Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Salah Peluk, Sengaja Salah?


__ADS_3

Setelah mengambil pakaian kerja dan segala kebutuhannya, Ara kembali keluar dari kamar. Ia memilih ikut mandi dan bersiap di kamar sang bunda. Pagi-pagi Akash biasanya sibuk menyiapkan kafe, jadi Ara bisa leluasa menggunakan kamar orang tuanya.


Ara tak pernah rumit dengan urusan pakaian, dia selalu sederhana. Hijab berwarna mocca yang ia kenakan terkesan sederhana, namun sangat cantik. Ara hanya menggunakan bros bentuk kepala kucing sebagai penghias sekaligus penyemat agar hijabnya tertata rapi tak tertiup angin.


Aroma minyak telon menyeruak di kamar Bumi setelah Ara membubuhkan beberapa tetes di telapak tangannya, lalu menyapukannya ke lengan, leher, hingga kakinya. Ara memang jarang sekali menggunakan parfum, bahkan hampir tidak pernah.


Setelah dirasa siap dengan penampilannya, Ara keluar dari kamar Bumi dan langsung bergabung bersama Atar dan juga Omar yang sudah duduk di kursi yang menghadap meja makan.


"Sarapan apa nih, Bun?" tanya Ara pada Bumi yang masih berdiri di depan kompor. Bumi sedang memasak sesuatu, terlihat ia mengaduk sesuatu di dalam panci, lalu mencicipinya kemudian menambahkan sedikit garam ke dalam panci tersebut.


"Sarapannya sudah di meja, Sayang," sahut Bumi tanpa menoleh.


"Enak ya lo berdua tiap hari ada yang masakin," ujar Omar yang di hadapannya sudah ada piring kosong nan kotor bekasnya makan.


"Enak, dong. Tapi, 'kan Kak Omar sama mas Ar juga enak makannya yang mewah-mewah mulu," sahut Atar yang juga sudah menandaskan makanan dalam piringnya.


"Udah, deh. Kita semua tuh harus bersyukur atas apa yang udah Allah kasih, jangan suka membandingkannya dengan milik orang lain. Nanti jadi ngerasa apa yang kita punya nggak lebih baik dari apa yang orang punya. Nah, itu bahaya, saat nikmat syukur mulai hilang dari diri kita, saat itulah kebahagiaan hilang dari hidup kita," papar Ara panjang lebar membuat Omar dan Atar saling pandang lalu terdiam. Entah mengerti atau malah tidak paham.


"Duuh, anak Bunda yang satu ini emang paling pinter," ujar Bumi seraya memeluk bahu Ara dari samping kemudian ikut duduk di samping Ara. "Sekarang sarapan dulu! nanti lagi ngobrolnya," imbuhnya lalu mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk.


Ara menurut, ia mulai mengambil piring dan ikut mengisinya dengan nasi dan lauk pauk juga. Sarapan kali ini dengan menu yang berat. Bumi sengaja menghidangkannya untuk menyambut Omar.


"Ayam goreng Tante selalu enak," puji Omar yang masih enggan beranjak dari duduknya padahal makannya sudah selesai.


"Terima kasih, boleh nambah loh," sahut Bumi seraya mengulum senyum membuat Omar tanpa ragu mengambil satu potong ayam goreng bagian paha.


"Inget badan, Kak," seloroh Atar seraya berdiri kemudian melangkah membawa piring kotor untuk dicuci.


"Jangan didengerin, Atar suka becanda," hibur Bumi agar Omar tak merasa tersinggung.


Ara hanya tersenyum menggeleng, gadis itu sudah biasa tak akan mengobrol jika sedang makan. Ia terbiasa disiplin dalam segala hal. Bahkan getaran ponsel dalam saku celana kerjanyapun sama sekali tak ia hiraukan. Biar saja, nanti selesai makan baru ia akan mengeceknya.

__ADS_1


Ara selalu makan dengan porsi sedikit, itupun dia butuh waktu lama untuk menghabiskannya. Omar sudah meninggalkan meja makan, Bumi sudah selesai kembali mencuci piring bekasnya makan, bahkan Akash sudah ikut bergabung untuk sarapan, sedangkan Ara baru saja menyelesaikan makannya.


"Ini gadis Ayah kalau makan pasti lama," ujar Akash dan membuat Ara tersipu malu.


"Mengunyah makanan sebanyak 21 kali sesuai yang dianjurkan, Ayah," sahut Ara seraya berdiri dan membawa piring kotor untuk dicuci.


Ara mendapati Bumi yang sedang menuangkan sop ke dalam mangkuk setelah ia mencuci piringnya. Ara mendekat, aroma bawang goreng, daun seledri serta lada dan ditambah cengkeh menyeruak bersama uap yang masih mengepul.


"Bunda mau kasih sup ayam dulu buat mas Ar," ucap Bumi membuat Ara mencekal lengannya.


"Aku aja, Bun. Bunda lebih baik temenin ayah sarapan."


"Emang kamu nggak kesiangan?" selidik Bumi.


"Enggak, Bun," sanggah Ara.


Saat Ara hendak mengambil alih nampan, Aro justru turun dari lantai atas. Ia berjalan dengam mata masih terpejam seraya langsung memeluk Ara dari belakang, hampir membuat nampan yang dipegang Ara terjatuh.


"Mas, ini Upil, bukan bunda," ujar Ara menyingkirkan tangan Aro yang melingkar di perutnya.


Aro membuka matanya, ia menatap Ara dan Bumi bergantian, kemudian melengos pergi ke meja makan seraya berkata, "Pantesan bau, padahal Upil."


Bumi hampir membuka suara, namun Ara menyentuh pundaknya dan berkata, "Bunda, jangan diomelin masnya, kasihan lagi sakit."


Bumi menghela napas panjang, bukan tak senang Ara selalu turut pada Aro. Ia hanya merasa tak enak pada Ara yang selalu jadi korban kejahilan dan kekasaran mulut Aro.


"Aku berangkat sekarang aja," ujar Ara seraya mengecup kedua pipi Bumi yang masih mematung menahan amarah.


Ara tak lupa berpamitan pada Akash yang masih sarapan seraya berbincang sedikit dengan Aro.


***

__ADS_1


Tiba di klinik, Ara baru ingat bahwa dirinya memiliki pesan pada ponselnya yang belum ia baca. Setelah duduk nyaman di kursinya, Ara membuka ponsel dan mendapati dua pesan dari pengirim yang berbeda. Ara terlebih dahulu membuka pesan dari Sakaf.


[Nanti pulang kerja saya jemput]


Ara mengulum kesal, seperti itukah cara Sakaf mengiriminya pesan? tanpa salam terlebih dahulu. Ara menggeleng, ingin tak membalas, namun terkesan tidak sopan.


[Iya, aku tunggu]


Pesan terkirim namun, tak terbalas. Ara tak menghiraukannya, ia buka satu pesan lagi dari Cici, kakak sepupunya. Anak dari sepupu lelaki Vanya. Semakin dewasa, Ara memang semakin mengenal dan dekat dengan keluarga besar Vanya. Hanya sebatas saling sapa sebab mereka memiliki keyakinan yang berbeda. Cici memang saudara jauh, tapi keduanya merasa saling cocok satu sama lain.


[Ra, lagi di mana? pengen ketemu deh]


Ara tersenyum membaca pesan dari Cici, ia cepat mengetik kalimat untuk membalas pesannya.


[Di Klinik, Ci. Ke sini aja, masih inget dong tempatnya?]


Tak butuh waktu lama, Cici kembali memjawab pesan ara.


[OTW, ya ... mau dibawain apa?]


Ara segera kembali mengetik pesan dengan bibir mengulum senyum, dari banyaknya saudara, memang hanya Cici yang paling dekat dengannya.


[Nggak usah, Ci. Aku udah sarapan. Cici sini aja jangan bawa apa-apa]


Pesan terakhir Ara tak mendapat balasan. Pasti Cici sudah berangkat menuju ke Klinik, begitu pikir Ara.


Ara menata kembali meja yang sebenarnya sudah rapi. Kadang ia merasa bosan sendiri bila belum datang pasien dan Ati masih sibuk dengan pekerjaannya. Satu-satunya pengusir jenuhnya adalah membaca buku-buku keagamaan. Ara memang sudah sering mendengar isi dari buku yang dibacanya langsung dari Ustazah Rahmah, guru mengajinya, tapi membaca buku-buku keagamaan tetap menjadi kegemarannya di sela mengusir rasa bosan.


.


.

__ADS_1


Apa kabar hari ini? masih mau lanjut baca Ara? lanjut yaa. Jangan lupa untuk selalu like dan komen kakak please, biar nulisnya semangat. Kalau mau kasih saran boleh, mau bersua secara heart to heart boleh sapa aku di ig : Anisa_Harir. Yang udah follow pasti selalu aku dm duluan yaa. Makasih buat semuanya. Laf laf laf kalian


__ADS_2