Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Gelisah


__ADS_3

"Lo beneran mau gue cium?"


"Maaaas ...!" pekik Ara seraya memukul lengan Aro.


"Tuh 'kan megang-megang," ujar Aro seraya melirik lengannya yang baru saja dipukul Ara.


"Itu mukul bukan megang!" sentak Ara.


"Tapi kok rasanya kayak dipegang, geli," goda Aro padahal jelas sakit. Ia hanya sedang mengerjai Ara.


"Mas, kamu bener-bener ...."


Belum sempat Ara meneruskan kalimatnya, Aro memangkasnya, "Bener-bener ganteng."


"Iih dasar kepedean!" umpat Ara.


"Ya emang ganteng, dong. Kalau nggak ngapain tadi segitu banyaknya orang pengen foto sama gue," ujar Aro memiringkan kepalanya.


Baru Ara akan menyahutinya, ponsel dalam tasnya berdering nyaring membuatnya lebih memilih mengambil benda pipih itu daripada meladeni Aro. Matanya membulat saat mendapati Sakaf yang melakukan panggilan terhadapnya.


Terdengar ucapan salam begitu Ara menerima panggilan itu, Ara tentu menjawabnya seraya tersenyum.


"Kenapa belum tidur?" suara Sakaf terdengar mengintimidasi.


"Ini lagi di jalan, Kak. Mau ke rumah jidda, nengok abang yang sakit."


"Sama siapa?"


"Sama Mas Ar, Kakak kenapa telepon malam-malam gini?"


"Saya disuruh bunda buat sering hubungin kamu, dan sempetnya baru sekarang."


"Ya udah, salam buat bunda."


"Ya udah, saya tutup."


Setelah mengucap salam, Sakaf benar-benar menutup teleponnya membuat Ara mendengus kesal.


"Nggak ada manis-manisnya banget," gumam Ara seraya kembali memasukan ponsel ke dalam tas.


Ara kembali menyandarkan kepalanya ke pintu mobil, ia menggigiti kuku tangannya yang sebelah kanan. Tangan kiri Ara memegang kuat pada tali tas yang ia sampirkan di bahu. Pandangannya menerawang jauh ke depan, rasa rindu pada sang mami kembali menggebu.

__ADS_1


Aro meliriknya dengan tatapan curiga, ingin bertanya ada apa, namun ia gengsi. Sambil fokus menyetir, sesekali Aro melirik pada Ara yang terus terlihat sendu. Ujung mata Aro menangkap adiknya itu menangis tanpa suara, tanpa ekspresi. Dia hanya melihat air mata mengalir begitu saja di pipi Ara.


"Pil, lo kenapa?" tanya Aro pada akhirnya karena tak tega melihat Ara seperti itu.


"Aku lagi inget mami, Mas," ungkap Ara dengan suara lirih.


"Mami lo sakit?" tebak Aro.


"Mami sehat, aku cuma lagi mikir ... apa mami bisa masuk surga, Mas? apa aku bisa memanggil mami untuk masuk surga, Mas?" tanya Ara dengan suara bergetar membuat Aro tak dapat menjawab pertanyaannya.


Ara terus menangis tanpa suara, bibirnya ia lipat ke dalam. Kedua tangan Ara kini ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Bahu Ara bergetar hebat, dengan air mata terus berderai. Ingatan akan maminya yang non muslim terus menghantui Ara akhir-akhir ini.


Aro iba melihatnya, ia menepikan mobil untuk bisa menenangkan Ara. Jalanan sudah sangat sepi, Aro tak tahu kini mereka sudah sampai mana. Ia hanya peduli pada kondisi Ara.


"Pil, lo mau gue peluk?" tanya Aro, namun kemudian dirinya memukul bibirnya sendiri atas pertanyaan bodohnya.


Ara tentu saja menggeleng dengan kedua tangan masih menutupi wajahnya. Bahunya masih bergetar pertanda tangisnya sulit dihentikan.


"Atau butuh bahu buat bersandar?" tawar Aro yang kembali mendapat gelengan dari Ara.


"Ya udah, lo nangis aja gue tunggu sampe air mata lo kering," ucap Aro berharap Ara segera menuntaskan tangisannya.


Untuk mengusir rasa bosan menunggui Ara yang menangis, Aro memutar musik dari ponselnya. Lagu Talking to the moon milik Bruno Mars menjadi pilihannya. Aro sesekali ikut bersenandung seraya memukul pelan pahanya mengikuti irama.


Sadar Ara sudah menghentikan tangisannya, Aro segera mengambil tisu yang masih berada di jok belakang. Ia lempar tisu itu ke atas pangkuan ara tanpa berani menatap gadis itu. Ara segera mengusap air matanya. Pipinya terasa lembab dengan mata yang perih.


"Makasih, Mas udah dengerin aku nangis," ucap Ara.


"Gue dengerin lagu, bukan dengerin lo nangis. Pede banget," sahut Aro kemudian kembali melajukan mobilnya tanpa peduli lagi pada Ara. Ia merutuki dirinya yang sempat khawatir dengan kondisi Ara.


"Tapi tadi nawarin peluk, nawarin bahu, apa maksudnya?" selidik Ara.


"Itu cara gue kalau nenangin temen cewek nangis, tapi gue lupa lo 'kan bukan kayak cewek kebanyakan. Lo aneh, dasar upil," sahut Aro tertawa meledek membuat Ara memberengut kesal dan tak selera menjawab lagi.


***


Tepat pukul 01.00 Aro dan Ara sampai di kediaman jidda mereka. Bumi, Akash dan Atar sudah sampai dari 30 menit sebelumnya. Aro dan Ara langsung berlarian ke dalam rumah begitu mendapati pintu utama masih terbuka. Keduanya langsung menuju lantai atas ke kamar Akhza berada.


Di kamar Akhza sudah ada Kedua orang tua serta jidda mereka. Akhza nampak duduk bersandar pada kepala tempat tidur dengan wajah pucat pasi. Bumi duduk di samping kiri Akhza dan jidda di samping kirinya.


Ara dan Aro bergantian menyalami jidda mereka, kemudian berganti melirik pada Akhza.

__ADS_1


"Abang kenapa, Bang?" tanya Ara dengan mata berkaca-kaca.


"Sini, Sayang duduk deket Bunda!" ajak Bumi seraya menepuk tempat kosong di sampingnya.


Ara menurut, ia duduk di samping bundanya dengan tatapan masih tertuju pada Akhza.


"Jangan sedih, dong, Dek. Abang cuma kecapean dan dehidrasi," ucap Akhza.


"Dan asam lambungnya naik," tambah jidda.


"Abaaang, 'kan suka telat makan sih," rengek Ara yang kembali menangis.


Entah apa yang terjadi dengan hati gadis itu, sepanjang hari ini terus saja diliputi duka lara yang membuatnya dengan mudah meluruhkan air mata.


"Hey, kok nangis sih?" tanya Akhza seraya beringsut mendekati Ara. "Jangan nangis, apalagi cuma gara-gara aku."


"Abang bikin aku khawatir," ucap Ara seraya mengusap air matanya. Aro memutar bola mata, jengah melihat sikap Ara. Ia memilih pamit keluar kamar padahal belum bertanya kondisi saudara kembarnya.


"Aku udah nggak apa-apa, tadi jidda cuma panik. Aku baik-baik aja," jelas Akhza, padahal perutnya masih sangat sakit dan perih.


"Udah, abang kamu nggak apa-apa," ucap Bumi ikut meyakinkan.


"Iya, Ra. Tadi Jidda panik aja, jadi langsung telepon ke sana," ucap wanita yang sekarang semakin tua itu.


"Makasih ya, Ummi udah langsung ngabarin," ucap Bumi seraya melirik pada mertuanya itu.


"Iya, udah ah, Jidda mau istirahat, ya," ummi segera turun dari tempat tidur dibantu Akash. Terlihat sekali tubuh tua itu kini sudah ringkih. Akash menggandeng tangan ummi, membantunya melangkah pelan. Tubuh yang dulunya tinggi besar itu kini menyusut seiring berjalannya waktu.


"Bunda ke bawah juga, ya," pamit Bumi pada Ara dan Akhza.


"Abang udah minum obat?" tanya Ara saat Bumi sudah benar-benar keluar dari kamar Akhza.


"Udah, tadi begitu siuman langsung makan terus minum obat," jawab Akhza membuat Ara mengangguk lega.


"Abang harus bisa jaga kesehatan, dong," pesan Ara dan diangguki Akhza.


"Jangan ngangguk doang, tapi harus bener-bener dilakuin," ucap Ara membuat Akhza tertawa.


"Iih jangan ketawa, tapi ...," kalimat Ara terhenti sebab Akhza tiba-tiba meletakan telunjuknya di bibir Ara.


"Cerewet, jangan ngomong aja! Tungguin aku sampe tidur ya, aku pengen tidur nyenyak setelah beberapa waktu ini terus gelisah mikirin kamu."

__ADS_1


eits, komen sama like dulu.



__ADS_2