Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Hari Kita


__ADS_3

"Mas, wajahku udah bersih kan?" Ara mengalihkan pembicaraan.


Dipandangi seintens itu oleh Aro membuat badannya terasa panas dingin. Gemuruh tak keruan dalam dada sulit sekali Ara kendalikan. Terlebih ketika jemari Aro malah terselip di balik rambutnya yang tergerai. Entah apa maksud Aro malah mengusap daun telinga Ara dengan gerakan perlahan, lembut namun membuat wajahnya panas.


"Mas, ayok salat dulu!" Ara dengan suara bergetar berusaha mengalihkan perhatian Aro agar berhenti membuatnya tersiksa.


Aro malah semakin mendekatkan wajahnya hingga ujung hidungnya menusuk pipi Ara.


"Napas, Ra," dengan suara tertahan Aro berbisik membuat Ara semakin mengawang.


Ara reflek menutup matanya saat wajah sang suami rasanya semakin mendesak untuk tenggelam pada wajahnya. Ia menumpukan telapak tangan kanannya pada meja rias sedangkan tangan kirinya reflek ia letakan pada bahu suaminya.


Jemari Aro sudah tak lagi meremas rambutnya, namun kini berpindah menyangga kepalanya agar tak terbentur cermin. Ara hanyut dalam rasa yang masih asing, ketika si ranum yang sering ia sapu dengan lipmatte pink nude itu merasakan sesuatu yang dingin nan kenyal namun semakin lama terasa semakin panas dan membuat kedua kaki Ara yang menggantung reflek menyilang.


Aro berhenti saat merasakan Ara yang kesulitan bernapas, ia maklumi karena bagi istrinya ini adalah pengalaman pertama.


"Napas, kubilang napas," serak suara Aro saat memberi Ara peringatan.


"Gimana mau napas kalau hidung sama bibirku mas kunci," omel Ara yang tangan kirinya masih berada di bahu sang suami.


"Sekarang napas dulu, sebelum ...." Aro menggantungkan kalimatnya.


Wajahnya kembali mendekat ke wajah Ara. Ara reflek kembali menutup mata. Ia harus belajar mengambil napas saat melakukan kegiatan yang masih terasa asing itu. Ara sudah menunggu, kali ini mungkin lebih siap dari sebelumnya.


Namun sambutannya tak kunjung dihampiri Aro. Ara malah merasa ada sesuatu yang bergerak di lehernya. Di sanalah kini suaminya berada. Keindahan milik istrinya yang sedari tadi telah menyita perhatiannya. Telah mengalihkan dunianya itu, kini ia singgahi dengan gerakan halus, perlahan, namun semakin membuat Ara memanas.


Ara perlahan membuka matanya dan mengintip apa yang dilakukan suaminya di sana. Gelenyar aneh kembali tercipta. Ara kembali menutup mata kala tangan suaminya ia rasakan menyentuh bagian tubuh paling ia tutupi selama ini. Jemari itu menyelinap masuk tanpa izin sang pemilik. Ara ingin menepis, namun tak bisa ia pungkiri bahwa sentuhan Aro pada miliknya terasa sangat indah, meski aneh.


Alih-alih menepis, Ara malah meletakan keningnya pada kepala Aro yang entah sedang apa sehingga membuatnya melipat bibir ke dalam sebab tak ingin mengeluarkan suara. Selanjutnya, Ara merasa bahwa kancing kebayanya dilepaskan oleh tangan suaminya, namum sebelum Aro sempat melakukan hal yang sedari dulu ia tahan, ketukan di pintu membuat aksinya terhenti.


"Mas, Ra!" teriak seseorang yang keduanya yakini adalah Bumi.


"Bunda," gumam Aro yang terpaksa menyudahi kegiatannya yang masih belum tuntas.


Sebelum membukakan pintu, Aro kembali mengancingkan kebaya istrinya kemudian menurunkan tubuh wanita itu dari meja rias. "Aku buka pintu dulu," ucapnya seraya mengusap pipi Ara dengan punggung jarinya.


Aro berjalan ke arah pintu seraya mengusap bibirnya yang mengulas senyum tipis. Saat dibuka, sekonyong-konyong Bumi langsung masuk ke dalam kamar.


"Belum pada salat?" tuding Bumi.


"Baru mau, Bunda keburu datang," kelit Aro berusaha tenang padahal ia masih berjuang melawan sesuatu dalam dirinya akibat kegiatan yang baru saja ia lakukan.


"Kok dihapus riasannya, Ra?" Bumi menyelisik ke wajah Ara.


Pandangan Bumi kini tertuju pada leher putih sang putri yang terdapat beberapa tanda merah di sana. Bumi membulatkan matanya saat melihat pemandangan itu. Dia bisa-bisanya sampai menghitung tanda merah pada leher Ara. Ada lima dan semakin membuat Bumi terperanjat, wanita itu sampai memijat keningnya. Putranya benar-benar melakukannya dengan cepat.


"Teh Herni udah nunggu, cepet salat dulu!" titah Bumi membuat Ara segera beranjak dan pergi ke kamar mandi.


"Mas, jangan dulu diapa-apain. Kasihan," pesan Bumi sebelum pergi meninggalkan kamar.


Di kamar mandi, Ara mematut dirinya dalam cermin. Bibirnya menyunggingkan senyum dengan wajah merona.


"Tadi kok rasanya aneh, tapi menyenangkan," gumamnya seraya mengulum senyum kemudian mengikat rambutnya tinggi-tinggi.


Senyum masih terus menghiasi bibirnya yang terus saja ia usap. Hingga akhirnya ketika ia kembali melihat pantulan dirinya pada cermin, matanya langsung melotot seolah akan keluar dari tempatnya.


Ara kaget melihat lima tanda merah di leher hingga dada bagian atasnya. "Ini gimana bisa jadi gini?"


Ara menepuk jidatnya sendiri, pasalnya pasti Bumi sudah melihatnya. Seketika ia merasa kesal dengan Aro. Tadi itu Ara memang hanyut dalam rasa yang diberikan Aro.


"Kenapa nggak nolak sih, Ra?" Ara terus bermonolog hingga pintu kamar mandi diketuk dari luar menyusul suara yang familiar di telinga memanggil namanya.


Dengan wajah masam Ara membuka pintu dan langsung menyuguhkannya pada sang suami.


"Udah belum?" Aro menyentuh ujung hidungnya, "aku udah beres lagi loh salatnya," sambungnya.


"Mas kenapa kayak gini, sih?" Ara menunjuk pada lehernya sendiri.


"Waah, aku tadi pelan padahal." Aro pura-pura kaget. Siapa yang bisa jamin kalau tadi dia melakukannya perlahan?


"Aku malu ke bunda," rengek Ara seraya mengusap lehernya. "Tadi pasti bunda lihat," lanjutnya.


"Udah wudu dulu, cepetan salat!" Aro mengacak rambut Ara kemudian berlalu dari hadapannya.


Ara kembali menutup pintu, ia segera mengambil wudu. Berharap ketenangan akan tercipta bersama segarnya air yang membasuh wajah, tangan dan kakinya.


Selesai salat, Herni masuk ke dalam kamar Ara. Ia kembali merias wajah Ara.


"Ntong loba komen, cicing kumaha Teteh we!" (Jangan banyak komen, diam gimana Teteh aja) tegas Herni memulai aksinya.


"Teh, rapi nggak?" Aro yang tadi ke kamar Atar untuk memakai baju pengantinnya kembali datang.


"Kaseplah, cocok kan warna silver jadina katingali bersih kana kulit," (Cocok kan warna silver. Jadi kelihatan bersih ke kulit) Herni mengacungkan jempolnya. Ara menoleh sekilas, ia masih kesal perihal leher merahnya.


"Emang dasarnya ganteng, Teh," seloroh Aro seraya mendekat ke arah Ara. Ia membungkukkan badannya kemudian berbisik pada Ara. "Aku duluan, ya. Nanti aku jemput kalau udah selesai." Ditambah kecupan singkat di pipi Ara yang efeknya membuat wanita itu reflek mengeratkan pegangan pada kain yang masih ia pakai.

__ADS_1


Herni hanya menggeleng dengan tingkah pria itu. Meski tak bisa dipungkiri bahwa keduanya sangatlah serasi.


"Aku duluan, Teh," pamit Aro pada Herni membuat wanita itu mengangguk dan melanjutkan aktifitasnya.


"Minta sedikit ke Aro alisnya, punya dia tebel banget tuh," seloroh Herni saat membentuk alis Ara. Ara hanya mendengus, ia memang memiliki alis tipis.


"Matanya juga, Aro matanya bagus. Bulat bulunya lentik lagi," puji Herni kembali membuat Ara mendengus.


"Tapi kamu tetep cantik kok, kalo enggak mana mungkin Aro mau." Herni cepat-cepat meralat perkataannya, merasa tak enak Ara tak memberi respon.


"Semua wanita itu cantik, rasa insecurenya yang terkadang membuatnya jadi buruk." Ara kini memejamkan matanya sesuai perintah Herni.


Di pelaminan Aro sudah duduk lebih dulu. Ada beberapa rekan kerja ayahnya yang sudah datang, jadi ia terpaksa menemuinya tanpa Ara.


"Ini istri saya namanya Indi." Pak Santo mengenalkan istrinya pada Aro.


Beliau merupakan pemilik perkebunan sayur mayur di Cianjur yang sering memasok hasil buminya untuk restoran Akash.


Selanjutnya ada juga Pak Hambali yang datang bersama Rina, istrinya. Beliau merupakan pimpinan sebuh pabrik obat herbal di kota Bogor yang sering memesan katering pada Akash.


"Selamat ya, Mas Aro. Semoga bahagia bersama istri," ujar Hambali yang memakai kemeja batik senada dengan rok yang dikenakan Rina.


"Yah, aku jemput Ara dulu." Aro pamit setelah beberapa rekan ayahnya memberinya ucapan selamat.


Di kamarnya, Ara sudah siap dengan riasan dan gaun barunya. Silver menjadi pilihan warna Ara dan Aro. Terlihat elegan, namun tetap sederhana.


"Cantik banget, Ra," puji Herni, puas dengan hasil riasannya pada wajah Ara.


"Makasih Teteh udah bikin aku cantik," balas Ara seraya mengusap lengan Herni.


Pintu dibuka oleh Aro yang datang bersama Alisha dan Sheina, putri Nadia.


"Waah Teh Ara cantik banget. Aku jadi pengen nikah," seloroh Sheina seraya berlari kecil ke arah Ara.


Aro terpukau melihat istrinya tampil beda hari itu. Ia dengan biji mata yang seolah hendak keluar dari tempatnya mendekat ke arah Ara. "Cantik," bisiknya seraya menggenggam tangan Ara.


"Ayok, Ra. Udah banyak yang nanyain," ajak Alisha yang bersiap untuk memegangi gaun Ara.


"Siap jadi ratu hari ini?" goda Aro membuat Ara memukul bahunya. "Ratu setiap hari di hidupku, selamanya," sambung Aro kemudian menuntun langkah Ara.


"Makasih ya Teh Herni." Tak lupa Aro menoleh ke arah Herni sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.


"Ka Lica, Sheina maaf aku jadi ngerepotin," ujar Ara merasa tak enak Alisha dan Sheina mengemban tugas memegangi gaun bagian belakangnya.


"Tenang, Ra. Kita dibayar mahal sama Mas Ar," celoteh Alisha membuat Ara tertawa.


Tiba di pelaminan, sudah ada Bumi dan Akash juga Ayesha, Laut dan Sita yang duduk di samping kanan dan kiri kursi pelaminan.


"Cuma kamu yang diapait lima orang sekaligus saat jadi pengantin," bisik Aro saat sedikit lagi keduanya sampai di kursi pelaminan.


"Alhamdullillah, Mas," sahut Ara dengan nada bahagia.


Keduanya kini sudah menduduki kursi yang akan menjadikan mereka raja dan ratu hari ini.


Rena kembali membuka acara, kali ini dilanjut dengan sesi foto keluarga. Sita sebagai mami Ara mendapat giliran pertama untuk mengambil foto. Dilanjut dengan Bumi dan Akash juga Atar.


"Abang mana?" tanya Ara saat tak melihat ada Akhza di antara mereka.


"Panggil dulu, Tar," pinta Aro pada Atar.


Tanpa menjawab, Atar segera melangkah menuruti perintah Aro. Dia tadi melihat Akhza sedang di spot foto both yang disediakan sebagai sovenir. Benar saja, Akhza sedang merapikan tata letak kursi, boneka, dan rangkaian bunga yang bisa digunakan sebagai media untuk berfoto.


"Bang, foto dulu!" ajak Atar.


"Foto apa?" Akhza tak mengerti. "Gue rapiin ini dulu, gimana sih nih Tala ditugasin ginian aja nggak bisa," omelnya.


Tala hari itu datang terlambat. Hingga resepsi dimulai gadis itu belum kunjung tiba. Rud yang sedang mengatur kamera berjalan mendekati Akhza karena mendengar nama Tala disebut-sebut.


"Kok jadi nyalahin Tala, sih?" tuding Rud, kini pria itu sudah sembuh. "Yang pengen bikin spot foto kan elo," sambungnya dengan suara tinggi.


"Perhatian kepada Abang Za dan Abang Rud, untuk segera mendekat ke pelaminan guna melakukan sesi foto keluarga." Rena sengaja memanggil Rud dan Akhza agar mereka segera datang ke sumber suara.


"Tuh, ayok ah udah dipanggil!" seru Atar seraya menarik kedua lengan kakaknya yang hari itu nampak gagah mengenakan tuxedo hitam.


Setelah sesi foto selesai, kembali beberapa tamu datang memberi ucapan selamat. Kali ini teman-teman masa muda Akash yang datang. Ada Rere juga Guntur dan Nauna yang kompak mengenakan pakaian bernuansa marun. Tak lupa mereka juga mengambil foto sebelum meninggalkan pelaminan.


Nauna begitu sumringah saat melihat Akhza sedang memotret hidangan yang disuguhkan.


"Abang, lama ih gak ketemu," rengek Nauna tanpa rasa malu bergelayut manja di lengan Akhza.


"Apaan sih, Na. Jaga sikap!" sentak Akhza seraya menepis tangan Nauna dari lengannya.


"Abang gak di rumah sakit nggak di mana judes banget," keluh Nauna seraya memberengut kesal. "Apa salahku, Bang?" tuding Nauna dengan suara bergetar menahan tangis kemudian pergi meninggalkan Akhza yang melongo.


Selain itu juga, datang pula Damar, Lila, dan Elita sang putri. Mereka sekeluarga kompak mengenakan batik dengan corak dan warna yang sama.

__ADS_1


"Tancap gas langsung, Mas. Jangan kasih kendor," seloroh Damar menepuk bahu Aro membuat pria itu terbahak sedangkan Ara hanya mengulum senyum.


Setelah itu, datang pula teman-teman Bumi. Baik yang satu pengajian maupun ibu-ibu yang dulu sering mengantarkan sekolah TK saat anak-anak masih kecil.


"Mama Galuh, apa kabar?" sapa Bumi saat Galuh dengan putrinya yang bernama Nanda datang. Kini Nanda juga sudah jadi apoteker hebat. Sudah punya toko sendiri. Gadis itu dulu dekat dengan Aro, lebih tepatnya selalu jadi bahan ledekan Aro karena gigi bagian depannya banyak yang sudah ompong waktu itu.


Mama Ida jauh-jauh datang bersama buah hatinya membawa beberapa kardus roti unyil yang langsung dihidangkan oleh Yati dan Fenti.


Lela beserta suami dan Eva juga bayinya yang masih mungil pun hadir. Ara bahagia sekali sebab Eva tidak melupakannya.


Bidan Army juga datang bersama ibunya, Bidan Mutia. Membawa serta buah hatinya yang bernama Fatir dan Fahri. Ada juga Bidan Evi, kakaknya. Keluarga Bidan Army memang semuanya berprofesi sebagai tenaga kesehatan. Suaminya seorang dokter bedah yang ternyata kenal dengan Akhza. Akhza yang sedang melanjutkan sekolah mengambil jurusan spesialis bedah itupun larut mengobrol dengan suami Bidan Army.


"Ini adikmu yang nikah, kamu kapan?" pertanyaan Dokter Aldi menohok hatinya. Andai saja dokter itu tahu apa yang terjadi?


"Gimana lanjut study, repot? nyesel gak?" tuding Dokter Aldi yang biasanya sangat dingin pada Akhza.


Akhza menggeleng, baginya kesibukan justru membuatnya bisa melupakan patah hati yang masih saja merajai diri.


Di pelaminan, Ara terlihat memijat kakinya saat para tamu sudah semakin sepi. Aro yang melihatnya reflek merangkulnya. "Pegel ya?" tebaknya.


"Sedikit," jawab Ara.


"Duduk aja!" titah Aro yang dituruti oleh Ara.


"Aku pergi bentar," pamitnya tanpa menjawab saat Ara bertanya hendak ke mana?


Tak lama Aro kembali menenteng sandal flat milik Ara.


"Ganti aja pakai ini biar gak pegel," saran Aro seraya berjongkok dan membuka tali high heels yang digunakan Ara. Aro sekilas memijat kaki Ara yang terbungkus kaos kaki warna khaki kemudian memakaikan sandal flat berwarna cream itu.


Kelakuan keduanya tak luput jadi perhatian tamu dan keluarga. Akhza bahkan sempat mengambil foto saat Aro memakaikan sandal pada Ara.


Ayuni sendiri yang datang bersama ibunya, Yusma menahan langkah saat Aro melakukan hal itu pada Ara.


"Tuh lihat, cari laki kayak Aro," bisik Yusma penuh penekanan. "Kamu malah berhubungan sama Alka, gajelas asal-usulnya," lanjutnya seraya mencengkram lengan Ayuni yang hari itu mengenakan gaun tanpa lengan berwarna putih dengan motif bunga berwarna merah.


Ayuni tak menjawab, ia hanya mengangguk. Dalam hati ia sedih sekali, sebab mamanya selalu merendahkan Alka. Ayuni dan Yusma kemudian berjalan ke arah pelaminan. Keduanya memberi selamat serta tak lupa berfoto dengan pengantin.


Selang beberapa menit Alka juga hadir, dia datang bersama Oji dan Wisnu. Wisnu hari itu juga memboyong istri dan lima anaknya. Satu-persatu anak Wisnu diperkenalkan pada Ara.


"Namanya faiza jihan fikriyah yg besar yg kecil aqila haifa humairah," ungkap Nita, istri Wisnu. menunjuk dua bocah yang usinya kisaran 10 dan 8 tahun.


"Yang ini kembar, namanya Tegar Samudra Wisesa dan yang itu," tunjuk Nita pada anak yang digendong Wisnu, "namanya Fawazz Samudra Wisesa, beda depannya doang."


"Ada yang masih bayi kan?" tebak Aro.


"Itu dia," tunjuk Wisnu pada suster yang sedang menggendong bayi, "namanya dedek Alma. Panjangnya sih Arumsari Almaniar Pradipta," lanjut Wisnu.


Ara sampai menggeleng. "Anaknya lima namanya panjang-panjang, Mas," bisik Ara setelah tamunya turun dari pelaminan.


"Kita juga nanti gitu, ya?" pinta Aro.


"Insya Allah, iya," jawab Ara membuat Aro tak segan mencium keningnya. Istri yang manis.


Tamu undangan datang silih berganti. Sakaf dan orang tuanya hari itu tak datang sebab sedang berada di luar negeri, membawa Nun berobat. Sebagai gantinya, mereka memberikan karangan bunga serta kado spesial yang masih terbungkus rapi di kamar Ara.


Sementara Frea juga kedua orang tuanya hanya datang sebentar. Dilihat dari gelagatnya, Frea seperti sedang sakit. Badannya kurus dengan lingkaran mata menghitam. Saat Ara tanya bagaimana hubungannya dengan Sakaf, gadis itu berkata tidak ada harapan. Entah apa maksudnya?


Omar yang sibuk mengatur spot foto bersama Tala, Akhza, Attar dan Fadan tiba-tiba mendengar keributan yang timbul di pelataran Kafe.


"Kamu sadar, siapa kamu siapa Ayuni?" bentak Yusma pada Alka seraya menunjuk laki-laki itu. "Kamu cuma orang yang masa depannya gak jelas. Numpang hidup doang,"lanjutnya seraya menampar Alka. Tak puas hanya memakinya.


Alka diam saja, ia sadari apa yang dikatakan Yusma adalah kenyataan.


"Mama udah, Ma!" ucap Ayuni yang berderai air mata. "Cukup Mama ngehina Alka, aku tetep cinta ke dia," aku Ayuni semakin membuat Yusma geram.


"Kamu belain dia depan Mama?" tuding Yusma, "Kamu lebih milih orang seperti ini daripada Mama?" desaknya mencengkram lengan putih mulus Ayuni.


Ayuni tak menjawab, ia malah terus saja menangis. Omar kemudian datang menghampiri berusaha melerai. Pria itu berkata jangan sampai terjadi keributan lebih lanjut dikhawatirkan akan membuat Aro marah.


Yusma akhirnya sadar di mana dirinya berada, ia memilih pulang membawa kesalnya.


"Mana dompet kamu?" Yusma menarik tas Ayuni lalu mengambil dompet dari dalamnya beserta kontak mobil.


"Kita lihat, tanpa kedua benda ini, mampu nggak pria madesu itu nganter kamu pulang?" Yusma kembali menyerahkan tas Ayuni.


Ayuni segera berlarian pada Alka. Ia tenggelam dalam dada Alka yang mengusap kepalanya.


"Maafin mama, ya. Jangan dengerin mama," rintih Ayuni semakin mengeratkan pelukannya. Alka hanya mengangguk, kemudian mendorong bahu Ayuni. Pria itu melepas jaket jeans belelnya dan memakaikannya pada Ayuni.


"Terlalu indah membiarkan orang lain melihatnya," ujar Alka membuat Ayuni kembali memeluknya.


.


.

__ADS_1


.


Nano-nano sekali hari ini. Banyak tokoh yang bermunculan.


__ADS_2