
Kalau hari ini lo nggak capek, kita sampe malem lagi jadi besok bisa pulang," ujar Sutradara saat Aro menanyakan kapan bisa pulang.
"Ya udah, mulai lagi deh. Nggak usah terlalu lama istirahatnya."
"Ya udah, set! set! yok, masuk set selanjutnya!"
Aro membuka tutup botol air mineral di hadapannya, ia mengucurkan sebagian isi dalam botol itu ke wajahnya.
"Woileh, dasar artis belagu bener aer minum gue lo pake buat cuci muka!" seru Omar yang baru kembali setelah tadi pamit untuk buang air kecil.
"Kulit muka gue lebih mahal dari perut lo," sahut Aro mendelikan matanya.
"Salah besar ini sih oom Akash sama tante Bumi ngasih nama lo Aro," ucap Omar seraya merebut botol minumnya dari tangan Aro.
"Apa yang salah? Mahija Aro, putra bumi dari langit. Udah pas dong?"
"Kelakuannya lo, congak, sombong. Melangit banget lo!"
"Gue sombong wajar, duit banyak, tampang ganteng. Elo? perut doang digedein," ledek Aro seraya terkekeh.
Bagaimanapun hinaan Aro untuknya, Omar tak pernah sakit hati. Begitupun sebaliknya.
"Awas lo, Ar. Gue dukung abang aja deh buat dapetin Ara!" ancam Omar.
"Lah, jangan dong, Mar. Gue butuh dukungan, gue bingung nih harus gimana ke Ara. Gue kok makin deg-degan kalo mau ngobrol sama dia. Gue jadinya bodoh banget ngadepin dia sekarang," adu Aro.
Omar tertawa, "Nah akhirnya ngaku juga kan kalo lo suka sama Ara. Pake ngeles terus aja, lo!"
"Jangan keras-keras, Mar. Nanti Rea denger!" Aro memukul lengan Omar.
"Laah, kenapa?" tanya Omar seraya menyulut rokok, " jangan bilang lo mau gebet dua-duanya?" imbuhnya.
"Enggaklah," sanggah Aro.
"trus kenapa mesti takut didenger Rea?" selidik Omar.
"Gue takut Ara diapa-apain sama Rea. Dia udah kayak yang tahu gue akhir-akhir ini sering jalan sama Ara. Gue yakin dia bayar orang buat ngintai gue," papar Aro membuat Omar membulatkan matanya.
"Rea itu ambisius, dia nggak bakal nyerah. Gue tahu adegan tadi juga sebenarnya nggak ngeharusin dia pake baju kayak gitu, itu nggak mencerminkan cewek baik-baik. Gue hafal, dia lagi berusaha mancing gue."
"Hati-hati, Ar!" ucap Omar seraya mengangkat telunjuknya. "Jangan sampe lo minum sesuatu dari dia," imbuhnya.
__ADS_1
"Ah, drama banget sih, lo mikirnya!" sentak Aro, tak suka ditakut-takuti seperti itu. Memang bukan tak mungkin Rea melakukan hal sekeji itu. Omar ada benarnya, ia harus waspada.
"Mar, tolong beliin bakpia rasa keju sama kain batik, gih!" titah Aro seraya mengambil dompet dari tasnya dan memberikan pada Omar "sekalian, pastiin besok kalo bisa balik, kita udah siap kan?" tanya Aro,
Omar mengambil dompet Aro dengan mata berbinar, "Aman, duh romannya besok-besok nih orang pengennya pulang mulu kalo syuting, nggak bisa jauh dari eneng Ara," ledek Omar seraya berlari menghindari pukulan Aro.
***
Syuting akhirnya selesai, kepulangan bisa dipercepat pagi ini. Aro tak henti tersenyum, Baru kali ini dia merasakan perasaan yang hangat ketika akan pulang ke rumah.
"Minggu depan kita langsung promo ke kota-kota besar, Ar. Sebulanan kita bakal bolak balik ke luar kota lagi," beritahu Omar pada Aro yang sedang melipat lengan kemejanya.
"Bisa ajak Ara nggak, Mar? Lo yang ngomong, kalo gue yang ajak, takutnya dia nolak. Hati gue nggak tenang ninggalin dia jauh-jauh," ujar Aro seraya memakai topi, rambutnya sudah sangat gondrong dan sampai menutupi mata. Memakai topi bisa membuat rambutnya diam.
"Ara kan kerja, gue nggak yakin dia bakal mau." Omar masih memandangi layar ponselnyanya, memastikan jadwal promo.
"Emang kita ke mana aja?" tanya Aro.
"Pertama ke Bandung, terus ke Bekasi, lanjut Sukabumi, terakhir ya ke sini lagi," papar Omar.
"Yang nginep di mana?" tanya Aro sambil memakai jam tangan.
"Nah, lo atur gimana caranya supaya Ara bisa ikut kita."
"Dasar artis, gue kapan ngatur iduo gue kalo urusan permehek-mehekan lo aja gue harus turun tangan?"
Aro tertawa seraya menalikan sneaker hitamnya, lalu dia mengambil parfum dari dalam tasnya. Ia semprotkan sedikit parfum itu ke pergelangan tangannya, kemudian mengusapnya agar merata. Kembali ia menyemprotkan parfum pada pergelangan tangan dan diusapkan ke leher dan tengkuknya.
"Ar, lo kalo jatuh cinta jadi makin ganteng," puji Omar, "pagi-pagi udah mandi, terus rapi gini, nggak mau kalah saing ya sama calon dokter?" imbuhnya.
"Gue nggak mau ngalah biar sama abang sekalipun," sahut Aro kembali memasukan. parfum mahalnya ke dalam tas.
"Akhirnya Ar, jangan-jangan lo menuju jalan taubat, Ar!" seru Omar, "Mahija Aro ganti profesi jadi penyanyi gambus bentar lagi," ujar Omar diakhiri gelak tawa membuat Aro menendang dengkulnya dengan keras.
***
"Kaki kamu udah sembuh, ya?" Ara yang bahagia memiliki kucing selalu menyempatkan diri mengajak kucing itu bicara.
"Kamu stress, gak?" tanyanya lagi seraya mengelus leher kucing itu. Seperti biasa, ketiga anaknya sedang menyusu.
"Kamu punya siapa, sih?" selidik Ara kembali menerka-nerka inisial dari kalung yang dipakai kucing itu.
__ADS_1
"Harga kamu tuh mahal, aku takut disangka nyolong loh!" adu Ara pada kucing yang seolah mengerti apa yang Ara ucapkan.
Sedang asyik mengobrol dengan kucing, ponsel yang sedang dipegangnya setelah baru saja ia gunakan untuk memotret hewan itu, berbunyi.
"Siapa nih yang chat?" gumamnya seraya membuka aplikasi pesan.
[ Aku bentar lagi sampe, kamu ke rumah bunda, ya!]
Ara tiba-tiba memegangi dadanya, jantungnya berdetak tak karuan. Pipinya tiba-tiba saja menjadi panas dengan tangan gemetaran.
"Loh, kok aku gini amat?" tanyanya pada diri sendiri.
Ara beranjak dari jongkoknya, ia berjalan menuju kamar seraya memegangi dadanya yang bergemuruh hebat. Ia duduk di depan meja rias memandangi wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia begitu merasa tak percaya diri melihat wajahnya sendiri.
"Aku kenapa, sih?"
Tak ingin terus menerka-nerka perasaannya sendiri, Ara memilih untuk segera mandi dan bersiap diri untuk pergi ke rumah bundanya.
Selesai mandi, Ara memakai gamis terbaiknya. Ia sampai dua kali ganti sebab merasa tak cocok dengan warnanya. Dia jadi merasa linglung sendiri.
Berkali-kali merapikan hijab yang sesungguhnya sudah rapi. Mematut diri di depan cermin sambil memperhatikan riasan wajahnya yang sedikit berbeda. Ara memakai lipmatte, sesuatu yang jarang ia lakukan selama ini. Membuat wajah manisnya menjadi terlihat dewasa namun penuh kelembutan.
"Aku malu ini kalau diledek Atar, dia kan seneng banget ledekin aku."
Ara melirik jam yang terpasang di dinding kamarnya. Ia cukup terperanjat sebab dua jam sudah ternyata ia merias dirinya hanya untuk bertemu Aro.
Cepat-cepat ia merapikan kamarnya yang berantakan oleh tumpukan pakaian bekasnya ganti. Ia sampai hampir terjatuh sebab menginjak ujung gamisnya sendiri.
"Calm, Ra, calm okey!" Ara menenangkan dirinya sendiri.
Setelah dirasa kamarnya rapi, Ara segera pergi meningalkan ruangan itu. Ia menemui Vanya di kamarnya yang sedang menonton televisi.
Ara pamit untuk ke rumah bundanya pada Vanya, ia sempat mengajak, namun Vanya menolak.
Ara memegangi dadanya yang masih berdebar. Rasanya seperti baru pertama kali saja akan bertemu Aro. Dia berjalan ke arah pintu utama dan mulai memutar kenop. Saat membuka pintu, ia dikejutkan oleh seseorang yang berdiri di hadapannya.
"Assalamu'alaikum, Ra. Aku sudah kembali, terima kasih kamu masih di sini."
Gimana puasa aman?
Aku update 3 bab hari ini masa gak mau komen sih kak? bilang kek, apa kurangnya. jangan diem-diem bae kak.
__ADS_1