Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Aku Bisa Apa?


__ADS_3

Jam kerja usai, Ara seperti biasa mengabsen barang-barangnya agar tak ada yang tertinggal. Ia sempatkan masuk ke ruangan Bidan Army dan setelah berbincang sebentar kemudian pamit.


Baru membuka pintu keluar, kehadiran seorang gadis dengan penampilan berantakan membuat langkahnya terhenti.


Gadis dengan tubuh sedikit lebih pendek darinya, mengenakan mini dress berwarna merah hati yang menampakan bahu dan dadanya. Rambutnya diikat berantakan. Tampak bekas air mata di kedua sudut netranya itu.


"Kak, udah tutup ya?" tanyanya dengan suara parau.


"Belum kok, ada apa ya?" Ara balik bertanya dengan penuh keheranan.


"Saya lagi hamil, tadi pagi mengalami pendarahan," jawabnya cepat.


Ara kemudian mengajak gadis yang ternyata sedang hamil itu ke ruangan Bidan Army. Dirinya sengaja tak jadi pulang, sebab tak enak kalau-kalau Bidan Army membutuhkan bantuannya.


Cukup lama perempuan itu diperiksa, saat keluar wajahnya sudah lebih segar. Terlihat dari rambutnya yang basah di bagian depan, mungkin dirinya habis membasuh wajahnya.


"Sudah, Kak?" tanya Ara ramah mendekat ke arahnya.


"Oh iya, namaku Ara," tambah Ara mengulurkan tangannya dan disambut oleh perempuan itu.


"Sanu Andini," sahut perempuan itu, "panggil Sanu aja," lanjutnya setelah jabatan tangan keduanya terurai.


"Baik-baik aja, 'kan?" tanya Ara membuat Sanu mengangguk.


"Alhamdullillah, aku duluan ya, Sanu," pamit Ara, namun Sanu mencegahnya.


"Ara, aku nggak tahu harus pulang ke mana?" keluh Sanu, tangannya mencekal lengan Ara.


"Loh, kenapa? rumah kamu di mana?" Ara balas mengusap punggung Sanu yang mulai terisak.


"Atau kamu mau ikut ke rumahku dan cerita di sana?" tawar Ara dan diangguki cepat oleh Sanu.


***


Di tempat dan waktu yang lain, Aro sedang berada di sebuah Mall. Lautan penonton yang rata-rata tentu saja para remaja putri membanjiri tempat itu. Aro nampak duduk berdampingan dengan Rea. Ada juga beberapa artis pendukung film yang baru akan mengadakan gala premier malam ini di salah satu Bioskop, di Mall tersebut.


"Selamat siang semuanya ...."


MC membuka acara dengan teriakan yang membuat para penonton kembali berteriak histeris.


Nama Aro berkali-kali diteriakan, sang Artis duduk dengan jumawa di kursinya. Senyumnya tak memudar sedikitpun. Sesekali melambaikan tangan pada para penonton. Mereka semua tentu tak mau kehilangan momen, kamera dari ponsel terus saja membidik.


"Ar nengok sini, Ar ...."


Maka Aro akan menengok ke arah sumber suara dengan gaya senyumnya yang tengil.


"Ar maju ke depan, Ar ...."


Sang MC memanggil Aro untuk beranjak dari duduk dan berdiri di bibir panggung.


"Assallamu'alaikum, teman-teman ...."


Penonton langsung riuh dan kembali meneriaki namanya, beberapa sampai ada yang menangis. Sesayang itu mereka pada Sang Artis yang tidak mereka ketahui sifat aslinya seperti apa.


"Terima kasih kalian semua udah hadir, jangan lupa mulai besok film terbaru saya sudah bisa kalian nikmati di seluruh Bioskop Tanah Air."


"Waah bukannya malam ini gala premier ya, Ar?" tanya Sang MC seolah mewakili pertanyaan penonton.


"Iya, bagi yang beruntung bisa ketemu kami di Studio 5 malam ini jam delapan," sahut Aro membuat penonton kembali riuh.


"Waah seru ya, dan nggak afdol dong Ar kalo lo nggak reka adegan. Nah temen-temen paling suka adegan yang mana nih pas lihat trilernya kemarin?" tanya Sang MC seraya mengarahkan mik pada lautan penonton itu.


"Adegan di Jogja ...."


"Adegan di kamar Dara...."

__ADS_1


"Adegan pas Chelsea dikasih bunga ...."


Teriak para penonton. Aro sebenarnya sudah sangat malas. Bayang-bayang wajah Ara berkelebatan di pikirannya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika salah satu adegan barusan diperagakan kembali. Lalu tersebar di media sosial dan Ara melihatnya.


"Waah ada yang minta adegan di kamar, Ar?" ucap Sang MC.


"Waaah kalau yang itu, tunggu di filmnya aja ya," elak Aro mengalihkan perhatin.


Penonton berhuh riuh, kecewa karena Aro menolak adegan keramat yang sangat membuat mereka penasaran.


"Waah nggak afdol juga nih kalo Rea sama Jingga nggak kita undang ke depan juga ya?" celoteh Sang MC membuat tangan Aro mengepal.


Malas ia harus berdekatan dengan dua lawan mainnga yang selalu berusaha mendekatinya itu. Namun, sayang Aro harus profesional. Saat Jingga dan Rea maju dan mengapit dirinya penonton tambah riuh.


"Jadi siapa nih yang team Angga dan Dara?" tanya MC menyebutkan nama tokoh yang Aro perankan. Sementara Dara berarti adalah Jingga.


Penonton sebelah kiri bersorak riu seraya memanggil nama keduanya


"Angga, Dara!"


"Angga, Dara!"


Hal tersebut otomatis membuat Jingga dan Aro tersenyum seraya mengangguk dan melambaikan tangan.


"Siapa yang tim Angga dan Chelsea?" kembali sang MC bertanya membuat penonton sebelah kanan dengan tepuk tangan dan riuh yang lebih ramai meneriaki nama keduanya.


"Angga, Chelsea!"


"Angga, Chelsea!"


Rea tentu tersenyum, merasa di atas angin sebab tepuk tangan untuk dirinya dan Aro lebih banyak dari tepuk tangan untuk Jingga.


"Tetap ya lebih memilih Angga dan cinta pertamanya balik?" tanya Sang MC lagi membuat para penonton serentak menjawab 'iya'.


"Waaah nggak boleh spoiler dong, tonton aja ya kisah kami di seluruh bioskop kesayangan kalian," jawab Rea membuat penonton kembali riuh.


"Dan untuk Jingga, susah nggak sih saat adegan di kamar itu. Secara kan pas ditriler itu keliatan kalian nyata banget. Take berapa kali tuh?" tanya Sang MC membuat Jingga bersemu merah sedangkan Aro merasa sangat kesal dengan pertanyaan MC tersebut.


"Susah susah gampang sih, Kak. Ya kan, Ar," Jingga mengerling pada Aro dan hanya dibalas Aro dengan anggukan.


"Berapa kali take tuh?" tanya Sang MC, merasa tak puas dengan jawaban Jingga, dia mengarahkan pertanyaan pada Aro.


"Tiga kali doang, sih. Gue orangnya profesional, Man. Walaupun gue nggak suka sama lawan main gue, gue tetep harus berlagak seolah-olah gue cinta dan emang pengen ke do'i," jawab Aro, melirik malas pada Jingga.


Terlihat di tempatnya, Rea justru tersenyum mengejek Jingga. Ia bahkan tertawa tanpa suara dengan menutup bibirnya.


"Waah kalau sama Rea gimana?" tanua MC yang menyadari suasan sudah mulai panas.


"Biasa aja kok," sahut Aro cepat.


Kali ini Jingga yang tertawa meledek untuk Rea. Membuat Rea melongo, ia pikir Aro akan memberikan kesan lain terhadapnya.


"Gue kira akan ada benih-benih cinta kembali," ujar MC.


"Kagak, Gue udah punya calon istri, Man!" sanggah Aro seraya meninju bahu MC dengan santai.


"Waaah, alamat patah hati berjama'ah ini Ar!" teriak MC membuat penonton juga kembali riuh, mereka kecewa dengan jawaban Aro.


"Abis gimana, calon istri gue cantik. Fix no debat, deh. Sayang banget gue sama dia," aku Aro, sengaja penuh penekanan agar dua gadis yang selalu menggodanya tahu diri.


Acara kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab dan games yang seru. Tentu saja hal itu semaki. membuat para fans garis keras Aro bahagia. Beberapa orang di antara mereka dapat kesempatan bersalaman, berfoto bahkan memeluk Aro. Acara terus berlangsung hingga sore, kemudian para bintang itu undur diri karena akan mempersiapkan diri untuk acara gala premier nanti malam.


***


Saat sampai di rumah, Ara mengajak Sanu untuk makan. Sanu menolak, dirinya mengatakan masih kenyang. Setelah mengenalkan Sanu pada Vanya dan Fadan, Ara mengajak perempuan yang sedang hamil 5 bulan itu ke ruang tengah.

__ADS_1


"Aku mulai dari mana ceritanya," ujar Sanu dengan nada kecewa.


"Pelan-pelan aja," saran Ara.


"Aku hamil dan pacarku nggak mau tanggung jawab, Kak," jelas Sanu membuat Ara membulatkan matanya.


"Loh, jadi kamu belum nikah?" tebak Aea dan diangguki Sanu.


Kemudian Sanu mulai merangkai patahan kisahnya. Sanu sebenarnya tak tinggal di Bogor. Ia tinggal di Jakarta. Dirinya merupakan salah satu Mahasiswi semester tiga di salah satu Universitas yang ada di kawasan Kebon Jeruk.


Sanu memiliki pacar yang usianya lebih tua darinya. Laki-laki itu meninggalkan Sanu saat tahu bahwa Sanu tengah mengandung anaknya.


Karena merasa malu, maka keluarga Sanu mengirimkan dirinya ke Bogor -kediaman nenek Sanu-. Sudah dua minggu Sanu tinggal di kawasan yang tak jauh dari klinik.


"Aku di rumah nenek dimarahin terus, Kak," adu Sanu.


Ara mengiba, ia jadi ingat kisah dirinya sendiri. Saat ini Sanu pasti sangat merasa putus asa dan kesepian. Ara mengusap punggung Sanu, ia berikan ketenangan padanya.


"Kalau Sanu mau, boleh tinggal di sini. Tapi, kita harus berbagi kamar," tawar Ara membuat Sanu mengangguk tanpa berpikir panjang.


"Heii, tunggu! jangan lari!" teriakan Fadan yang sedang menggendong kucing yang tempo hari Ara temukan mengalihkan perhatian Ara dan Sanu.


"Kenapa, Dan?" tanya Ara


"Itu, Teh. Anaknya Jimbon lepas dari kandang," beri tahu Fadan.


Sanu beranjak dari duduknya, ia mendekat ke arah kucing yang sedang digendong oleh Fadan.


"Hamham ...."


"Hamham?" tanya Ara.


"Kak ini kucingku, namanya Hamham. Kakak ketemu di mana?" tanya Sanu pada Ara.


"Aku nemu di depan klinik," jelas Ara.


Sanu mengambil kucing yang bernama Hamham itu. Ia jelas mengenali Hamham, terlebih saat melihat kalung dan inisial yang ada pada leher kucing tersebut.


"Alhamdullillah kalau memang kucing kamu, aku bisa tambah semangat ngerawatnya."


Sanu tentu mengangguk. Sakit hati terhadap pacarnya menguap sebab bisa kembali melihat kehadiran kucing kesayangannya. Meski, kucing itu adalah pemberian dari sang Mantan pacar.


***


Acara gala premier berlangsung sukses. Aro bisa bernafas lega karena satu rangkaian acara dapat terselesaikan. Ia berharap promonya di kota Bandung di cukupkan saja. Ia beralasan tak bisa menghadiri pertemuan selanjutnya sebab ada urusan keluarga.


Sebelum pemutaran filmnya dimulai, ia sempatkan menghubungi Ara dan menyuruh Ara untuk menginap di rumah bundanya sebab bunda sedang sakit. Namun, saat Ara tiba di sana, bundanya sehat-sehat saja.


Ara tentu jengkel dikerjai oleh Aro, tapi untuk kembali pulang, ia juga malas.


Sanu sudah ia titipkan pada Vanya, maminya itu juga tidak keberatan saat Ara meminta izin menginap di rumah Bumi. Jadilah malam itu Ara tidur di kamarnya, rasa rindu pada kamarnya terobati.


Tepat pukul 04.00 Ara sudah bangun, seperti biasa ia langsung membersihkan diri dan salat tahajud. Tidurnya semalam sangat nyenyak, nyaris telat bila tak merasa kedinginan.


Ara keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar, meski hawa dingin menyergap. Ara memperhatikan sesuatu yang bergerak-gerak di atas tempat tidurnya. Seperti ada seseorang yang berbaring di sana.


Ia mendekat ke arah tempat tidur, menyingkap selimut dan terperanjat saat melihat sosok siapa yang sedang berbaring di sana.


"Assalamualaikum, calon makmum," dengan seringai jahil Aro mengerlingkan mata.


"Mas, kok udah pulang?" tanya Ara keheranan.


"Menahan rindu itu pilu, Ra. Aku bisa apa selain segera menemuimu? Ara, menikahlah denganku!" seru Aro membuat Ara bersemu.


Cara kamu membuatku jatuh hati selalu beda, Mas. Aku bisa apa selain berkata, aku mau?

__ADS_1


__ADS_2