Langit Untuk Ara

Langit Untuk Ara
Hari Berganti Hari


__ADS_3

Ara dengan sabar mengoleskan VCO ke telinga Hika yang beberapa hari lalu ditindik oleh bidan Army. Dengan luluman senyum Ara perlahan mengusap seraya meniupi telinga putrinya. Bayi itu nampak lelap tidur setelah hampir setengah jam tadi menangis kemudian minum ASI dan kini sudah tenang.


“Sehat-sehat terus, ya,” bisik Ara kemudian menyentuh pipi bulat Hika dengan ujung hidungnya.


Jam sudah menunjukan pukul 14.00, Ara terpaksa pulang dari klinik lebih awal sebab putrinya sangat rewel. Dia bahkan belum makan siang karena bayi gembul tak mau lepas dari gendongan.


Di usia tiga bulan, seperti bayi pada umumnya, Hika sudah mulai bisa menggenggam. Meski untuk melepaskan masih kesulitan.


Seperti saat ini, bayi pemilik bulu mata lentik itu dengan kuat menggenggam baju bubunya. Sang Bubu yang tak ingin mengusik ketenangan Sang Putri, hanya bisa diam. Padahal perut sudah sangat lapar.


Ponsel berdering tanda panggilan masuk dari suami pun ia tolak. Digantikan dengan pesan sebagai balasan.


My Adore


[Maaf, Sayang. Dede lagi bobo setelah tadi nangis. Ada apa?]


Mas Ar ❤️


[Aku tanya bibi katanya kamu belum makan?]


My Adore


[Dedenya nggak mau ditinggal]


Mas Ar ❤️


[Aku pulang sekarang]


Ara mendesah pelan menanggapi sikap suaminya yang berlebihan. Terkadang merasa tak enak pada bibi yang kini sering jadi sasaran saat dirinya telat mengangkat telepon misalnya.


Mengesampingkan rasa lapar, Ara memilih memejamkan mata agar putrinya tak terusik. Ia turut lelap dalam buai mimpi di samping Hika.


Hingga Aro tiba, pria itu ke kamar membawa sepiring nasi beserta lauk pauk dan segelas teh manis gula batu kesukaan istrinya.


Didapati Aro, istrinya sedang tidur dengan posisi terlentang. Hika masih menggenggam erat ujung baju Ara dengan posisi terlentang pula.


Memandangi dua bidadari yang tampak tenang membuat dirinya merasa tenang setelah tadi dibuat sport jantung dengan kedatangan dua orang polisi ke toko. Dipikir menindak lanjuti kasus Naren, padahal mereka datang untuk memesan kaus.


Aro merangkak pelan ke tengah tempat tidur. Menciumi pipi Ara yang tampak ikut membulat. Napsu makan istrinya itu tak terkontrol semenjak menyusui.


“Kan aku ibu menyusui,” kilah Ara ketika hendak makan banyak. Padahal Aro sendiri tak pernah protes apa pun. Justru selalu menanyakan Ara ingin makan apa tiap dirinya pulang dari toko. Maka, berbagai jenis makanan akan dibawa pria itu tiap pulang. Tak setiap hari, tergantung Ara yang meminta.


Mendapati dirinya disentuh benda kenyal dan hangat, Ara membuka mata. Bibirnya langsung melengkungkan senyum saat pemandangan suaminya yang tersenyum dia lihat.


“Makan dulu,” bisik Aro.


“Tuh lihat!” Ara menunjuk pada baju yang masih digenggam Hika.


“Bangunin, aku kangen ke dia,” pinta Aro dengan tatapan memohon.


“Jangan, nanti rewel lagi.” Ara menggeleng tak setuju.


“Tadi rewel banget?” selidik Aro.


“He-em, aku sampe kewalahan. Nangisnya udah kayak dicubit,” adu Ara.


“Kenapa?” Aro jadi iba, paling tak tega bila Hika sudah rewel. Kasihan pada Ara.


“Mungkin karena telinganya masih sedikit sakit,” pikir Ara.


“Maafin putriku, ya ....” Aro serius sekali.


“Kok pake minta maaf ... enggak apa-apa dong,” sanggah Ara kemudian melirik nasi yang ada di atas nakas.


“Aku suapin?” tawar Aro seraya mengambil piring itu.


“Sendiri aja,” elak Ara kemudian dengan gerakan taktis mengambil piring berisi nasi itu dari tangan suaminya.


Gerakan cepat Ara membuat putrinya terusik, bayi berusia tiga bulan itu membuka mata bulatnya. Aro langsung berpindah mendekatinya.


“Assallamualaikum, Soleha ... udah bangun?” Aro mencium pipi Hika, merasakan wangi telon serta kenyalnya pipi Hika yang bulat itu.


Hika tertawa-tawa, kakinya menendang-nendang dengan tangan terangkat hendak menggapai wajah papanya.


“Jangan dikasih kepala, Mas. Nanti dia cengkram rambut kamu. Takut kemakan ntar rambutnya.” Ara mengingatkan.


Aro tak menjawab, tapi ia cukup mengerti. Pria itu sengaja mendekatkan wajahnya ke arah Hika sehingga putri kecilnya itu mampu menyentuh wajah sang papa.

__ADS_1


“Aduh, Papa dicubit.” Aro pura-pura kesakitan dengan meringis.


Hika tertawa-tawa sambil tangannya terus mencengkram wajah sang papa. Ara sendiri dengan cepat menyelesaikan makannya. Sebab bisa dipastikan sebentar lagi putrinya itu minta nen.


Sepiring nasi dan segelas teh manis gula batu telah licin tandas dari tempatnya. Ara merasa tubuhnya kembali bertenaga. Ia memijit sebentar miliknya kemudian bergeser mendekati Hika.


“Nen dulu, Sayang. Bubu mau nyetrika abis ini.” Ara menyentuh pipi Hika yang masih saja tertawa.


“Nanti dulu lah Bubu, Dede lagi main sama Papa, ya,” cegah Aro.


“Aku ‘kan mau nyiapin baju buat besok, Mas,” sanggah Ara.


“Baju buat apa?” Aro lupa.


“Katanya mau ke acara resepsi papanya temen Mas.” Ara mengingatkan.


Aro menepuk jidatnya, dia lupa. “Untung kamu ingetin. Aku belum pesan karangan bunga.”


Dengan gerakan cepat Aro turun dari tempat tidur dan langsung menelepon Omar. Meminta pria itu memesankan karangan bunga.


“Jangan turut berduka cita. Awas kalau salah!” ancam Aro.


“Gue lupa nama istrinya, udalah nama suaminya aja. Ntar gue chat.” Telepon dimatikan secara sepihak.


“Mas, kenapa nggak telepon langsung sih. Nggak kasihan ke kak Omar?” omel Ara.


“Nggak apdol kalo nggak ngerjain dia,” sahut Aro kemudian naik lagi ke tempat tidur. Berbaring di samping Ara yang sedang duduk. “Bangunin kalau udah asar, ya.”


***


Besoknya sekitar pukul 13.00, Ara dan putrinya sudah siap menunggu suaminya pulang dari toko. Mereka akan menghadiri acara resepsi pernikahan seseorang. Dibiasakan sejak bayi, Hika tak pernah rewel ketika dipakaikan hijab.


Sambil menunggu Aro di ruang tamu, Ara tak henti berbalas pesan dengan Tala sedari pagi. Diketahui oleh Ara, Tala kini sedang berada di Bandung. Beberapa foto Tala kirim pada Ara. Membuat Ara ingin juga berkunjung ke sana.


Hingga suara salam suaminya mengalihkan atensi Ara. Ia menyudahi chatting dengan Tala menyambut suaminya yang masuk tergesa-gesa. Sementara, Hika sedang anteng memainkan jari-jarinya. Jika sudah kenyang, bayi gembul itu memang tak rewel.


“Cantik banget, sih,” puji Aro melihat Ara yang tampak beda.


“Praktekin tutorial make up dari Mama Alvi, Mas,” ungkap Ara.


“Siapa Mama Alvi?” Aro merasa tak kenal.


“Bilang ke Mama Alvi makasih. Istri aku jadi tambah cantik begini.” Aro sekilas mengecup pipi Ara kemudian pamit untuk segera berganti pakaian.


Di sebuah gedung yang ada di daerah Depok acara resepsi itu digelar. Ini kali pertama bagi Hika dibawa ke tempat banyak orang seperti itu.


“Bubu minta, Dede jadi anak manis, ya.” Ara berbisik saat turun dari mobil.


“Aku aja yang gendong, Dede.” Aro merentangkan tangan.


Ara menyerahkan putrinya ke gendongan suaminya. Saat sebuah suara yang sangat ia kenal menyapanya.


“Abang?” Ara bergumam.


“Abang diundang juga?” Aro tak percaya.


Sejak kapan kakaknya kenal dengan orang-orang politik dan pengusaha? Biasanya lingkar pertemanannya hanya seputar dokter dan tenaga kesehatan saja.


“Pengen gendong Hika, dong!” pinta Akhza tak menanggapi pertanyaan adiknya.


Yang namanya datang, ya pasti diundang.


Pria itu merebut begitu saja tubuh Hika dari pangkuan Aro. Membawa bayi itu ke dalam gedung lebih dulu. Membuat Ara dan Aro melongo dengan kepergian kakaknya itu.


“Cowok aneh. Kapan mau dapet cewek kalo kayak gitu. Apa perlu kita cariin cewek?” Aro meminta saran.


“Tinggal nunggu waktu, Mas,” timpal Ara misterius.


“Ada yang kamu tahu dan aku enggak tahu?” tebak Aro.


“Semua orang tahu, tapi nggak semua orang bisa ngerti.” Ara mengerlingkan mata kemudian masuk ke dalam gedung tempat acara resepsi digelar.


Sepanjang menikmati acara, Akhza tak melepaskan Hika. Dia bahkan bisa begitu sabarnya menenangkan bayi itu saat mulai rewel.


“Dede pengen nen kali, Bang,” ujar Ara. Berharap Akhza menyerahkan Hika padanya.


Akhza tak menghiraukan, ia bahkan memamerkan Hika yang kini sedang lelap dalam dekapnnya.

__ADS_1


“Kapan-kapan mau kupinjem, ya kalau lagi libur. Dia udah bisa minum ASI di botol ‘kan?” ujar Akhza, serius.


“Enak, aja. Nikah sana, bikin anak sendiri. Elo kira bikin anak gampang?” omel Aro.


“Emang susah?” selidik Akhza.


“Susah banget,” sahut Aro.


“Masa?” Akhza tak percaya.


“Susah buat berentinya,” seloroh Aro kemudian mendapat pukulan di lengannya dari Ara.


“Suami kamu sakit, Ra. Bawa ke Marzuki Mahdi!” ledek Akhza kemudian berlalu menjauh meninggalkan kedua adiknya itu.


Setelah memberi selamat pada kedua mempelai, berbincang dengan teman-temannya, dan mengenalkan Ara pada istri-istri rekannya, Aro memutuskan untuk pulang.


Akhza merasa berat melepaskan Hika dari gendongannya. Ia masih rindu dengan keponakannya itu.


“Kapan-kapan Papi ke rumah, Dede ya.” Akhza berbisik ke telinga Hika yang terbungkus hijab krem.


“What?” Aro tak percaya Akhza menyebut dirinya papi.


“Uwa, woy uwaaa!” teriak Aro seraya memukul bahu kembarannya.


“Berisik! Papi, no debat!” tegas Akhza kemudian melengos menuju mobilnya setelah sebelumnya mengingatkan Ara agar mulai waspada terhadap pergerakan Hika yang mulai aktif.


“Anak pasienku meninggal karena masuk ke dalam bak kamar mandi, Ra.” Begitu ucap Akhza saat di dalam gedung resepsi tadi.


“Abang sayang banget ke Hika,” ujar Ara saat dalam perjalanan pulang.


“Tapi tetep aku yang sayangnya lebih besar.” Aro tak mau kalah.


“Mas, aku nggak sangka kalau pengantin perempuannya itu ... aww Dede!” Ara histeris sebab tiba-tiba Hika yang sedang minum ASI menggigitnya kencang.


“Dia nggak suka kali kalau bubunya ghibah,” tebak Aro.


“Aku kan bukan mau ghibah,” sangah Ara.


“Udah, nggak usah ikutan mikirin. Itu urusan dia,” usul Aro, namun pandangannya lurus ke depan. Ke jalanan yang mulai padat merayap.


***


Membersamai tumbuh kembang Hika menjadi hal paling menyenangkan dalam episode kehidupan Ara. Memandangi bayi yang tak mau tidur di dalam box itu adalah hal paling menyenangkan dari kegiatan apapun.


Hari-hari terus berlalu dengan putaran waktu yang tak terasa. Baru kemarin Senin, sekarang sudah Senin lagi. Baru kemarin Hika suntik imunisasi, sekarang harus sudah jadwal suntik lagi.


Hingga bertepatan dengan usia Hika yang ke-9 bulan, kabar duka itu didengar Ara. Nenek meninggal.


Kabar yang membuat wanita itu terkungkung penyesalan yang amat. Seminggu lalu nenek meneleponnya. Bicara banyak hal. Bilang pada Ara agar kelak Hika besar, jangan lupa dikenalkan pada Mandri.


Saat itu juga, Ara bersama mami dan suaminya bertandang ke Cicurug. Membawa tangis yang tak kunjung reda selama perjalanan. Hika tak diajak, dititipkan pada bunda saja.


Bibi juga turut pulang, ingin melihat wajah nenek untuk yang terakhir kalinya.


“Aku nyesel kenapa menunda kepulangan sampe Minggu depan,” keluh Ara saat baru saja menapakkan kaki di teras rumah nenek.


“Ara, nggak baik menyesali takdir Allah. Ingat, setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajal.” Aro coba menghiburnya.


Lepas pemakaman nenek yang dikebumikan di dekat pusara kakek dan ayahnya, Ara tak lekas meninggalkan tempat itu.


Mami sudah sedari tadi kembali bersama Monde. Entahlah, kenapa bisa sekarang mami jadi dekat dengan pria itu. Sering kedapatan saling bertelepon, bahkan putra kembar Monde sering datang ke rumah mami.


Ara masih melantunkan surah Yasin di hadapan gundukan tanah sang nenek. Air matanya ia tahan untuk tak jatuh, apalagi berderai.


Aro tak berani mengajaknya pulang, ia hanya setia menunggui Ara sambil ikut melantunkan ayat suci pula.


Hingga sayup azan magrib terdengar, barulah Ara tersadar. Ia berdiri dengan lutut yang masih terasa bergetar.


“Mas, abis ini kita nginep ke rumah jida, ya,” pinta Ara sebelum meninggalkan pemakaman.


Tak ingin merasakan kehilangan yang dibalut sesal. Ara berjanji untuk sering-sering menengok jida. Apa lagi terakhir jida sempat berseloroh, “ ada yang rindu tak dengan wanita tua ini?”


.


.


.

__ADS_1


Jadi, siapa yang udah lama nggak nengok nenek atau sanak saudaranya? Atau sudah lama tak menelepon sekedar bertanya kabar? Waaah kayaknya enggak ada, yaa ... Kakak dan mama semua pasti sangat dekat dengan keluarga. Jarak bukan jadi penghalang di zaman yang semakin canggih ini, yaa ... Btw, makasih selalu dukung Ara. Nanti Allah yang balas dengan sebaik-baiknya balasan. Love you, All ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2