Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Maaf yang Terlewat


__ADS_3

Jidda memegangi dadanya yang terasa sesak menyaksikan dua cucunya bertengkar. Beliau kembali duduk dan segera diberi air minum oleh Bumi.


"Nggak usah dimasukan ke dalam hati ya, Ummi," hibur Bumi seraya kembali mengambil gelas yang disodorkan jidda.


"Ummi hanya kaget, kenapa mas Aro kasar? padahal Akash tidak seperti itu," sesal jidda membuat hati Bumi terasa tersentil. Menyesal belum bisa mengembalikan Aro ke jalan yang benar.


"Dia kan artis, jadinya ya songong," timpal Miza yang masih merasa emosi.


"Maafin mas Ar ya, Bang Miza," ucap Bumi memandang ke arah Hamiza yang sedang ditenangkan oleh Zahra.


"Lagian Bang Miza juga salah, kenapa ngatain Ara kayak gitu?" komentar Alisha yang malah mendapat lemparan bantal dari Hamiza.


"Kalian sadar nggak sih kalau mas Ar sekarang kok jadi baik sama Ara?" Ayesha berusaha membahas topik lain agar mereka bisa melupakan pertikaian Aro dan Hamiza.


"Iya, sih. Aku juga baru sadar," sahut Bumi yang memang sedang penasaran dengan sikap Aro pada Ara.


"Kakak takut aja kalau kedua anak kamu itu suka sama Ara, bisa ribet loh, Dek!" Ayesha memperingati.


"Dari dulu Ummi selalu takut jika dewasa mereka akhirnya seperti ini. Ummi pribadi bukan ingin melarang, tapi hnaya tak ingin cucu Ummi bertengkar masalah wanita," papar jidda panjang lebar.


"Jidda nggak usah ikut-ikutan mikir, nanti darah tingginya kumat deh!" Alisa memperingatkan jiddanya itu.


"Iya, Ummi nggak usah mikirin hal yang nggak penting. Biar Bumi sama kakak yang mengurusnya," ucap Bumi seraya mengelus punggung tangan ibu mertuanya itu.


"Kamu nanti kewalahan Bumi kalau kedua anak kamu suka sama Ara," beri tahu Zahra.


"Aku nggak masalah kalau mereka saling suka, aku udah sayang banget sama Ara. Malah aku selalu ingin Ara menikah dengan salah satu putraku," ungkap Bumi membuat kesemua orang yang ada di sana saling berpandangan.


Tak ada lagi yang berani berkomentar apakagi menyanggah ucapan Bumi.


***


Tiba di lantai atas, Aro membawa Ara masuk ke dalam kamar Ara. Entah kenapa Ara malah diam dan menurut?

__ADS_1


"Duduk dulu!" titah Aro membuat Ara duduk di tepi tempat tidurnya.


Aro melangkah menuju pintu kamar Ara yang menghububgkan antara ruangan itu dan teras balkon. Ia membuka pintu itu lebar-lebar. Semilir angin langsung menyambut, membelai pipi Aro memberinya kesejukan. Sejenak Aro menikmati angin, berharap hembusannya dapat membawa bara emosi dalam dirinya.


Dirasa cukup meredam emosinya, Aro kembali menghampiri Ara yang sedang memainkan kuku-kukunya.


"Duduk di balkon yuk, Ra?" tawar Aro dan langsung saja diangguki oleh Ara.


Gadis itu beranjak mengekori langkah Aro manuju balkon, kesegaran angin juga langsung menyambut Ara. Keduanya duduk pada kursi panjang yang dihadapannya terdapat meja bulat, biasanya Ara gunakan untuk bersantai membaca novel. Sudah lama Ara tak membaca novel karena kesibukannya bekerja. Bahkan ada beberapa novel yang bungkusnya saja masih rapi belum disobek.


Aro pamit sebentar untuk mengambil pesanan Ara kemarin. Sebenarnya ia malas harus kembali ke ruang tamu, kesalnya masih menumpuk pada Miza.


"Emang Ara sebaik itu sampai kamu sayang banget sama dia?" lamat-lamat Aro mendengar suara Zahra bertanya pada bundanya.


"Mulai sekarang, stop jangan ada yang suka ngomongin Ara!" seru Aro membuat mereka semua memandang ke arahnya.


"Kak Alisha mungkin memang hafal 30 juz, Bang Miza juga nggak usah diragukan lagi. Kalian berdua sempurna, terlahir dari keluarga terpandang. Tapi, ada satu yang kalian nggak punya dan itu dimiliki Ara, yaitu keikhlasan dan kesederhanaan."


"Aku dulu juga sering hina Ara, ngatain Ara anak pungut, bilang dia anak haram. Tapi aku sadar aku kayak gitu karena aku iri sama Ara yang kuat dan mampu membuat Bunda ...," Aro menatap bundanya sesaat, "dan ayah sayang banget sama dia."


"Aku harap mulai sekarang, kalian stop ngomongin Ara. Malu sama nama besar yang kalian sandang!" tegas Aro seraya mengambil papper bag di atas bufet, oleh-oleh untuk Ara.


"Lo bisa ngomong gitu karena lo suka sama dia kan, Mas?" Miza masih mengibarkan bendera perang.


"Keburukan Ara tertutup sama rasa cinta lo buat dia!" imbuh Miza berapi-api.


"Bacot lo, Bang. Kam ...."


"Mas!" teriak seseorang yang baru saja datang.


Suara berat laki-laki yang sangat Aro kenal menghentikan gerakan tangan Aro yang lagi-lagi ingin menghajar Miza.


"Kalian kenapa diam saja melihat mereka bertengkar?" Akash memandangi satu-satu para wanita itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Mas?" sentak Akash seraya mengguncang bahu putranya itu.


"Aku cuma belain Ara yang selalu dianggap sebelah mata," jawab Aro dengan suara lemah.


"Nggak harus dengan kekerasan, Mas!" Aro memberikan peringatan pada putranya itu.


"Maaf, Yah," ungkap Aro menyesal.


Setelah itu Akash menyuruh Aro meminta maaf pada Miza. Keduanya bersalaman, namun Akash masih menyuruh mereka mengulang sebab Akash tak melihat sorot perdamaian dari keduanya. Aro dan Miza kembali bersalaman, masih enggan saling pandang.


Hingga akhirnya Akash merangkul keduanya. Menceritakan masa-masa kecil mereka. Memancing memori keduanya untuk kembali pada saat keduanya begitu akrab dan hangat. Aro dan Miza tentu gak lupa, keduanya kembali bermaafan, saling merangkul. Walau di akhir kata, Aro tetap berkata akan kembali menghajar Miza jika tetap berani mengatai Ara.


Sementara itu karena terlalu lama menunggu Aro, Ara sampai tertidur di balkon kamarnya. Ia tertidur dengan menelungkupkan kepala ke atas meja dengan berbantalkan lengannya sendiri.


"Ra, ini pesanan kam ...."


Aro tak melanjutkan kalimatnya saat dilihat Ara sedang tertidur.


"Kamu itu kebiasaan, suka tidur sembarangan, Ra."


Aro kembali duduk, ikut meniru posisi Ara. Keduanya saling berhadapan dengan Aro yang puas memandangi wajah lelap Ara. Wajah yang baru ia sadari sangat cantik dan meneduhkan. Guratan lelah dan luka memang terlihat di sana, bahkan garis bekas air mata yang mengering juga nampak.


"Jangan menangis di hadapanku, hatiku pasti jauh lebih sakit. Kamu harus bahagia."


Telunjuk Aro menyusuri tanda air mata yang mengering di pipi Ara. Perasaan sesal dalam diri yang telah banyak menyakiti Ara tiba-tiba memupuk dalam benaknya. Aro berjanji pada dirinya, setelah Ara terjaga ia akan minta maaf pada Ara. Maaf yang terlambat, maaf yang banyak terlewat.


Detik itu juga, Aro meneguhkan hatinya untuk selalue jadi perisai Ara dari segala keburukan yang menimpa. Ia tak bisa janji memberikan hari yang selalu indah, yang ia tahu ada cinta di hatinya untuk Ara.


.


.


Komennya ditunggu, bikin semangat ngetik kalo komennya aktif. Aku merasa tidak terabaikan jadinya. Makasih, semangat puasanya yaa

__ADS_1


__ADS_2