Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Ayah dan Mami Ara


__ADS_3

“Kamu kenal Wak Ansar, tukang parkir di swalayan samping klinik Bidan Army?”


Pelan suara mami mertuanya ditangkap oleh Indra pendengaran Aro pagi itu.


Tangan kanannya terulur memberikan potret yang sudah lusuh. Pasti sepasang kekasih, sebab saling merangkul dengan senyum bahagia. Juga pasti adalah mami dan ayah Ara di masa muda.


Aro mengangguk, tak hanya kenal, ia juga sering ngopi bareng dengan pria pemilik tubuh tinggi itu. Lengan hitam akibat terbakar sinar mataharinya berurat kokoh. Usianya sekitar 48 tahun, namun masih sehat. Aro dekat dengan Ansar saat tiga tahun berjauhan dengan Ara dan dia sering pergi ke masjid juga pengajian rutin malam senin. Di sana dia mulai dekat dengan Ansar.


“Tanyakan saja padanya nama Monde, operator mesin di salah satu perusahaan air mineral di daerah Cicurug. Preman di kawasan sana, atau mungkin sekarang sudah pensiun. Bilang, anak Reamandri ingin bertemu.” Kali ini suara Sita lebih tinggi. Seperti ada luka pada nadanya. Penuh penekanan.


“Mami sebenarnya tidak ingin Ara tahu masa lalu ayahnya seperti apa,” sesal Sita dengan senyum getir.


Reamandri Wirasutisna, adalah bad boy pada masanya. Lelaki yang menurut Sita telah membuat dunianya hancur waktu itu.


Aro bergegas menemui Ansar. Pria yang sudah hijrah dan kini memilih menjadi tukang parkir setelah lama berkecimpung di dunia hitam sebagai preman. Peresah warga, terutama pedagang di pasar.


“Pengantin baru, seger pisan euy beungeut. Naek wae jigana?” (segar banget itu wajah. Main terus kayaknya?)


“Kudu atuh, Wak. Nyaah heunteu teh.” (Harus dong, Wak. Sayang kalau enggak) Dengan bangganya Aro membusungkan dada.


“Kaciri beungeut beuki,” ledek Ansar (kelihatan muka doyan)


Aro mengutarakan perihal kedatangannya pada Ansar. Langsung ke inti permasalahan.


“Iraha, iraha?” (Kapan, kapan?) Ansar semangat ingin mengantar.


“Ayeuna atuh, Wak.” (Sekarang dong, Wak)


Tepat pukul sembilan, Aro, Ara dan Ansar berangkat menuju salah satu kampung di kabupaten Sukabumi.


“Tuh, cat kuning pager krem rumah Almarhum. Nu cet bodas imah si Monde,” papar Ansar menunjuk satu persatu rumah di dalam gang sempit itu secara bergantian. (Yang cat putih rumah Monde)


Hingga akhirnya ketiganya tiba di depan rumah bercat putih. Daun pintunya bercat coklat, mengkilap. Sepertinya baru dipulas ulang oleh pemiliknya.


“Mas, aku deg-degan,” adu Ara yang tak melepas genggamannya pada jemari Aro.


“Lebih deg-degan pas kusentuh, atau sekarang?” bisik Aro seraya menjawil pipi mulus istrinya.


“Mas,” rengek Ara mencubit perut suaminya.


“Jangan nyubit, aku takut on,” bisik Aro menempelkan bibirnya pada telinga Ara yang terbungkus pashmina krem.


“Mas, becanda terus ish.” Mata Ara mendelik.


Aro tertawa, ia sengaja menggoda istrinya untuk memudarkan segala gundah dalam hati wanita paling dicintainya itu. Setelah bunda tentunya.


Pintu dibuka oleh seorang lelaki berkaca mata dengan tubuh tinggi kurus. Melihat tampilan pria itu, sepertinya usianya sama dengan Ansar. Kulit pria ini lebih cerah, wajar sebab menurut Sita profesinya adalah karyawan pabrik.


“Kelek?” pekik pria itu.


“Monde, si preman Mekar Sari!” balas Ansar.


“Ngimpi naon aing, sia jor jor an kadieu?” Monde merangkul bahu Ansar (Mimpi apa saya, kamu datang kemari?)


“Ngimpi dicium si Sari. Sang gadis tapi bukan perawan.” Ansar terbahak hingga bahunya bergetar (Mimpi dicium si Sari).


Tanpa mengenalkan Ara terlebih dahulu, Ansar mengajak kedua pengantin baru itu masuk dengan seizin tuan rumah tentunya.


Ruang tamu tanpa sofa. Digelari karpet berbulu berwarna coklat dengan meja bundar di tengahnya. Cat berwarna putih mengesankan ruangan itu nampak luas. Ada akuarim di pojokan dengan berbagai jenis ikan hias yang mengisinya.


Pada dinding, terdapat foto keluarga. Monde, dan tiga orang putranya seragam menggunakan koko. Ada yang ganjil, tak ada sosok ibu maupun istri di dalam foto itu.


“Maklum duda, rumahnya berantakan. Boga anak tilu lalaki doang meujeuhna kumincir. Nu hiji kapten basket, tara Aya di imah. Anu dua kembar, jongjon hareupeun layar hape maen game.”


Monde mengabsen satu persatu kelakuan anaknya ( Punya anak tiga lelaki semua, sedang suka-sukanya bermain. Yang satu kapten basket nggak pernah ada di rumah. Yang kembar anteng di depan layar hape main game)


“Mana pamajikan maneh? Biduan Purwasari,” ledek Ansar. (Mana istri kamu?)


“Dia meninggal dua tahun lalu karena kanker rahim,” adu Monde.


“Eh, hampura. Dek teu nyaho,” sesal Ansar (Eh maaf. Saya nggak tahu)


“Ieu saha?” tanya Monde memangkas sedih sebab luka yang baru saja terbuka. (Ini siapa?)


“A ing langsung we nya?” tanya Ansar meminta persetujuan (saya langsung saja, ya?)

__ADS_1


“Gewat, ntong nyieun panasaran!” pinta Monde. (Cepat, jangan membuat penasaran)


“Anak Reymandri Jeung si Vanya. Incu lanceuk maneh!” tegas Ansar membuat bola mata Monde seperti hendak loncat dari tempatnya.


(Anak Reamandri dan Vanya. Cucu kakakmu)


“Tong heurey, kehed. Lainna si Vanya aborsi?” (Jangan main-main. Bukannya Vanya aborsi?)


Mendengar hal itu Ara mengeratkan genggaman tangannya pada Aro. Pria itu merasakan tangan istrinya berkeringat. Sejak tadi, tak sedetik pun Ara melepas genggamannya. Sesekali hanya merenggangakn, kemudian kembali mengeratkan.


Tangan Ara yang lain juga tak henti mencengkram bahu Aro seraya merintih menyebut nama suaminya itu. Menangkap ketakutan yang dirasakan istrinya, Aro memangkas keasyikan Ansar dan Monde yang sedang berbincang.


“Maaf, bisa nggak ngomongnya pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar saja? Istri saya nggak biasa mendengar kalimat kasar.” Aro mengelus pucuk kepala istrinya yang bersandar pada bahunya.


“Jangan buat istri saya ketakutan,” pintanya kemudian.


"Jangan takut, Sayang," lanjut Aro berbisik pada Ara.


“Bagoy, budak zaman ayeuna bisaan ari wangkong teh!” seru Monde menepuk bahu Ansar yang duduk di sampingnya. (Anak zaman sekarang, paling bisa bicara)


“Kehed, eta nu awewe incu lanceuk maneh. Ulah ngaba cot kasar!” bisik Ansar mengingatkan (Bro, itu yang perempuan cucu kakak kamu. Jangan bicara kasar)


Monde menyelisik ke wajah Ara. Ia perhatikan wanita itu baik-baik. Matanya, bibirnya, alisnya, dan bentuk wajahnya mirip sekali dengan keponakannya, Reamandri Wirasutisna.


“Ini serius anak Aa?”


“Serius, Mon. Dia pengen ketemu kakek neneknya. Gimana kabar mereka?”


Monde tak serta-merta menjawab. Ia jadi teringat kenangan bersama keponakan satu-satunya yang sama nakal dengannya.


Monde adalah adik dari ibunya Reamandri, ayah Ara. Nama aslinya Mohamad Hande, menjadi Monde karena tak sesuai dengan sifatnya yang liar.


Salah satu preman yang terkenal pada masanya. Bersama Ansar, mereka berdua terkenal hampir di seluruh Jabodetabek. Keberadaan mereka pada waktu itu selalu meresahkan warga.


“Allah, bukannya Vanya itu nonis?” Monde tak mengalihkan pandangannya dari Ara. "Ini anak kelihatan soleha banget," sambungnya.


“Panjang ceritanya, yang penting kamu harus bisa jelasin ke Haji Wira dan Hajah Ina.” Ansar menepuk dada Monde, menyadarkannya bahwa tak baik terus-menerus menatap Ara sebab suaminya sudah mulai geram dengan tangan mengepal.


Setelah itu mereka pergi ke rumah Hajah Ina dan Haji Wira, kakek dan nenek Ara.


“Pacar Aa?” gumam Hajah Ina.


“Yang sempat hamil tapi aborsi?” Haji Wira, pria lanjut usia yang memiliki tubuh tinggi ikut menambahkan.


“Ini putrinya. Vanya gagal mengaborsi janinnya. Lihat, mirip sekali dengan Aa bukan?” Monde menunjuk ke arah Ara yang tengah tersenyum dengan netra dibingkai kaca. Siap pecah.


"Vanya menyembunyikan keberadaannya. Dia bohong, karena tak ingin keluarganya tahu. Begitu bayinya lahir, Vanya berikan makhluk tak berdosa itu pada sepasang suami istri yang akhirnya bisa menuntun anak aa pada jalan yang lurus." Berapi-api Monde menjelaskan kenyataan sebenarnya.


“Cucuku, Bapak? Ini cucu kita?” Hajah Ina memukul-mukul bahu suaminya.


“Nenek, Kakek?” lirih suara Ara terdengar pelan dengan bibir bergetar.


“Cucuku!” seru Hajah Ina tangannya terulur, namun lutut tak bisa diajak kompromi untuk berdiri.


Melihat keadaan itu, Aro membisik pada Ara.


“Ayok, ke nenek. Peluk nenek, Sayang.”


Ara mengangguk, ia berdiri dibantu Aro dan langsung berhamburan ke arah Hajah Ina yang tengah menangis.


Keduanya berpelukan dengan tangan saling mengusap bahu. Ara menangis sekencang-kencangnya. Ia biarkan dengan bebas sesak yang selama ini memenuhi dadanya.


Haji Wira di sebelahnya ikut mengusap punggung Ara. Aro ikut jongkok di belakang Ara, saling melempar pandang dengan Haji Wira kemudian bertukar senyum.


Ara melerai pelukannya, dipandangi wajah keriput nan cantik milik neneknya. “Nenek, maaf Ara baru nengok ke sini. Nenek sehat?”


“Kami yang minta maaf, Nak. Tak berusaha mencari tahu keberadaanmu,” sahut Hajah Ina mengusap air mata Ara dengan jemarinya.


“Kami terlalu pecundang sebab hanya termakan oleh berita bohong. Kami pengecut yang sembunyi setelah putra kami melempar batu. Maaf, Nak,” sesal Haji Wira yang kemudian merentangkan kedua tangan. “Peluk Kakek, Nak. Biarkan Kakek merasakan darah Reamandri Wirasutisna dalam tubuhmu.”


“Kakek!” Ara tentu berpindah ke pelukan kakeknya.


“Kamu cucuku, Reamandri kesayangan kami memiliki putri Soleha?” Haji Wira seolah tak percaya.


Dalam pelukan sang kakek Ara mengangguk. Kemudian Haji Wira mengurai dekapannya. Pandangannya beralih pada Aro.

__ADS_1


“Kamu suami cucuku?” Tentu saja, siapa yang tak akan mengira kalau Aro suami cucunya?


Sedari masuk, bersalaman hingga barusan, tangan lelaki itu terus merangkul Ara dengan sesekali mengecup kening dan pucuk kepala Ara.


“Iya, Kek,” jawab Aro mengangguk sopan dengan seulas senyum.


Pembicaraan mengalir kembali. Mengenang sosok Reamandri Wirasutisna. Bad boy pada masanya yang meninggal setelah salat Jum’at.


Jum’at yang mendung. Sedari pagi langit enggan tersenyum. Awan hitam menggulung membuat siapa saja enggan untuk keluar rumah.


“Hari ini ada praktek ujian PAI, Pak,” sahut Reamandri, yang akrab disapa Mandri.


“Pulang sekolah langsung kembali, jangan kemana-mana!” titah Wira.


Putranya itu baru sembuh dari koma akibat luka bacokan di kepala, tengkuk, dan perut setelah terlibat tawuran sebulan yang lalu.


“Kamu anak kami satu-satunya. Jaga diri baik-baik. Jangan membuat khawatir lagi!” Ina mengingatkan dengan telunjuk mengarah pada wajah oriental putranya.


“Insya Allah. Aku juga sudah kapok. Ingin hidup lebih baik,” Aku Mandri kemudian pamit berangkat sekolah.


Sebelum benar-benar melajukan motor menuju sekolahnya, Mandri mampir ke rumah pamannya yang saat itu masih melajang.


“Balik sakola arek manggihan si Vanya. Arek dibawa ka bapa Jeung ibu. Arek tanggung jawab, Mang.” Suara mantap khas lelaki penuh tanggung jawab. (Pulang sekolah mau menemui Vanya. Mau membawanya ke bapak dan ibu. Mau bertanggung jawab, Mang)


“Alus, jadi lalaki kudu kitu. Berani berbuat berani tanggung jawab. Untung nu hamil ngan hiji. Coba kumaha lamun tiluanan hamil?” Monde menepuk bahu keponakannya itu. (Bagus, jadi lelaki harus seperti itu. Untung yang hamil Cuma satu. Gimana kalau tiga-tiganya hamil?)


“Sama Vanya aku nggak pake pengaman. Sengaja, karena aku cinta sama dia. Dianya selalu nolak kalau mau aku kenalin ke bapak dan ibu. Katanya nggak mau masuk Islam. Aku sedikit seneng pas Celin kasih kabar Vanya hamil. Mereka pikir aku nggak mau tanggung jawab. Tapi, aku pasti lindungi Vanya, Mang.” Panjang lebar lelaki yang baru hendak lulus SMK itu bicara tentang cinta. Miris.


“Ari si awewe hiji deui kumaha? Maneh mah ngerakeun arek caplukan di kafe. Jig atuh di hotel,” ledek Monde. (Kalau cewek satu lagi gimana? Kamu malu-maluin, mau pacaran di kafe. Di hotel, dong)


“Udah biasa aja. Nggak terlalu suka cewek alim. Susah banget diajak mainnya. Lagian dia Cuma bahan taruhan. Anak Mandapa tuh terkenal alim. Enak aja, dikata Mandri gak bisa bobol pertahanan dia. Kalau Vanya beda, dia juga sebenarnya hamba yang taat pada Tuhan-Nya. Tapi, dia asyik. Ngertiin maunya aku.” Penjelasan lelaki yang bahkan belum tahu seperti apa cara menafkahi anak orang itu menggelitik indra pendengaran Monde.


“Tobat, Ndri. Ish, karak 18 tahun geus arek anakan. Ari si a.” (Tobat, Ndri. Ish, baru mau 18 tahun sudah mau punya anak. Dasar, kamu).


Ujian praktek PAI Mandri mendapat nilai A. Siang itu setelah selesai salat Jum’at, di hadapan guru PAInya, Mandri membaca surat Al-kahfi ayat satu hingga sepuluh sebanyak tiga kali. Dilanjut membaca surah Yasin, dan menyelesaikan juz 30 yang menandakan hari itu, untuk pertama kalinya Mandri khatam Al-Qur’an.


Menerobos hujan, Mandri tak langsung pulang ke rumah. Ia hendak menemui sang kekasih yang tinggal di Bogor kota.


Naas bagi Mandri, hari itu ia mengenakan jas almamater SMKnya dan lupa akan melintas di kawasan musuh. Meski sudah mengikrarkan diri untuk lepas dari geng pawang badai sebagai ketua yang hobi tawuran, hal itu tak membuat Mandri lepas dari incaran.


Melintas di kawasan Stasiun Cigombong, salah satu mata-mata sekolah lawan melihat pria itu. Segera saja, lima motor dengan masing-masing dua penumpang di atasnya mengikuti Mandri.


Mandri merasa tak enak sebab sadar telah diikuti. Ia berusaha biasa saja menjalankan motornya. Berharap segera dapat lepas dari kepungan. Naas, dari arah berlawanan justru sekutu yang mengikutinya juga datang lebih banyak.


Mandri memilih menepikan motor tepat di atas jembatan yang di bawahnya mengalir sungai dengan arus air yang deras. Daripada memancing keributan yang berujung pada kantor polisi, atau rumah sakit yang justru akan mengakibatkan salah satu dari lawannya itu menjadi tersangka, Mandri memilih lompat ke dalam sungai.


Mandri berpikir, ia bisa berenang. Tak akan hanyut. Tak boleh mati, sebab ada Vanya dengan calon buah hati yang membutuhkannya.


Rencana tinggal rencana, kuasa Allah tak bisa ditolak. Mandri hanyut terbawa derasnya aliran sungai. Jasad Mandri ditemukan setelah esok harinya. Pria itu pulang dengan keadaan meninggal pada ibu dan bapaknya.


“Semoga Allah menerima taubat ayahmu, Nak. Do’akan dia. Sebut namanya. Reamandri Wirasutisna bin Haji Wirasutisna.”


Mereka sudah selesai melantunkan ayat suci di atas pusara Mandri. Ara menahan air matanya agar tak jatuh mengenai makam sang ayah yang telah ia taburi bunga.


“Sampaikan salam untuk mami kamu. Kami menunggunya datang. Bilang padanya, Mandri mencintainya. Kenanglah kebaikan Mandri agar ia bisa tenang.”


Sekali lagi Ara memeluk kakek dan neneknya. Berjanji akan sering berkunjung.


“Mas, makasih udah kabulin permintaanku,” bisik Ara yang tangannya melingkar erat pada perut suaminya saat perjalanan pulang.


“Itu tugasku,” sahut Aro balas memeluk Ara erat.


“Kalau tugasku?”


“Melahirkan anak yang banyak untukku,” balas Aro.


Ara tertawa, mengecup singkat pipi suaminya. Keduanya saling berpelukan, tak peduli pada Ansar yang menyetir. Membelah tol Bocimi malam itu dengan hati bahagia. Membawa segenap lega dalam dada.


.


.


Terima kasih buat yang selalu kasih dukungan. Jujur aja, tadinya kupikir akan bisa mengakhiri kisah Ara dan Aro di bab 90. Nyatanya susah.


Curhat dikit, nih hehehe.

__ADS_1


Sehat-sehat ya, Semuanya.


__ADS_2