
Setelah mengakhiri teleponnya dengan Akhza, Bumi kembali menyerahkan ponsel pada Ara yang sedang memakan pizza. Pipinya kembang kempis mengunyah potongan pizza yang sengaja ia gigit dalam ukuran besar.
"Pizza yang dibeliin calon suami rasanya lebih enak ya, Teh," seloroh Atar yang bahkan sudah paling banyak menghabiskan potongan pizza.
"Dek, nggak suka ah Teteh dibecandain gitu," sahut Ara memutar bola mata, kesal.
"Aku becanda, Teteh, jangan marah," bujuk Atar seraya menyundul pundak Ara.
"Nggak mau, aku keburu kesel," rajuk Ara seraya menjauhkan badannya dari Atar.
Bumi dan Akash yang sedang fokus menonton sesekali melirik ke arah kedua anaknya yang sedang bertengkar.
"Siapa yang kalah?" bisik Akash Pada Bumi.
"Neng Ara," jawab Bumi.
"Bunda, aku denger loh, Bun!" seru Ara padahal dia tidak mendengar apa-apa.
Ara hanya menebak sebab kedua orang tuanya sesekali melirik ke arahnya dan Atar seraya berbisik-bisik. Sudah pasti membicarakan keduanya.
"Eeh Bunda ini bisik-bisik loh, masak kedengeran?" sahut Bumi, terkena jebakan Ara.
Ara tertawa puas, dia beranjak dari duduknya lalu mendekati Bumi. Ia kelitiki perut bundanya itu seraya berkata, " Aku asal ngomong doang dan Bunda ngaku sendiri."
Bumi meminta ampun, ia menepis tangan Ara agar berhenti menggelitiki perutnya. Ara tak menurut, ia terus saja menggelitiki perut bundanya. Bahkan, Atar ikut membantunya. Hingga akhirnya Akash turun tangan dan membalas menggelitiki perut Atar.
Atar sontak kegelian, dia minta Akash melepaskan serangannya. Akash memberi penawaran, Ara lepaskan Bumi, maka dirinya akan melepaskan Atar.
Atar tentu berterika minta tolong pada Ara untuk melepaskan bundanya agar Akash melepaskannya juga. Ara menurut, ia melepaskan bundanya yang kini hijabnya sudah acak-acakkan.
"Bunda sih, iseng," ujar Ara dengan nafas terengah-engah.
Bumi masih lemas, ia hanya memegangi perut seraya kembali tertawa merasa bodoh sendiri sebab sudah masuk ke dalam perangkap Ara.
***
Pagi selalu menjadi rutinitas yang menyibukkan. Akash sudah berangkat selepas shubuh tadi menuju Ibu Kota untuk melihat usaha restorannya. Kedua putranya ternyata tak ada yang ingin meneruskan perjuangannya. Mereka berdua memilih menapaki jalannya masing-masing.
__ADS_1
Tak banyak yang Bumi buat untuk sarapan. Hanya roti panggang dan susu coklat untuk kedua putra-putrinya. Ara dan Atar berbincang ringan sambil menghabiskan roti mereka.
"Eh iya, Dek. Kamu kenal cowok namanya Bagas nggak?" tanya Ara tiba-tiba teringat akan Rura.
"Bagas?" Atar bertanya balik seraya mulai mengingat nama Bagas. "Pacarnya namanya Rura bukan, Teh?"
"Iya, kok kamu tahu?" selidik Ara.
Atar mendekatkan kepalanya ke arah Ara. Ia sedikit membisik untuk menjawab pertangaan Ara, " Rura gebetanku, jadiannya sama Bagas."
Ara terkekeh demi mendengar jawaban Atar. Adiknya yang tampan itu ternyata dibuat patah hati oleh gebetannya sendiri.
"Jangan ngetawain, Teh!"
"Iya, enggak. Maaf ....!"
"Tapi kenapa tiba-tiba nanyain Bagas?" selidik Atar jadi penasaran.
"Kemarin Rura melahirkan di sekolah, tapi bayiknya meninggal. Terus Ruranya dibawa ke klinik tempat Teteh kerja," papar Ara membuat Atar mengerutkan kening. Wajahnya menyiratkan banyak tanya.
"Eeh yang bener, Teh? dia kan masih kelas sembilan?" Atar kaget mendengar penuturan kakaknya.
Ara menceritakan kejadian itu, membuat Atar ingin juga melihat keadaan Rura. Ara melarangnya, Atar tidak usah ikut campur urusan orang lain. Lagipula semua sudah berlalu, Rura pasti sudah pulang.
Setelah selesai dengan sarapannya, kedua kakak beradik itu pamit untuk berangkat. Baru sampai bibir pintu, Kedatangan seseorang membuat Ara dan Atar kaget serta menghentikan langkahnya.
Sakaf datang membawa wadah besar berisi makanan dari Rain untuk Bumi. Bumi tentu menyambutnya dengan baik, dan menitip pesan terima kasih untuk Rain pada Sakaf. Setelah berbincang sedikit, Sakaf segera pamit dan mengajak Ara untuk pergi bersama-sama ke klinik.
Ara tentu tak menolak, meski belum ada perasaan apa-apa, Ara tetap ingin berbuat baik pada Sakaf. Kali ini sikap Sakaf berbeda. Dia membukakan pintu mobil untuk Ara.
"Kamu pasti heran kenapa saya jadi manis?" tanya Sakaf saat keduanya sudah berada dalam mobil dan Sakaf mulai melajukan kendaraannya.
"Kenapa emangnya?" Ara balik bertanya.
"Saya disuruh Bunda untuk mengenal kamu sebelum kita menikah dua minggu lagi," ujar Sakaf membuat Ara kaget.
"Kok dua minggu? 'kan belum ada pembahasan lagi," protes Ara.
__ADS_1
"Baba sudah bicara pada ayahmu, sudah sepakat," tutur Sakaf membuat Ara semakin kaget.
"Ayah nggak bilang sama aku," sanggah Ara. "Kenapa jadi terkesan terburu-buru?" desaknya pada Sakaf.
"Cepat atau lambat kita akhirnya menikah 'kan?" tanya Sakaf dan diangguki oleh Ara.
"Niat baik harus disegerakan, kamu tenang aja. Semua sudah diurus bunda dan baba. Kita tinggal siapin mental dan tenaga," papar Sakaf.
"Hah? tenaga?"
"Berdiri nerima tamu itu berat, loh. Jadi, dari sekarang kamu makan yang banyak, biar badannya nggak kurus gitu."
Ara sudah tak menjawab apa-apa lagi. Pikirannya sudah bercabang ke mana-mana. Tiba di klinik ia langsung keluar dari mobil dan membanting pintu saat kembali menutupnya.
Hari itu pikirannya benar-benar tak konsentrasi. Ia bekerja dengan hati yang gamang. Bukan tak terima dengan semua yang terjadi, Ara hanya kaget mengapa Akash tidak memberi tahunya terlebih dahulu?
***
Setelah seharian dibuat pusing oleh kenyataan bahwa memang pernikahannya tinggal dua minggu lagi, Ara malamnya tak lekas tertidur. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00, Ara sudah salat witir dan membaca Al-qur'an, namun rasa kantuk tak kunjung menyerangnya. Ia duduk bersandar pada Headboard tempat tidur seraya memeluk kedua lututnya.
Rasanya benar-benar mendadak, sore tadi ia sudah bertanya pada Akash tentang kebenaran cerita Sakaf. Semua memang benar adanya, bahkan ternyata semua itu atas permintaan Akash. Dirinya tak ingin Ara dan Sakaf terlalu lama menjalin hubungan tak pasti. Saling mengenal bisa dilakukan setelah menikah.
Ara merebahkan tubuhnya, berharap dengan berbaring dapat segera membuatnya terpejam dan terlelap. Baru saja akan memejamkan mata, dering ponsel di samping bantal membuatnya urung terlelap.
Terdapat nama Aro pada layar, Ara segera menerima panggilan itu.
"Ra, bukain pintu! kakak lo mabok, nih!" jelas bukan suara Aro, melainkan suara Omar.
"Iya, bentar!"
Ara segera meletakkan kembali ponselnya ke atas kasur. Ia merapikan hijab dan pakainannya. Segera keluar dari kamar dan berlarian menuruni undakan anak tangga. Dalam benaknya Ara terus bertanya ada apa dengan Aro?
Hingga ia membuka pintu utama rumahnya, nampak Aro sudah tak sadar sedang dibopong oleh Omar. Matanya terpejam, namun bibirnya terus bergumam tak jelas. Aroma alkohol menusuk indra penciuman Ara.
"Cepet bawa ke kamarku aja, Kak!"
.
__ADS_1
. Like dan komen dulu dong kakak. Biar semangat upnya. Masihkan kalian menunggu?