Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Pesona Pendekar Api


__ADS_3

Ara masih terlelap di bawah selimut yang menutupinya hingga dagu, ketika suaminya bahkan sudah dari sejam yang lalu selesai mandi. Pria itu kini duduk di sampingnya seraya mengetik pekerjaannya pada laptop. Sesekali ia berusaha membangunkan Ara, namun wanita itu hanya menggeliat tanpa berhasil bangun.


"Ra, udah mau zuhur." Aro menyibak rambut yang menutupi wajah Ara.


Ara menggeliat, matanya mulai mengerjap. Wanita itu terbatuk kemudian baru membuka matanya lebar-lebar. Ia tersenyum ke arah suaminya yang sedang memandanginya.


"Jangan ngeliatin gitu." Ara dengan suara serak khas bangun tidur berkata pelan seraya mengusap wajah suaminya.


Tanpa disadari gerakan yang dilakukannya telah membuat tubuh bagian atasnya kembali terlihat oleh Aro.


"Mandi dulu!" Aro menyentuhkan ujung hidungnya pada kening Ara. "Mau dimandiin?" godanya membuat Ara dengan cepat menggeleng kemudian perlahan mulai beranjak untuk duduk. Ara masih merasakan denyut nyeri di bawah sana. Ia meringis sambil memegangi perutnya.


"Maaf ya," sesal Aro merasa menjadi sebab yang telah menyakiti Ara. Ara menggeleng, ia tersenyum seolah menegaskan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Aku siapin dulu air hangat," ucap Aro seraya menutup laptopnya.


"Nggak usah, Mas," sanggah Ara.


"Sebentar," elak Aro segera beranjak menaruh laptop pada nakas kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Mengisi bathub dengan air hangat hingga barulah kembali memanggil Ara.


Wanita itu sudah berdiri memakai gamisnya saat Aro kembali.


"Ayok, airnya udah siap!" Aro menggandeng lengan Ara, namun Ara menepisnya.


"Aku bisa sendiri."


"Aku cuma mau lihat."


"Mas!" Ara berdecak kesal seraya beranjak tanpa tahu sedang diikuti oleh suaminya.


Ketika Ara akan menutup pintu, sontak Aro menahannya.


"Kubilang aku mau lihat," geram Aro membuat Ara mengalah.


Uap air hangat dalam bathub yang diberi aromatherapy seolah memanggil-manggil Ara untuk segera masuk ke dalamnya. Dengan ragu, wanita itu menanggalkan pakaiannya dan masuk ke dalam bathub. Ia canggung sekali diawasi oleh suaminya.


Ara tak berani mengangkat kepalanya saat Aro terus saja memandanginya. Hangatnya air serta aroma lavender dan citrus mampu memanjakan tubuhnya yang terasa remuk redam. Ara menghirup uap yang masih mengepul, berharap ketenangan dapat memangkas kegugupannya.


"Kamu cantik," ujar Aro yang masih setia berdiri di bibir pintu membuat Ara menoleh ke arahnya.


"Makasih, Mas." Ara tersenyum dengan perasaan yang masih saja tak karuan. Padahal lelaki itu sudah menjadi suaminya. Sudah sepenuhnya halal.


Dirasa cukup berendam, Ara memutuskan untuk segera keluar dari bathub meski dengan rasa canggung yang masih bertahta. Tubuhnya mengkilat karena basah ditambah sinar lampu yang menerangi ruangan itu.


"Kamu tahu 'kan tata cara mandi besar?" Aro mengingatkan.


"Tahu, Mas." Ara mengambil handuk yang terlipat rapi di rak sabun bagian atas. Masih ada beberapa lagi handuk di sana. Aro mungkin memang biasa menatanya seperti itu.

__ADS_1


Ara mulai melakukan langkah demi langkah kewajibannya membersihkan badan.


"Nggak boleh terlewat sedikitpun, Ra." Aro kembali mengingatkan saat Ara membasahi sela-sela rambut menggunakan jarinya.


Wanita itu hanya mengangguk, dia berpikir mungkin suaminya sedang mengetesnya tentang cara membersihkan diri.


"Aku suamimu, kamu tangggung jawabku. Maaf kalau terkesan menggurui, tapi kamu belum wudhu, Ra." Ara yang hampir mengguyur kepalanya dengan segayung air reflek menaruh kembali gayung itu ke dalam ember besar.


"Wudhu dulu!" Perintah Aro membuatnya menoleh pada pria itu. "Basuh tubuhmu mulai dari bagian kanan," lanjut Aro.


Bukan tak tahu, Ara hanya lupa. Efek gugup membuatnya tak bisa berpikir jernih. Ia bisa-bisanya melupakan hal sepenting itu.


Ara mengambil wudhu layaknya seperti hendak ingin salat. Ia jadi teringat bagaimana kemarin jidda mengingatkannya tentang tata cara mandi wajib.


"Jidda bukan mau membahas hal yang tak patut, tapi kamu harus tahu tata caranya yang benar seperti yang terdapat dalam hadist riwayat Bukhari nomor 272 'Jika Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.' Jangan melupakan hal yang sepertinya sepele, namun sangat penting itu ya, Ra."


Aro masih terus memandangi kegiatan istrinya itu hingga akhirnya Ara selesai dan memakai handuk yang hanya menutupi bagian dada hingga lututnya.


"Masih sakit badannya?" Aro masuk ke dalam kamar mandi, mendekat ke arah Ara yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil.


"Jadi rilek, Mas. Enakan," aku Ara, namun pernyataannya membuat dirinya tak aman, sebab saat itu juga Aro malah menggendongnya dan membawanya kembali ke tempat tidur.


"Masih ada waktu satu jam sebelum zuhur, aku janji cuma sebentar." Ara tak bisa menolak, ia kembali hanyut dalam pesona sang suami.


Ara masih beruntung, sebab Aro tak ingkar janji. Benar-benar hanya sekali di atas tempat tidur namun terulang dalam bathub yang berisi air hangat.


Aro memilih salat di mushola komplek perumahannya. Membiarkan Ara salat sendiri di kamar. Selesai salat zuhur Ara kembali tertidur di atas sajadahnya.


"Kebiasaan," gumam Aro saat tiba di kamar sepulang dari masjid. Ia kemudian menggendong tubuh Ara dan mindahkannya ke atas tempat tidur.


Ara sempat menggeliat dan membuka mata, namun Aro kembali menyuruhnya tidur. Ia berjanji tidak akan mengganggunya.


Sambil menunggui Ara bangun, pria itu memilih ke dapur memeriksan makanan yang dibekali oleh bundanya. Lauk pauk yang lengkap, hanya nasi yang tak ada. Aro memutuskan untuk memasak nasi.


Pria itu kembali ke kamar, memunguti pakaian dan sprei kotor yang masih berantakan di atas lantai dan menaruhnya ke dalam keranjang pakaian kotor. Koper baju Ara masih terbuka setelah tadi wanita itu mengambil baju dan mukena. Aro putuskan untuk merapikan pakaian istrinya itu ke dalam lemari.


Ara masih saja terlihat lelap, hanya sesekali terusik. Bahkan ketika Aro jahil menghujani wajahnya dengan ciuman, ia justru semakin lelap dibuai mimpi.


Sampai akhirnya Aro rasa, Ara sudah terlalu lama tertidur, ia memaksa Ara untuk bangun.


"Makan dulu," bujuk Aro saat mata Ara malah kembali terpejam.


"Ra, bangun." Aro hujani pipi Ara dengan cubitan kecil sehingga membuatnya mau tak mau bangun dan langsung duduk.


"Jam berapa, Mas?" Ara memicingkan matanya, menyapu ruangan mencari jam.


"Nggak ada jam dinding." Aro yang seolah tahu apa yang dicari istrinya mengusap wajah yang terlihat berisi itu.

__ADS_1


"Jam tiga, ayok makanya bangun!" ajak Aro membuka tali mukena Ara seraya melepaskannya dari kepala Ara.


Rambut panjang Ara masih saja basah, aroma mint langsung menguar saat Aro mencium pucuk kepala istrinya itu.


"Kamu nggak lemes, Mas?" tanya Ara seraya menjatuhkan kepalanya ke bahu Aro.


"Makanya ayok, makan. Kalau tidur terus malah lemes," bujuk Aro.


Ara menurut, ia menanggalkan mukena bagian bawahnya. Membiarkan tubuh itu hanya dibalut daster pendek bermotif teddy bear.


"Ganti buju dulu." Ara menunjuk pada bajunya.


"Nggak usah, gini aja," Aro beranjak dari tempat tidur dan mengulurkan tangannya.


"Mau digendong?" tawar Aro.


"Jalan sendiri aja," tolak Ara seraya turun dari tempat tidur kemudian menerima uluran tangan Aro.


Wanita itu, masih belum terbiasa dengan rasa nyeri yang tercipta dari tubuh bagian bawahnya. Ia masih sedikit meringis ketika melangkah.


"Gendong aja?" bujuk Aro seraya melihat ke arah tubuh Ara yang ia yakini masih membuatnya kesakitan.


"Enggak, Mas!" sanggah Ara seraya memukul lengan suaminya. "Bawel!"


Di meja makan sudah terhidang lauk pauk lengkap dengan nasi putih yang masih mengepul.


"Kamu yang masak nasi?" tebak Ara membuat Aro mengangguk.


"Maaf, ya ... harusnya itu tugasku," sesal Ara.


"Nggak apa, 'kan aku yang buat kamu jadi gitu." Goda Aro seraya memandang ke bagian bawah tubuh Ara.


"Mas, jangan gitu!" sentak Ara seraya memukul lengan suaminya, "kamu jangan-jangan pendekar api ya?" lanjut Ara.


"Hah, emang kenapa?" Aro mengerinytkan dahi.


"Badanku rasanya langsung panas kalau kamu sentuh," beri tahu Ara dengan wajah polosnya.


"Coba sini aku sentuh." Aro menjulurkan tangannya hendak menyentuh lengan putih Ara.


"Mas, aku masih lemes. Aku mau makan dulu," rengek Ara.


"Kalau abis makan boleh ngulang?" pinta Aro, membuat Ara mengangkat piring seraya pura-pura hendak memukulkannya pada kepala Aro.


"Ampun, iya enggak." Aro mendekat ke arah Ara mengecup sekilas kening istrinya itu kemudian mengambil piring yang Ara pegang dan menyendokan nasi ke atasnya.


Untuk sementara Ara aman, ia bisa terbebas dari trik licik si pendekar api seperti kata Ara.

__ADS_1


Sumber https://rumaysho.com/1118-tata-cara-mandi-wajib-1.html


__ADS_2