
Resep roti unyil
1. Terigu protein tinggi (merk cakra biasa aku pake)500 gram
2. Blueband 120 gram
3. Gula pasir 100 gram
4. Ragi 3 sendok teh
5. Susu bubuk 1 sachet
6. Kuning telur 4 butir + 1 butir untuk olesan
7. Air hangat 200ml atau secukupnya
Ara terus mencocokan bahan-bahan yang sudah tersedia di meja makan dengan catatan resep roti unyil yang ia dapat dari Teh Ida. Teh Ida adalah salah satu teman Bumi yang berdomisili di Tasik. Keduanya sering bertemu di pengajian jidda. Saat itu Teh Ida sering bolak-balik Jakarta, namun kini hanya berbalas pesan sebagai penyambung silaturahmi mereka.
"Kamu nggak kerja, Ra?" tanya Bumi, ia baru saja selesai mengganti gorden. Hari raya idul fitri selalu ditunggu-tunggu kedatangannya dengan segala sesuatu yang baru.
"Kerja, Bun. Ini aku lagi nyiapin resep roti unyil dulu. Nanti yang bikin mami, soalnya sejam lagi aku berangkat," sahut Ara seraya mengunci layar ponselnya.
"Mas Ar kapan pulangnya?"
"Lusa, Bun. Dia ada syuting satu scene lagi di Cibubur katanya," sahut Ara dengan raut wajah kecewa. Ia kira lepas syuting di wonogiri, Aro akan cepat pulang. Nyatanya pria yang memiliki kejahilan tingkat dewa itu, meminjam istilah anak zaman sekarang, malah masih harus pergi ke Cibubur.
"Tapi habis itu dia pulang 'kan?" selidik Bumi, ia merasa sedikit tersisihkan sebab Aro lebih banyak menelepon Ara, bukan dirinya.
"Pulang, cuma telat," ungkap Ara, kekecewaan masih tak bisa ia tepikan.
Bumi tersenyum, ia rangkul pundak anak gadisnya itu. "Yang penting hari raya dia kumpul sama kita, 'kan?"
Ara mengangguk, " Aku marah kalau hari raya dia masih aja kerja."
Bumi tertawa, ia peluk Ara dari samping. "Nggak sabar nunggu cucu ih."
"Bunda ...." Ara merengek malu-malu manja membuat Bumi tertawa lebih keras.
"Bunda, aku malu!" seru Ara memberengut, pura-pura kesal.
"Aro Ara, nanti anaknya jadi Arora," celetuk Bumi melepaskan rangkulannya kemudian berlari menghindari amukan Ara yang sudah berdecak kesal.
***
Tepat pukul 5 sore itu, Ara keluar dari klinik. Sling bag yang tersampir di pundak kirinya mengeluarkan bunyi kencrang-kencring saat ia berjalan. "Duh, ini uang receh bikin berisik aja," gerutunya kemudian menghentikan langkah dan membuka tas berwarna hitam metalic itu.
Ia rogoh beberapa logam uang pecahan 500 rupiah kemudian memindahkannya pada dompet pink kecil berbentuk love. "Nah, aman. Nggak berisik lagi."
Ara kemudian meneruskan langkahnya, sore itu ia harus pulang ke rumah Bunda karena akan kembali buka puasa bersama. Kali ini tanpa jidda dan Zahra. Hanya fokus ke keluarga kecil mereka. Walau kurang lengkap tanpa kehadiran Mahija Aro dan Mahija Akhza.
Awan yang mulai menghitam dan bergulung-gulung membuat Ara mempercepat langkahnya. Ia tak ingin kehujanan, sebab tak membawa payung.
Baru saja menyebrang jalan dan bersiap menyetop angkutan umum, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depannya. Ara sedikit lebih menepi. Dia keheranan siapa yang dengan sengaja memberhentikan mobil di hadapannya?
Tak lama keluarlah seorang gadis cantik yang rambutnya diikat tinggi hingga membentuk gelungan di bagian belakang kepalanya. Leher jenjangnya terekpose sempurna sebab gadis itu hanya mengenakan tanktop putih. Kacamata hitam menyempurnakan penampilannya.
"Hai, Ara ya?" sapa gadis itu seraya mengulurkan tangan, "Aku, Rea. Mantan kekasihnya Mahija Aro. Kenal?" lanjut gadis yang ternyata adalah Rea itu sambil membuka kaca mata.
Ara balas menjabat tangan Rea, "Iya, aku Ara. Ada apa?"
"Gila, nggak suka basa-basi rupanya?" sindir Rea seraya terkekeh.
"Udah mendung, jadi aku harus cepet pulang," kilah Ara berusaha tenang mendapat sindiran Rea.
"Aku juga to the point, Ara. Dengar!" seru Rea mendekatkan mulutnya ke telinga Ara. "Kamu harus ninggalin Aro. Kalau nggak, aku bisa hancurin dia!" imbuh Rea mengancam Ara.
Ara jelas kaget, namun ia berusaha tenang. Ia mengepalkan tangan, menguatkan diri menjawab segala ancaman Rea.
"Kamu siapa? berani-beraninya bilang mau menghancurkan hidup mas Ar!" sentak Ara tak kalah tegas.
"Kamu ternyata bukan seorang penakut ya?" Rea tertawa meledek Ara.
"Aku cuma takut sama Allah, selain dari-Nya aku mampu menghadapi," balas Ara dengan tawa tak kalah meledek.
"Kamu ngeledek aku?" tuding Rea, telunjuknya terangkat menodong ke wajah Ara.
"Enggaklah, siapa yang meledek?" kilah Ara kini ia lebih rileks, satu tangannya memegang tali sling bagnya satunya lagi ia masukan ke dalam saku rok plisket hitam yang ia kenakan.
Ara berdiri tegak, ia menaikan dagunya. Orang seperti Rea harus dilawan. Dia tak mau kalah apalagi mengenai Aro. Meski, jauh di lubuk hatinya ada ketakutan, ia tak mau menampakannya.
"Kamu bener-bener lebih pengen Aro hancur daripada ngelepasin dia?" desak Rea menyelisik ke wajah Ara.
"Aku punya Allah, tempatku meminta agar Masku baik-baik aja. Aku nggak takut sama ancaman kamu!" seru Ara menatap sinis pada Rea. Hal yang tak pernah ia lakukan selama ini. Jauh dalam sanubari, ia merasa berdosa karena telah bersikap angkuh.
Rea geram, ia merekatkan gigi-giginya dengan kedua tangan yang mengepal. "Awas kamu, Ara!" lagi-lagi sebuah ancaman ia layangkan pada Ara.
__ADS_1
"Makasih udah repot-repot datang kemari buat ngingetin aku," bisik Ara sangat pelan, namun penuh penekanan. "Tapi, selama aku benar, aku nggak takut. Karena ada Allah yang selalu mengawasiku dan juga mas Ar," lanjut Ara membuat Rea menggeram kesal seraya beranjak dan masuk kembali ke mobilnya. Setelah menutup pintu secara kasar, gadis itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ara mendesah, ia mengusap perlahan wajahnya seraya beristighfar dan bergumam, "Mas, kamu hati-hati, ya."
Sudah adzan maghrib saat Ara tiba di rumah Bumi. Seluruh keluarga sudah berkumpul di ruang makan, kecuali Akhza. Ia absen hari itu sebab jadwal di rumah sakit yang padat.
"Tadi rotinya dianter juga 'kan ke masjid?" tanya Ara pada Bumi.
"Iya. Fadan sama Atar yang antar," beri tahu Bumi.
Mereka sudah duduk memghadap meja makan menikmati menu bukaan hari itu. Roti unyil dengan teh manis gula batu khas Malahayu.
Ara patah-patah mengunyah rotinya. Mestinya itu terasa nikmat, namun ingatannya tentang Rea membuatnya jadi kehilangan selera makan.
"Teh, kata Mama Lili, nanti lebaran pesen roti unyil buat dikirim ke sodaranya," ucap Atar yang sudah menghabiskan lima potong roti bertekstur lembut itu.
"Minta rasa abon sama keju dibanyakin katanya," timpal Fadan ikut menambahi kalimat Atar.
Ara tak menjawab, dia sedikitpun tak fokus pada perkataan Fadan maupun Atar. Bahkan perkataan dua bocah itu nyaris tak terdengar olehnya.
"Mama Lili juga bilang, nanti tolong dikemas ke dalam wadah yang cantik. Atau sekalian pake hampers yang manis," papar Atar, namun Ara masih tak menanggapi.
Sikap Ara membuat Vanya dan Bumi saling pandang. Lewat gerakan mata, Vanya seolah menyilahkan Bumi menegur Ara.
"Ara, Sayang. Kamu ngelamun?" Bumi menyentuh punggung tangan Ara yang diletakan di atas meja.
"E-eh Bun, apa Bunda?" Ara gelagapan.
"Ara denger nggak Akang tadi bilang apa?" todong Bumi seraya menyelisik ke wajah Ara.
Ara menggeleng, "Maaf, Ara terlalu fokus menikmati roti."
Jelas Ara berbohong, roti yang ia makan dari tadi hanya satu. Bahkan teh manis kesukaannya itu masih belum tersentuh.
Bumi jelas tahu putrinya itu sedang berbohong. Ia mengusap punggung Ara yang memang duduk di sampingnya.
"Kamu nggak bakat berbohong, tolong setelah ini cerita ke Bunda," bisik Bumi membuat Ara mengangguk.
"Tadi Akang ngomong apa?" kali ini Ara menoleh ke arah Atar.
"Aku udah ngomong, nanti Teteh tanya aja deh ke Bunda atau Mami Vanya. Atau Kak Sanu sekalian," omel Atar merasa sedari tadi diacuhkan.
"Iih Akang marah ke Teteh? yaa Teteh sedih," Ara memasang wajah menangis serta pura-pura mengucek matanya, seolah dirinya sedang menangis.
"Teteh udah ah! aku mau ke masjid duluan," sela Atar kemudian beranjak dan mengajak Fadan ikut bersama dengannya.
"Cut!" teriakan Wisnu membuat semua kru dan pemain bersorak gembira. Malam itu menjadi malam terakhir Aro dan teman-temannya syuting di salah satu desa yang berada di Wonogiri tersebut.
"Besok scene terakhir ya, Ar. Inget, gue nggak mau sampe berkali-kali take!" seru Wisnu mengingatkan.
Aro hanya diam, dia paling sulit jika beradegan mesra. Apalagi kali ini dia sudah menjadi calon suami seseorang.
"Kenapa?" bisik Ayuni yang sedang membuka hijab syar'inya. "Lo paling susah ya buat adegan mesra?" lanjut Ayuni menebak kegalauan Aro.
Aro berdehem, kemudian menghela nafas panjang. Ia ingin berkata jujur, namun gengsi karena takut dicap sebagai artis tak profesional.
"Anggep aja gue cewek lo, atau istri lo," usul Ayuni seraya berlalu meninggalkan Aro yang semakin bingung harus berbuat apa.
Aro memilih kembali ke kamarnya. Ia mengemasi barang-barang yang akan dibawa pulang besok pagi. Ketidak hadiran Omar membuat Aro sedikit kewalahan mengurusi keperluannya sendiri. Beruntung ada Oji yang senantiasa membantu.
Setelah yakin barang-barangnya tak ada yang tertinggal, Aro kembali ke luar kamar. Tepat saat sampai di ruang tengah, teman-temannya sedang ribut membicarakan kiriman yang baru saja datang.
"Pesen apa lo, Ar?" tanya Oji menepuk kardus besar yang ada di hadapannya.
"Itu sarung sama mukena buat warga sekitar sini," sahut Aro kemudian mendekat ke arah kardus tersebut.
"Mau gue bantu buat ngebagiin?" usul Oji membuat Aro mengangguk.
"Nanti gue bilangin ini dari Mahija Aro," ujar Oji.
"Kagak usah!" sela Aro menggeleng. "Kasih mah kasih aja, nggak usah bilang dari gue," lanjutnya seraya duduk di samping Oji kemudian mengusap wajahnya.
"Kenapa lo? frustasi bener," tebak Oji.
"Gue paling nggak pede buat adegan mesra. Nggak bisa gue," papar Aro menggeleng-geleng.
"Lo inget nggak waktu syuting di Puncak bareng Risa?" celoteh Oji.
"Hhmm, ingetlah. Gue mabok abis itu," kenang Aro penuh penyesalan.
"Tapi waktu itu lo bisa adegan mesra sama Risa," ungkap Oji membuat Aro mengenang kejadian itu.
Aro ingat betul, setelah bicara banyak dengan Oji, merokok, bahkan minum waktu itu, ia bisa menyelesaikan adegan mesra dengan Risa. Walaupun pada akhirnya ia mabuk dan membuatnya pulang ke rumah bunda dalam keadaan tak sadar. Kala itu Ara yang merawatnya.
"Lo pasti bisa, Man!" seru Oji menyemangati dan membuat Aro mengangguk, namun ragu.
__ADS_1
"Gue bantu, tenang aja. Besok juga malem 'kan takenya?" tebak Oji.
"Gila aja kalau siang, puasa gini," gerutu Aro membuat Oji tertawa lebar.
Setelah itu, Aro sendiri memilih ke luar rumah. Agak menjauh dari rumah biasanya sinyal lebih bagus. Benar saja, saat ia membuka aplikasi pesan, ada beberapa chat baru yang masuk. Salah satunya dari kontak My Adore.
"Tumben chat duluan," gumam Aro senang.
[Assallamu'alaikum, Mas. Jangan lupa salat dan meminta perlindungan Allah, ya.]
Aro tersenyum senang. Kalimat Ara tentang mengingatkannya untuk salat, serasa alarm terbaik bagi dirinya.
[Wa'alaikumsalam, Ra. Kamu jangan lupain aku ya. Do'akan aku juga.]
Pesan balasan untuk Ara baru terkirim beberapa saat. Ia rela menunggu di tempat gelap dengan sedikit bising oleh suara nyamuk demi berbalas pesan dengan Ara.
[Aku nggak pernah lupa sama kamu. Pokoknya Mas hati-hati, ya! jaga diri, jaga hati, jaga iman!]
Aro mengerenyitkan dahi, tak biasanya Ara menyuruhnya jaga hati. Ia kembali mengetik balasan pesan untuk Ara.
[Hati aku kan di situ, sudah sepaket sama hati kamu. Cuma kamu yang bisa jagain.]
Tak lama pesan dari Ara kembali masuk
[Becanda mulu ah. pokoknya jaga diri, ya! jangan mudah terpengaruh siapapun. Jangan lalai ya, Mas. Udah dulu ya ... Assalamu'alaikum.]
Aro kembali mengetik balasan untuk pesan Ara, namun pesan itu gagal terkirim tanpa Aro ketahui.
Sementara di rumah Bumi, Ara sedang duduk di balkon kamarnya memegangi mushaf yang baru selesai dibacanya sebelum berbalas pesan dengan Aro tadi.
Ara sudah bicara perihal Rea pada Bumi dan juga Akash. Kedua orang tuanya itu menghibur Ara dan meyakinkan Ara bahwa semuanya akan baik-baik saja. Samar-samar dari kamar Atar terdengar musik mengalun indah. Sebuah lagu milik Marcell Siahaan berjudul firasat rupanya tengah anak muda itu putar.
Ara terpaku dengan lirik lagu itu, diam-diam bibirnya ikut bersenandung.
Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali jangan pergi lagi
Ara berhenti bersenandung, ia tak hafal lagi lirik selanjutnya. Hanya mendengarkannya samar-samar.
Akhirnya bagai sungai yang mendamba samudera
Ku tahu pasti kemana kan ku bermuara
Semoga ada waktu (sayangku) sayangku
Ku percaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya
Aku tak peduli ku terus berlari
Cepat pulang (cepat pulang), cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang (cepat pulang)
Cepat kembali jangan pergi lagi
Dan lihatlah sayang (lihatlah)
Hujan turun membasahi seolah ku ber air mata
Bersamaan hingga lirik tersebut, titik-tik hujan membasahi bumi. Ara tak lekas masuk. Ia membiarkan wajahnya menengadah ke langit. Membuat rintik air itu membasahi sesaat wajahnya. "Cepat pulang, Mas," rintihnya dengan hati berdenyut nyeri.
Sementara bait terakhir lagu masih mengalun indah dan samar-samar tertangkap oleh indra pendengaran Ara.
(cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi)
(firasatku) ingin kau tuk cepat pulang
(cepat kembali, jangan pergi lagi) ku hanya ingin kau kembali
(firasatku ingin kau tuk cepat pulang) pulang
(cepat kembali, jangan pergi lagi)
,
,
Terima kasih Mama Ida resep roti unyilnya dan Mama Dwi Lili tunggu pesanannya meluncur ya, hehehe.
__ADS_1
Terima kasih buat kakak-kakak, Teteh, Ceuceu, Ibu, Mama kece dan teman-teman semuanya yang masih menemani Ara. Masih selalu Ara tunggu like dan komennya.