
Di ruang sempit yang langsung terhubung ke dapur -hanya terhalang rak buku- Alka duduk di atas tikar lusuh yang pinggirannya sudah robek. Pria itu mengetuk-ngetukan ujung ponsel ke atas lantai yang terbuat dari keramik berwarna krem.
“Kalau elo berhasil, bayarannya lebih gedhe.” Kalimat Apeng, teman lamanya kembali menari-nari di kepalanya.
“Abaaaang!” teriak seorang gadis dari dalam kamar.
Otak Alka langsung teringat ibunya. Jika Azla, gadis yang barusan berteriak itu memanggil namanya dengan nada tinggi, besar kemungkinan terjadi lagi hal buruk pada ibu mereka. Ibu yang seorang pesakitan.
Alka bergegas memasuki kamar yang hanya ditutup gorden merah bergambar angsa yang sudah tak layak pakai. Bolong di mana-mana.
“Kenapa, dek?” Alka langsung duduk di tepi tempat tidur yang kasurnya sudah lepek itu.
Azla sedang memeluk ibunya yang menangis meraung-raung seraya menjambaki rambutnya.
“Obatnya habis, Bang,” beri tahu Azla dengan wajah putus asa.
“Emang Abang belum punya duit?” lanjut Azla frustasi dengan keadaan ibunya yang masih histeris.
“Abang pergi dulu!” Alka memutuskan untuk kembali menemui Apeng.
Keluar dari kontrakan petak yang berada di kawasan Depok itu Alka menelepon seseorang. Memintanya datang menemui Alka di gang kontrakannya.
Tak butuh waktu lama, pria bernama Apeng itu datang. Membawa bungkusan hitam yang berisi dua kotak tempat makan.
“Alamatnya gue kirim ke elo, jangan sampe gagal.” Apeng kembali pergi dengan motor gedenya.
“Gue janji ini yang terakhir,” gumam Alka seraya memutar rekaman wajah cantik Ayuni dalam otaknya.
***
“Dibuat salad aja, Ra ....” Aro mengekori langkah Ara yang sedang memetik strawberry yang ia tanam dalam pot kecil di halaman rumah yang dia buat menjadi taman.
“Dikit, Mas. Buat dimakan aja,” sanggah Ara seraya menunjukan keranjang kecil berisi buah strawberry. Hanya sekitar 10 biji.
“Buat jus aja,” usul Aro dan diangguki oleh Ara kemudian keduanya masuk ke dalam rumah.
Selesai membuat jus, mereka kembali ke teras rumah. Menikmati segarnya strawberry berpadu dengan gula batu dan susu kental manis.
“Nyadar nggak sih Mas, Allah itu baik banget ke kita.” Ara mengaduk minumannya dengan sedotan.
Pria itu menjawab dengan anggukan dan dengan jahilnya menusuk hidung Ara menggunakan sedotan.
“Aku kadang malu sebab masih sering ketiduran kalau abis salat,” sesal Ara. Kebiasaannya tidur menggunakan mukena.
“Dan sering ngelawan kamu,” sambung Ara menatap intens bola mata bulat suaminya.
Aro masih setia mendengarkan istrinya, ia hanya tersenyum simpul.
“Kamu pernah nggak sih ngerasa kesel ke aku. Atau bosen?” Kali ini tatapan Ara penuh keingin tahuan.
Aro berdehem sebelum menjawab pertanyaan istrinya itu. Dengan melulum senyum, pria itu balas menatap Ara.
“Kamu kenapa nanya kayak gitu?”
“Lagi ada yang dipikirin?”
__ADS_1
“Jangan suka mikirin yang aneh-aneh!”
Cecar Aro membuat Ara menunduk malu.
“Pikirin yang bikin kamu bahagia aja, Ara. Kandungan kamu sekarang udah 6 bulan. Jangan mikirin sesuatu yang sebenarnya udah kamu tahu jawabannya.”
Aro meraih tangan istrinya yang sedang saling bertautan. “Aku nggak pernah merasa kesal ke kamu. Kalau pengen iya,” bisiknya seraya tertawa membuat Ara ikut tersenyum.
Benar-benar mood Ara naik turun. Dirinya berpikir seperti itu sebab sudah beberapa hari Aro selalu sibuk. Mereka hanya melewatkan malam dengan tidur. Benar-benar hanya tidur.
Aro mengaku terlalu banyak urusan. Kualitas kausnya makin banyak diminati. Begitu pun dengan car washnya yang semakin ramai. Harga terjangkau, namun pelayanan memuaskan. Itulah sebabnya ia lebih sering menghabiskan waktu untuk bekerja dari pada bersama Ara akhir-akhir ini.
Pandangan Ara tertuju pada seseorang yang sedari tadi mondar-mondar memakai pakaian hitam melintas di depan rumah mereka. Pagar sengaja tidak ditutup. Kebiasaan Aro bila di rumah membuka lebar-lebar gerbang rumahnya .
“Lihat nggak Mas?” tanya Ara.
“Apa?” Aro memang tak melihatnya.
“Ada orang lewat pake baju item-item,” beri tahu Ara. “Itu, Mas. Barusan balik lagi ke arah luar komplek.” Ara mengacungkan telunjuknya membuat Aro segera berdiri mengejar orang berbaju hitam itu.
Orang itu berjalan dengan langkah lebar-lebar menuju ke luar perumahan. Sekali kejar, Aro langsung menarik lengan orang itu.
“Alka ....” pekik Aro seraya membuka topi yang dikenakan pria yang ternyata Alka itu.
“Ar, elo ... gue ....”
“Istri gue lihat elo lewat depan rumah. Dia sempat disekap jadi selalu parno kalo liat orang nggak dikenal lewat depan rumah.” Aro kembali memakaikan topi pada kepala Alka.
“Bang sat!” gumam Alka.
“Elo tahu Apeng?” tanya Alka membuat Aro menggeleng.
“Sofian, Raka, Bakri, Junus, Dayat?” Alka mengabsen nama-nama preman yang pernah jadi temannya.
“Julus temennya Oji kenal?” Alka berharap Ari mengenalinya.
“Pengedar?” tebak Aro, familiar dengan nama itu.
“Iya, berarti elo tahu jajaran di bawah Julus sejenis apa?” Alka kemudian membuka resleting jaket dan mengeluarkan bungkusan hitam.
“Gue nggak tahu siapa dalangnya,” ujar Alka menyodorkan bungkusan hitam itu pada Aro.
“Ini isinya Shabu. Apeng nyuruh gue naro ini di rumah elo buat jebakan.” Alka menjelaskan masalah yang terjadi.
“Gue butuh duit, nggak punya pilihan lain. Sekali masuk ke dunia ini, susah buat keluar, Ar,” sesal Alka.
“Elo udah dibayar?” tanya Aro.
“Gue dibayar kalo misi berhasil,” sahut Alka.
“Setelah tahu gue pemilik rumah itu, elo masih mau misi ini berhasil?” Aro mengeraskan rahangnya.
“Enggak, dan gue nyesel udah ambil job ini.” Alka melempar begitu saja bungkusan hitam itu hingga menimbulkan bunyi dentuman.
“Elo bantu gue cari siapa dalang dari semua ini. Gue pasti bayar. Gimana?” tawar Aro.
__ADS_1
Alka diam sejenak, “ Nyokap gue lagi kumat. Obatnya habis dan dia terus menerus histeris.”
“Adik gue juga lagi sakit, sementara gue nggak kebagian jadwal manggung sebab Sani marah ke gue.”
Sani adalah vokalis perempuan di grup band indie Alka. Sani, menaruh hati pada Alka. Dia jelas marah saat Alka lebih banyak menghabiskan waktu dengan Ayuni.
“Gue udah bertekad nggak mau ngasih mereka uang haram. Tapi, keadaan yang memaksa.” Alka menjatuhkan diri ke atas paving block, frustasi.
Pria itu menekuk kaki panjangnya yang terbungkus celana hitam. “Dan kenapa orangnya harus elo?”
“Allah sayang ke elo, kalau orangnya bukan gue pasti elo terusin kan misi ini? Adik sama ibu Lo kembali makan duit haram.” Aro ikut berjongkok seraya merangkul bahu Alka.
“Bantu gue ungkap siapa dalangnya, gue yakin ini masih orang yang sama dengan yang nyekap Ara dan ngeroyok Abang gue.” Aro menepuk bahu Alka kemudian kembali berdiri.
“Bisa kasih tahu gue alamat elo?” pinta Aro.
“Gue nanti ke sana sama Abang dan Ara. Biar keadaan keluarga elo bisa diperiksa.”
Alka lagi-lagi berpikir sejenak. Ia tak ingin orang-orang mengetahui ibunya terkena gangguan jiwa. Selama ini ibunya dibawa berobat jalan ke rumah sakit Marzuki setelah sebelumnya sempat dirawat di sana. Namun, ibunya pernah kabur membuat Alka dan Azla memilih pengobatan rawat jalan saja.
“Ada saat di mana orang lain harus tahu keadaan terburuk elo, Ka. Bukan untuk membongkar aib, hanya saja agar elo tahu pertolongan Allah itu luas.” Aro seolah bisa membaca gurat ragu dalam wajah Alka.
“Kasih tahu alamat elo, sekarang juga gue ke sana bareng Ara. Sekalian sama Ayuni.” Aro mengulurkan tangan mengajak Alka berdiri.
Alka menerima uluran tangan Aro, pria itu memiliki tinggi yang sama dengan Aro.
“Ayuni, gue udah enggak sama dia.” Alka tertawa sumbang.
“Terlalu rumit, dan kasihan Ayuni kalau sama gue.” Tawa Alka berubah jadi senyum getir.
“Loh, kenapa?” Alka penasaran. Setahu dia, Ayuni sangat bergantung pada Alka beberapa waktu ini.
“Udahlah, gue tunggu di rumah. Gue kirim via chat alamatnya.” Alka mengambil kembali bungkusan hitam itu dan berlalu meninggalkan Aro yang mematung memandangi kepergiannya.
Setelah Alka menghilang masuk ke dalam angkot, Aro berbalik kembali pulang ke rumahnya. Ara sedang berdiri di bibir gerbang saat Aro kembali.
“Mas, siapa?” Ara sangat penasaran.
“Alka,” jawab Aro pendek.
“Alka pacar Ayuni?” tebak Ara diangguki oleh Aro.
“Kita ke rumah Alka, ya!” Aro menarik tangan istrinya agar beranjak dari tempatnya berdiri sebab dirinya hendak menutup pintu gerbang.
“Ngapain?” Ara menautkan alisnya.
“Ibu sama adiknya sakit, sekalian aku juga minta abang ke sana mumpung dia libur.” Aro merangkul istrinya dan mengajaknya ke dalam untuk bersiap-siap.
“Maaf jadi ganggu liburan kamu, kapan-kapan lagi ya kita jalan-jalannya.” Aro mengelus punggung tangan Ara saat mereka sudah berada dalam mobil dan bersiap ke rumah Alka.
Akhza sendiri sudah jalan dari rumah bundanya. Ia pergi bersama Atar dan Fadan.
"Anggap aja kita mau jalan-jalan," ucap Ara tulus.
"Baik banget sih kamu," puji Aro seraya menarik tangan Ara dan mengecup punggung jemari itu.
__ADS_1
"Ya udah jalan, yuk?" ajak Ara kemudian Aro segera melajukan mobilnya.