Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Misi-misi Kisi-kisi


__ADS_3

Kini mereka semua -Ara, Aro, Fadan, Atar, Akhza- sudah berada di ruang tamu sempit kontrakan Alka Handaru. Pria yang sedang digosipkan jadi lelaki pemicu pertengkaran antara artis cantik Ayuni dan ibu kandungnya.


“Dia itu cuma numpang hidup ke anak saya.”


Suara lantang nan angkuh Yusma, menghiasi layar kaca di berbagai acara gosip. Hot news, Ayuni melawan restu sang bunda demi lelaki tak jelas asal usulnya.


Bagaimana perasaan Alka? Sakit. Terhinakan. Hancur.


Atau dengan judul artikel lain.


Ayuni, si artis cantik nan seksi melawan sang bunda demi lelaki yang hanya seorang vokalis band indie.


Ada lagi yang paling menyakitkan Alka.


Ayuni diketahui membawa adik Alka yang seorang PSK ke rumah sakit untuk periksa kandungan.


Entah dari mana datangnya gosip-gosip itu. Yang pasti, ada Yusma yang tertawa bahagia di balik berita menyakitkan Alka itu.


Satu-satunya yang paling membuat Alka merasa beruntung adalah, keluarga mereka tidak memiliki televisi. Hingga, ibu dan adiknya tak harus mengetahui gosip-gosip yang menyudutkan dirinya itu.


“Di mana ibunya, Kak?” tanya Ara memecah hening yang sedari tadi tercipta.


“Di kamar,” jawab Alka singkat.


Sementara itu, ada dua bocah -Atar dan Fadan- saling sikut sebab merasa kehausan. Di gang tadi mereka berdua melihat show case yang menampilkan sederet minuman dingin.


“Elo yang bilang,” bisik Atar.


“Kakak aja,” balas Fadan.


Atar mendengus. Setelah perdebatan alot seputar nama panggilannya, antara akang, aa, atau kakak. Si jangkis (jangkung ipis) itu, tak mau dipanggil dengan ketiga sebutan yang ditawarkan oleh bunda.


“Aku mau dipanggil Abang,” sahut Atar yang memiliki kulit lebih gelap dibanding Aro mau pun Akhza.


Warisan dari Uti Ayas, mungkin. Atau Papa Laut. Bisa jadi dari bundanya sendiri.


“Abang udah terlalu banyak,” sanggah bunda saat itu.


Sementara ayahnya hanya memandang sekilas perdebatan putra bungsu dan istri tercintanya. Bukan tak peduli, hanya memang seperti itu sikapnya. Definisi Batu yang diberi nyawa.


Dan masih jadi misteri kenapa si rambut ikal itu ingin disebut Abang. Sepertinya hanya Fadan yang tahu.


“Kakak yang bilang, atau mau aku bocorin alasan kenapa pengen dipanggil Abang?” ancam Fadan.


Bagus Fadan, jangan mau terus-menerus ditekan Atar. Si maniak ML.


“Gue nggak ajak lu party-an lagi!” balas Atar.


“Enggak penting! Aku sibuk mau masuk SMP favorit biar Mas Ar bangga,” sanggah Fadan membuat Atar memukul pahanya.


Kelakuan keduanya menarik perhatian Aro. Ia yang sedari tadi sudah cukup tahan untuk tak sekedar memukul kepala Atar, mulai habis kesabaran.


Pukulan di kepala belakang yang dilakukan Aro pada Atar membuat adik lelakinya itu mengaduh dan bersungut.


“Mas, bunuh aja Mas bunuh!”


“Berisik!” bentak Aro.


“Dan, kalian ngomongin apa sih?” tanya Aro, lebih lembut memandang Fadan.


“Abang Atar pengen beli minuman katanya, Mas,” sahut Fadan menekan kata abang pada kalimatnya, membuat Ara tertawa.


Selain Fadan, Ara menjadi orang kedua kenapa Atar ingin sekali disebut Abang?


“Elo juga ‘kan?” Atar menyiku perut Fadan.


“Kita berdua,” ralat Fadan tersenyum simpul.


“Yaudah, sana beli!” Ara mengambil dompet dari Sling bag-nya


“Jangan jauh-jauh,” pesan Ara seraya memberikan dua lembar uang merah pada Atar.


“Kebanyakan, Sayang,” komentar Aro.


“Pelit banget sih, Bos!” sindir Atar cepat-cepat memasukkan dua lembar merah itu ke dalam celana jeans-nya


Khawatir diambil lagi oleh Aro. Pria itu raja tega.


“Udah, pergi sana!” titah Akhza.


Kepalanya pusing jika adik-adiknya sudah bertengkar. Tak penting, buat kepalanya pening.


“Ayo, Dan!” Atar beranjak.


“Sebelum uangnya diambil lagi sama si Bos pelit,” seloroh Atar berlari.


“Duluan ya semua,” pamit Fadan.


Dibanding Atar yang sering membuat kakaknya pening dengan tingkah ajaibnya, Fadan selalu bisa menjadi penawarnya.


“Maaf ya, Kak. Adik kita tuh selalu ajaib,” lontar Ara pada Alka yang menggurat bingung di wajahnya.


Mungkin Alka sedang berada di fase badan di sini tapi hati di sana.


“Boleh lihat ibunya?” pinta Ara membuat Alka mengangguk dan beranjak.


“Satu orang dulu aja,” ucap Alka


“Elo duluan, Bang,” saran Aro menahan lengan Ara yang hendak beranjak.


Akhza hanya mengangguk pelan seraya berdiri dan mulai berjalan mengekori Alka menuju kamar.


Miris.


Akhza menatap sekeliling ruangan yang lebih mirip, maaf, gudang mungkin. Tempat tidur jaman dulu yang terbuat dari kayu dengan kasur kapuk lepek. Pasti sangat keras, tak senyaman kasur miliknya di rumah.

__ADS_1


Lemari reyot yang kacanya sudah diganti menggunakan triplek. Oh, sesusah itu hidup mereka? Batin Akhza.


Dan, gadis manis yang beberapa waktu lalu datang ke rumah sakit tempatnya bertugas. Azla, atau Asla, atau Sala, atau Tala? Tunggu, kenapa Tala? Kenapa harus jadi Tala yang ada di otaknya?


“Baru tidur, aku sampe kewalahan nenanginnya.” Azla menerangkan kondisi ibunya.


“Sejak kapan?” tanya Akhza seraya duduk di tepi ranjang.


Hello!


Bukan seperti itu kosa katanya. Apa perlu diajarkan Akhza?


Sejak kapan ibu kalian sakit? Selama ini diobati ke mana? Bagaimana kondisi terakhir menurut dokter yang menangani?


Sayang, hanya sayangnya.


Akhza tetaplah Akhza. Beruntung yang menghadapinya cukup mengerti apa yang sedang diutarakan oleh pria pemilik hidung Bangir itu.


“Setahun terakhir. Sedang rawat jalan ke Marzuki Mahdi.” Azla menerangkan.


Akhza menautkan alis. Ia melipat bibirnya ke dalam. Marzuki itu adanya di Bogor. Bukannya jauh?


“Kami terlanjur nyaman bawa ibu berobat ke sana,” lontar Azla seolah tahu apa yang tersirat dalam benak Akhza.


Pria itu tak menjawab. Hanya menatap sekilas Azla. Azla belum pernah ditatap oleh seseorang dengan sorot seperti itu. Tak ramah, namun teduh. Apa ini Azla? Dua kali mereka bertemu. Akhza tak banyak bicara, namun diamnya menjelaskan banyak makna.


“Saya antar ke Marzuki, saya bukan ahli di bidang ini. Saya antar saja.” Akhza beranjak membuat suara decitan pada tempat tidur yang mengakibatkan ibu Alka menggeliat dan bangun.


Azla cepat menyambutnya, gadis berhijab putih itu tersenyum hangat ke arah ibunya.


“Kita jalan-jalan ya, Bu?” ajak Azla.


“Lihat mobil besar, atau jajan bakso?” bujuk Azla.


“Lala ikut sama ibu. Kita dianter sama, itu,” tunjuk Azla pada Akhza yang tengah berdiri.


Kedua bibir Akhza terangkat, melengkungkan senyum hangat. Senyum yang membuat ibu Alka mengangguk.


“Iya, mau,” angguk ibu Alka malu-malu.


“Saya tunggu di luar,” ujar Akhza seraya pamit pada Azla dan Alka.


“Abang tunggu di luar juga.” Alka mendekat pada ibunya.


“Dandan yang cantik, kan mau bertemu dokter baik,” bisik Alka seraya penuh sayang mengecup kening ibunya.


“Dokter tampan,” tambah ibu Alka dan diangguki oleh pria itu.


“Siap-siap, Dek. Jangan bikin Bang Za nunggu lama!” titah Alka pada adiknya.


“Iya, Lala ngerti,” sahut Azla singkat.


Di ruang tamu, Aro sibuk sendiri berbalas pesan dengan seseorang. Dia tak sadar, istrinya yang tengah hamil dengan mood naik turun itu sedang bersungut-sungut dalam hati.


Chatting sama siapa coba? Sampe serius gitu?


“Ke mana Mas Ar?” tanya dari Akhza membuat Ara yang hendak beranjak menyusul Aro, urung.


“Ke luar,” jawab Ara singkat dengan air muka tak enak dilihat.


"Kenapa tuh muka?" tanya Akhza menunjuk dengan dagu wajah cantik Ara.


"Mukaku cantik," sahut Ara ketus membuat Akhza tertawa dan mengiyakan dalam hati.


Yeah, tentu saja cantik. Sangat cantik.


Alka menyusul kembali duduk bersama Ara dan Akhza. Bersamaan dengan itu, Aro kembali dari luar. Baru saja duduk di samping istrinya, ponselnya kembali berdering.


Panggilan masuk dari Atar. Beruntung Atar, jika panggilan dari orang sebelumnya sudah pasti Aro harus kembali ke luar.


"Apa lagi?" sentak Aro.


"Gue sama Fadan mau ke Kotu. Kita balik berdua aja," jawab Atar di seberang sana.


"Wassalamu'alaikum." Aro memutus panggilan adiknya itu, dengan kata lain Aro mengizinkan mereka berdua ke Kotu.


"Haus nggak?" Aro sadar sudah mendiamkan Ara terlalu lama.


"Enggak, aku puasa!" sahut Ara.


Puasa? Tadi bukannya minum jus strawberry?


Mampus, Ar. Istri lo marah. Dan, akan lebih marah setelah ini.


"Gimana, Bang?" tanya Aro memandang Akhza yang sedang bermain ponsel. Membalas pesan seseorang.


"Gue enggak bisa periksa. Bukan bidang gue. Gue anter aja ke Marzuki," jelas Akhza.


"Oh ya, gue pinjem mobil elo dulu. Elo pake motor nggak apa-apa 'kan?" pinta Akhza, berharap Aro mengiyakan.


Awas! Sampe elo nolak, gue abisin!


"Oke," jawab Aro singkat namun mampu menerbitkan senyum di bibir Akhza.


"Ra, kamu ikut abang anter ibunya Alka," cetus Aro membuat Ara menggeleng.


"Ayok, Bang!" ajak Azla yang baru keluar dari kamar dengan berjalan bergandengan bersama ibu Alka.


Wanita itu menunduk, malu. Memakai gamis berwarna krem dengan hijab syar'i berwarna maroon. Jemarinya saling bertautan, dengan kepala sesekali menggeleng ke kanan dan kiri.


Akhza beranjak, dia memandang ke arah Alka. "Elo ikut?" tanya Akhza.


"Enggak, dia ada urusan sama gue," potong Aro sebelum sempat Alka menjawab.


"Mas, aku maunya sama kamu," rengek Ara.

__ADS_1


"Bang, ajak duluan mereka ke mobil!" titah Aro pada Akhza.


Pria itu menurut, tentu Aro harus membujuk Ara yang sedang menjelma menjadi manja dan menyebalkan.


Aro menyerahkan kontak mobilnya pada Akhza, dengan gerakan mata ia menyuruh Akhza cepat pergi.


"Ayok ... La ...!" Akhza mencoba akrab pada Azla. Membiarkan Azla dan ibunya nyaman bersamanya, itu tujuannya.


"Gue anter ibu dulu, Ar," pamit Alka dan segera ikut membimbing ibunya menuju mobil.


Tentu sikap Alka hanya untuk memberi ruang pada Aro dan istrinya.


"Aku nggak mau pergi kalo nggak sama kamu, Mas," rengek Ara.


"Kamu bisa jadi temen buat adiknya Alka. Kamu nggak kasihan ke ibunya?"


Aro dan Ara tak perlu bertanya derita sakit yang dialami ibu Alka. Selain menjaga perasaan Alka, sekilas saja mereka bisa simpulkan tentang penyakit wanita itu.


"Mas biasanya nggak suka aku deket-deket sama abang," sela Ara memberengut kesal.


"'Kan nggak berdua. Ada adik dan ibunya Alka, Sayang," bujuk Aro.


Ia harus cepat membuat istrinya pergi, padahal tentu saja hatinya sedikit tak rela membiarkan Ara bersama abangnya. Cemburu? Bukan seperti itu, hanya waspada. Ayolah! Setan tak pernah berhenti menggoda manusia.


"Mas mau ke mana?" tanya Ara.


"Aku mau ajak Alka ke outlet. Dia mau aku kasih kerjaan. Kamu ngerti? nurut ya, Sayang!" sahut Aro sekilas menyentuhkan wajahnya pada wajah istrinya.


Tak lama, meski inginnya lama. Aro menyapu basah pada bibir istrinya yang sungguh masih ia inginkan, namun ada hal lain yang harus cepat ia selesaikan.


Tunggu, mungkin nanti malam bisa.


"Bukan mau aneh-aneh 'kan?" tuding Ara, suaranya serak.


"Aneh-aneh apa sih, hah?" Aro menusuk pipi istrinya.


Oke, ini harus dua-duanya dibujuk.


Aro membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya pada perut buncit Ara.


"Dede sama Bubu perginya sama ... Uwak hahaha ... ok, ok. Papa pergi ke tempat lain Dede sama Bubu jalankan misi menolong nenek tadi, ok?"


"Ok, dong anak Papa. Dede jagain bubu. Kelitikin perutnya Bubu biar senyum."


Ara tentu melulum senyum, ia paling suka bila suaminya itu mengajak calon anak mereka bicara. Selalu lucu dan ada-ada saja.


"Tuh, dede aja mau. Masa Bubunya mau kalah sama dede. Malu dong."


Oh Ara, ini bujuk rayu si pendekar api.


"Ya udah, aku pergi sama abang."


Wush! Angin surga. Aro mengecup kening kemudian perut Ara bergantian.


Keduanya ke luar bersamaan. Ara naik ke mobil. Ia duduk di kursi depan. Baiklah, kali ini Aro mengesampingkan cemburunya. Silahkan saja, Ara sudah menjadi miliknya.


Setelah mobil yang dikemudikan Akhza pergi, barulah Aro mengajak Alka bicara.


"Gue mau ketemu Apeng, atau Julus sekalian. Tapi, gue mau ajak Wa Ansar sama kakeknya Ara. Mereka otewe ke sini."


"Wa Ansar?" Alka seperti mengingat nama itu.


"Tunggu, Wa Ansar itu mantan preman?" tebak Alka.


"Cakep! terkenal juga ya dia," seloroh Aro.


"Gue yakin Apeng bisa tunduk sama Wa Ansar. Nama Wa Ansar sama ...."


"Kang Monde!" pekik Aro.


"Iya, Kang Monde itu di Sukabumi juga terkenal. Bahkan, namanya jadi kenangan di sekolah gue dulu," papar Alka berapi-api.


"An jay, elo emang dasarnya udah bau-bau cadas. Megang apa lo?" seloroh Aro meninju bahu Alka.


"Rante motor, kagak modal beut dah hahaha." Alka tertawa, ada sedikit bahagia pada nada bicaranya.


Berbagi kisah memang obat terbaik saat merasa terpuruk.


"Logat sunda elo ilang abis Ka," komentar Aro.


"Panjang ceritanya, besok-besok aja dah ceritanya," sahut Alka.


Keduanya sepakat menunggu Ansar dan Monde di gang saja. Butuh waktu sekitar tiga jam bagi Monde untuk sampai ke lokasi yang di bagi Aro. Sedangkan, Ansar sudah datang terlebih dahulu.


"Elo anak si ba ji ngan itu?" teriak Ansar saat Alka menyebut nama ayahnya.


"Si bang ke!" umpat Ansar.


"Udah, Wa. Kita fokus ke Apeng sama Julus dulu," lerai Aro memangkas kesal Ansar pada ayah Alka.


Entah apa yang terjadi di masa lalu mereka.


"Ari maneh kunaon teu wangkong si Ara disekap. Siah, si Monde nyahoeun, si Ara bisa-bisa dibawa balik ka Cicurug!" omel Ansar (Kamu kenapa nggak bilang Ara disekap? Elu, si Monde tahu, Ara bisa dibawa pulang ke Cicurug)


Hello! gue suaminya! enak aja main bawa-bawa aset kebahagiaan gue.


Mereka kembali ke kontrakan setelah Monde datang. Pria itu ternyata menggunakan motor untuk tiba ke lokasi.


"Nanti saya belikan mobil," bujuk Aro saat Monde mengeluh semua badannya pegal sebab mengendarai motor terlalu jauh.


"Apeng sama Julus biasa diem di markas yang ada di Jakbar. Itu sebenernya kayak PT. apa gitu. Gue nggak ngerti," jelas Alka.


"Aduuh ampun, belum tobat juga rupanya," komentar Ansar.


"Can ngasaan dibui sugan?" tebak Monde. (Belum pernah ngerasain dipenjara kali?)

__ADS_1


"Sebentar lagi kita berangkat, gue lagi nunggu Omar bawa mobil. Kita nggak mungkin pergi pake motor." Aro sudah menyuruh Omar datang, sekitar 15 menit lagi pria itu akan tiba. Begitu menurut Omar. Seperti biasa, harus selalu ada caci maki terlebih dahulu hingga Aro berhasil membuat Omar menuruti keinginannya.


__ADS_2