Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
I'll Never Felt this Way Before


__ADS_3

Aro menemui ayahnya yang sedang mencatat sesuatu di ruang kerjanya. Otot-otot tangan Akash nampak terlihat di lengannya manakala jemarinya menarikan pulpen di atas kertas itu.


Akash duduk menghadap sebuah meja bulat berukuran kecil. Hanya mengenakan sarung hitam dan kaos lengan pendek berwarna senada. Jika ingin bilang Aro adalah adikngapun tak akan ada yang menyanggahnya. Akash nampak masih muda dan selalu terlihat rupawan.


"Yah, kata bunda, Ayah manggil aku?"


Akash mengangkat telapaknya ke udara, menyuruh putranya menunggu. Aro mengerti, ayahnya yang memang tidak terlalu banyak bicara hal tak penting itu sangat tak suka bila pekerjaannya diganggu.


"Ini nggak kepegang kalau dikerjakan sendiri," gumam Akash memandangi hasil catatannya yang berupa orderan katering untuk satu bulan ke depan.


"Punya anak satupun nggak ada yang tertarik meneruskan bisnis," lanjutnya seraya menutup pulpen kemudian menaruhnya bersama buku pada laci yang ada di meja tersebut.


Akash kemudian melangkah menuju sofa panjang yang sedang diduduki putranya. Sofa cinta bila Bumi yang menyebutnya. Dirinya sering menghabiskan malam bersama Bumi di atas sofa itu bila sudah mulai merasa saling sibuk dengan diri masing-masing. Bukan apa, sebab saat sama-sama berbaring pada sofa itu. mereka akan terus saling berpelukan. Tidak saling membelakangi. Bagi keduanya, pelukan adalah penguat batin yang paling ampuh.


"Rambutnya panjang tuh, Ayah nggak suka lihatnya!" seru Akash mengacak rambut Aro.


"Komennya sama banget kayak bunda," sahut Aro merapikan kembali rambutnya.


"Tambah ganteng aja, sih," puji Akash seraya menepuk pipi Aro. "Tapi, masih gantengan Ayah," imbuhnya membuat Aro meninju bahu Akash yang memiliki postur tubuh sedikit lebih pendek darinya.


"Jadi laki-laki itu nggak cukup ganteng doang, tapi juga harus punya tanggung jawab," ucap Akash menjentikan jarinya. "Tanggung jawab laki-laki itu besar, apalagi setelah menikah. Dia harus bisa membimbing istri dan anaknya," lanjutnya seraya menepuk bahu Aro.


"Aku belum kepikiran nikah, jadi jangan bahas pernikahan deh, Yah," sanggah Aro memasang wajah tak suka.


"Ya udah nanti Ayah tanya aja apa bang Za udah siap nikah belum," ujar Akash seraya mengusap dagunya seraya mengangguk-angguk.


"Ngebet banget pengen nikahin anak, mentang-mentang Ara nggak jadi nikah sekarang aku sama abang yang ditodong suruh nikah?" tuding Aro.


"Lebih tepatnya sih Ayah sama bunda lagi cari jodoh buat Ara," ujar Akash seraya mengambil ponsel pada meja kecil yang berada di hadapannya.


"Ayah mau telepon temen Ayah dulu buat tanyain ada yang punya anak laki-laki yang siap nikah sama Ara, nggak?" beri tahu Akash.


Aro dengan gerakan cepat mengambil ponsel dari tangan Akash. "Ayah, jangan seenaknya gitu dong sama Ara, tanya dulu Aranya mau apa enggak dijodohin lagi," ucap Aro dengan kilatan mata penuh amarah.


"Kok jadi kamu yang sewot?" protes Akash berusaha mengambil ponselnya kembali, namun Aro malah memasukannya ke dalam saku celananya.


"Kasihan Eneng kalau dapet calon suami kayak kemaren lagi gimana?" tuding Aro.


"Kasihan Eneng? Eneng, nih?" desak Akash seraya menaik turunkan alisnya.


"Ara," ralat Aro dengan cepat, "Biasanya kan Ayah dan bunda juga manggil Ara dengan sebutan Eneng," imbuhnya.


"Tadinya Ayah sama bunda mau melamar Ara buat salah satu anak Ayah, tapi kayaknya anak Ayah emang belum pada mau berumah tangga."


"Padahal bunda tuh inginnya Ara menikah dengan salah satu di antata kalian, tapi anak Ayah kayaknya nggak ada yang tertarik ya sama Ara," ucap Akash panjang lebar membuat Aro membulatkan mata, ingin bicara namun tak kuasa.


"Ayah tadinya ngajak kamu bicara cuma buat nanya, kamu mau nggak Ayah jodohkan dengan Ara. Tapi, kayaknya kamu nggak mau, ya?" tebak Akash.


Aro berpikir sejenak, bukan tak ingin hanya saja jika untuk menikah dirinya masih ragu. Dua film berikutnya tinggal proses syuting. Project yang sangat ia tunggu-tunggu, sebab merupakan film yang diangkat daru novel bestseller karya penulis ternama anak bangsa.


"Pasti kamu nggak mau, 'kan?" tebak Akash.


"Kalau gitu Ayah mau kasih Ara buat abang aja."

__ADS_1


Aro bingung harus menjawab apa, dia ingin mengakui perasaannya terhadap Ara, namun baginya karirnya juga penting. Menikah di usia yang masih 22 tahun bukanlah bagian dari tujuan hidupnya. Meski ia kini sudah yakin sedang jatuh cinta pada Ara, itu saja tidak cukup untuk membuatnya menikahi Ara.


"Sini balikin hape Ayah!" Akash menepuk paha Aro, "Ayah mau telepon abang," lanjutnya dengan tampang serius membuat Aro semakin dilema.


"Kenapa Ayah nggak tanya Ara dulu dia mau nikahnya sama siapa?" usul Aro, tetap tak memberikan ponsel pada Akash.


"Bunda lagi tanya Ara kok, bang Za sama Ara juga udah pernah deket 'kan waktu SMP. Siapa tahu mereka cocok?" jelas Akash membuat badan Aro panas dingin saja.


"Aku mau pacaran dulu aja, ya sama Ara?" pinta Aro namun malah mendapat pukulan di lengannya dari Akash.


"Enak aja pacaran!" sentak Akash, "Ayah aja waktu muda nggak pacaran," lanjutnya mengacak rambut Aro.


"Ya udah ganti, ta'aruf deh. Tapi, setahun," pinta Aro lagi, dan kembali mendapat pukulan dari Akash.


"Aku aja deh yang ngomong ke Ara, siapa tahu Ara setuju pacaran dulu."


"Kok pacaran lagi sih?" Akash bertanya dengan nada tinggi. "Lagipula, ta'aruf itu nggak ada yang lama hingga setahun gitu. Kamu kalau ngak mau udah nggak usah banyak aturan. Berarti fix, Ara mau Ayah jodohkan dengan abang aja."


Setelah itu Akash memaksa Aro mengembalikan ponselnya. Kemudian, ayah tiga anak itu menyuruh Aro kembali saja ke bawah sebab dirinya banyak sekali pekerjaan yang belum selesai.


***


"Kamu sekarang deket ya sama mas Ar?" tuding Bumi pada Ara.


"Alhamdullillah sih, Mas udah nggak kasar lagi sama aku," jawab Ara cepat.


"Kirain Bunda, Ara dan Aro lagi pendekatan?" tebak Bumi membuat pipi Ara merona.


"Enggak kok Bunda," sanggah Ara seraya menggeleng.


Ara tak lekas menjawab, ia merasa jadi sangat serba salah. Tak bisa dipungkiri Ara pun menginginkannya. Ya, dia menginginkan menikah dengan Aro. Tapi, apakah mungkin? Sikap Aro saja susah ditebak. Pria itu terkadang baik bagaikan memang menyukainya. Terkadang sangat menyebalkan seolah dirinya memang tiada arti di matanya.


"Gimana?" desak Bumi seolah ingin jawaban saat itu juga.


"Ara bingung jawabnya, Bun." akunya seraya menghembuskan nafas, "Ara takut perasaan Mas ke Ara nggak sama, eh!" Ara menutup mulut dengan kedua telapak tangan, lupa telah salah berucap.


Bumi tersenyum, ia sudah bisa langsung menebak bahwa Ara memang menaruh hati pada Aro. Ia berdehem, kemudian mengangkat kursi agar merapat pada kursi Ara.


"Sejak kapan?" tanya Bumi penasaran.


"Apanya Bunda?" Ara pura-pura tak mengerti.


Bumi tertawa, nampak wajah Ara sangat merah dengan detak jantung tak karuan yang bisa Bumi rasakan.


"Mau tahu kisah cinta Bunda sama ayah nggak?" tanya Bumi, rasa-rasanya ia sudah boleh menceritakan betapa sulit saat dirinya dan Akash akan bersatu. Penuh air mata dan hati yang terus digores secara paksa.


"Bukannya Bunda dan ayah selalu bahagia?" tebak Ara.


Bumi tertawa, akankah Ara menangis bila tahu sebanyak apa luka yang Bumi alami saat merajut asa agar bisa bersama dengan Akash. Dia bahkan pernah melewati satu hari satu malam dengan hanya menangis saat waktu begitu kejamnya memisahkan mereka berdua.


"Ayah itu duda saat menikah dengan Bunda," beritahu Bumi membuat Ara rercengang.


"Kami sempat terpisah lama, dan Bunda juga hampir menikah dengan lelaki lain. Tapi, jodoh itu memang kuat. Sejauh apapun terpisah, jika memang takdirnya adalah bersama. Pada akhirnya tetap kembali dan saling mencintai."

__ADS_1


"Sesakit itu ya, Bun mencintai salah satu hamba Allah yang tak mencintai kita?"


Bumi memicingkan matanya, sepertinya putrinya itu sedang mencurahkan perasaannya.


"Cinta bertepuk sebelah tangan?" tebak Bumi.


"Aku nggak tahu, sometimes I feel he loves me, but sometimes I seem insignificant to him," ujar Ara sedikit bergumam.


"do I know who that man is?"


Ara tertawa, "Kita kenapa jadi sok sok an speak english deh, Bun?"


"Jadi ingat waktu kamu TK ya? tiap hari sebutin nama warna dan benda in english. Bunda sampai belajar dulu sama ayah tentang kosakata in english sebelum ajak kalian bicara," papar Bumi mengenang masa-masa kecil anak-anaknya.


Ara jadi menerawang, membayangkan betapa saat kecil semuanya kadang terasa berat ketika semua orang membicarakannya.


Suara saling bersahutan masih terdengar di ruang tamu. Keluarga Akash rupanya masih saja betah bertamu.


"Siapa lelaki beruntung itu?" desak Bumi kembali pada pertanyaan awal.


"Cerita aja!" titah Bumi.


"Bunda boleh tebak," jawab Ara, dia sudah tahu bundanya itu sesungguhnya telah paham.


"Assyam Mahija Aro?"


Jawaban Bumi membuat Ara termangu, sedetail itu Bundanya dapat tahu. Ia gelagapan dan tak tahu harus menjawab apa.


"Sejak kapan Sayang?" tanya Bumi, raut wajah Ara sudah lebih dari cukup untuk menjawab iya.


"Sejak ... aku mulai tahu bahwa memandang lawan jenis itu membuat hati berdebar hebat, Bun."


Ara menunduk seolah telah membuat banyak kesalahan. Ia malu, merasa seperti seekor kucing terbuang yang dipelihara, namun pada akhirnya memakan makanan yang ada di atas meja. Padahal sudah disiapkan makanan sendiri.


"Maaf, tapi aku nggak pernah bisa melupakannya."


"Kamu berhak bahagia Sayang, Bunda dan ayah tidak akan menghalangi kebahagiaamu," hibur Bumi.


"Masalahnya, aku nggak tahu Mas suka apa enggak sama aku?" sesal Ara.


Baru akan menjawab, suara salam dari seseorang mengurungkan niat Bumi.


"Bunda ...."


Adalah Akhza yang datang, pria itu tersenyum dengan binaran mata yang nampak bahagia seperti habis mendapatkan sebuah undian berhadiah. Seolah hendak menyampaikan berita bahagia.


"Abang ...." Bumi tak kalah antusias memyambut kepulangan putranya itu.


Akhza berhamburan ke pelukan Bumi, pakaiannya sangat rapi. Kemeja berwarna biru mint yang dimasukan kedalam celana bahan berwarna navy. Rambutnga disisr rapi menggunakan pomade. Otot lengan yang nampak menyembul sebab lengan kemeja yang digulung hingga siku, membuat Akhza terlihat matang dan dewasa.


"Apa kabar, Ra?" tanya Akhza seraya mengelus kepala Ara.


"Ra, pergi sekarang yuk!"

__ADS_1


Sebuab suara berteriak dari arah lain. Ara bingung harus menjawab yang mana. Pria yang memang jelas mencintainya atau dia yang seolah tak pernah suka tapi terus saja membuat berantakan hatinya?


__ADS_2