
Ara mengenakan gamis coklat muda dengan warna hijab senada. Karena warna itu selalu menjadi kesukaan Aro. Bikin aku pengen unyel-unyel. Ara mengulum senyum mengingat kalimat Aro itu.
Berita tertangkapnya Aro sudah meluas disiarkan di berbagai stasiun televisi, namun Ara sama sekali belum mengetahuinya. Gadis itu tak biasa menonton televisi, ia juga tak memiliki akun sosial media. Padahal kasus Aro sedang menjadi banyak perbincangan. Berbagai artikel dengan judul menggelitik hati bertebaran di mana-mana. Semua memojokan Aro, seolah Sang Artis benar-benar seorang pemakai obat-obatan terlarang.
Vanya dan Sanu bahkan sudah mengetahui kabar itu sejak beberapa jam yang lalu. Keduanya jelas terpukul, dan was-was bila Ara juga mengetahuinya.
Ara keluar dari kamar dengan senyum manis dan binaran mata yang memancarkan kebahagiaan. Jelas, siapa yang tak bahagia akan segera bertemu dengan calon suami yang sangat dirindukan? So sweet.
Sanu dan Vanya saling melempar pandang saat Ara melewati keduanya yang sedang duduk di ruang tamu. Mereka tidak berani menyampaikan berita itu pada Ara.
"Ara pamit ke rumah bunda ya, Mi," celetuk Ara yang haru itu memulas bibirnya dengan lipmatte berwarna pink nude. Mempesona.
Vanya hanya mengangguk. Ia ingin memberi tahu Ara, namun lidah rasanya kelu. Melihat raut bahagia putrinya, semakin membuat Vanya tak tega menyampaikan berita mengenaskan itu.
"Mas Ar janjinya pagi-pagi udah sampe Bogor," ungkap Ara seraya melirik jam pada pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 11.00. "Pasti dia udah ketiduran di rumah bunda," sambung Ara dengan senyum bahagia.
Vanya dan Sanu saling melempar pandang. Mendesak satu sama lain untuk memberi tahu Ara. Namun, tak ada yang berani. Lebih tepatnya tak tega. Kilatan kebahagiaan dari kedua netra Ara adalah bukti, betapa saat ini gadis itu tengah bersuka cita.
Setelah pamit, Ara pergi meninggalkan rumah. Ia berjalan seraya bersenandung kecil.
Aku kesal dengan jarak
Yang sering memisahkan kita
Hingga aku hanya bisa
Berbincang denganmu di whatsapp
Gadis itu terus melangkah riang gembira, dia bahkan sengaja tak menyetop angkutan umum. Memilih berjalan kaki di bawah langit dengan awan yang berarak, menyusuri jalan yang bising oleh suara kendaraan. Klakson yang saling bersahutan, tak jarang umpatan kecil dari para pengendara sepeda motor menghiasi suasana siang itu.
Aku kesal dengan waktu
Yang tak pernah berhenti bergerak
Barang sejenak agar ku bisa
Menikmati tawamu
Senandung kecil dari bibir mungil Ara terus menggumam. Senyum yang dikulum dengan mata yang terus berbinar itu akankah tetap sama saat ia tahu fakta mengenai Mahija Aro?
Tiba di depan Kafe, Ara menghentikan langkahnya. Jelas Kafe sedang sepi. Buka hanya sore hingga pukul 23.00 saja. Ara mengatur nafasnya, dag dig dug seperti hendak menyaksikan gebetan bermain basket di lapangan.
Ara membuang nafas perlahan, lalu kembali menghirupnya, berharap gemuruh dalam dadanya dapat dikendalikan. Ia meneruskan langkah, sengaja tak masuk lewat Kafe melainkan lewat pinggir bangunan yang hampir seluruhnya terbuat dari material kaca itu. Ia memilih berjalan melalui tangga, pohon strawberry yang di gantung di sepanjang pegangan tangga itu kini telah berbuah kembali.
"Waah Mas Ar kan suka jus strawberry," gumamnya menyentuh salah satu buah yang merah sempurna. "Bunda emang pinter nih ngerawatnya," lanjutnya kemudian kembali berjalan dan melanjutkan senandungnya.
Ingin ku berdiri di sebelahmu
Menggenggam erat jari-jarimu
Ara kemudian tertawa, "Tapi belum boleh 'kan belum muhrim."
Mendengarkan lagu sheila on 7
Seperti waktu itu saat kau di sisiku
Gadis itu terus melangkah hingga sampai di pekarangan rumah yang sangat asri dengan banyaknya tanaman di sekelilingnya. Pintu utama terlihat terbuka, Ara masuk setelah mengucap salam. Ia edarkan pandangan di ruang tamu, tak ada siapapun. Kemudian Ara lanjut berjalan ke ruang tengah, di sana terlihat Bumi sedang duduk meluruskan kakinya di sofa panjang. Nampak Atar memegangi kedua bahunya dan Fadan memijat kecil kakinya.
"Bunda kenapa?" tanya Ara keheranan. Senyumnya mendadak hilang. Ia lempar sling bagnya ke meja, kemudian segera berhamburan ke arah Bumi yang sedang diam saja dengan tatapan kosong.
"Bunda kenapa?" ulang Ara dengan hati yang sudah bergemuruh tak karuan.
__ADS_1
"Ini kenapa sih, Dan, Kang?" desak Ara memandang Fadan dan Atar bergantian.
"Teteh belum tahu?" tebak Atar.
"Tahu apa?" sela Ara menyentak Atar.
"Mas Ar, Teh ... Mas Ar," kalimat Atar menggantung, tiba-tiba saja lidah pemuda tanggung itu terasa kelu.
"Kenapa mas?" Ara kembali mendesak Atar. "Mas kenapa, Akang?" lanjut Ara seraya beranjak dan mengguncang bahu Atar.
Atar menyalakan ponsel, ia buka laman akun Instagramnya. Tak usah susah, berita Mahija Aro tertangkap pihak BNN karena diduga tengah pesta narkoba langsung muncul.
"Teteh lihat sendiri!" Atar menyodorkan ponselnya pada Ara.
Mata Ara terbelalak membaca berita tertangkapnya Aro.
Artis muda berinisial MA, ditangkap pihak BNN di kediamannya tadi pagi. Diduga MA tengah mengadakan pesta narkoba di rumahnya yang berada di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Saat digrebek, MA memang sedang berkumpul dengan 6 orang kawannya.
Ara tak puas membaca hanya satu berita. Ia dengan wajah memanas meminta Atar membuka akun twitter untuk mendapatkan berita lain.
"Nggak usah, Sayang ... Ayah lagi ke kantor polisi, Mas Aro pasti baik-baik aja. Kalau kita terus termakan berita yang nggak pasti, itu hanya bikin kita sedih," akhirnya Bumi menepikan kesedihannya sendiri demi melihat Ara yang menjatuhkam diri ke lantai.
Ara tak menjawab, ia menatap nanar pada lantai yang terbuat dari marmer itu. Cairan bening memupuk di kedua netranya. Tangan sebelah kanannya memegangi dada yang rasanya hancur berantakan. Sementara tangan kirinya mengepal seraya memukul-mukul lantai.
"Apa ini mas?" lirih Ara.
Bumi tak tega melihat kondisi putrinya itu, ia beranjak dari sofa. Dengan tubuh yang masih terasa lemas, Bumi merangkul bahu Ara. Mencoba memberi gadis itu ketenangan.
"Tenang, Sayang ... kita serahkan pada Allah, ya," hibur Bumi.
"Bun, mas nggak mungkin kayak gitu. Mas nggak mungkin sejauh itu, Bunda," dengan suara bergetar Ara menyahuti perkataan Bumi.
"Aku takut, aku takut," ceracau Ara membuat Bumi khawatir.
"Aku nggak bisa, aku nggak bisa," gumam Ara dengan tubuh gemetaran.
"Aku harus gimana? harus gimana? gimana?" lanjut Ara dengan tangisan yang pecah membuat Bumi ikut kembali menangis.
Atar dan Fadan saling berpandangan, keduanya tak tahu harus melakukan apa. Hanya suara tangis Ara dan Bumi yang memenuhi ruangan itu. Suasana canggung membuat Atar dan Fadan diam-diam pergi meninggalkan ruangan itu.
***
Aro mendapatkan beberapa pertanyaan, ia menjawab apa yang ia tahu dan tidak memberi komentar apapun atas apa yang tidak diketahuinya. Akash dan Omar masih terus menemaninya hingga sore hari.
Waktu dan keadaan membuat Akash serta Omar pergi meninggalkan Aro. Keduanya sungguh merasa tak tega, namun memang sudah seperti itu peraturannya.
"Om harus carikan pengacara terbaik untuk Aro," usul Omar saat keduanya berada dalam perjalanan pulang. "Aku yakin ini disengaja Om," lanjut Omar membuat Akash mengangguk.
"Ada yang kamu curigai?" tanya Akash dengan tatapan menyelidik.
"Rea, Zayd, bahkan Oji bisa jadi adalah dalangnya. Bukannya beberapa hari lalu Rea dateng ngancem Ara?" balas Omar membuat Akash mengangguk-angguk.
"Saya nggak bakal bikin Rea bisa lepas, Om," seringai Omar.
Sementara Aro sendiri merasa hancur dan berantakan. Ia takut Ara marah padanya. Ia takut Ara menangis karena berita ini. Aro masih tak sadar kapan dan di mana dirinya mengkonsumsi barang haram tersebut. Ia mengingat-ingat semuanya dengan jelas. Kecurigaan mulai memupuk di benak.
Mulai dari Oji yang memaksanya untuk menghisap tembakau yang rasanya aneh seperti obat nyamuk bakar saat di Wonogiri. Kemudian rokok yang ia hisap sebelum syuting semalam.
"Sial! kenapa gue bisa percaya gitu aja sama dia?" umpat Aro melayangkan tinju ke udara.
Malamnya, dirinya mendapat kunjungan dari Ayuni dan juga seorang pria yang Ayuni bilang adalah temannya. Pria itu memiliki postur tubuh tinggi, wajahnya sangat dingin dengan tatapan mata tajam. Saat berkenalan dengan Aro, pria itu menyebutkan namanya adalah Alka.
__ADS_1
"Cowok lo?" tanya Aro pada Ayuni yang terlihat terus menempel pada pria itu.
Ayuni tak mengiyakan namun juga tak membantah. Ia sesekali hanya menengok kanan kiri seperti takut oleh kehadiran seseorang. Lepas bertemu Aro, Ayuni juga menemui Oji, ia marah besar pada Oji.
"Gue berhenti jadi asisten lo!" seru Oji tak terima dengan segala perkataan Ayuni yang terus menyalahkannya.
"Bagus, jadi gue nggak perlu repot-repot mecat lo!" balas Ayuni sengit.
"Kalau bukan cewek, udah gue hajar, lo!" ancam Oji yang langsung mendapat serangan dari Alka. Pria itu menarik kerah baju yang Oji kenakan.
"Jaga bacot lo! sesenti lo sentuh Ayuni, abis idup lo!"
Ayuni kaget dengan perlakuan Alka terhadap Oji. Ia lantas berdiri dan melerai keduanya.
"Udah, Ka! nggak guna ngancem ini kunyuk satu," celetuk Ayuni seraya menarik tangan tangan Alka yang masih mencengkram kerah baju Oji.
Alka menurut, ia lepas cengkramannya membuat Oji merasa lebih lega.
"Lo pikir gue nggak tahu siapa lo, Ka?" cibir Oji memandang Alka dari ujung kaki yang memakai sneaker hitam, hingga ujung kepala yang juga memakai topi hitam.
Dirasa cukup menemui Oji, Ayuni memilih pulang karena ia lihat Alka mulai tersulut emosinya oleh Oji.
Setelah kepergian Ayuni, datanglah Rea. Gadis itu awalnya hanya menemui Aro. Aro muak melihat wajah Rea yang seolah-olah sedih dengan keadaannya.
"Ar, aku bisa bantu kamu buat secepatnya keluar dari sini," bisik Rea yang malah membuat Aro semakin membencinya.
"Gue lebih baik ditahan daripada nerima bantuan lo!" geram Aro seraya menepis tangan Rea yang terangakt hendak menyentuhnya.
"Sombong banget, kamu Ar!" sentak Rea membuat Aro tertawa meledeknya.
Selesai menemui Aro, Rea terpaksa menemui Oji pula. Ia sebenarnya malas menemui pria yang sudah berkali-kali menyatakan cinta padanya itu.
"Keluarin gue dari sini!" pinta Oji membuat Rea tertawa pelan.
"Inget janji lo, Re! kalau gue berhasil jebak Aro, lo bakal terima gue dan bebasin gue 'kan?" bisik Oji penuh penekanan membuat Rea lagi-lagi tertawa.
"Lo tahu kenapa gue minta lo ngelakuin ini? gue cuma pengen jadi pahlawan buat Aro, gue pengen dia balik ke gue. Tapi, sia-sia! dan buat nerima lo, gue juga ogah!"
"Sialan lo, Re!" umpat Oji hampir menampar Rea membuat wanita itu menutup kedua wajahnya dan hal itu mengurungkan niat Oji.
"Siapa yang mau nerima cinta seorang asisten doang? gaji lo berapa berani pengen jadi cowok gue?" ledek Rea membuat cinta dalam hati Oji berubah jadi kekecewaan.
Seperginya Rea, Oji mulai sadar bahwa dirinya sudah dijadikan alat oleh kelicikan Rea. Ia kembali pada ruangan yang sama dengan Aro. Oji menyesalkan perbuatannya pada Aro. Ia tak bisa pungkiri bahwa Aro sudah baik terhadapnya selama ini.
Oji berjanji pada Aro akan mengakui perbuatannya pada pihak berwajib. Aro sendiri hanya bisa memaafkan perbuatan Oji. Dirinya mulai merasa apa musibah ini adalah teguran dari Yang Maha Kuasa atas kelalaiannya selama ini dalam beribadah?
Sekelebat wajah Ara kembali bermain-main di otaknya. Ia mengharapkan kehadiran Ara saat itu, namun hingga malam gadis itu tidak kunjung datang.
"Ra, kamu marah sama aku?" batin Aro.
"Jangan berpaling, Ra. Tunggulah!"
.
.
Sumber: LyricFind
Penulis lagu: Fiersa Besari
Lirik Celengan rindu © Massive Music Entertainment
__ADS_1