
Malam semuanya, terima kasih yang sejauh ini masih setia mengikuti Ara. Dimohon dengan sangat, apabila kisah ini mulai membosankan, tolong tegur saja diriku ini. Jangan pergi diam-diam ya. Sakit loh ditinggal pas lagi sayang-sayangnya itu.
Aku juga udah baca dari awal lagi kisah ini, waduuh itu typo ternyata bertebaran di mana-mana. Maafkeun atas up yang tidak teratur (apa kalian menunggu up Ara?).
Maaf atas segala ketidak nyamanan ini.
***
Ara tertegun tak mampu menjawab salah satu pertanyaan dari kedua lelaki yang kini mengapitnya kanan kiri itu. Ia seperti sedang berada di persimpangan jalan dalam keadaan tersesat. Bingung harus memilih berbelok ke mana? Sebetulnya sudah ingin memilih, tapi, apakah yang dituju akan memilihnya juga?
"Ra, ayok!" seru Aro seraya mengetuk dua kali kepala Ara dengan telunjuknya.
"Ra, kamu nggak baca pesanku?" Akhza ikut bicara. Ia tadi pagi sempat mengirimi Ara sebuah pesan berisi ajakan pergi berdua ke suatu tempat.
Bumi memijat keningnya yang mulai terasa pening, baru tadi diingatkan Zahra, sekarang kejadiannga sudah di depan mata. Ketika dua putranya yang jelas berbeda sifat itu harus jatuh hati pada gadis yang sama, Bumi menghela nafas. Ia beranjak dari duduknya, hendak memangkas segala kecanggungan yang ada.
"Nggak ada yang boleh bawa Ara pergi," ucap seseorang yang baru datang, suaranya tegas namun menenangkan.
Akhirnya Bumi dapat tersenyum, pujaan hatinya datang di waktu yang tepat. Bumi menyambut kedatangan suaminya yang langsung saja mengecup singkat kening istrinya tanpa malu dilihat oleh ketiga anaknya.
"Damn!" gumam Aro, namun dapat didengar Akash.
"Sirik aja!" balas Akash.
"Ya elah nggak harus depan kita juga kali, Yah," sahut Aro memutar bola matanya.
"Nanti juga kamu merasakannya," sindir Akash seraya melirik Ara dengan ujung matanya.
"Yah, salim dulu, dong!" seru Akhza seraya meraih tangan Akash dan menciumnya, "sarungan emang paling enak ya, Yah," imbuhnya membuat Akash tertawa seraya menepuk bahu putranya itu.
"Ayah punya pengumuman nih, sore ini kita ke rumah uti rame-rame ya. Sebentar lagi Ramadhan, kita harus nyekar. Ya, kan Bun?" Akash menyenggol lengan istrinya. Yang disenggol tersenyum mengangguk.
Tak ada yang menjawab, baik Ara, dan Aro masih pada posisi masing-masing. Tertegun, dengan pikiran yang saling menuding. Ara menganggap Aro tak menyukainya, dan Aro menganggap Ara akan lebih memilih abangnya.
"Amma Nadia juga mau ngadain acara, loh. Masa pada nggak mau ikut?" desak Aro.
"Kamu, calon dokter, mau ikut nggak?" tanya Akash pada Akhza seraya menepuk bahunya, yang ditanyai malah diam.
"Atau kamu, sang artis mau ikut nggak?" pada Aro, Akash mengacak rambutnya.
"Atau ini nih yang paling cantik, mau ikut nggak?"
__ADS_1
"Iya, aku mau ikut. Aku kangen sama uti. Pengen ketemu juga sama Sheina juga Amirah," sahut Ara berapi-api seraya menyebutkan nama dua putri Nadia dan Hafidz.
"Aku juga ikut!"
"Aku juga ikut!"
Akash tertawa, "Dasar si kembar, udah sana siap-siap!" titahnya pada kedua putranya.
Belum sempat keduanya beranjak, sebuah salam datang menyapa. Laut dan putranya, Rud, datang bersamaan.
"Aduh keluarga Langit lagi kumpul, ada apa aja nih? petir, hujan, atau pelangi?" Laut mengusap kepala Ara, "apa kabar cantik?" tanyanya, ia sangat menyayangi Ara.
"Papa ... baik dong," Ara menyambut lelaki yang disebutnya papa itu dengan mencium tangannya.
"Bang Rud, tambah tinggi aja, ih!" seru Ara seraya beradu tinju dengan Rud, putra Laut dan Ayesha.
"Kamu nggak tinggi-tinggi, Ra. Irit banget punya badan," balas Rud mengacak hijab depan Ara.
"Body shaming tuh, nggak boleh!" Aro ikut menimpali candaan Rud pada Ara.
Rud tertawa, ia mendekat ke arah Aro seraya meninju bahunya. "Si artis, playboy cap kepala kakap!" ledek Rud membuat Aro membalasnya dengan tendangan pada pergelangan kering Rud.
"Asyik yang udah kerja di perusahaan, gebet anaknya tante Rere biar diangkat jadi CEO, gih!" balas Aro sengit.
"Lo aja, Bang yang gebet!" usul Rud, "cocok tuh, si judes sama si cool. Nanti anaknya jadi gunung es," imbuhnya diakhiri gelak tawa oleh Aro dan Rud, Ara jadi ikut tertawa.
Sementara itu, Laut, Bumi, dan Akash memilih meninggalkan anak-anak itu ke ruang keluarga. Mereka sudah tidak selera membahas hal-hal seperti itu, masa-masa mereka sudah lewat. Padahal, dulu juga mereka sering menghabiskan waktu bersama hanya untuk bercanda.
"Namanya siapa sih? gue lupa deh?" Aro berusaha mengingat nama putri Rere dan Guntur, tapi tak tergambar dalam otaknya.
"Namanya Nauna, panjangnya aku gak tahu," sahut Ara. Ia sempat bertemu di rumah jidda. Nauna memang sedikit angkuh dan membuat siapa saja merasa segan untuk menyapanya.
"Tuh, Bang. Sana gebet!" ujar Aro, seperti sengaja mengompori. "Siapa tahu dimudahkan urusan Koasnya sama oom Guntur," lanjutnya seraya menyikut Rud meminta persetujuan lelaki yang usianya satu tahun lebih tua darinya.
"Iya, Bang. Walaupun agak oon sih," terang Rud, yang sedikit banyak mengetahui sifat Nauna.
"Bukan agak lagi, tapi emang oon," ralat Akhza, "masa dia bedain antara tablet sama kapsul aja gak bisa," imbuhnya seraya tertawa sebab pernah sekali waktu keduanya tugas bersama dan Nauna kebingungan membedakan kapsul dan tablet.
"Cie, inget ya sama Nauna sampe senyum gitu?" goda Ara membuat Akhza segera menarik kembali bibirnya yang sedang melengkung.
"Iih, amit-ami!" sanggah Akhza, "bisa menderita seumur hidup punya pasangan kayak Nauna. Kamu belum lihat sih seberapa berantakannya Nauna," jelas Akhza malah semakin membuat Ara ingin menggodanya.
__ADS_1
"Duh, sampe hafal gitu sih, Bang?"
"Iyalah, cocok itu dokter sama dokter nikah. Nanti kita ngadonya stetoskop, jarum suntik, kateter, gunting bedah, sama apa lagi, Ra?" Aro bertanya pada Ara, pintar sekali mencari peluang.
"Alat P3K, selang infus, pispot ...." Ara tertawa pada bagian kalimat pispot yang ia katakan.
"Kalian kenapa jadi jodoh-jodohin gue sama Nauna, sih?" tuding Akhza, tak suka.
"Biar gue yang menang!" bisik Aro penuh penekanan seraya berlalu dan menarik pergelangan tangan Ara.
Ara tak bisa melawan, lebih tepatnya tak ingin. Hatinga selalu terima walaupun dipaksa terus-menerus oleh Aro. Aro membawa Ara keluar rumah, keluarga yang sudah berpindah berkumpul di ruang tengah sempat melihat Aro menarik tangan Ara dan keduanya berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
"Aku yakin kalau emang mereka rebutan, pasti Mas Ar yang menang," tebak Alisha dengan gaya so' tahunya.
Sementara itu Akhza dan Rud berjalan bersamaan dan bergabung ke ruang keluarga. Kedua lelaki yang sama-sama rupawan itu memandangi kepergian Aro dan Ara.
Akhza tentu dengan perasaan cemburunya, namun ia tak ingin memancing keributan sebab sedang banyak keluarga yang berkumpul.
"Mas Ar sama Ara mau ke mana, Bang?" tanya jidda yang kakinya sedang dipijit oleh Alisha.
"Nggak tahu, Jidda. Mas Ar memang suka seenaknya sama Ara," jawab Akhza mengubur rasa cemburunya.
"Udah, biarin aja. Mereka berdua kelihatannya aja seperti kucing dan tikus. Tapi, mas Ar nggak mungkin membahayakan keselamatan Ara," papar Laut, memangkas segala kekhawatiran yang tengah dirasakan para orang tua itu.
Sementara itu, Aro ternyata membawa Ara ke dapur Kafe ayahnya. Ia menyuruh Ara duduk di salah satu kursi yang biasa dipakai peramu saji untuk istirahat.
"Mas, gak enak tahu di sini tuh panas," protes Ara seraya mengibaskan hijab ke wajahnya sendiri.
"Bentar, Ra. Aku mau bikinin sesuatu buat kamu," jawab Aro seraya membelah roti menjadi dua bagian.
"Mas mau buat apa?" selidik Ara.
"Burger," jawab Aro singkat membuat Ara mengembangkan senyum.
"Aku suka, Mas!" seru Ara dengan suara riang gembira, sambil bertepuk tangan dan bersorak.
"Makanya aku buatkan," ujar Aro tanpa menoleh sebab sedang memanggang daging dan juga roti. Ia sebenarnya tak tahu cara yang benar membuat roti burger seperti apa.
"Bisa, Mas?" selidik Ara, ia tak rela makan roti gosong.
"Jangan pernah meragukanku, Ra. Aku memang bukan laki-laki baik, tapi aku tidak mungkin menjerumuskanmu ke dalam keburukan. Cukup percaya padaku, selebihnya biar aku melakukan yang terbaik untuk kita," jawab Aro panjang lebar yang malah membuat Ara tak mengerti. Mengapa perkara burger jadi seserius itu?
__ADS_1
Huaaaaaa. Kapan sih peresmiannya ini dua sejoli?
Like dan komen ditunggu. Jujur aku sedang insecure banget, tapi kalian yang selalu buatku semangat meski ada beberapa hal yang buatku merasa, ah dahlah. Aku sayang kalian pokoknya!!!!!! Mana suaranya yang kemarin minta abang sama keluarga Bumi dihadirkan?