
Sebulan telah berlalu sejak kejadian menghabisi Julus dan Apeng. Ara semakin disibukkan dengan menangani proses kelahiran para pasiennya. Kandungan yang semakin besar tak mengurangi semangatnya bekerja.
“Enggak cuti, Ra?” seloroh Fenti setelah mereka berhasil membantu persalinan seorang ibu muda siang itu.
“Cuti ke Teteh gitu?” balas Ara yang sedang mencuci tangan pada wastafel di ruangannya.
“Kamu bisa ngelahirin sendiri?” celoteh Fenti membuat Ara tertawa.
“Iya, lahiran sendiri. Mandiin dedek sendiri. Pasang infus sendiri. Tega!” timpal Ara mengelap tangan dengan handuk kecil yang menggantung di dekat wastafel.
“Lalu?” Fenti penasaran Ara akan mempercayakan persalinannya pada siapa?
“Bidan Army wanti-wanti kalau aku udah kerasa, beliau langsung meluncur ke sini.” Ara ikut duduk di samping Fenti.
Sepiring buncis rebus dengan semangkuk bubur kacang hijau kesukaannya masih tak tersentuh.
“Makan dulu!” titah Fenti menunjuk pada makanan di hadapan mereka.
“Takut suami kamu keburu datang.” Fenti mengambil satu buncis dan mengunyahnya. “Manis, bisaan si Aro ngasakanna.” (Aro pandai memasaknya)
“Gampang atuh Teh, Cuma dimasukin ke air mendidih. Tunggu 5 hingga 10 menit. Angkat, rendem pake aer es. Jadi deh,” papar Ara seraya ikut memakan buncis rebus tersebut.
“Riweuh!” sahut Fenti kembali mengambil buncis itu. “Eh, jadi jiga bumil wae.” Wanita itu berdiri kemudian keluar dari ruangan Ara.
Tak lama pintu kembali dibuka, Ara pikir Fenti kembali, ternyata suaminya. Beruntung piring dan mangkuk sudah licin tandas. Tak perlu dapat omelan dari sang suami.
Tapi, tunggu. Ini baru jam 15.00. Kenapa Aro sudah pulang?
“Kamu capek nggak?” Setelah mencuci tangan dan wajah, Aro langsung saja jongkok di depan Ara. Tepat menghadap pada perut buncit istrinya itu.
“Enggak, kamu mau?” tanya Ara. Karena suaminya pasti bertanya capek atau tidak untuk memulai hal itu.
Iya, hal itu.
“Mau apa?” goda suaminya seraya bersorak riang karena calon bayi perempuannya menendang. Merespon solawat yang ia bisikkan barusan.
“Kamu bacain solawat atau lagu?” Calon bayi mereka akan diam saja jika yang diperdengarkan adalah lagu. Kecuali instrumen musik klasik, ia akan melakukan gerakan kecil yang membuat Ara kegelian.
“Ra, kamu capek nggak?” Aro beranjak duduk kemudian meminum air putih yang sisa setengah.
“Bekas aku loh, Mas. Aku ambil dulu yang baru ya?” Ara hendak berdiri namun lengannya dicekal oleh suaminya.
“Ra, capek nggak?” ulang Aro.
“Enggak sih, malah lagi ngerasa fit banget. Tapi, ini masih terlalu siang, Mas,” sahut Ara.
Cuaca sedang panas-panasnya. Pendekar api malah mau nyerang.
Aro menghela napas lega. Baiklah istrinya sedang dalam mood baik.
“Ra, kakek meninggal ....”
Ara menautkan kedua alisnya. Bukankah sebulan yang lalu saat mereka mengantar Monde pulang kakek masih terlihat baik-baik saja?
Tanpa bicara apa-apa lagi, Ara meminta segera diantar ke rumah kakeknya. Dia juga menelepon maminya agar berangkat bersama bunda dan ayah.
Tiba di rumah kakek, suasana sudah ramai. Nampak di ruang tamu jenazah kakek terbujur kaku dengan kain kafan membungkus tubuhnya.
“Jangan nangis ... please ...." bisik Aro saat keduanya melihat untuk terakhir kali wajah sang kakek. Nampak tenang dan damai. Wajah yang menguning, hidung bangir dengan ulasan senyum. Sirat keihklasan berpulang jelas terpancar. Semoga h**usnul khotimah.
“Kita wudu terus ngaji, yuk?” sambung Aro seraya mengangkat bahu Ara untuk segera beranjak.
Dengan sesak memenuhi dada, Ara membaca surah Yasin. Berkali-kali ia berhenti hanya untuk mengambil napas dan menengadahkan kepala ke langit-langit agar air mata tak jatuh. Sakit. Sungguh sakit.
Meski setiap yang bernyawa pasti akan mati. Meski akhir dari hidup adalah mati. Siapa pun tak dapat lepas dari mati. Hingga ke ujung lubang semut sekali pun, mati tak dapat dihindari.
Kakek memang tak dekat dengan Ara, tapi kasih sayangnya terasa nyata meski hanya beberapa kali berjumpa.
Tepat di samping makam ayahnya, jenazah kakek sore itu dikebumikan. Keberadaan Ara dan Sita rupanya sudah diketahui oleh seluruh keluarga besar kakeknya.
“Do’anya buat kakek jangan putus ya, Neng!” pesan seorang nenek yang merupakan adik dari kakek Wirasutisna.
Ara tentu mengangguk, ia sekuatnya menahan untuk tak menangis meski sesak dalam dada sudah bergulung-gulung meronta minta dikeluarkan. Sedari tadi, dia tahan untuk tak menangis.
Sampai malam suasana masih saja ramai, baru pukul 23.15 sanak saudara pamit pulang. Termasuk mami, bunda dan ayah. Menyisakan Ara, Aro dan Monde yang menemani nenek.
“Ada sesuatu yang kakek titipkan untuk Ara.” Nenek tampak tegar, sedari tadi hanya mengulas senyum dengan mata yang sedikit berkaca. Definisi dari sebuah keikhlasan.
Wanita kuat. Wanita yang selama ini selalu setia menemani kakek. Hingga di usia 70 tahun kakek meninggal, nenek tetap setia walau hanya menemaninya minum teh di pagi hari. Atau sekedar menghabiskan bubur sumsum di sore hari.
“De,” ucap Nenek pada Monde.
“Tolong ambil!” lanjutnya seraya tersenyum.
Monde beranjak, kemudian tak lama kembali dengan sebuah amplop coklat di tangannya.
“Kakek memberikan sebidang tanah untuk Ara. Tidak luas,” ujar nenek mengambil amplop dari Monde lalu menyerahkan pada Ara.
“Suratnya sudah atas nama Ara.”
Jadi beberapa bulan lalu saat kakek meminta Ara mengiriminya foto KTP tujuannya untuk ini?
“Awalnya ini milik ayah Ara. Tapi, sekarang jadi punya Ara.” Nenek meyakinkan Ara.
Ara menggeleng, tak sedikit pun berniat membuka isi surat itu. Merasa tak pantas.
“Ara nggak pantes dapet ini,” tolak Ara kemudian menyerahkan amplop itu pada Aro.
“Baca saja dulu, Mas!” titah Nenek memandang ke arah Aro yang sudah lama tahu tentang hal ini.
“Nek, aku nggak berhak atas warisan ayah. Aku ... aku ... nenek pasti tahu maksudku.” Lirih suara Ara menahan tangis.
“Kakek menghibahkannya untuk Ara ... Nilainya tak akan sebanding dengan waktu yang kita lewatkan tanpa kebersamaan.” Nenek mengusap pipi Ara.
“Kamu kehilangan kasih sayang kami terlalu lama, maafkan kami, Nak. Ambil ini agar kakek dan Nenek tak lagi merasa berhutang.” Nenek merentangkan tangan meminta Ara memeluknya.
“Ini bukan salah Nenek ... aku nggak bisa nerima ini, Nek,” geleng Ara.
Aro mencoba menenangkan istrinya itu, ia usap punggung Ara hingga membuat Ara menoleh. Aro menatapnya seolah menyuruhnya jangan berkata apa-apa dulu.
“Kalian istirahat saja, Nenek juga mau ke kamar.” Nenek seolah tahu cucunya hendak berbicara empat mata.
__ADS_1
“Saya juga pamit, belum ngunci pintu rumah,” ujar Monde kemudian beranjak.
“Apa?” Belum Aro bicara, Ara sudah lebih dulu bertanya.
Dia tahu suaminya itu akan merayunya. Oh, simpan saja bujuk rayumu, Mas.
“Gimana sih rasanya saat kita mau kasih sesuatu tapi ditolak?” Aro merangkul bahu Ara.
“Ini bukan kek kita ngasih permen ke anak tetangga, Mas,” sanggah Ara membela diri.
“Bukan perkara misalkan kamu ngasih aku cendol. Bukan kek gitu."
"Aku ngerasa nggak pantes. Apa nanti yang orang omongin?” keluh Ara.
Bodo amat aja, sih Ra!
“Kamu kebiasaan. Suka ngeribetin hal yang belum jelas. Seenggaknya jangan langsung nolak,” cecar Aro.
“Kamu kalo ada di posisi aku gimana?” tanya Ara.
“Ya ambil aja, rezeki nggak boleh ditolak.” Seringai Aro membuat Ara mendengus.
Dasar otak bisnis.
“Serius, iih!” sentak Ara.
“Yang jelas nenek pasti kecewa kalo kamu nolak.”
Pembicaraan itu berakhir tanpa Ara menegaskan akan menerima hadiah dari kakeknya itu atau tidak?
“Kakek mau kasih ini saat kamu ke sini bulan lalu,” begitu ucap nenek saat pagi hari Ara pamit pulang.
"Tapi malah bilangnya ke Mas Ar," sambung nenek memandang Aro dengan senyuman.
“Simpan baik-baik. Dari pada nanti saat nenek juga pergi malah jadi rebutan sodara-sodara kakek.” Nenek mengutarakan kekhawatirannya.
Ara akhirnya membawa surat tanah yang sudah atas namanya itu pulang. Perlu berunding dengan bunda dan mami.
“Jual aja Teh, nanti Teteh bagi aku buat beli motor bakal grasstrack ama Abang Rud,” seloroh Atar yang ikut bicara saat Ara berunding tentang tanah yang dihibahkan kakek untuknya.
“Ngaco aja nih kalo ngomong!” Aro menyentak adiknya itu.
“Atau jadiin tempat usaha yang tenaganya bisa menyerap warga sekitar. Konveksi misalnya. Nanti collabs sama kak Lisa,” usul Akash.
“Ayah yakin, ibu-ibu di sana tuh pada bisa jahit,” lanjut Akash.
“Bikin cafe aja bisa juga tuh,” timpal Aro.
Dasar otak bisnis semua.
Ara berpikir sejenak, ia kemarin sempat mengobrol dengan tetangga kakek yang berkata biaya pemakaman di daerah sana sekarang sudah semakin mahal. Memang sebanding dengan perawatan. Tapi, terkadang tetap memberatkan warga.
Lain lagi dengan cerita juru kuncen makam, yang mengeluh tentang warga yang kadang tak mengerti untuk sekedar membayar uang kebersihan tiap tahunnya.
“Aku sedekahkan lagi aja buat pemakaman. Gimana, Yah, Mas?” Ara memandang Aro dan Akash bergantian.
“Bukannya itu lebih penting dari apa pun. Banyak dari kita yang hanya memikirkan punya rumah mewah tapi jarang mikirin nanti dikubur di mana?”
"Ini aku terima, tapi aku sedekahkan lagi buat dijadikan tempat pemakaman umum," usul Ara dan tak ada lagi yang bisa membantah.
Kemudian hal itu Ara utarakan pada Monde. Pria itu yang bertugas mengurusi semuanya.
Beberapa hari kemudian, Monde memberi kabar bahwa apa yang diinginkan Ara sudah terlaksana dengan baik. Saat itu, Ara sedang santai bersama suami dan adik-adiknya.
"Nggak jadi dong aku dapet motor buat grasstrack sama Bang Rud," keluh Atar.
"Apaan sih? grasstrack grasstrack segala. Kerja aja belum," sindir Aro.
"Lagian Teteh kenapa dijadiin makam coba tanahnya? nggak menghasilkan tahu," cibir Atar.
Anak ini turunan siapa sih?
"Elo kalo ngomong malu-maluin jidda sumpah." Aro menjitak kepala Atar itu hingga pemuda itu mengaduh minta ampun.
"Otaknya dunia mulu," lanjut Aro berdecak kesal.
Ara hanya tertawa, sambil mengelus perut ia bicara, "Ada tiga amalan yang tetap mengalir ketika kita sudah meninggal." Ara menatap suaminya, Fadan dan Atar bergantian.
"Ilmu yang bermanfaat," tutur Ara.
"Anak soleh yang tak putus mendo'akan," sambungnya dengan intens menatap Fadan. Berharap Fadan menjadi anak soleh.
"Dan, sedekah jariyah," lanjut Ara membuat suaminya mengangguk setuju.
"Grasstrack nggak termasuk ya, Teh?" seloroh Fadan membuat Atar melemparnya dengan bantal kursi.
"Mas Ar nih, ayolah ikut sekali-sekali main motoran," ujar Atar menoleh pada Aro.
"Enggak boleh!" sanggah Ara cepat.
"Tuh denger sendiri," tukas Aro. "Mending grasstrack yang lain," sambung Aro tertawa sendiri.
"Kacau eh!" umpat Atar seraya berdiri kemudian mengajak Fadan pergi.
***
Dengan kehamilan yang makin besar, Ara sedikit kesulitan mendapatkan posisi nyaman saat tidur.
"Kamu tidur aja, Mas. Nggak usah ikutan aku," ujar Ara malam itu sekitar pukul 23.00 saat terbangun dan memilih duduk di sofa ruang tamu.
"Mana enak tidur nggak sama kamu," sela Aro seraya duduk di samping Ara.
Pada USG beberapa waktu lalu, menurut dokter, calon bayi perempuan mereka memiliki bobot 1,3 kilogram dengan panjang 40 sentimer. Angka ini akan terus bertambah dari waktu ke waktu. Janin dalam keadaan baik dan sehat.
"Lucu ya, kata dokter dede udah mulai ada alis sama bulu matanya." Aro mengusap perut istrinya. Hangat menjalari tubuh Ara tiap kali sentuhan telapak tangan Aro mengelus perutnya.
Nyaman, sangat nyaman.
“Udah bisa ngemut jari,” lanjut Aro tanpa melepaskan elusannya.
“Mau makan nggak?” tawarnya pada Ara.
__ADS_1
“Ehm, makan puding coklat yang dingin enak kali, Mas?” Ara masih ingat, kemarin dia membuat puding coklat dan masih ada sisa dalam lemari pendingin.
“Roti keju mau juga, enggak?” tanya Aro sebelum pergi ke dapur untuk mengambil puding.
"Mau keripik jagung sama genjie pie deh, hehe ....”
“Ada lagi?” Aro tak ingin bolak-balik ke dapur bila masih ada yang istrinya inginkan.
“Mau kamu jangan lama-lama ke dapurnya,” canda Ara seraya mengedipkan sebelah matanya.
Bukannya pergi, Aro malah mendekatinya. Menenggelamkan wajahnya sebentar pada wajah Ara yang semakin pintar membalas buaiannya.
“Anak pintar,” puji Ario seraya mengacak rambut dan beranjak ke dapur.
Tak lama ia kembali dengan sepiring puding coklat yang sudah disiram vla. Sebungkus genjie pie yang masih utuh dan keripik jagung berukuran besar.
“Aku ambil air putih dulu,” pamit Aro setelah meletakan makanan di meja.
Tak lama ia kembali dengan segelas besar air putih dan minuman kaleng untuknya.
“Waduh, pelan-pelan!” tegur Aro saat Ara menjatuhkan vla ke bajunya sendiri.
“Dianya nggak mau diajak pelan-pelan,” seloroh Ara. Kemudian mencolek tetesan vla dan menjilatnya.
Jorok, Ra!
Hingga makanan habis dan sudah satu jam berlalu, Ara masih kesulitan untuk tidur. Kini ia duduk selonjor dengan kaki bertumpu oada pangkuan suaminya.
"Kaki sekecil ini sih pasti cepet kekejar sama dedek nantinya," ledek Aro seraya memijat pelan telapak kaki Ara yang mungil.
Ukuran sepatunya 36. 37 kadang longgar.
"Mentang-mentang kakinya besar," komentar Ara seraya memutar bola mata, kesal.
Hingga beberapa menit kemudian, pria itu tertidur dengan posisi meletakan kepala dan punggung pada sandaran kursi. Kedua tangannya masih memegangi kaki Ara. Lengan putih nan kokoh dengan garis urat menyembul kebiruan sungguh terlihat menawan di pandangan Ara. Lengan tempatnya bermanja, lengan yang selalu semangat bekerja.
Ara menatap wajah yang tengah lelap itu penuh haru. Pria yang dulunya sungguh menyebalkan dengan segala kejahilannya justru menjadi ayah dari anaknya saat ini.
Ara akui, suaminya itu adalah pekerja keras. Terbukti dari tiga usaha yang awalnya ia rintis kecil-kecilan hingga jadi berkembang seperti saat ini.
"Maaf ya, buat sikapku yang kayak petasan cabe," gumam Ara seraya menyandarkan bahu pada kursi.
Akhirnya keduanya malam itu tidur di sofa. Sangat nyenyak meski paginya, Aro merasakan badannya pegal-pegal.
"Mas, aku hari ini mau ikut ke toko. Terus nanti ke babby house sama aku pengen beli cendol elizabeth ya," papar Ara mengabsen kegiatannya hari itu.
"Cendol tanpa cendol, apa masih bisa disebut cendol?" sindir Aro seraya sekilas mengecup bibir istrinya yang baru saja disapu liptin
"Manis, rasa permen karet ya, Ra?" goda Aro membuat Ara memberengut sebal, ia enggan menanggapi perkataan Aro.
Setelah persiapan selesai, Ara dan Aro segera berangkat menuju toko.
"Nanti di sana bosen, nggak?" selidik Aro saat berada dalam perjalanan.
Ara menggeleng seraya menggumamkan sebuah lagu soundtrack serial anak Nusa dan Rara yang ia putar lewat ponselnya.
Makan jangan asal makan
Perut buncit langsung kenyang
Makan pakai aturan
Yang Nabi ajarkan
"Diih, ngapain nyanyi kek gituan, Ra?" ledek Aro.
"Simulasi buat dede nantinya," sahut Ara
"Ini anak dua lucu banget. Adeknya bikin keki kakaknya terus," seloroh Ara sambil terus menonton video dalam ponselnya.
"Jadi inget kita waktu kecil," lanjut Ara. Mematikan video dan menatap lurus ke depan.
Pandangan Ara tertuju pada padatnya kendaraan pagi itu. Bunyi klakson bersahutan. Seluruh kendaraan berebut ingin melaju jadi yang pertama.
"Mas, aku kangen bunda deh," aku Ara seraya memegangi perutnya.
"Anugerah banget jadi anak bunda ... aku dikasih limpahan cinta yang nggak pernah habis."
"Bunda sama ayah itu adalah malaikat berwujud manusia," ujar Ara.
"Heh, jangan terlalu memuji seseorang secara berlebihan. Yang dipuji nanti besar kepala, dan yang memuji bisa saja diam-diam sedang memupuk iri," tegur Aro membuat Ara menutup mulutnya.
"Enggak gitu maksudnya, aku cuma salut ke bunda. Saat itu Mas sama abang masih tujuh bulan tapi mereka mau ambil aku sebagai anak," kenang Ara. Ia banyak tahu masa lalunya dari cerita Teh Lina.
"Dan aku paling sakit hati mengenang masa-masa itu," sesal Aro.
"Kenapa?" selidik Ara.
"Karena aku selalu jahat ke kamu," ungkap Aro membuat Ara tertawa.
"Jahat tapi bikin sayang." Ara mengulurkan tangan mengelus lengan suaminya.
"Pokoknya, bunda adalah sosok panutan banget. Makanya nanti aku mau kasih nama dedek, Mahika,"
"Mahika Putri Aro," usul Aro membuat Ara menggeleng.
"Apa dong? Arora Mahika?" tebak Aro.
"Bukan!" sanggah Ara.
Hingga mereka tiba di toko, Aro masih belum diberi tahu kepanjangan nama putrinya oleh Ara.
.
.
.
Assallamu'alaikum Kakak, Mama, dan dedek tersayang. Hilal anggota baru makin kelihatan aja, ya ... Makasih buat yang masih setia nemenin Ara. Buat semua dukungannya.
Maafkeun bila dalam penulisan masih banyak kekurangannya. Masib banyak typo bahkan mungkin iih apaan sih ini? garing banget! eh nggak apa garing, biar kriuk-kriuk kek keripik 🤗🤗
__ADS_1
Sehat-sehat semuanya ya. Semoga selalu dalam lindungan Allah, Sang Pemilik Kehidupan. Salam manis dari author yang masih harus banyak belajar ini.