut, lebih ....”
“Stop!” Ara menempelkan telunjuknya di bibir Aro. Bibir yang penuh dan menawan.
“Ngaco, udah sana pergi sebelum tambah ngaco!” Ara melepas pelukannya kemudian membalikan badan dan menutupkan selimut hingga kepalanya, namun punggung putih dengan tanda merah beberapa biji malah terlihat dan membuat Aro tersenyum.
Entah apa yang ada dalam otak pria itu, senang sekali meninggalkan kenangan pada tubuh mu lus istrinya? Bisa-bisanya di punggung.
Aro pergi ke dapur dengan celana pendek selutut serta kaus putih. Bumi keheranan. Putra putrinya bilang akan pulang, namun lama sekali berdiam di kamar. Saat turun putranya malah berpakaian santai dengan rambut yang masih basah.
“Ara mana?” selidik Bumi dengan nada menginterogasi.
“Masih di kamar. Kita nginep lagi. Tapi, aku mau ke toko sebentar,” jelas Aro seraya berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil satu botol minuman berperisa orange dengan bulir utuh di dalamnya.
“Minta ya, Bun,” ucap Aro seraya membuka tutup botol kemudian duduk di salah satu kursi yang menghadap meja makan. Pria itu, rakus menenggak minumannya.
“Kayak abis lari aja sampe kehausan gitu,” komentar Bumi.
“Bogor makin ke sini makin bikin gerah,” sahut Aro kembali menenggak minumannya hingga tandas. Ara yang membuatnya gerah.
“Kalau sampe Asar belum turun, tolong bangunin istriku ya, Bun. Suruh makan,” pesan Aro seraya mengecup singkat dahi bundanya kemudian pergi.
__ADS_1
Di toko, Alka sudah menunggunya sedari satu jam yang lalu.
“Sampe abis kopi secangkir nih,” keluh Alka saat Aro meminta maaf karena datang terlambat.
“Dua cangkir juga gak masalah,” balas Aro.
Keduanya kemudian membicarakan tentang kaus pesanan Ayuni.
Deal dengan bahan dan harga, Alka pamit. Sial bagi Alka, Omar menahan kepergiannya dengan pertanyaan yang membuat Alka kembali duduk dan mulai bercerita.
“Ada kali empat tahun gue deket sama dia,” jawab Alka.
“Ayuni cewek baik, dia masih jadi duta anti narkoba nggak, Ar?” Omar melempar pandang pada Aro yang sedang membalas pesan Ara.
Ara memesan nasi goreng gila, dan pukis kesukaannya.
“Mana gue tahu, tanya ke Alka.” Nada sinis terdengar dari suara Aro membuat Omar melemparnya dengan kertas bekas bungkus permen karet.
“Si bang ke, kalau ngomong sama gue nggak ada manis-manisnya.”
“Masih, Mar. Masih,” dengan kekehnya Alka menjawab keingin tahuan Omar.
“Dan elo nggak takut?” tanya Omar membuat tawa Alka terhenti.
“Udahlah, Mar.” Aro beranjak mendekat pada Omar seraya menepuk paha sahabatnya itu.
“Jangan didengerin, Bro. Main cantik aja,” saran Aro membuat raut wajah Alka berubah tegang.
“Nyokapnya kayaknya gak suka ke elo,” lanjut Omar makin membuat Alka kehilangan muka.
“Tante Yusma tuh Deket banget sama Ayuni. Mungkin dia cuma ngejaga anaknya aja." Aro berusaha menengahi agar Alka dan Omar tak lanjut membicarakan Yusma. Ghibah.
"Dia matre," sela Omar.
"Jangan gitu, Mar. Setiap orang tua selalu ingin yang terbaik buat anaknya." Aro menepuk dada Omar.
"Gue ngerasa bukan orang baik," keluh Alka. "Kalian tahu, pas balik dari acara nikahan Aro kemarin gue sama dia jalan sampe ke Stasiun Bogor. Modal gue cuma dua kartu multi trip buat naek Commuter line yang bisa bikin kita sampe Depok." Alka mengenang kejadian beberapa hari lalu.
"Kalau elo yakin, usaha dong buat lebih baik. Minta sama Allah, Yang Maha Kaya." Aro bisa-bisanya bicara Tuhan pada Alka yang bahkan tak percaya akan adanya Tuhan.
Kalau Tuhan ada, kenapa keluarganya hancur dan lebur? Padahal ibunya rajin salat bahkan adiknya seorang muslimah sejati, tapi rusak oleh ayahnya sendiri. Di mana Tuhan? Itu isi benak Alka.
Alka pulang setelah merasa tak ada lagi yang harus dibicarakan.
Di rumah, Ara asyik membalas pesan dari suaminya. Sejak menikah, keduanya baru kali ini terpisah. Gila, tapi rindu sudah meluap saja rasanya.
"Ra, udah bangun belum?" tanya Bumi setelah menutup kembali pintu kamar.
"Bunda, udah." Ara dengan suara serak menjawab bundanya.
Wanita itu tak sadar bahwa belum mengenakan pakaian. Gamis, kerudung dan pakaian dalam miliknya berantakan di lantai. Bumi menghela napas. Ini kah yang dimaksud Aro dengan gerah?
Pandangan Bumi lagi-lagi disuguhkan dengan beberapa tanda kenangan dari Aro pada bahu dan dada putrinya. Ara tak sadar telah membuat selimut melorot hingga perut saat duduk.
"Bukannya cepetan mandi, ih," ledek Bumi membuat Ara tersadar seperti apa penampilan dirinya sekarang ini.
Ara cepat-cepat menaikan selimut hingga dagunya lagi. Sayang sekali, Bumi sudah melihat kenangan yang ditinggalkan putranya pada tubuh mu lus putrinya itu.
"Bunda nggak sabar pingin cucu yang banyak," goda Bumi.
"Bunda kayak mas ih, pengennya banyak anak." Ara masih bersembunyi di balik selimut.
Ara serba salah, bila beranjak ia takut Bumi melihat sesuatu di atas sprei. Biasanya meninggalkan bekas noda. Tadi pagi saja, Aro sampai melapisi seprai dengan kain sarungnya. Tak ingin membuat mami bertanya-tanya kenapa mencuci seprai di pagi hari?
"Kerasa sama Bunda punya anak empat, tapi kalau udah besar semua, rumah jadi sepi. Sedih," keluh Bumi.
"Insya Allah, nanti ada cucu yang bikin rame lagi," hibur Ara.
Azan Asar berkumandang, memangkas obrolan keduanya. Bumi pamit ke kamarnya dan Ara bisa bernapas lega sebab leluasa beranjak dari tempat tidur untuk mandi dan salat.
Lepas salat, Ara turun ke dapur dan mendapati suaminya baru saja datang. Ara tersihir oleh penampilan suaminya. Dia semakin tampan. Pakaian santainya justru membuat Ara betah memandanginya lama-lama.
Setelah memakan nasi goreng gila dan pukis, kedua sejoli itu kembali ke kamar. Aro mendapati pesan bertubi-tubi dari Davina, rekan menulisnya.
"Ra, aku besok boleh ke kantor Wisnu, nggak?" tanya Aro.
"Mau ngapain, Mas? kamu 'kan udah bukan artis lagi." Ara mulai terpantik api.
"Disuruh lihat artis yang mau casting," beri tahu Aro.
"Nggak boleh!" teriak Ara.
"Tapi, cuma sebentar, Ra," bujuk Aro.
"Aku nggak suka, aku nggak suka, aku eng-gak su-ka!" tegas Ara.
__ADS_1
Aro dibuat bimbang oleh istrinya itu, terlebih saat Ara menyuruhnya keluar kamar. Dia baru diizinkan masuk setelah bisa menolak untuk datang ke acara Wisnu itu. Berat.