
"Ibu cara bikin bumbunya gimana?" tanya Ara setelah mengangkat kacang tanah dari dalam wajan berisi minyak panas, sudah selesai digoreng dan matang.
Sedikitpun Ara tak risih dengan keadaan dapur yang berbeda jauh dengan dapur di rumahnya, apalagi di rumah Bumi. Dapur itu masih berlantaikan tanah dengan bilik bambu sebagai dinding, dan sudah banyak bolong di mana-mana.
"Ya saya tumbuk, Mbak," sahut ibu Fadan yang ternyata bernama Yati itu.
Ibu Fadan sedang membuka kulit kentang yang telah matang dikukus. Gerakan tangannya begitu lincah memisahkan salah satu sumber makanan yang memiliki zat karbohidrat itu dari kulitnya.
Sementara itu, Aro dan Fadan sedang asyik melihat video dalam layar ponsel Aro. Entah video apa, yang pasti Fadan sesekali tertawa, dan Aro akan mengusap lembut kepalanya.
"Aku rebus air buat adonan ya, Bu?" izin Ara walau masih bingung di mana panci untuk merebus air.
"Saya aja, Mbak. Pancinya sudah jelek dan hitam. Nanti tangan Mbaknya ikut hitam," jelas Yati seraya beranjak dari duduk dan mulai melangkah menuju sudut dapur.
Terdapat rak reyot di sudut sana, entah mengapa hati Ara berdenyut nyeri melihatnya. Dalam benak banyak tanya. Salah satunya, ke mana perginya ayah Fadan?
Ara memilih kembali membuka kulit kentang, sementara Yati sendiri berinisiatif menumbuk kacang tanah yang sudah digoreng.
Tepat setelah Yati selesai menumbuk kacang dan Ara juga selesai melumatkan kentang kukus, air itu mendidih. Ara langsung meminta yati mengangkat air itu dan mulai mengadoni bahan ciloknya.
Ara campurkan kentang pada tepung yang telah diberi garam dan lada bubuk itu. Kemudian sedikit demi sedikit Ara mulai menuang air mendidih yang baru disodorkan oleh Yati.
Ara kembali meminta tolong Yati untuk memasak air lagi untuk nanti merebus ciloknya. Yati menurut, ia kembali beranajak dan mengisi kembali panci itu dengan air.
Ara masih menguleni adonan cilok itu hingga kalis dan benar-benar tercampur rata antara kentang dan tepungnya. Hingga dirasa sudah kalis dan bisa dibentuk, Ara baru menghentikan gerakan menguleni dan beralih menjadi gerakan membuat bulatan kecil dari adonan tersebut.
Yati ikut membantu membuat bulatan, "Jadi ini resepnya biar nggak cepat keras, Mbak?" tanyanya dan diangguki oleh Ara.
Setelah adonan selesai dibentuk dan air juga sudah mendidih, Ara mulai memasukan adonan cilok ke dalamnya. Namun, karena tidak hati-hati, tangan Ara tekena cipratan air mendidih itu dan membuatnya mengaduh.
"Aduuuh!"
Teriakan Ara didengar Aro, pria itu segera saja menyerahkan ponsel pada Fadan dan berlari mendekati Ara. Ara sedang meniupi telapak tangannya yang merah saat Aro sudah di dekatnya.
"Kenapa, Ra?" panik Aro seraya menarik tangan Ara. Ia tiupi telapak tangan Ara dan mengusapnya perlahan.
"Ceroboh banget, sih!" sentaknya, namun membuat hati Ara jelas mencelos.
"Harusnya pakai centong, Mbak masukin adonannya," beritahu Yati. Wanita jtu kemudian mengambil alih tugas Ara.
"Ayo, bangun dulu! Basuh pakai air yang banyak!" titah Aro menarik pergelangan tangan Ara untuk berdiri.
__ADS_1
"Di belakang ada air pancuran, Mas. Bisa basuh di situ," jelas Yati.
Ara menurut saja mengikuti langkah Aro keluar, ia tak ingin debat di hadapan Yati dan dilihat oleh Fadan.
Di halaman belakang rumah itulah air pancuran yang dimaksud oleh Yati. Airnya sangat jernih, menggunakan bambu sebagai pengganti paralon.
Aro masih memegangi tangan Ara, susah untuk dilepas jika sudah seperti itu.
"Buka sepatu kamu!" titah Aro seraya melepas tangan Ara dan berjongkok di hadapan kaki Ara.
Aro lepaskan tali sneaker putih Ara, "Nanti basah sepatunya kalau nggak dilepas."
"Mas, masa aku telanjang kaki. Lagian nanti kaus kakiku basah juga kalau sepatunya dilepas," ungkap Ara sedikit membungkukan badan.
Aro tak menjawab, perlahan ia lepaskan sneaker itu dari kaki mungil Ara yang terbungkus kaus kaki berwarna hitam. Aro meletakkan sneaker Ara di bibir pintu kemudian ia berdiri dan melepaskan sendalnya.
"Pakai sendalku!" suruhnya, memaksa.
Ara awalnya ragu, tapi ia berusaha menghargai usaha Aro yang sedang berupaya melindunginya.
"Mas, sebenarnya ini berlebihan," ujar Ara seraya mulai memakai sandal Aro yang kebesaran di kakinya. "Ini tanganku juga nggak kenapa-kenapa," tambahnga kemudian berjalan ke arah pancuran.
Ara mulai mengucurkan tangannya yang masih terasa panas. Rasanya langsung dingin dan nyaman. Membuatnya tertarik untuk mengucukan kedua tangannya dan malah bermain-main dengan air. Ia tertawa sendiri memercikan air ke wajahnya.
"Airnya beda loh, Mas sama yang di rumah kita," papar Ara memberitahukan apa yang dirasakannya.
Aro memicingkan mata seraya lebih mendekat pada Ara, ia ikut mengulurkan tangannya dan membiarkannya di bawah kucuran air yang jernih itu.
"Segar, kan?" tanya Ara membuat Aro mengangguk.
"Seru ya, Mas kalau punya rumah di sini ... semuanya masih terasa asri," tutur Ara kembalu memainkan air, ia jahil menciprati wajah Aro dan membuat Aro melakukan hal yang sama.
Jadilah keduanya saling menghujani wajah dengan cipratan hingga tak mereka sadari, baju mereka ikut basah.
"Kamu sih yang duluan," keluh Aro seraya mengusap wajahnya yang basah.
"Mas juga ikut balas, coba kalau enggak?" kelit Ara mengelap wajahnya dengan ujung hijab. Tangannya kini sudah tak panas.
"Udah ah, ke dalam yuk?" ajak Ara seraya mengibaskan tangannya agar cepat kering, ia enggan mengelapkan pada roknya.
"Tunggu, Ra!" cegah Aro menarik hijab Ara bagian belakang.
__ADS_1
"Ada apa, Mas?"
"Kasih aku kepastian, Ra. Aku minggu depan udah mulai syuting film baru. Bulan depannya lagi mulai sibuk promo ke luar kota," beritahu Aro, "setidaknya kasih aku kejelasan, apa aku boleh mengharapkanmu?" tambahnya membuat Ara gelagapan.
"Mas, aku ... aku takut, Mas ... jidda, umma Zha, keluarga besar ayah, mereka pasti menentang," papar Ara.
"Aku nggak peduli sama mereka, aku cuma peduli sama jawaban kamu. Adakah aku menempati hatimu walau sedikit, Ra?" desak Aro, membuat Ara memegangi dadanya. Terasa sesak, terasa tiada harapan.
"Mas, aku hanya Salasika Arabella. Bukan wanita spesial yang pantas Mas puja seperti itu. Aku sudah lancang memendam rasa begitu lama, tapi aku takut mengakuinya," papar Ara menerbitkan harapan di hati Aro.
Pria itu tersenyum dan mendekati Ara, "Kamu mau nerima aku, Ra?"
Ara menggeleng, "Aku takut, Mas. Aku nggak mau ambil resiko. Biarlah semuanya tetap seperti ini. Aku adik dan kamu kakakku!" tegas Ara.
Aro sama menggeleng, "Tunggu aku, Ra. Kamu mau kita nikah? aku akan nikahi kamu. Tunggu sebentar aja!" pinta Aro membuat mata Ara berkaca-kaca.
"Apa Mas bisa melepaskan profesi Mas sebagai artis kalau nikah sama aku?"
"Ini duniaku, Ra. Tempat aku mencari rezeki. Gimana jadinya kalau aku tinggalin?"
"Mas, aku ingin saat kamu jadi suamiku, hanya aku yang bisa memandang dan menyentuhmu. Aku nggak rela kamu menjadi dambaan banyak wanita lain, meski itu hanya dalam khayal mereka!" tegas Ara seraya berlalu. Ia tak ingin lebih jauh lagi membahas hal ini.
Lagi-lagi langkahnya dicegah oleh Aro, lengan Ara dicekal pria bermata indah itu. "Aku bisa, tapi, kasih aku waktu. Setahun?" tawar Aro.
Ara bergeming. Setahun itu akan terasa lama. Tapi, tidak seberapa bila dibandingkan dirinya yang sejak SMP memendam rasa itu pada Aro.
"Gimana? aku harus selesaikan filmku dulu. Gimana, Ra?" desak Aro mencengkram lengan Ara.
"Iya, Mas. Aku mau menunggu," balas Ara seraya menarik lengannya dari genggaman Aro. "Tapi, ada syaratnya. Pulanglah ke jalan yang Allah ridai, Mas. Salatlah dengan sebaik-baiknya salat," tambah Ara membuat Aro tertegun dan menyadari kesalahannya.
Selanjutnya, Ara melepas sendal Aro dan kembali memakai sneakernya dengan berkali-kali keliru mengikat simpul talinya. Membuat Aro yang memperhatikannya merasa geram sekaligus gemas.
Aro berjongkok, ia menepis tangan Ara dan mengambil alih menalikan sneakar Ara.
"Kita memang harus bersama, Ra. Aku butuh kamu untuk menemaniku pulang. Kamu juga membutuhkanku untuk menalikan simpul sepatumu," celetuk Aro dihadiahi pukulan di bahu oleh Ara.
Aro tertawa seraya menangkap tangan Ara yang masih memukulinya, "Izinkan aku melengkapimu. Aku nggak bisa janjikan kesempurnaan. Tapi, izinkan aku menjadi langitmu, langit untuk Ara."
Jangan lupa
Like dan komennya kak
__ADS_1