Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Calon Suami


__ADS_3

Andai matamu dapat kubaca seperti sebuah novel. Andai ujarmu dapat kurasa seperti sepotong kue. Andai dirimu tahu tanpa aku beritahu. Ah, hanya andai dan jika andai.


***


Suasana gaduh menjadi hening ketika kedua calon pengantin itu datang. Melihat wajah putranya yang sedikit cerah, Rain yakin Ara sudah dapat mengambil hati Sakaf.


"Bun, matiin tivinya deh, Bun," pinta Aro. "Aku nggak mau si Upil lihat, nanti dia godain aku," imbuhnya seraya memohon pada Bumi. Aro Mengatupkan kedua tangan di depan dadanya membuat Bumi tersenyum puas.


Bumi menurut, ia mematikan televisi karena merasa tak enak juga dengan Sakaf yang sepertinya tidak terlalu suka bergurau.


"Bun, pulang yuk!" ajak Sakaf pada Rain seraya duduk di sebelahnya.


"Eeh kok pulang? kita 'kan belum nentuin tanggal pernikahan kalian," sanggah Rain seraya merapikan rambut Sakaf yang sebenarnya sudah rapi. Rain sedari dulu memang sangat suka mengusap surai lembut nan hitam itu.


"Bisa nanti 'kan, Bun?" tawar Sakaf membuat Rain menganguk, tak dapat menyanggahnya.


Ragga beserta keluarganya akhirnya berpamitan. Bumi tentu memberikan beberapa makanan kering sebab Ainun senang sekali dengan suguhan makanan kering yang ia hidangkan tadi.


Ara beserta orang tuanya menyempatkan diri mengantar tamunya hingga ke depan kafe. Rain memeluk hangat Ara membisikkan sesuatu yang membuat mata Ara berkaca-kaca.


Setelah orang tua dan adiknya naik ke dalam mobil, Sakaf malah mendekati Ara yang masih berdiri menunggu mereka pergi. Sementara itu Bumi dan Akash memilih masuk ke dalam terlebih dulu. Mereka tidak ingin mengganggu Sakaf yang sepertinya ingin menyampaikan suatu hal pada Ara.


"Mana hape kamu?" tanya Sakaf seraya menengadahkan tangan kanannya.


Ara mengerutkan kening dalam seraya reflek memegangi saku yang ada di pinggir gamis tempat ia menaruh ponselnya.


"Mana hape kamu?" ulang Sakaf membuat Ara mendengus kesal.


Dengan gerakkan lamban Ara merogoh ponselnya seraya menyerahkannya pada Sakaf. Sakaf tak serta merta menerimanya, ia malah mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.


"Saya nggak tahu passcode atau apalah untuk membuka hape kamu," ujarnya.


Lagi-lagi Ara berdecak sebal, memutar bola mata sebab jengah dengan sikap kaku pria di hadapannya itu. Sayang beribu sayang, dia adalah calon suaminya.


Ara membuka screen lock pada ponselnya, setelah aktif ia memberikannya pada Sakaf, namun Sakaf tetao tak mengambilnya.


"Apa lagi?" geram Ara seraya memukulkan ponsel pada keningnya.

__ADS_1


"Buka WhatsAppnya, saya bingung kalau buka ponsel wanita, gambarnya warna warni macam pelangi."


Ara ingin terbahak mendengar ocehan Sakaf, ia sampai menutup mulut menyembunyikan tawa yang sebenarnya sangat ingin ia pecahkan. Jari mungilnya mulai menyentuh layar ponsel dan memilih aplikasi hijau itu.


"Nih, tahu aja kalau ponselku warna-warni. Jangan-jangan Kakak titisan Mama Loreng, ya?" seloroh Ara membuat Sakaf menggeleng tak mengerti seraya mengambil ponsel dari tangan Ara.


Di atas layar ia mengetikkan sesuatu pada kontak Ara. Setelah selesai ia mengamatinya sebentar, namun kemudian kembali menghapusnya. Keningnya mengerut, kembali menghapus. Tak lama bibirnya mengulas senyum dan menyerahkan ponsel pada pemiliknya.


"Di kontak kamu sekarang sudah ada nama saya, besok jangan lupa hubungi saya!" seru Sakaf membuat Bumi mengerenyitkan dahi.


"Kontaknya dikasih nama apa?" tanya Ara curiga jika Sakaf menamai kontaknya dengan nama aneh.


"Calon Suamiku," jawab Sakaf tanpa ekspresi seraya berlalu dan naik ke dalam mobil, tentu saja ia duduk di kursi kemudi. Ara masih mematung demi mendengar jawaban Sakaf. Bukan tak terima dengan apa yang dilakukan Sakaf, hanya saja hatinya sedang tak ingin diajak bercanda apalagi bermain-main.


Hingga Sakaf benar-benar melajukan mobilnya, Ara masih saja tetap mematung. Ia masih tak bisa sepenuhnya ikhlas, hanya sedang berusaha menerima dengan sebaik-baiknya.


Lamuan Ara dikagetkan oleh hujan yang turun secara tiba-tiba. Ia segera lari ke dalam kafe. Menyempatkan menyapa beberapa karyawan yang ia jumpai.


"Mau tutup ya, Wak?" tanyanya pada Lina.


"Iya, udah sana, Neng nggak usah ikut-ikutan," cegah Lina saat Ara membantunya merapikan piring dan helas kotor di meja tamu.


Ara berlari-lari kecil menuju rumah utama, lagi-lagi seraya bersenandung dan masih dengan lagu yang sama.


Sadarkah kau ku adalah wanita


Aku tak mungkin memulai


Ara mendapati Bumi masih berada di dapur, seperti baru saja mencuci piring. Bundanya itu memang sangat rapi, tak ingin rumahnya berantakan sedikit. Ara mendekati Bumi sebelum naik ke kamarnya yang berada di lantai atas.


"Bunda lagi apa?" tanyanya seraya melingkarkan tangan di pinggang Bumi.


"Tadi habis cuci piring," jawab Bumi mengusap lengan Ara yang memeluknya dari belakang. "Sekarang mau tidur, udah malem," imbuhnya seraya memutar tubuh agar berhadapan dengan Ara.


"Tadi Bunda Rain bisik-bisik apa sih?" selidik Bumi tangannya terangkat mengelap wajah Ara yang sedikit basah terkena air hujan.


"Cuma bilang katanya Bunda Rain sayang sama aku, bilangnya gini 'Bunda sayang sama Ara, semoga Ara dan Kakak bisa saling mencintai' gitu katanya, Bun."

__ADS_1


"Kamu yakin bisa berdampingan dengan Sakaf?" tanya Bumi membuat Ara menganguk.


"Yakin bisa bahagia sama dia?" desak Bumi.


"Bukannya Bunda sendiri yang selalu ngajarin aku kalau kebahagiaan itu kita sendiri yang menciptakannya?" Ara balik bertanya.


"Cintai apa yang kamu punya dan jangan pernah membandingkannya dengan milik orang lain, sebab setiap manusia itu sejatinya adalah istimewa. Tinggal bagaimna cara mensyukurinya," imbuh Ara mengulang kalimat yang selalu diucapkan Bumi padanya.


"Semakin kita bersyukur maka semakin bahagia, 'kan, Bun?"


Bumi menangkup kedua pipi Ara. Menyatukan keningnya dan kening Ara seraya memejamkan mata. Haru menumpuk dalam dadanya. Memiliki putri sebaik Ara adalah nikmat tiada tara.


"Kenapa kamu baik banget, sih Sayang? Bunda Sayaaaaang banget sama Salasika Arabella. Jangan jauh-jauh dari Bunda," ujar Bumi membuat Ara meluruhkan air mata.


"Aku juga sayang Bunda," jawab Ara lirih seraya memeluk dan menenggelamkan wajahnya di pundak Bumi. Tinggi badan Ara kini bahkan melebihi tinggi badan Bumi.


Keduanya berpelukan dengan tangis yang saling bersahutan. Bumi semakin mengeratkan pelukkannya, ia merasa sangat berat sebab akan melepas anak gadis satu-satunya untuk dipinang orang. Ia harus berbagi dengan Rain dan juga Sakaf. Ada rasa tidak rela dalam dirinya. Bila boleh egois, ia hanya ingin Ara tetap bersamanya. Tidak pergi, tidak menjauh, dan tidak hilang dari pandangnya.


Ara melerai pelukkannua sebab ponselnya bergetar, panggilan masuk dari Vanya saat Ara melihat nama pada layar ponselnya. Ara enggan menjawab, ia tak ingin Vanya tahu bahwa dirinya sedang menangis.


"Kenapa nggak diangkat?" tanya Bumi mengusap air mata Ara, padahal air matanya saja masih menggenang dan mengaanak sungai di pipinya.


"Lagi nangis, Bun. Nanti Mami suka banyak tanya," jawab Ara kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku gamisnya. Ara sebenarnya kecewa sebab hari ini Vanya tak ikut hadir dikarenakan sedang ada acara keluarga di Ibu Kota.


"Bukan lagi ngambek karena mami nggak hadir, 'kan?" tebak Bumi.


"Enggak, Bun. Ara nanti telepon balik ke mami," sahut Ara membuat Bumi mengangguk tenang.


Setelah mengobrol sedikit tentang pekerjaan Ara hari ini, Bumi menyuruh anak gadisnya itu segera tidur. Awalnya Ara menolak, dan beralasan belum mengantuk, tapi Bumi tetap memaksanya. Sampai akhirnya Bumi sendiri yang mengantarkannya ke kamar. Menunggui Ara membersihkan badan hingga menjalankan salat witir bersama sebelum beranjak tidur. Setelah memastikan Ara tidur, Bumi baru meninggalkan kamar anak gadisnya itu. Ia sempatkan mengecup kening Ara yang sudah terlelap sebelum meninggalkan kamarnya.


***


Salat witir adalah salat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari antara setelah waktu isya dan sebelum waktu salat subuh dengan rakaat ganjil.


Sumber : Wikipedia


Senandung lirih yang Ara dendangkan adalah lagu milik Vierratale yang berjudul terlalu lama.

__ADS_1


.


. Like dan komen masih selalu setia ditunggu. Do'akan hari ini lancar bisa up banyak. Sayang kalian semua


__ADS_2