Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Percayalah


__ADS_3

Ara merasa malu mengapa bisa secengeng itu perihal sebuah cinta. Tak ada yang lebih pantas ditangisi selain dosanya sendiri. Ia segera berdiri dan membasuh wajahnya, tak peduli basah yang mengenai hijab dan bajunya.


Ia keluar dari kamar mandi setelah tangisnya hanya menyisakan mata sembab dan merah. Didapatinya sang mami sedang memasak, entah memasak apa? yang pasti ia hanya melihat punggung Vanya bergerak-gerak di depan kompor.


Seperti tahu langkah Ara mendekat, Vanya menoleh dan tersenyum padanya.


"Hape kamu dari tadi bunyi terus," beritahu Vanya menunjuk dengan dagu pada ponsel Ara yang ia simpan di meja makan.


Ara langsung mengecek ponselnya. Beberapa panggilan dari Aro dan Atar. Dilanjut pesan bertubi-tubi dari Atar yang memberitahukan bahwa bundanya terus-menerus menangis. Atar meminta Ara untuk datang ke rumah mereka agar dapat menghibur Bumi. Begitu isi pesan Atar.


Ara segera berganti pakaian, ia pamit pada sang mami sebelum pergi. Hatinya gusar mengetahui bundanya bersedih. Ia takut Aro semakin menjauh dari rahmat Allah karena sudah menjadi penyebab sang ibu menitikan air mata.


***


"Cepet banget sih beritanya nyebar?" Aro melempar ponselnya ke tengah tempat tidur.


Kini dirinya dan yang lain sudah tiba di sebuah hotel. Baru saja Atar mengiriminya pesan bahwa sang bunda sudah melihat berita pada siaran langsung salah satu stasiun televisi.


"Ya mau gimana lagi, Ar?" Omar balik bertanya seraya membuka sweaternya.


"Ara nggak angkat panggilan gue, Mar!" sentak Aro kasar, tatapannya menuding pada Omar. seolah pria itu paling salah dalam hal ini.


Omar menghela nafas panjang, permasalahannya tetap pada Ara. Artisnya takut kehilangan kepercayaan dari Ara, adik yang kini malah menjadi seseorang yang spesial di hatinya.


"Gue bantu ngomong ke Ara, ok?" tawar Omar.


"Bukan masalah bantu ngomong ke Ara, lo harus bantu gue buat jauh-jauh dari Rea!" tegas Aro, seraya menggasak kasar surai hitamnya.


"Iya, sekarang lebih baik lo istirahat!" saran Omar membuat Aro menjatuhkan diri ke atas kasur dan kembali memeriksa ponselnya.


***


Bumi sedang menangis di kamar Aro saat Ara datang, wanita itu menangis memeluk foto masa kecil Aro. Berita yang ia dengar sangat menohok hatinya. Pasalnya ia merasa dibohongi oleh Aro yang menyebutkan tidak memiliki hubungan dengan siapapaun. Bumi juga merasa kesal kenapa Aro harus kembali mesra dengan mantannya.


Belum lagi potongan adegang-adegan dewasa Aro dengan Jingga yang ia lihat. Semuanya sudah cukup membuat terpukul dan menyakiti hatinya.


"Bunda ...!" seru Ara saat tiba di kamar Aro.


Gadis itu iba melihat keadaan bundanya yang sedang meringkuk memeluk bingkai foto. Tubuhnya masih berbalut mukena putih.


Ara ikut berbaring demi memeluk sang bunda yang sedang meringkuk itu. Wangi khas Aro nyatanya masih tertinggal jelas di kamar itu. Membuatnya benci sekaligus rindu pada waktu bersamaan.


"Bunda jangan sedih, jangan mendzalimi diri sendiri ya ...."


Bumi masih tak mau menjawab, ia masih tersedu sedan. Bukan hanya merasa gagal, tapi juga merasa malu. Apa kabar nanti sang mama di kampung jika kembali dikejutkan oleh berita ini. Belum lagi mertua dan kakak juga adik iparnya?


Sudah pasti segala bentuk protes hal negatif akan segera ia dapatkan. Ia hanya tak suka ketika ada seseorang menjelek-jelekkan anaknya sekalipun anaknya memang salah.


"Bunda, lebih baik berdo'a semoga Mas Ar segera pulang ya, Bun?" Ara melingkarkan tangannya di pinggang Bumi. Tangan Ara mengelus lengan Bumi yang masih memeluk bingkai foto.


"Semarah apapun Bunda ke Mas Ar, jangan menyumpahi yang enggak-enggak ya, Bunda." perkataan Ara membuat Bumi seperti tersadar akan sesuatu.


Bumi melepaskan bingkai foto dari pelukannya, ia beranjak duduk dan Ara melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Keduanya merubah posisi masing-masing, duduk bersila saling berhadapan. Bumi menyelisik ke wajah Ara, mata sembab jelas yang pertama Bumi tangkap.


"Sayang, terima kasih sudah hadir di hidup Bunda sebagai pelengkap yang membuat semuanya selalu terasa indah. Terima kasih telah menjadi anak yang begitu baik," ungkap Bumi seraya memeluk Ara, erat dan hangat.


"Bunda kok ngomong gitu? aku ada karena kebaikan hati Bunda sama ayah. Aku adalah cerminan kalian yang sudah merawatku begitu baik," balas Ara mengusap punggung Bundanya.


Sejenak keduanya saling berlelukan, melepaskan perasaan masing-masing. Ara kembali menangis, benci dan rindu pada Aro kembali menggrbu saat ujung mata menangkap poster besar Aro di kamar itu.


Kedatangan Akash membuat keduanya saling melerai pelukan. Akash datang membawakan air putih untuk istrinya. Ia tahu sudah cukup lama istri tercintanya itu menangis.


"Sudah selesaikan ya, acara menangisnya!" Akash duduk di samping istrinya, ia mengusap pucuk kepala wanita yang sangat dicintainya itu kemudian menyodorkan gelas berisi air putih itu.


Bumi menerimanya dengan senyuman, ia segera menenggak air yang diberikan suaminya. Dalam beberapa kali tenggakan, air putih itu tandas.


"Jangan mendzalimi diri sendiri dengan terus-menerus menangis. Ada hal lain yang bisa kamu lakukan dan itu lebih baik. Yaitu, berdo'a. Ingat, do'a ibu itu dapat menembus langit. Ucapannya selalu bisa jadi nyata," ucap Akash panjang lebar membuat Bumi menyadari sesuatu, ia terlalu rapuh.


"Maaf ya, aku masih saja cengeng, " sesal Bumi seraya berhamburan ke pelukan Akash dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya itu.


Ara menatapnya penuh haru, terbesit dalam benak akan kah suatu saat mendapatkan sosok suami sebaik ayahnya itu? Sosok tegas, namun penuh kelembutan. Belum pernah sekalipun Ara melihat Akash memperlakukan Bumi dengan kasar. Selalu manis dan romantis.


Ara berdehem, "Aku jadi isri banget ini, ya Allah. Jiwa jomloku meronta-ronta melihat kemesraan ini."


Perkataan Ara membuat Akash dan Bumi melerai pelukan mereka, Bumi dan Akash saling pandang dan tersenyum.


"Sini, Nak!" ujar Bumi merentangkan tangan, Akash melakukan hal sama. Jadilah ketiganya berpelukan bersama dengan Bumi yang lagi-lagi mengucapkan terima kasih pada Ara karena telah menjadi anak yang baik.


Bersamaan dengan ketiganya yang melerai pelukan, Atar masuk membawa ponsel yang tengah melakukan panggilan dengan Aro.


"Mau peluk juga?" Akash merentangkan tangan seraya mengerlingkan mata.


"Nggak mau kalau sama Ayah, ogah!" tolaknya seraya memalingkan wajah, pura-pura marah.


"Sama Bunda mau?" Bumi ikut merengangkan tangan, namun Atar kembali menolak.


"Maunya sama Teh Ara," ucapnya membuat Aro yang sedang dalam mode panggilan berteriak.


"Woy. awas lo sampai berani meluk, nggak jadi gue beiin hape!"


Suara Aro membuat Bumi dan Ara saling berpandangan.


"Ini Mas Ar telepon mau bicara sama Bunda," beritahu Atar menunjuk pada ponselnya.


"Gimana, Ra?" Bunda sedang tak ingin bicara dengan Mas Ar," bisik Bumi pada Ara.


Ara menghela nafas, "Biar Ara aja yang bicara, ya?"


"Iya, Sayang. Bunda takut berkata kasar," Bumi kembali berbisik.


Ara mengambil ponsel dari tangan Atar, ia mulai mengucap salam dan tentu dijawab suara riang grmbira di seberang sana.


"Ra, itu kamu?"


"Iya, Mas. Ini aku."

__ADS_1


"Ra, jangan percaya sama beritanya, ya!"


"Apa yang bisa bikin kita percaya, Mas?"


"Itu akal-akalan aja supaya film ini laris, Ra. Sperti biasa ini cuma settingan."


"Mas, tapi potongan adegan-adegan itu gimana, Mas?"


"Itu jelas hanya akting, Ra."


"Tapi bikin yang melihat merasa seolah nyata, Mas."


"Aku nggak peduli sama orang lain, aku cuma peduli sama keluarga aku. Peduli sama kamu. Kamu harus percaya sama aku, Ra!"


Ara mulai was-was, kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut sebab kedua orang tua dan juga adiknya sedari tadi diam seribu bahasa mendengarkan percakapan itu.


"Biar dunia nggak percaya padaku, biar semesta menolakku, asal kamu yang selalu setia dan percaya itu udah lebih dari cukup. Aku nggak butuh mereka, aku cuma butuh kamu."


Ara menelan salivanya, apakah ini bentuk pernyataan cinta Aro? Kenapa pria itu sulit sekali ditebak? Bicaranya dan sikapnya selalu membuat Ara melambung di satu sisi, namun di sisi lain ia juga kadang merasa tiada arti.


"Ra, kamu denger nggak?"


Bukan hanya Ara yang mendengar, tapi juga kedua orang tua dan adiknya. Ara menatap satu persatu orang-orang di sekelilingnya. Bumi mengangguk, menyilahkan Ara bicara kembali.


"Semua ini berita bohong, Ra. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Rea. Percayalah! tolong bilang ke ayah dan bunda juga."


Ara kembali menatap Bumi dan Akash, keduanya mengangguk bersamaan. Bagaimanapun Aro sedang butuh dukungan dari keluarga, saat kini pro dan kontra sedang menyudutkannya.


"Iya, Mas. InsyaAllah aku percaya, kami percaya."


"Alhamdullillah, makasih ya, Ra. Aku pasti cepet pulang. Aku janji selesaikan semua ini dengan cepat. Aku pulang nanti aku traktir kamu makan apa aja."


Ara tertawa, begitupun dengan Akash dan Bumi serta Atar. Perasaan kesal dan marah pada Aro menguap begitu saja. Ara sampai merutuki dirinya sendiri kenapa tadi menangis dan termakan oleh gosip murahan seperti itu.


Dirasa cukup telah banyak bicara, Ara meminta mengakhiri panggilan, padahal Aro sempat menolak dan bilang masih ingin mendengar suaranya. Akash dan Bumi sempat saling pandang dan curiga. Ara dan Aro tidak bertengkar sperti biasanya.


Sementara jauh di seberang sana, Aro bernapas lega sebab telah membuat keluarganya termasuk Ara kembali percaya. Ia segera keluar dari ruangannya dan menemui sutradara di kamarnya.


Aro meminta proses syuting dilaksanakan dengan cepat, ia pastikan tiga hari syuting itu harus selesai. Sang Sutradara menyanggupinya, asal semua artis konsisten dan mau bekerja sama.


"Kenapa pengen buru-buru banget balik sih, Ar?" tanya Rea saat Aro akan kembali kr kamarnya, wanita itu ternyata mengekori langkahnya. Setelah tadi Aro terkejut karena keberadaannya di kamar Sutradara.


"Bukan urusan lo!" ketus Aro hendak membuka pintu. namun Rea malah menghalanginya dengan berdiri di depan pintu merentangkan tangan. Pakaiannya yang minim membuat pandangan Aro risih.


"Galak banget sih, Ar?" bisik Rea.


"Jangan bikin gue berbuat kasar, atau lo mau gue depak dari project ini!" ancam Aro membuat Rea perlahan menyingkir.


Setelah itu, Aro segera masuk ke kamar. Hatinya berbunga, entah apa penyebabnya. Ia kembaki menjatuhkan diri ke atas kasur. Ada waktu beberapa jam sebelum syuting dimulai. Dia harus tidur untuk merefresh otaknya.


.


Like dan komennya masih ditunggu

__ADS_1


__ADS_2