
Waktu berlalu dengan cepat, hari terus bergulir berganti minggu. Tiba di hari ke-14 Ramadhan, hati gadis manis pemilik pipi yang sekarang tambah chubby, begitu menurut Atar, adiknya, diliputi angan-angan indah.
Dialah Ara, gadis itu tak sabar menunggu kepulangan sang kakak yang dalam waktu dekat akan menjadi suaminya. Terdengar agak aneh, seorang kakak yang akan menjadi suaminya.
Begitulah hidup, selalu penuh kejutan. Bagaimana dulu Aro, sang kakak yang akan menjadi suaminya, jahil dan culas pada Ara. Kini pria yang berprofesi sebagai artis itu memiliki sikap berbanding terbalik. Dia begitu manis dan lembut pada Ara. Bahkan saat berjauhan saja Ara masih dapat merasakannya.
Sore itu, Ara sedang menyusun puding ceplok telur ke dakam box untuk diantar ke masjid sebagai menu buka puasa hari itu.
"Kenapa namanya puding ceplok telur? ini lebih mirip telur rebus, Teh," komentar Fadan, anak yang dibawa dari kampung sang uyut oleh Aro.
"Terserah kamu mau namain apa. Awas kalau ketagihan setelah mencobanya," sahut Ara seraya menutup box itu dan menggesernya ke tengah meja.
"Ra, udah beres?" sebuah suara yang tak asing bagi Ara membuat gadis berhijab pink muda itu menoleh ke arahnya.
"Udah, Bang. Mau Abang yang antar?" Ara balik bertanya.
"Iya, kamu mau ikut nggak, Dan?" sahut Akhza kemudian bertanya pada Fadan yang matanya sudah jelalatan ingin mencoba puding yang menurutnya lebih mirip telur rebus.
"Ikut dong, biasanya juga kan aku sama akang yang antar," jawab Fadan bersemangat.
"Akangnya mana? kamu panggil gih! biar nggak kesorean," titah Ara membuat bocah itu menurut tanpa harus disuruh lagi.
"Ra, kamu beneran loh tambah chubby," goda Akhza dengan tawa yang ditahan.
"Abang!" seru Ara seraya melempar serbet ke wajah Akhza yang baru ia gunakan untuk mengelap meja. "Nyebelin ih!" sambung Ara kemudian mengambil kembali serbet yang jatuh ke lantai, namun sempat menyentuh wajah Akhza.
"Tambah cantik, Ra ,,,,"
Ara tertegun dikatai tambah cantik, pasalnya kalimat itu diucapkan oleh lelaki yang pernah, bahkan mungkin masih, mencintainya.
"Udah ah, Abang sana pergi deh ke Masjid!" seru Ara kemudian beranjak, namun baru selangkah suara Akhza kembali menahannya.
"Kamu sama mas Ar harus bahagia, Ra!"
Ara kembali tertegun, tanpa berani menoleh.
"Kalau mas Ar nyakitin kamu," lanjut Akhza kemudian mendekat ke arah Arah dan mensejajarkan diri dengan gadis itu. "Aku bakal berjuang lagi," imbuhnya dengan sedikit berbisik.
"Abang gak usah mancing di air keruh, aku sama mas Ar baik-baik aja. Do'ainnya yang bener dong!" protes Ara padahal hatinya sedang meletup-letup seperti air yang tengah mendidih. Antara marah dan gugup jadi satu
"Cuma becanda!" kilah Akhza kemudian memilih pergi meninggalkan Ara, pria itu membawa serta box berisi puding ceplok telur untuk diantarkan ke masjid.
"Kamu bukan tipe orang yang suka becanda, Bang," gumam Ara menatap pilu kepergian Akhza.
Hari itu memang jadwalnya buka puasa bersama seluruh keluarga. Sanu ikut serta hadir meski masih nampak malu-malu. Dia dan Miza memang belum menikah, selain Ilham yang masih saja enggan menerima, jidda pun melarang kedua sejoli itu menikah hingga bayi yang dikandung Sanu lahir.
Jidda butuh waktu yang cukup lama untuk menerima semua ini. Beliau bahkan berhari-hari tak selera makan dan kondisi kesehatannya menurun akibat berita yang sangat menohok hatinya itu. Ilham jangan ditanya, semenjak tahu putranya berbuat salah, hampir tiap hari Miza terkena damprat dan amarahnya. Zahra bahkan sudah tak tahu lagi harus dengan cara apa menyadarkan suaminya agar mengerti bahwa semua yang sudah terjadi hanya perlu dijalani dan diterima dengan lapang dada. Allah tidak pernah memberikan musibah tanpa hikmah di dalamnya. Miza kini jadi pribadi yang lebih santun, bahkan beberapa hari lalu dia menyampaikan maaf pada Ara. Miza juga jadi lebih bertanggung jawab, ia bahkan sudah tak boros seperti biasanya.
Di ruang tengah dengan menggelar karpet keluarga besar itu duduk melingkar menghadap hidangan yang sungguh menggugah selera. Namun ada yang kurang, tidak hadie di sana Ayesha dan Laut yang kebetulan memiliki acar lain.
"Ini Ara semua yang masak?" tanya jidda dengan mata berbinar, pasalnya di antara banyaknya hidangan ada sayur asam kesukaan wanita berkulit putih itu.
"Dibantu bunda, Sanu sama mami juga, Jidda," sahut Ara menatap Bumi, Vanya dan Sanu bergantian.
"Kalau sayur asem buatan siapa?" selidik jidda, air liurnya hampir menetes melihat kepulan asap dengan aroma segar dari mangkuk besar berwarna putih bening itu.
"Ara dong!" seru Ara seraya menepek-nepuk dadanya dengan tawa renyah.
Kemudian keceriaan mereka larut bersama waktu maghrib, gelas-gelas berisi es buah tandas berpindah ke dalam perut masing-masing. Puding ceplok telur menjadi yang pertama habis, padahal pembuatnya sendiri tidak menyikai makanan bertekstur kenyal itu. Ara hanya senang membuatnya sebab merupakan makanan kesukaan ayahnya.
Selepas buka, mereka semua kompak salat magrib terlebih dahulu. Biasanya akan makan berat setelah salat tarawih. Kecuali jidda, nenek dari tujuh cucu itu (bisa jadi delapan bila dihitung dengan Ara) memilih langsung makan.
Tarawih bersama di rumah menjadi momen langka dan baru kali ini mereka lakukan. Dengan diimami Ilham, salat sunah yang hanya dilakukan di bulan suci Ramadhan itu selesai tepat pada pukul 20.00 WIB.
Setelah saling bersalaman, mereka langsung kembali ke ruang tengah untuk menikmati hidangan makanan berat. Menit awal semua berjalan lancar, makanan lezat itu mampu memanjakan lidah dan perut setelah seharian berpuasa.
"Ara sekarang gemuk ya?" celetuk Zahra menyelisik ke wajah Ara yang langsung merona merah.
"Aku naik 5 kilo, Umma," aku Ara malu-malu.
"Calon pengantin badannya memang harus berisi, biar kelihatan segar," timpal Bumi. Ia lebih senang melihat Ara yang sekarang.
"Tapi kasihan kamu, Ra punya calon kok artis? profesi artis itu tidak selamanya mulus. Tidak seperti pengusaha macam kami. Artis itu masa depannya suram," ucap Ilham yang langsung menohok hati Ara.
Tak hanya Ara, Bumi sebagai ibu dari Aro merasa sangat sakit hati mendengar putra kesayangannya dikatai masa depannya suram. Akash juga sama, di tempat duduknya ia sudah geram. Tangannya mengepal dengan rahang mengeras.
"Kalian terlalu memanjakan Aro, dia jadi salah jalan. Salah kamu juga, Zha. Kenapa waktu Aro kecil kamu jadikan dia model pakaianmu," tuding Ilham, kali ini bahkan Zahra ikut emosi.
"Abang kenapa sih kalau bicara nggak pernah disaring?" todong Zahra dengan ujung mata berair, bahkan keluar ingus dari hidungnya.
"Loh, kan memang benar artis itu masa depannya suram. Belum kalau tersangkut skandal. Apa yang bisa dibanggakan?" desak Ilham membuat Akash tak dapat lagi menahan amarahnya.
"Bang, anakku memang bukan yang terbaik. Tapi, bagi kami mas Aro itu kesayangan. Dia tetap kebanggaan kami!" tegas Akash, masih berusaha meredam amarah yanh sempat meluap.
"Abang jangan seenaknya menilai orang. Lihat sendiri kelakuan Miza!" Zahra menyalak dengan air mata berderai.
"Iya, Bi. Kenapa Abi senangnya mengomentari hidup orang lain tanpa berkaca?" Alisha yang duduk diapit Zahra dan Ara angkat bicara.
__ADS_1
"Abi selalu berkata seenaknya tanpa mikirin perasaan orang lain. Sadar, Bi. Aku juga bukan anak baik, bahkan kak Alisha juga sudah mendapatkan dampaknya. Berapa orang pria yang mundur akibat tahu sikap Abi?" Miza ikut bicara juga. Ia lama-lama kesal dengan sikap abinya.
"Kenapa kalian jadi menyudutkan saya?" tuduh Ilham, dari gerakannya pria itu bersiap untuk beranjak.
"Karena Abi nggak pernah merasa salah. Selalu memandang orang lain rendah!" sentak Alisha, yang hatinya sedang hancur sebab seminggu yang lalu pria yang sempat ingin serius dengannya mundur perlahan akibat sikap Ilham yang selalu memandang rendah terhadap orang lain.
"Sudah ... sudah!" lerai jidda. "Kalian sudah dewasa, coba dengan kepala dingin bicaranya. Jangan saling menyudutkan!" lanjut jida dengan nafas tersengal.
"Abi lebih baik pergi!" usir Alisha dengan isak tangisnya. "Abi kapan sih bisa berubah?" lanjutnya dengan tangis yang semakin pecah.
"Kak, nggak gitu kak!" bisik Ara yang memang duduk di samping Alisha. "Kakak jangan bentak abi!" sambung Ara menyeka air mata Alisha dengan punggung jemarinya.
Merasa disudutkan, Ilham akhirnya memilih pergi. Dia selalu seperti itu. Sudah membuat kekacauan biasanya akan pergi. Padahal sesungguhnya ia suami yang penyayang, hanya terkadang bicaranya memang kelewatan.
Kepergian Ilham membuat suasana jadi sedikit mencair. Meski, Bumi sendiri masih merasakan hatinya berdenyut nyeri. Aro baginya adalah kesayangan, dirinya selalu mendo'akan kebaikan utuk Aro. Saat ada yang begitu berkata buruk tentangnya, itu rasanya sama saja menyakitinya.
Sedang dalam suasana begitu, ponsel Ara berdering. Panggilan masuk dari Aro. Ia mengurai tubuhnya menjauh dari Alisha, sebelumnya Ara sedang merangkul kakak sepupunya itu.
"Bunda mau bicara sama mas?" tawar Ara sebelum menjawab panggilan Aro.
"Diloudspeak aja, Ra. Kita pengen tahu dia ngomong apa sih kalau nelpon kamu?" usul Miza.
"Iya, Ra ... kalian suka bicarain apa sih kalau telpon?" Rud ikut menimpali membuat Ara akhirnya menurut.
Ara menjawab panggilan itu dan menuruti apa yang dibicarakan Rud.
"Assallamu'alaikum calon makmum."
Sontak saja sapaan Aro membuat Ara merasa pipinya panas. Sementara semua kaluarga saling pandang dengan senyum ditahan.
"Waala'ikum salam, Mas."
"Lagi di mana?"
"Di rumah bunda, Mas lagi di mana? kok bisa telepon?"
"Aku lagi di warung mie ayam bu Untari, yang pernah aku ceritakan itu loh."
Ara mengingat sebentar nama bu Untari kemudian memgangguk-angguk sendiri.
"Mas taraweh nggak?"
"Taraweh dong, Sayang."
Kalimat Aro membuat seluruh keluarga riuh. Teriakan menggoda dari mulut mereka bersahutan untuk Aro dan Ara.
"Berani ya, Mas bilang sayang?" timpal Atar yang ikut berteriak.
"Masih disegel, Mas. Jangan disayang-sayang dulu!" Miza ikut-ikutan berteriak.
"Iya, Mas. Nanti kayak Bang Miza!" Rud ikut berteriak tanpa sadar ucapannya sudah membuat seseorang menunduk. Dialah Sanu, wanita muda yang tengah hamil muda itu sedikit tersinggung.
"Ra, kamu loudspeak?"
Ara segera mematikan panggilannya. Ia beranjak lalu pamit ke belakang.
"Lo sih, pake digodain!" tuduh Rud pada Miza.
"Lo yang duluan, Rud!" balas Rud membuat Miza melemparnya dengan tisu bekas.
"Untung aku komennya cuma dikit," kilah Atar.
"Nah, anak ini juga ikut-ikutan. Serang Rud!" seru Miza pada Rud.
Belum sempat serangan diterima Atar, bocah itu segera berdiri dan menarik pergelangan tangan Fadan untuk ikut dengannya.
"Kabur, Dan!" teriaknya seraya berlari meninggalkan ruang tengah.
Hanya Akhza yang tak berani berkomentar, ia senyum di tempatnya duduk. Senyum penuh luka. Ternyata ikhlas itu sulit. Hatinya masih saja bergetar memandang Ara.
Sementara itu, Ara memilih pindah ke halaman belakang. Ia kembali memanggil nomor Aro dan tak lama pria itu menjawab panggilannya.
"Kok dimatiin sih, Ra?"
"Tadi banyak orang. Aku malu. Lagian ngapain sih manggil-manggil sayang? lebay!"
"Aku kan sayang kamu."
"Ah udah, ah. Kita bukan anak SMP, Mas!"
"Terus anak apa dong?"
"Mas, jangan becanda terus. Gimana puasanya?"
"Puasa aku baik-baik aja. Tapi, ada yang nggak baik, Ra."
"Apa?"
__ADS_1
"Rindu aku ke kamu. Udah akut, ibarat kanker udah stadium akhir."
Ara mengulum senyum. Tak bisa ia pungkiri, perkataan manis Aro selalu membuat hatinya menghangat.
"Ra, kok diem?" masa gitu doang pingsan?"
Ara menggeleng, seraya tertawa tanpa suara. Ia kesal sekaligus merasa geli dalam waktu bersamaan. Bagaimana bisa setinggi itu rasa percaya diri Aro?
"Kamu kapan pulang?"
"Empat hari lagi. Mau nitip apa?"
"Nitip calon suami aku aja biar pulang ke sini dengan selamat. Bilang sama dia, jangan terlalu manis punya mulut. Gula juga bisa jadi penyakit kalau digunakan berlebihan."
Aro terbahak mendengar pernyataan Ara. Setelah Ara memutus panggilannya, Aro memilih segera menghabiskan teh manis yang ia pesan. Pandangannya beralih pada pengamen di luar yang sedang membawakan lagu sheila on 7. Meski lagu lawas, sangat enak didengar malam-malam begini.
Melihat tawamu mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku warna-warna indahmu
Menatap langkahmu meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu anugerah terindah yang pernah 'ku miliki
Sifatmu nan selalu redakan ambisiku
Tepikan khilafku dari bunga yang layu
Saat kau di sisiku, kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu anugerah terindah yang pernah 'ku miliki
Belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu, oh
Belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
Anugerah terindah yang pernah 'ku miliki
Belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu, oh
Belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
Anugerah terindah yang pernah 'ku miliki
Aro beranjak dari duduknya, ia berjalan keluar dan siap merekam aksi Akmal dan kawan-kawannya yang tergabung dalam grup musik Pabo.
"Gue unggah di ig nih, siapa tahu nanti ada produser yang lirik. Sayang banget kalau cuma jadi pengamen jalanan," gumam Aro terus merekam hingga lagu berakhir.
"Eh, Mas Ar!" sapa Akmal kemudian menyalami Aro, disusul kawan-kawannya ikut melakukan hal sama.
"Gue udah unggah video kalian di sosmed. Siapa tahu nanti banyak yang suka," beri tahu Aro.
Belum sempat Akmal menjawab, Ayuni yang malam itu nampak cantik mengenakan mini dress hitam dengan rambut terurai panjang datang menghampiri.
"Ayo, Ar!" ajaknya menarik jaket yang Aro kenakan. "Gue udah selesai, yuk cabut!" lanjut Ayuni. Senyumnya membuat Akmal tak bisa mengalihkan pandangan.
"Ok!" sahut Aro, kemudian pamit pada Akmal dan kawan-kawannya.
Akmal masih saja memandangi Ayuni hingga gadis itu dan Aro masuk ke dalam mobil.
"Beli apa sih? sampe penuh gini mobil?" tanya Aro seraya memandang ke arah bangku kemudi di bagian belakang.
"Sembako, Ar. Mau gue bagiin buat warga." jawab Ayuni seraya menarik dressnya agar menutupi paha.
"Gila, Ayuni emang dermawan. Gue kira cuma pencitraan," ledek Aro membuat Ayuni memukul lengannya.
"Sialan!" umpat Ayuni dengan wajah memberengut kesal. "Udah jalan, buruan!" sentaknya membuat Aro menurut untuk melajukan mobil.
"Ar, lo jangan terlalu deket sama kru," ucap Ayuni mengingatkan.
"Nggak semua orang yang lo sangka baik, emang bener-bener baik. Jangan ketipu cover, Ar!"
Aro menggeleng, ia memang tak pernah dekat dengan kru. Hanya beberapa waku ini memang sering menghabiskan waktu bersama.
"Gue cuma ngingetin. Jangan mau dibegoin!" pesan Ayuni seraya mengarahkan telunjuknya ke wajah Aro.
Aro hanya mengangguk. Ia hafal maksud perkataan Ayuni mengarah ke mana. Ia sudah bisa menebaknya. Selanjutnya keduanya tak lagi bicara. Menyisakan deru suara mesin mobil sebagai pengantar mereka untuk menempuh jalananam malam itu.
Sumber lirik lagu : Musixmatch
__ADS_1
Penulis lagu : Eross