Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
"Kamu Cantik, Ra"


__ADS_3

Aro baru saja menyelesaikan bacaan Al-qur'annya saat Omar memberi tahu ada Ayuni datang berkunjung ke tokonya. Pria itu melipat sarung kemudian menaruhnya kembali pada lemari. Tak lupa peci yang ia gunakan, diletakan pada nakas di samping tempat tidurnya.


seminggu sudah ia tak pulang ke rumah bundanya. Sengaja menginap di toko hingga acara akad berlangsung.


"Ara tinggal sama Bunda, kamu di mana aja terserah," ucap bundanya pagi itu setelah malamnya mereka ke rumah Ara.


Aro segera menemui Ayuni yang sedang menunggu di ruangannya.


"Weis, mimpi apa gue didatengin artis papan atas," seloroh Aro saat masuk ke dalam ruangan.


"Bacot lu!" tangkas Ayuni mendengus kesal.


"Gokil, sering-sering deh lo pesen kaos di gue." Aro berjalan menuju pojok ruangan dan mengambil tas berisi 100 potong kaos pesanan Ayuni.


"Kaos lu mahal, Ar." Ayuni berkata seraya mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi hingga menampakan leher putihnya.


"Ada harga ada kualitas," tangkas Aro seraya menepuk tas itu, "insya Allah warna gak luntur," sambungnya.


"Percaya gue, masa mantan artis kawakan jual barang kaleng-kaleng. Iya, nggak?" Ayuni menaik turunkan alisnya yang terbentuk indah. Pahatan Sang Maha kuasa yang satu ini membuat siapapun susah berpaling bila memandangnya. Semakin lama dipandang, semakin cantik dirasa.


"Lo sendiri?" Aro celingukan mencari dengan siapa gadis itu datang.


"Sama Alka, tapi dia lagi potong rambut di sebelah," jelas Ayuni membuat Aro mengangguk.


Tak lama orang yang dibicarakan muncul. Pria yang memiliki tinggi badan menjulang dengan dengan garis wajah tegas dan terlihat garang bila sedang diam. Alka tersenyum ramah pada Aro seraya menyodorkan tinju. Aro membalasnya dengan melakukan hal yang sama.


"Salaman ala apa tuh?" seloroh Ayuni seraya tertawa.


"Duk deh duduk!" seru Aro pada Alka menyilakan dengan gerakan tangan.


Alka yang masih berdiri mengangguk, pria itu menatap sejenak pada Ayuni yang mendongakkan kepala ke arahnya. "Duduk! Ayuni mengusap tempat kosong di sampingnya.


Pria itu lagi-lagi mengangguk, sejurus menatap Ayuni yang masih memandanginya. Alka tersenyum hangat, tangannya bergerak melakukan hal yang menjadi kesenangnya. Mengusap dagu Ayuni dengan ibu jarinya sesaat, kemudian baru duduk.


Aro jadi salah tingkah melihat interaksi keduanya. Ingin mengumpat, namun ia belum terlalu dekat dengan Alka. Hanya baru bertemu beberapa kali. Saat di kantor polisi, hari ini dan dulu sekali ketika dirinya sering main-main ke club.


"Ngopi deh, gue bikinin ya," cetus Aro seraya hendak beranjak.


"Gue aja, Ar!" Ayuni lebih dulu berdiri. Wanita itu tampil sederhana. Mengenakan hotpans dan kaos gombrong warna putih dengan sandal flat yang nampak manis di kakinya.


Aro mengangguk lalu membiarkan Ayuni melangkah. Kecanggungan tercipta saat Ayuni pergi. Alka dan Aro masih terdiam, hingga akhirnya tentu Aro yang memangkas keheningan itu.


"Udah lama kenal Ayuni?"


"Lama banget, tapi jarang ketemunya. Akhir-akhir ini aja deket lagi," jelas Alka.


"Ayuni orang baik. Dia dermawan, dan lurus banget orangnya," beri tahu Aro. Seolah sebuah peringatan bagi Alka.


"Hhmm, gue tahu. Gue ngerti." Alka mengedipkan sebelah matanya, meski pendek kalimatnya memiliki banyak makna.


Ayuni kembali dengan tiga cangkir kopi latte. "Dapur lo bagus banget, Ar."


Aro hanya tersenyum, dapurnya ia rancang menyerupai mini bar dengan aksen hitam-hitam. Ia buat setiap sudut tokonya senyaman mungkin agar dirinya nyaman berada di sana.


Perbincangan mengalir hangat saat Ayuni kembali di antara mereka. Aro tak lupa mengundang secara khusus kedua sejoli yang berkilah tak mengakui jika keduanya memiliki hubungan. Setelah menghabiskan kopi dan berbincang ke sana kemari, Ayuni pamit. Tak lupa ia membawa kaos pesanannya. Lebih tepatnya Alka yang melakukannya.


"Cowok Ayuni?" lontar Omar saat melihat Ayuni dan Alka sudah keluar dari toko dan sedang masuk ke dalam mobil.


"Kepo, cewek lo mana?" ledek Aro seraya menepuk pipi Omar kemudian segera berlari menghindari pria itu mengamuk.


"Saaatt, mentang-mentang mau kawin!" teriak Omar hendak menyusul Aro, namun kedatangan pembeli untuk membayar belanjaannya membuat dia urung mengejar Aro.


***


Sore itu Ara dan maminya tiba di rumah Bumi. Ara langsung memasuki kamarnya setelah menyalami Bumi dan berbincang sebentar dengan bundanya itu.


Ia mendapati kamar dalam keadaan rapi, aroma minyak telon tetap tercium lembut saat Ara masuk ke ruangan itu. Ara membuka lemari yang dulu ia kosongkan, di sana kini sudah tertata rapi pakaian Aro. Kaus yang disusun dengan warna putih dan hitam yang mendominasi.


Saat akan menutup kembali lemari itu, Ara melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Kain hitam yang seolah dijejalkan di sela-sela kaus yang tersimpan rapi. Ara menarik benda itu. Gamis hitam lengkap dengan hijab lebar dan niqob.


Ara berusaha mengingat dimana ia pernah melihat pakaian yang sama seperti ini. Matanya membulat saat ia sadar ketika ada pasien aneh yang datang ke kliniknya tempo hari.


"Kamu jahilin aku, mas?" gumam Ara, "pantesan aku ngerasa aneh. Aku merasa kenal, tapi nggak tahu siapa. Awas kamu mas!" sambungnya seraya menaruh kembali pakaian itu ke dalam lemari.


***


Hampir tiap hari Aro menelepon Ara. Apalagi sekarang gadis itu sudah libur dari kegiatannya. Awalnya ia tetap ingin membuka klinik, namun Bumi tentu melarangnya.


"Seminggu sebelum pernikahan kamu harus ada di rumah!" tegas Bumi saat itu membuat Ara tak lagi bisa membantah.


Ara duduk santai di ruang keluarga bersama Atar yang kini sudah kuliah dan Fadan yang duduk di kelas enam. Kedua anak itu serius sekali menatap layar ponsel masing-masing. Rupanya sedang bermain game.


Ara yang sedari tadi mengajak keduanya bicara akhirnya menyerah sebab mereka tak ada yang serius menanggapi.


"Ra, besok pengajian sekaligus siraman ya. Kamu mau ngundang siapa aja?" Bumi dengan ponsel di genggamannya datang menghampiri.


Ara menggeleng, "Nggak ada, Bun. Bidan Army lagi sibuk."

__ADS_1


"Ok, kamu nggak usah diet. Mas Ar bawel banget ingetin Bunda masak yang enak biar makan kamu banyak." Bumi memijat kepalanya sendiri seraya kembali beranjak.


Karena bosan, Ara memilih pergi meninggalkan ruangan itu sambil melempar bantal kursi ke arah Fadan dan Atar. Sontak saja kedua anak itu berteriak, " Teteh, awas ya!"


***


Acara pengajian jelang pernikahan digelar sederhana dengan hanya dihadiri keluarga dekat dan ibu-ibu pengajian Nurunnisa. Setelah itu acara dilanjutkan pada prosesi siraman. Awalnya Ara menolak, ia tak ingin terlalu banyak acara apalagi mengeluarkan banyak biaya. Demi melihat Bumi dan Ayesha yang antusias akhirnya Ara menurut saja.


Hari itu, Ara nampak cantik mengenakan kain serta kembang melati yang dirangkai menyilang di bahu hingga menutupi dadanya. Kepalanya yang terbungkus hijab putih juga dihias bunga melati yang dirangkai menyerupai bandana.


Dalam adat Sunda, prosesi siraman ini bertujuan agar menyucikan calon mempelai wanita secara lahir dan batin. Sedangkan Aro sendiri enggan melakukannya. Dia bilang, jiwa dan raganya sudah dengan tulus dan penuh kesucian mencintai Ara. Untuk itu, Bumi malas sekali membujuk Aro yang banyak beralasan.


Acara diawali dengan proses ngeucak asian, yaitu keluarnya Ara dari kamar yang diapit oleh Akash dan Laut. Mestinya Ara digendong, namun gadis itu menolak.


Setelah itu acara dilanjutkan pada proses yang bernama ngaras, yaitu permohonan izin Ara pada orang tuanya untuk menikah dilanjut dengan sungkeman dan membasuh kaki orang tuanya. Pada prosesi ini ada lima orang yang Ara basuh kakinya. Bumi, Akash, Laut, Ayesha dan maminya sendiri yang sudah berganti nama menjadi, Siti Masitah.


Setelah acara ngaras yang penuh keharuan, prosesi selanjutnya yaitu pencampuran air siraman. Tujuh macam bunga dengan warna yang berbeda dicampur dengan air ke dalam wadah besar dan disimpan di tempat khusus yang akan menjadi tempat Ara melakukan siraman.


Selanjutnya, diiringi musik kecapi dan suling, Ara berjalan menuju tempat siraman dengan menginjak tujuh helai kain. Gadis itu kemudian duduk di kursi yang telah disediakan. Dipandu oleh MC yang dikirim wedding organizer yang Bumi sewa, Ara mulai diarahkan harus melakukan apa saja.


"Nanti tangannya menengadah pas orang tua mengucurkan air, ya. Trus nanti eneng basuh ke muka," tutur sang MC yang bernama Rena.


Selanjutnya, mami menjadi yang pertama menyirami Ara. Disusul oleh Akas, laut kemudian Bumi dan Ayesha. Setelah itu jida dan uti juga ikut menyirami Ara. Sesuai yang diberi tahukan oleh Rena, maka hari itu Ara disirami oleh 11 orang keluarga. Maka selanjutnya yang menyirami Ara adalah, Nadia, Zahra, Fenti, dan Yati, ibunya Fadan.


Setelah prosesi siraman harusnya acara berlanjut pada ngerik atau potong rambut. Di mana pada prosesi ini rambut dipotong sedikit dilanjut prosesi ngeningan, yaitu menghilangkan bulu-bulu halus pada wajah,namun, Ara menolaknya. Ia tak ingin melakukan hal itu. Dia juga mewanti-wanti pada Teh Herni, sang perias pengantin yang datang hari itu agar tidak mencukur alisnya dan tidak memasangkan bulu mata palsu pada dirinya.


Sebetulnya bila ingin dilakukan sesuai adat, masih banyak yang harus dilakukan. Tapi, Ara menolak. Baginya semuanya sudah cukup tinggal menunggu waktu akad dan resepsi.


Beberapa hari kemudian sebelum akad dilaksanakan, Bumi dan Akash pergi ke rumah Aro. Diikuti oleh Nadia dan keluarganya. Sedangkan Zahra tetap di rumah Bumi.


Putri Sanu yang bernama Fatimah kini sudah berusia tiga tahun kurang tiga bulan. Fatimah sangat menggemaskan. Badannya yang gempal berlarian ke sana kemari di ruang tamu. Menjadi balita satu-satunya di keluarga jidda, membuat gadis kecil itu menjadi sumber perhatian dan kasih sayang semua orang, termasuk Ara.


Fatimah suka sekali makan buah naga, gadis kecil itu bisa menghabiskan satu buah dalam sekali makan. Sanu kini kembali melanjutkan kuliahnya, dan Zahra yang menjaga Fatimah. Ilham akhirnya luluh, dia nampak begitu menyayangi Fatimah. Pun dengan keluarga Sanu, seiring berjalannya waktu mereka dapat menerima kesalahan Miza dan Sanu.


***


"Jangan terlalu tebal ya, Teh riasannya," ujar Ara pada Herni.


Tepat pukul 08.00 riasan pada wajah Ara selesai dilakukan dengan berbagai drama pada prosesnya. Gadis itu hampir membuat Herni kesal karena sungguh banyak permintaannya.


"Si Ara mah riweuh," keluh Herni (Ara tuh ribet)


Ara menanggapinya dengan tawa dan berkali-kali meminta maaf serta memeluk lengan Herni.


Sedangkan di luar, tepatnya di cafe yang dijadikan resepsi persiapan menyambut mempelai pria tengah dilakukan. Rena kembali didapuk menjadi MC dan kali ini wanita itu berkolaborasi dengan Fatir. Beberapa dayang yang cantik jelita sudah berbaris pada posisinya. Begitupun dengan aki dan nini lengser yang akan menyambut kedatangan sang besan.


"Tiga menit lagi mereka sampai," beritahu Laut pada seluruh keluarga. Nampan berisi bunga melati sudah dipegang oleh Zahra. Sita, panggilan untuk Vanya yang baru terlihat gugup di posisinya.


Begitu rombongan besan tiba, sang MC mulai membuka acara. Menyambut kedatangan mereka dan dilanjut dengan mengalungkan bungan mawar oleh Sita pada Aro.


Lengser memulai aksinya, dia melakukan gerakan lucu sedangkan yang bicara tentu saja MC. Aki lengser juga tidak sendirian dalam aksinya, ia ditemani nini lengser beserta para dayang yang menari menyambut Aro dan keluarga.


Para penari pria bertugas memayungi Aro sedangkan penari wanita membawakan tarian merak lengkap memakai busana yang menyerupai burung merak.


Dalam aksinya, aki dan nini lengser beserta para penari diiringi gamelan yang ditabuh para nayaga, musik yang mereka bawakan hari itu adalah degung kawih.


Aki lengser dengan gayanya yang lucu menyambut Aro, kemudian membawanya ke tempat di mana acara akad nikah akan dilaksanakan.


Inilah bagian menegangkan dari semua proses yang dilalui Aro. Wali hakim dari kantor urusan agama menjadi wali nikah Ara hari itu. Entah apa yang membuat suasana menjadi haru biru. Aro sendiri bahkan menangis saat ustaz selesai membacakan ayat suci al-qur'an. Dia begitu terbata saat MC bertanya apakah sudah siap melakukan ijab qabul?


Bumi mendekatinya, ia mengusap punggung anak lelakinya itu dan bertanya apa yang membuat pria itu menangis


"Aku nyesel sempet benci dan ngatain Ara anak haram," lirih suara Aro ditangkap oleh indra pendengaran Bumi.


"Bunda titip Ara ke Mas, ya. Sayangi dia, bahagiakan dia. Bunda yakin mas pasti bisa," bisik Bumi menguatkan putranya.


Aro mengangguk mantap, air matanya diusap oleh Bumi menggunakan tisu. "Bismillah, Mas. Jangan tegang."


Bumi kembali ke tempatnya setelah memastikan Aro tenang dan menghentikan tangisannya. Kini, giliran Bumi yang menangis. Ia tak kuasa menahan sedih. Mengingat masa lalu Ara. Bagaimana bayi mungil tanpa dosa itu lahir ke dunia. Membawa luka yang tak kasat mata. Sempat menjadi makhluk yang tak diinginkan keberadaannya.


Sita juga sama, ia tak henti menangis. Merutuki kebodohannya yang telah menjahati Ara, bayi mungil tak berdosa. Yati yang duduk di sampingnya terus ikut menenangkan.


Setelah kata siap terucap dari bibir Aro, wali hakim menjabat tangannya. Aro seksama mendengar penuturannya dan dengan suara lantang dalam satu tarikan nafas ia lancar melakukannya hingga kata sah bersahutan di ruangan itu.


"Ra, udah sah. Kamu sama mas Ar udah sah!" seru Alisha yang ditugasi menemani Ara.


"Ya Allah, Kak. Aku gugup," aku Ara yang sedari tadi *******-***** tisu, membunuh rasa gugupnya.


"Ayo, Ra. Udah ditunggu sama mas Ar," Fenti datang memberi tahu bahwa akad nikah telah usai dilaksanakan.


Ara mengangguk, kain batik yang membebat kakinya sedikit membuat langkahnya menjadi tak bebas. Dituntun oleh Alisha, Ara keluar dari kamar menuju cafe, tempat di mana akan dilangsungkannya resepsi.


Hati Ara berdesir hebat, jantungnya berdegup tak keruan. Ia yang hari itu nampak cantik dan segar dengan riasan wajah natural menyihir puluhan pasang mata tamu yang hadir.


Ara berjalan dengan senyum menuju Aro yang masih duduk di tempatnya. Pria itu langsung berdiri kemudian berlari menyambut Ara yang kini sudah menjadi istrinya.


Aro tanpa ragu dan tanpa memedulikan apa yang dikatakan MC langsung saja memeluk Ara. Tangisannya kembali pecah saat Ara balas memeluknya.

__ADS_1


"Kamu istriku," bisiknya membuat Ara mengangguk.


"Mas, tanda tangan berkas dulu. Tuker cincin juga belum. Nanti dilanjut lagi kebersamaannya," bisik Rena mengingatkan keduanya.


Aro melerai pelukannya, ia menggandeng Ara menuju tempat penandatanganan surat nikah. Sebelumnya keduanya saling memakaikan cincin pernikahan.


Acara dilanjut pada sungkeman. Dalam prosesnya, Ara kembali menangis. Aro juga sama. Apalagi ketika begitu banyak nasihat yang dikatakan ayahnya.


"Jadilah suami paling dicintai istri. Kamu harus jadi satu-satunya orang yang paling dibutuhkan istrimu. Lakukan apa saja yang membuatnya bahagia, mencuci sprei misalnya," pesan Akash pada Aro yang masih belum paham apa maksudnya mencuci sprei?


Bumi sendiri tak banyak bicara, ia yakin Ara mampu menjadi istri yang baik bagi Aro.


Setelah selesai sungkeman dan menyalami seluruh keluarga, Ara dan Aro dipersilahkan untuk berganti pakaian sebelum acara resepsi yang akan dilaksanakan bada dhuhur.


Aro tak sedetikpun melepaskan genggamannya pada tangan Ara. Keduanya berjalan bersama menuju kamar Ara untuk berganti pakaian dan salat dhuhur. Saat menaiki tangga, Aro gemas sebab langkah Ara begitu pelan


Ia dengan gerakan cepat menggendong tubuh istrinya. "Kamu jalannya lama," ucapnya membuat Ara kaget.


"Mas, malu ih!" sentaknya seraya memukuli dada Aro.


"Diem, nanti jatoh!" balas Aro tersenyum jahil.


Tiba di depan pintu, Aro baru menurunkan tubuh istrinya. Ara segera membuka pintu dan masuk diikuti oleh Aro yang kembali menutup pintu dan menguncinya.


"Kok dikunci?" tuding Ara.


'Emang kenapa?" Aro balik bertanya.


Ara menggeleng, enggan melanjutkan bicara. Ia memilih membuka rangkaian bunga melati pada kepalanya. Sedikit kesusahan Ara melakukannya hingga Aro turun tangan membantunya.


Ara juga melepas satu persatu jarum pentul yang tersemat di hijabnya yang dibentuk sedemikian rupa


"Gerah nggak sih, Mas?" tanyanya dan diangguki Aro.


"Sini duduk!" Aro yang sudah duduk di tepian tempat tidur melambaikan tangan pada Ara


Ara menurut, ia duduk di samping suaminya seraya masih berkutat membuka hijabnya yang berwarna putih.


"Sini aku lipat." Aro mengambil kain itu dan melipatnya.


Setelah itu, Ara membuka inner dari kepalanya


"Lega, deh," gumam Ara kemudian menggerai rambutnya.


"Mas, aku tadi diomelin sama teh Herni. Katanya pengantin nggak boleh keramas," adu Ara.


Alih-alih menjawab, Aro malah terpaku melihat Ara tanpa hijab. Rambutnya yang terlihat masih basah tergerai indah dengan leher yang putih mulus.


"Aku kan abis haid, masa nggak keramas," celoteh Ara yang tak sadar sedang dipandangi oleh Aro dengan tatapan penuh keinginan.


Ara beranjak dari duduknya, ia menuju meja rias hendak membersihkan make up sebab akan segera berwudhu. Matanya menangkap beberapa biji permen yang berada di antara minyak wangi Aro.


"Mas sekarang makan permen terus?" tanya Ara.


Aro mengangguk, ia ikut beranjak dan berjalan menuju tempat Ara berdiri


"Gantinya rokok, Ra." Aro mengambil satu buah permen itu lalu membuka dan memakannya.


"Mau dong, bukain!" pinta Ara dan langsung diiyakan oleh Aro.


"Tapi nggak baik, Mas kalau kebanyakan. Kurang-kurangin deh!" saran Ara, ia masih tak sadar bahwa Aro terus memandanginya dengan tatapan memangsa.


Ara mulai membubuhkan cairan pembersih make up pada kapas dan perlahan menyapukannya pada wajah.


"Susah, ih," keluhnya.


Aro tertawa, "Sini aku bantu."


Aro mengambil kapas dan membubuhinya dengan cairan yang Ara gunakan tadi. Sebelum menyapukannya ke wajah Ara, ia menaruhnya sebentar di atas meja rias. Menyingkirkan beberapa benda dari atas meja itu hingga tersedia tempat kosong di sana.


"Kamu duduk, aku yang bersihkan." Aro dengan gerakan cepat menaikan tubuh Ar ke atas meja rias hingga istrinya itu duduk di sana.


"Merem!" titah Aro dan dipatuhi oleh Ara.


Aro dengan gerakan lembut mengusap riasan pada kelopak mata Ara.


"Napas, Ra," goda Aro saat Ara terlihat menahan napas. Ara jadi salah tingkah, ia tak bisa pungkiri bahwa saat ini jantungnya sedang berdegup tak keruan, lagi.


Sentuhan tangan Aro pada kulit wajahnya menimbulkan rasa aneh yang baru kini ia alami. Gelenyar yang membuat aliran darahnya menghangat. Rasa baru yang belum ia alami.


"Kamu cantik," ucap Aro semakin membuat Ara salah tingkah.


.


.


.

__ADS_1


Terlalu sedih untuk menjabarkan proses ijab kabul 😭😭😭


Terima kasih yang selalu mendukung Ara dan Aro. Kisah keduanya sudah hampir lengkap.


__ADS_2