Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Pusat Cinta Keluarga


__ADS_3

"Ara sama dedek pokoknya harus pulang ke rumah kita," bisik Akash pada Bumi.


"Kak, nggak enak dong ke mami Ara," sanggah Bumi seraya mengguncang lengan suaminya.


Keduanya sedang duduk di ruang tunggu, belum berniat pulang. Hal pertama yang Akash rasakan saat melihat bayi mungil itu adalah kebahagiaan yang amat sangat dalam.


Suka citanya melebihi saat dulu Aro dan Akhza lahir. Rasanya berjuta-juta kali lipat lebih bahagia. Bila tak ditegur bidan Army, ingin rasanya Akash terus mendekap cucu cantiknya.


"Aku langsung jatuh cinta sama Dya, bidadari ku Sayang," ujar Akash bergumam di akhir kalimatnya.


"Ya kita semua jatuh cinta sama Dya, tapi Kakak nggak boleh ambil keputusan secara sepihak. Ara baru aja semalam di rumah maminya, masa udah kita bawa ke rumah?" Bumi membujuk suaminya untuk tak keras kepala soal ke mana Ara dan putrinya pulang?


Akash tetaplah Akash, si batu yang diberi nyawa itu mana mau mendengar perkataan Bumi. Alih-alih menurut, ia malah membujuk Aro untuk mengizinkan anak dan istrinya pulang ke rumahnya.


"Ayah harap kamu ada di pihak Ayah," bujuk Akash pada Aro yang baru saja kembali dari mengubur ari-ari dan mencuci kain bekas lahiran Ara di rumah mami.


Aro tentu melongo, ia masih belum paham maksud dari perkataan ayahnya. Dengan gerakan mata, Aro meminta penjelasan pada bundanya.


"Tanya ayah, Bunda pusing." Bumi memilih beranjak meninggalkan suami dan anaknya.


"Ayah minta Ara dan dedek pulang ke rumah Ayah. Tinggal sama Ayah dan bunda," jelas Akash membuat mata bulat Aro membola.


"Mana bisa gitu? kita pulang ke rumahku dong, Yah," tolak Aro dengan nada halus.


"Masa-masa setelah melahirkan itu repot, loh. Ara butuh banyak perhatian lebih. Kamu bisa kewalahan kalau ngadepin istri kamu sendirian," bujuk Akash, berharap Aro menurut.


"Tadinya kupikir pulang ke rumah kami pilihan terbaik," sahut Aro yang kini sudah berganti memakai celana panjang berwarna army dan kaos putih lengan pendek.


"Agar Ayah, bunda dan mami Ara nggak ada yang merasa tersaingi," lanjut Aro serius.


"Kamu gayanya udah kayak bapak-bapak," seloroh Akash melihat raut wajah serius putranya.


"Lah, kan aku memang bapak-bapak," sambar Aro seraya menunjuk sendiri wajahnya.


Baru Akash hendak kembali bicara, dari ruang tempat Ara berbaring, Aro mendengar namanya dipanggil.


"Aku ke Ara dulu ... takut dia kangen," seloroh Aro seraya pamit meninggalkan Akash yang masih galau.


"Mana bisa gue jauh sama Dya," gumamnya seraya mengikuti langkah Aro.


Sementara itu di dalam ruangan, bidan Army baru selesai memeriksa keadaan Ara.


"Udah boleh pulang, nih," ucapnya memastikan keadaan Ara memang baik.


"Yeay, pulang ... pulang sayang, kita pulang ...." Ara bicara pada putrinya yang tidur di sebelahnya.


"Udah boleh?" Aro mendekat padanya.


"Iya boleh, kan barusan dibilang sama bu Army udah boleh, hih!" cibir Ara kesal.


"Cuma mastiin, Sayang." Aro terkekeh seraya mengusap pucuk kepala Ara.


Tadi Ara sudah mandi, sudah bisa buang air kecil pula. Keadaannya dan buah hati sudah baik. Bumi merapikan barang bawaan yang berupa perlengkapan bayi sementara Aro mengikuti langkah bidan Army yang meninggalkan ruangan.


"Pulang ke rumah Ayah, ya!" pinta Akash mendekat ke arah Ara.


Mami yang baru datang tentu juga mendengar ucapan Akash. Dirinya sedikit kaget, dipikir Ara akan akan pulang ke rumahnya.


Ara tak langsung menjawab, sebab melihat keberadaan mami. Akash menoleh, memandang ke arah Sita yang juga sedang dipandang Ara.


"Kebetulan kamu udah ada," ucap Akash pada Sita.


"Ara pulang ke rumah saya, ya?" imbuh Akash memohon.


"Kamu bisa juga tinggal di sana, nanti kita barengan ngurusin dede dan bubunya." Masih Akash yang bicara.


"Jangan salah paham dulu, saya bukan mau egois, tapi ibu yang baru melahirkan butuh banyak perhatian ekstra," papar Akash.


Bumi masih pura-pura sibuk mengemas barang padahal sudah selesai dari tadi. Ia merasa tak enak pada mami Ara.


"Kita tinggal sama-sama, mau ya, Sita," bujuk Akash dan Sita mengangguk setuju.


Bumi bernapas lega, begitu juga dengan Ara. Akhirnya jalan tengah sudah didapatkan. Sore itu mereka pulang ke rumah ayah dan bunda. Akash menggendong cucunya, ia dengan penuh sayang mendekap bayi itu dalam pangkuannya.


Hingga tiba di rumah dan langsung dihebohkan oleh Atar, Akash melarang putra bungsunya itu memegang Dya.


"Eeh, cuci tangan dulu!" Aro menarik ujung kaos Atar seraya mengusirnya dari hadapan Dya.


"Bubu sama dedek di sofa sebentar, ya?" Bumi membantu Ara duduk menuju sofa lalu mengajak Sita ke kamarnya untuk menyediakan tempat bagi Ara.


"Nggak mungkin dong Ara harus tidur di lantai dua," ucap Bumi dan diangguki Sita yang tak terlalu banyak bicara.


Sementara itu di ruang tamu, Akash dan Aro masih berebut Dya. Padahal jelas-jelas bayi berpipi bulat itu sedang tidur pulas.


"Ayah, dilepas aja kalau dedenya bobo. Nanti malah kebiasaan pengen digendong terus," saran Ara.


"Tuh 'kan!" seru Aro.


"Lepasin, Yah!" lanjut Aro memukul lengan ayahnya.


Belum sempat menaruh Dya di sofa, Bumi dari arah kamar sudah terlanjur berteriak.


"Mas, bawa dede sama bubunya ke sini!"


"Nah, ayok ke kamar, Sayang!" Akash mencium sekilas pipi Dya yang masih anteng tidur.


"Ish, ayah nyebelin!" gerutu Aro.

__ADS_1


"Kenapa sih?" Ara perlahan menurunkan kakinya yang barusan berselonjor.


"Eh, gendong ya?" tawar Aro saat melihat Ara meringis ketika berdiri.


"Enggak usah, Mas ... jangan riweuh deh!" sanggah Ara.


"Ya udah, kalau gitu digandeng aja." Aro segera menggandeng istrinya.


Tiba di kamar, Dya sudah diletakkan di tengah tempat tidur. Akash pun sudah berbaring menyangga kepala dengan sebelah tangan di samping Dya.


"Kak, ayok keluar ... biar Ara bisa leluasa istirahat!" ajak Bumi dan terpaksa Akash harus menurut.


Kini di kamar tinggal Ara, Aro dan Dya yang mulai menggeliat kemudian menangis nyaring.


Ara tertawa, "Mas, angkat bawa sini!" Ara sudah dalam posisi siap menggendong.


Aro tentu menurut, hati-hati ia menggendong Dya kemudian menempatkannya di pangkuan istrinya.


"Soleha, soleha ...." Ara membuka kancing baju bagian depannya.


Clap!


Bayi berpipi bulat itu meraih milik bubunya yang menjadi kesukaannya.


"Buka aja, kerudungnya!" saran Aro saat melihat Ara kesulitan memegangi ujung hijabnya. Belum ia harus memegangi miliknya yang sedang dinikmati Dya agar tak menutupi wajah Dya.


Aro berjalan ke arah pintu dan menguncinya. Kemudian kembali pada Ara dan membantunya melepas kerudung.


"Nah, jadi enak 'kan!" serunya seraya menyentuh pipi Dya dengan telunjuk.


"Nen yang banyak biar cepet gede," bisiknya di telinga Dya sambil mengusap kepala bayi itu penuh sayang.


"Terima kasih Ara, sudah melahirkan Dya dengan begitu tenang. Terima kasih," ucapnya berganti mencium pipi Ara.


Ini kali ke berapa kamu bilang terima kasih?


"Mas, kamu kan udah bilang terima kasih dari tadi. Udah, ah!" gerutu Ara. Bukan tak suka, hanya terasa sedikit berlebihan saja.


Ara baru sadar bahwa ukuran miliknya semakin membesar. Ia meringis ketika dengan lahap Dya menikmati miliknya dengan suara decap yang keras.


"Hehehe ... pelan-pelan, Sayang," bisik Ara pada putrinya.


"Sakit?" tanya Aro khawatir.


Duh! riweuh banget sih nih orang!


"Enggak, Mas," sanggah Ara.


Baru akan kembali berucap, pintu terdengar diketuk dari luar disusul oleh suara teriakan bunda.


"Soalnya Ara lagi nggak pakai hijab," ucapnya tanpa Bumi bertanya.


Bumi melenggang masuk dengan membawa nampan kecil ditangannya.


"Apa tuh Bun?" tanya Ara yang masih sibuk memberi ASI.


"Ini pilis, tapel sama parem." Bumi mengabsen barang bawaannya kemudian meletakannya di atas nakas.


"Ara pake pilis dulu ya keningnya, biar rileks." Bumi mengambil benda berbentuk bubuk padat itu.


Ara mengangguk, ia sudah sering melihat benda serupa ketika pasiennya membawa ke klinik.


Aro mendekat, ia penasaran apa yang akan dilakukan bundanya. Langkah demi langkah yang bundanya lakukan mulai dari melarutkan pilis dengan air hangat hingga mengental kemudian menempelkannya pada dahi Ara hingga merata.


"Ini terbuat dari ganthi, kencur, kunyit, mint dan kenanga," jelas Bumi setelah selesai mengoleskannya pada dahi Ara.


"Wangi, Bun. Dingin juga deh, enak jadinya." Ara menghirup aroma khas yang timbul dari pilis.


"Fungsinya emang biar bikin rileks. Peredaran darah biar lancar. Mengurangi pusing, mencegah darah putih naik ke kepala dan baik juga buat kesehatan mata." Bunda menjelaskan fungsi dari pilis ini.


"Nanti pake parem juga ya di tangan, kaki dan betis. Biar ngilangin pegel juga. Nanti aja kalo dede udah selesai 'nen," saran Bumi kemudian kembali pamit ke luar.


Sementara itu Aro meneliti benda-benda dalam nampan yang dibawa bundanya nanti. Ia pernah melihat benda serupa saat dijadikan alat kebutuhan syuting.


"Kenapa?" selidik Ara yang heran melihat suaminya begitu serius memperhatikan ketiga benda di atas nampan.


"Mau pake juga di dahi biar nggak pusing?" seloroh Ara kemudian meringis sebab si cantik menyesap miliknya dengan kuat.


Aro tertawa, " Enggak, makasih."


Kemudian kembali memperhatikan putrinya yang masih asyik dengan kegiatannya. Terlihat tak sabaran saat menyesap dengan decap yang kembali terdengar.


Aro dan Ara saling pandang kemudian tertawa melihat tingkah putrinya.


"Pelan-pelan, Sayang ... pelan-pelan," bisik Aro kemudian mencium pucuk kepala Dya yang wangi minyak telon. Segar.


***


Esoknya suasana kamar jadi sangat ramai, kedatangan jida dan keluarga Zahra memenuhi ruangan itu.


"Masih bayi udah kelihatan banget cantiknya," puji Alisha.


Saat itu, Dya baru saja selesai dimandikan dan dijemur. Sedang lelap tidur setelah minum ASI.


"Ayo, Sayang mandi dulu!" Aro datang dengan kaus yang basah bagian depannya. Ia habis menyiapkan air hangat untuk mandi istrinya.


"Aku tinggal mandi dulu ya, semua," pamit Ara kemudian perlahan turun dari tempat tidur.

__ADS_1


Ara masih sangat merasakan sakit pada daerah intinya. Ia berjalan pelan dengan menyeret langkah. Tiba di kamar mandi Aro tak lantas keluar, ingin membantu.


Tadi pagi-pagi sekali, bunda sudah mengoleskan parem pada tangan dan kaki Ara. Sekarang tinggal dibersihkan dengan air hangat.


Ara tak menolak saat Aro membantunya mandi. Ia justru merasa nyaman. Dengan lembut Aro membantu istrinya mengeringkan rambut setelah selesai mandi.


"Pakai baju di sini aja, Mas," pinta Ara.


Aro setuju, ia segera keluar dari kamar mandi kemudian mengambil baju Ara di lemari. Sekilas menatap bayinya yang sedang dikelilingi keluarga besar. Dya jadi magnet yang membuat siapa saja ingin mendekatinya. Dya jadi pusat cinta dan perhatian seluruh keluarga.


Aro segera ke kamar mandi setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Ia tak canggung saat merekatkan pembalut pada pakaian dalam Ara. Sebelum Ara sempurna memakai pakaian, Aro terlebih dulu mengoleskan tapel ke perut Ara.


"Wangi ya?" gumam Aro selesai membalur perut istrinya.


"Kata bunda ini terbuat dari tepung beras, kencur, jahe, kayu manis sama beberapa bahan lainnya," papar Ara sambil tertawa kecil karena lupa bahan lain yang terkandung pada parem tersebut.


Selanjutnya, Aro membebat perut istrinya menggunakan bengkung, berupa kain lebar atau biasa disebut juga dengan gurita.


"Kata bunda biar langsing lagi, Mas," seloroh Ara.


"Nggak penting langsing, mah!" sanggah Aro.


"Yang aku tahu, kayak gini juga bisa membuang rongga angin dalam perut biar nggak kembung apa lagi masuk angin. Kamu harus selalu sehat, aku sama Dya butuh kamu," ucap Aro selesai membebat perut istrinya.


Setelah lengkap berpakaian, Ara digandeng suaminya ke luar dari kamar mandi. Ternyata suasana makin ramai dengan kehadiran Mama Eca dan Tala.


"Assalamualaikum Babby Hika," sapa Tala yang datang membawa kotak besar sebagai hadiah untuk Dya.


"Aku manggilnya mau Hika, boleh ya, Ra?" Tala meminta persetujuan Ara.


Ara hanya mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Dya masih saja terlelap tak menghiraukan suara-suara di sekelilingnya. Bahkan, mungkin merasa sedang dinina bobokan.


Tak lama, datang pula Akhza yang membawa papper bag besar yang entah apa isinya.


"Eh, tunggu!" teriak Aro saat Akhza hendak mendekati Dya.


"Abang mandi dulu!" Aro menarik lengan kakaknya.


"Abis dari rumah sakit 'kan?" tuding Aro.


"Gue udah mandi di rumah sakit," jawab Akhza menepis tangan Aro.


"Enggak boleh pegang anakku, cuci tangan terus ganti baju dulu!" titah Aro.


"Ya ampun, Mas. Enggak segitunya juga kali," sanggah Akhza mendengus kesal, namun tetap juga menuruti Aro.


"Mas, kasihan abang ih!" omel Ara setelah Akhza pergi.


Sementara Tala, menatap punggung Akhza dengan cairan bening yang tiba-tiba saja menumpuk di pelupuk mata. Ia bahkan meminta izin ke kamar mandi. Di sana, ia menumpahkan cairan bening itu, membiarkannya membasahi kedua pipi. Tala duduk di atas kloset dengan memegangi dada yang terasa sesak.


"Udah, Tala ... kamu nggak boleh kayak gini. Bangkit!" Tala menyemangati dirinya sendiri dengan memukul-mukul dada.


Sementara itu, Akhza sudah kembali dan berganti pakaian menggunakan kaus dan celana traning saja. Ia gemas sekali menggangu keponakannya.


"Mau dipanggil apa, lo?" tanya Aro.


"Om dong!" sahut Akhza.


"Enak aja, uwak!" sahut Aro.


"Enggak!" sanggah Akhza.


"Iya, udah uwa aja," balas Aro.


"Serah elo deh!" Akhza mengalah.


Sementara keluarga lain sudah keluar sebab tak ingin mengganggu Dya yang anteng tidur.


Aro dan Akhza berbaring mengapit Dya. Bergantian memegangi pipi Dya dengan Aro yang jahil menepis tangan kembarannya setiap ingin memegang pipi putrinya.


Ara sendiri malah khawatir dengan Tala yang tak kunjung kembali. Pandangan Ara terus saja tertuju pada pintu kamar mandi.


"Cantik banget ya, kayak Ara," puji Akhza.


"Enak aja lu!" sentak Aro.


"Masa cantik kayak elo?" balas Akhza seraya terkekeh.


"Enggak usah sebut-sebut nama istri gue!" tegas Aro, masih saja cemburu.


Atensi ketiganya tertuju pada Tala yang keluar dari kamar mandi. Gadis yang kini sudah berhijab itu berusaha menyembunyikan wajahnya yang sendu. Tanpa berani memandang ke arah Akhza, ia pamit pulang. Beralasan hendak ke rumah sakit.


Ara sempat memeluk Tala sebelum benar-benar pulang. Ara tahu apa yang dilakukan Tala di dalam kamar mandi, tapi tak ingin membahasnya.


"Elo mau diem aja gitu, Bang?" sindir Aro.


"Dia yang nggak mau gue perjuangin," jawab Akhza menutup matanya. Berada di samping Dya membuatnya merasa tenang.


Kali ini Aro tak melarang kakaknya tidur memeluk putrinya. Tak tega dengan guratan sedih yang ditampakkan Akhza.


.


.


.


Terima kasih buat yang masih setia di sini 🤗😘🥰

__ADS_1


__ADS_2